Saturday, June 23, 2018
Home > Literasi > Cerita > Nyanyian Subuh

Nyanyian Subuh

Asap sesajen

TEPAT pukul 04.30, rumah-rumah mulai diterangi cahaya api. Rumah kayu dan rumah anyaman bambu itu tampak seperti lampion-lampion yang siap diterbangkan. Kemudian suara lengkingan seriosa mulai menggema di setiap rumah, menjadi gumpalan udara yang membumbung tinggi menembus langit, mengharap jatuhnya intan atau permata. Bersama lengkingan dan angin dingin, mereka meletakkan kepercayaan dan harapan.

Aku mengernyit malas. Lebih baik aku tak kembali ke tanah kelahiran yang menurutku, sinting! Telah jauh aku berlayar dan menapaki pulau-pulau, dan telah kusimpulkan, tak ada desa yang lebih disiplin  dan lebih gila dari desa kami. Desa kecil di pulau terpencil. Aku senang, digelari bocah pembangkang sejak kecil. Tak seperti ketujuh kakakku yang senantiasa mengikuti tingkah orangtua kami di setiap subuh.

Nyanyian subuh. Begitu kata mereka dengan bangga. Tradisi turun temurun. Tua muda, besar kecil, seluruh penghuni desa harus membuka mata saat dinihari dan menyiapkan beberapa lampu teplok. Kemudian mereka mengelilingi lampu dengan menyatukan kedua telapak tangan persis patung Buddha. Buddha? Bicara mengenai agama, kami tak pernah tahu nama agama kami.

“Duduklah yang rapi, Le!” Mak membentak, dan aku tak berani berkutik.

Lalu mereka menarik napas.

“Subuh, subuh…, kami terjaga!

Subuh, subuh…, kami memujamu!

Subuh, subuh…, juga pada langitmu!

Subuh, subuh…, turunkan kebaikanmu!

Subuh, subuh…, makmurkan hidup kami!”

Nyanyian bernada seriosa itu menggema ke seluruh ruangan. Mereka mengulangnya berkali-kali hingga tenggorokan mereka perih. Wajah-wajah mereka tampak bangga ketika menyenandungkan nyanyian yang menurutku jauh dari logika itu. Padahal, kehidupan mereka sama saja, tetap jungkir balik di sawah, kubangan lumpur, hutan, juga menjala di sungai-sungai. Subuh atau langit tak mengubah apa pun. Tak menjadikan mereka bergelimang harta.

Kini, setelah mataku menemukan manusia beradab di luar sana, yang memiliki sebuah keyakinan yang mereka sebut agama, aku berpikir, apakah nyanyian subuh itu sebuah tradisi adat ataukah upacara sesat?

“Mak, kenapa kita harus bangun terlalu pagi?” tanyaku polos khas anak-anak.

“Le, kau mau kalah dengan ayam?”

Aku menggeleng dengan tatapan tak mengerti. Waktu itu otakku terlalu dini untuk dapat memahami kedua orangtuaku.

“Manusia adalah makhluk yang lebih sempurna dari hewan, karena diberi pikiran. Maka jangan sampai ayam yang lebih dulu bangun dari kita,” jawab Mak sembari menumpuk kayu bakar dalam tungku. Jelaga menghiasi wajahnya, namun tak dipedulikan. Ia meraih minyak tanah, menuangkannya dalam mulut tungku, lalu diraihnya pemantik.

Blarrr!

Aku merasa wajahku hangat. Lidah api menari-nari dalam tungku. Mak segera meletakkan periuk berisi rendaman beras di atasnya. Begitulah kegiatan Mak setelah melakukan ritual Nyanyian Subuh. Ia segera berkecimpung di dapur. Sementara Bapak memekik-mekik memanggil ayam-ayamnya sambil membawa secangkir beras. Lalu dengan embusan napas putus asa, ia melempar beras itu ke tanah. Lelaki yang jarang berucap itu terlihat memendam kecewa. Ayamnya tak jua mau bertelur. Padahal ia mengharapkan rumahnya ramai oleh cuitan anak ayam.

Mereka percaya, subuh adalah pembuka rezeki. Angin segar di saat  subuh akan menggenggam nyanyian mereka dan membumbungkannya ke langit, dengan begitu langit akan melimpahkan kekayaannya. Tidur di waktu subuh dipercaya menjadi petaka bagi desa kami. Pernahku temui dalam pelayaranku, para wanita yang bangun di kala subuh, namun mereka tak bernyanyi. Jubah putih lebar menutupi seluruh tubuh mereka. Hanya wajah mereka yang tampak. Kemudian mereka berdiri, menungging, berdiri kembali, mencium lantai, duduk. Mereka melakukannya sebanyak dua kali. Lalu mereka membaca buku tebal dengan bahasa yang aneh, namun entah mengapa hatiku tenteram mendengarnya.

Kini, ada yang berbeda dari biasanya. Sekarang mereka tak hanya bernyanyi. Buah-buahan segar, ayam panggang serta sepiring nasi santan terhidang di teras.

“Apa-apaan ini?” tanyaku dengan nada mengejek.

“Le, kau baru pulang semalam dari perantauan. Jadi jangan banyak protes!” Mak berlalu usai mempersiapkan sesajennya itu. Ia benar-benar tak menghiraukanku.

“Ini untuk langit,” jawab kakakku.

“Sudah sejak dua tahun ini kami memberikan makanan untuk langit.”

“Apa?! Kau pikir langit akan melahap makanan ini?” protesku.

“Ya! Setiap matahari telah terbit, kami memeriksanya, dan makanan itu bersih. Hanya tinggal cawannya saja.”

Aku baru saja hendak membuka mulut, namun ia telah lebih dulu berucap.

“Dua tahun lalu, seluruh petani di desa ini mengalami gagal panen, termasuk Bapak. Hidup kami sangat menyedihkan. Lalu datanglah seorang dukun dengan lima anak buahnya, entah dari mana asal mereka. Dukun itulah yang membuka mata kami untuk lebih memuja langit, dengan memberikan makanan. Tak lama setelah kami melakukan perintahnya, kebun kami kembali membaik. Ayam Bapak pun bertelur banyak dan tumbuh gemuk. Dukun itu berpesan, setelah menyiapkan makanan untuk langit, kita tak boleh keluar rumah hingga matahari muncul sempurna. Berkat dukun itu, hidup kami semakin makmur,” jelasnya dengan ceria.

Aku menggelengkan kepala berkali-kali. Aku membayangkan makanan itu terbang ke langit, seperti medan magnet yang menyerap besi-besi, lalu hilang ditelan awan. Seperti itukah langit di zaman ini?

***

SUBUH selanjutnya, Mak bangun lebih dini. Pukul 03.30. Dengan tangan perkasa, Mak memenggal kepala ayam jago hingga terpisah dari lehernya. Setengah jam kemudian, bau harum menyengat dari dapur. Ayam panggang telah siap. Setelah mempersiapkan sesajen, kami bernyanyi bersama. Nyanyian yang sama.

Aku melirik ke luar jendela. Rumah-rumah tampak kuning dengan lampu teplok. Sesajen terhidang rapi di teras-teras. Aku menggelengkan kepala. Usai bernyanyi, kami berbincang-bincang ringan. Bosan, aku menjauh dan berdiri di sisi jendela. Gorden usang itu kusibak.

Hari masih dingin, matahari masih malu pada subuh. Sudah setengah jam sesajen itu terhidang. Aku menunggu hal gila itu terjadi, ketika makanan-makanan itu terbang ke langit. Namun tak ada tanda-tanda apapun. Langit tampak diam dan tak peduli. Tiba-tiba kubulatkan mata ketika dari kejauhan tampak bayangan tiga orang lelaki berjalan cepat dari teras ke teras. Gelap membuatku tak terlalu jelas menyimpulkan apa yang mereka lakukan. Namun mereka tampak membawa kantung besar. Tak beberapa lama bayangan itu mendekat ke rumah kami. Gorden segera kututup. Hanya celah kecil kusisakan untuk mata kiriku. Tiga lelaki itu mengemasi buah-buahan dan ayam panggang Mak, lalu pergi tergesa-gesa seperti maling.

***

“Terima kasih langit, kau telah menerima makanan dari kami,” seru Mak seraya berlutut dan mengadahkan tangan ke langit setelah membuka pintu dan mengetahui cawan makanan itu kosong.

Aku memandang langit biru yang berkemilau diterpa cahaya matahari. Lalu kuperhatikan sorak gembira dari rumah-rumah lainnya.

“Terima kasih langit. Terima kasih langit!”

“Turunkanlah kebaikanmu, langit!”

Aku menggeleng kuat, lalu kuhampiri kakakku.

“Kalian sudah gila! Di mana rumah dukun itu?! Kalian mau saja dibodohi dukun itu!”

Plakk!

Bukan jawaban kakakku yang kudapat, justru tangan Bapak yang mendarat keras di pipiku.

***

DENGAN bertanya ke sana kemari pada setiap warga yang melintas di jalanan, akhirnya aku berdiri di halaman rumah dukun itu ketika hari mulai gelap. Aku mendapat beberapa informasi dari warga. Dukun itu rupanya seorang peramal.

“Jika tidak melakukan ritual memberi makanan pada langit, maka langit akan marah dan mengutuk desa. Bisa saja dalam bentuk petir atau badai besar. Begitu kata Mbah Kuncono,” jelas seorang lelaki penggembala kambing.

“Lalu kalian menuruti ucapannya? Memangnya dia siapa? Tuhan?”

Lelaki itu melotot. Dahinya berkerut, seolah yang berdiri di hadapannya adalah orang tolol.

“Kau tidak takut jika terjadi bencana!?” suara lelaki itu meninggi.

“Yang aku takutkan adalah warga desa ini yang semakin bodoh!” jawabku seraya berlalu dengan umpatan di sepanjang jalan.

Aku berjinjit mendekati rumah suram berhawa mistis itu. Mata kutempelkan pada lubang kecil di dinding papan, bekas gigitan kumbang.

“Hahaha… benar-benar serasa di surga!” seru seorang lelaki yang diikuti tawa lelaki lainnya. Lima lelaki kurus jangkung, dan seorang lelaki gemuk berpakaian serba hitam dan berjenggot lebat. Di tengah mereka terhidang buah-buahan segar. Sementara di sekelilingnya tulang ayam berserakan.

Brakk!! Pintu papan itu seketika terlepas dari engselnya.

“Jadi kalian menipu kami!?” pekik Bapak. Di sampingnya berdiri para warga yang tak kalah beringasnya dari Bapak.

Awalnya mereka tak percaya, namun setelah mereka kuseret dan kupaksa mengintai, akhirnya mereka paham. Wajah-wajah murka itu membuat Mbah Kuncono dan anak buahnya gelagapan. Dengan paksa, warga menyeret mereka ke tepi desa, dan setelah puas menghajar, mereka mengusirnya. Sorak-sorak amarah para wanita di tepi jalan membuat suasana makin panas. Tampak Mak berkali-kali mengelus dada seraya memandangi langit gelap. Tatapannya begitu iba. Sementara aku masih berdiri di tepi jalan, jauh dari kerumunan.

“Logika lebih benar daripada tahayul. Langit bukan untuk disembah. Langit pun tak makan buah, ayam panggang, serta nasi santan. Harusnya kita lebih percaya pada Tuhan,” jelasku tegas sambil menepuk pundak Mak.

“Tuhan?” Mak menoleh dengan mata berbinar.

***


Biodata:

Penulis bernama pena Ernia Aminun ini lahir di Dendang, Tanjabtim, 22 tahun lalu. Buku solo yang pernah diterbitkan adalah kumpulan cerpen Menanti Janur Kuning dan novel Stockholm Love.

Kontak: pin D08EDBCF, ig @ernia.aminun fb : Ernia D’twence.

 

Facebook Comments