Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Resensi > Memuja Keret: Seorang Yahudi yang Cinta Damai

Memuja Keret: Seorang Yahudi yang Cinta Damai

The Seven Good Years

ETGAR KERET menulis memoar berjudul The Seven Good Years. Sebuah memoar yang ditulis dengan sangat baik dan memikat. Dari buku ini saya bisa mengerti mengapa seorang wartawan memiliki antusiasme ketika mewawancarai seorang penulis atas suatu kejadian. Sebab, pendapat seorang penulis itu orisinil dan memiliki visi. Itu yang saya tangkap dari seorang Keret setelah membaca memoarnya ini.

The Seven Good Years adalah memoar pertama yang pernah saya baca, sekaligus menjadi buku pertama yang saya baca hingga tuntas di tahun 2017. Hanya butuh dua hari menyelesaikan memoar sepanjang 193 halaman ini. Dalam memoar ini, Keret bertutur dengan jujur dan humoris ketika mengisahkan masa selama tujuh tahun sejak rentang kelahiran anaknya dan ditutup kematian ayahnya. Di halaman kata pengantar Eka Kurniawan menulis: Keret memiliki humor yang melimpah. Saya membenarkan itu setelah membaca dan menamatkan bukunya. Berulangkali saya tertawa dan mengumpat, bagaimana caranya seorang Keret bisa bertindak seperti ini, selalu penuh dengan canda dan sangat baik dalam memainkan ironi.

Buku ini tak hanya dipenuhi humor, Keret juga berhasil membuat mata saya berkaca-kaca ketika membaca bab “Lelaki Jangan Menangis”. Ini adalah bagian paling mengharukan di dalam buku Keret. Dengan meminjam judul salah satu bab, Memuja Idola, maka saya akan memuja Keret sebagi idola, seperti halnya dia memuja seorang kakak lelakinya. Ia selalu mengidolakan setiap progres yang dialami oleh sang kakak.

Saya ingin seperti Keret yang berkeliling dunia mengikuti festival membaca dan menulis. Saya ingin seperti Keret yang berdebat dengan istrinya karena terlalu baik dan mempersilakan sopir taksi memakai kamar mandinya, sampai mengadakan survey kecil-kecilan untuk melihat hipotesis siapa yang diterima: Keret atau istrinya. Saya ingin seperti Keret, memiliki keluarga yang terlihat unik dengan seorang istri yang menyenangkan, serta memiliki seorang anak yang seperti Keret. Saya ingin seperti Keret yang memiliki seorang Ayah yang penuh optimisme di sisa hidupnya. Saya ingin seperti Keret yang selalu memandang setiap kejadian memiliki sebuah hikmah bahkan sangat filosofis bagi keluarganya. Saya ingin seperti Keret yang selalu memiliki cara menenangkan anaknya.

Menurut saya, Keret seorang jenius yang pintar mengemas segala sesuatu untuk disampaikan. Memoar ini sangat menggugah saya karena di sini Keret berbicara soal keluarga primernya. Berbicara sesuatu yang sangat dekat adalah cara terbaik agar kita bisa merasa dekat. Keret berhasil melakukan itu, saya pun jadi teringat Ibu, Ayah, dan Adik yang jauh. Saya akui Keret memiliki pikiran yang luas dalam memandang banyak hal. Setiap hal yang lewat di dalam pikirannya selalu terbungkus rapi seperti kado yang siap diberikan kepada seseorang. Menarik, lugas, dan jujur.

Saya belum membaca cerpen karangan Keret, tetapi kebanyakan tulisan yang memuat tentang pendapat soal cerpen Keret, selalu menunjukkan betapa Keret memiliki kualitas yang mumpuni. Saya akan menambahkan Keret sebagai penulis favorit saya tahun ini. Penulis tidak menciptakannya, tetapi dia ada di sini untuk mengatakan apa yang perlu dikatakan (hal 118). Saya sepenuhnya setuju, karena Keret telah membuktikannya dalam buku ini. Ia mengatakan apa yang perlu dikatakannya tanpa membuang banyak basa-basi.

Dalam penutup bab buku memoar ini, Keret menyajikan keindahan dan perdamaian dalam keluarganya di tengah meledaknya sebuah bom melalui Pastrami. Saya sangat menyukai sketsa yang dibangun Keret dalam Pastrami saat menenangkan anaknya yang tidak mau tiarap saat terdengar bunyi peringatan bom. Sekali lagi, itulah kelebihan Keret yang membuat saya jatuh hati, ia selalu berhasil mengendalikan suasana, walau sesekali ia terlihat emosi ketika menghadapi sopir taksi.

Membaca memoar ini, saya berhasil menangkap pesan bahwa Keret adalah seorang Yahudi yang cinta akan perdamaian. Sehingga Keret ingin diperlakukan sama seperti ia memperlakukan orang lain. Secara tidak langsung ia menegaskan bahwa setiap kita memiliki kisah, dan mari kita mengenang kisah itu sebagai rambu-rambu untuk memperbaiki masa depan.

Kereet

Judul : The Seven Good Years
Penulis : Etgar Keret
Penerjemah : Ade Kumala Sari
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : Cetakan pertama, Juni 2016
Tebal : 198 halaman

Abdul Rajib, Tukang lapak buku dan bisa ditemukan di IG: lapakbacajambi

Facebook Comments