Saturday, October 20, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Penulis, Aladin, dan Lampu Ajaib

Penulis, Aladin, dan Lampu Ajaib

Penulis, Jin, dan Lampu Aladin

MENJADI seorang penulis adalah upaya membebaskan diri dari “rasa sakit” akibat penatnya dunia. Menuliskan isi pikiran dalam sebuah kertas tentu tidak mudah. Kita harus benar-benar dapat meyakinkan setiap orang bahwa apa yang disampaikan itu adalah sebuah kebenaran.

Seperti yang dilakukan seorang nabi untuk meyakinkan umatnya ketika mendapat wahyu dari zat yang Maha Tinggi. Ia dituntut bisa menyampaikan wahyu yang diterima agar dipercayai oleh para pengikutnya, dan kenabiannya pun diakui. Seorang penulis juga harus melakukan hal yang serupa, karena penulis pun membutuhkan sebuah pengakuan. Jika nabi mendapat pengakuan dari umatnya, maka penulis butuh pengakuan dari orang-orang yang membaca karyanya.

Dalam diri seorang penulis, sudah terpancang komitmen untuk selalu menulis. Namun, pilihan ini tidak sertamerta membuatnya menulis apa saja seenak perutnya. Kita tahu bahwa dunia butuh sentuhan berupa ide segar melalui tulisan, tapi bukan sekadar omong kosong belaka. Dan ini tak ubahnya sebuah siksaan bagi penulis. Pikirannya selalu menerawang tiada henti. Bahkan, saat tidur pun demikian adanya. Alangkah menderita mengalami hal demikian itu. Sebab, nyatanya tak mudah menyampaikan apa yang tak terpikirkan oleh orang lain itu dalam bentuk kata-kata.

Kadang seorang penulis juga menyadari selalu dihujam segelintir tanya yang menohok kalbu. Kenapa harus aku dan bukannya mereka? kenapa pula aku yang harus menderita sementara yang lain tidak? Apa mereka mengalami ilusi semacam ini? Jika benar…, kenapa mereka tak melakukan sebuah usaha seperti yang aku lakukan sebagai upaya dari pembebasan diri. Apa mereka tak berjuang ya?”

Baca juga: Andai Membaca Semenarik Masturbasi

Apapun itu, selalu membuat seorang penulis tetap gelisah ketika tangannya tak menyentuh pena dan kertas. Ia seperti menjadi orang “tak waras” ketika harus berdiam diri membiarkan pikirannya menghambur-hambur tak menentu. Bagi orang-orang yang tak memahaminya, bisa saja menganggapnya sebagai seorang aneh dan tak waras yang harus diruqyah. Padahal, ia hanya butuh waktu untuk menulis. Dengan cara ini, ia akan benar-benar merasa terbebas dari pikiran yang membelenggu itu.

Dalam Arabian Night ada cerita Sultan dan Putri Sheherazad. Dalam kisah-kisah fantastis negeri 1001 malam itu, jin ternyata tak melulu jahat. Ia pun sama seperti halnya kita: ada yang baik, konyol, jahat, pemalu, arogan dan lain sebagainya. Dalam Al-Quran sudah sangat gamblang dijelaskan bahwa mereka seperti kita—manusia— yang beragama dan memiliki kerajaan, bersuku-suku, dan beranak-pinak. Ia pun butuh teman sebagaimana halnya manusia. Sehingga tak menutup kemungkinan manusia ada yang bersahabat dengan jin. Mungkin ada yang bertanya, lantas apa hubungan antara penulis dan jin, serta kenapa pula harus diruqyah?

Perlu diketahui bahwa setiap orang memiliki jin pendamping atau yang disebut dengan Qarin. Jin ini sangat berbeda dengan jin pengusik yang dikirim oleh tukang sihir. Mengapa demikian? Karena ia sudah ada sejak kita lahir di dunia. Sehingga ia kemudian disebut sebagai jin pendamping. Menariknya, seorang penulis bisa mengendalikan si “jin” ini seperti yang ia inginkan. Tentu saja, si jin ini memberikan impuls yang luarbiasa dalam pikirannya.

Tapi tunggu dulu, jin di sini bukanlah jin dalam artian sesungguhnya. Sebab, dalam banyak kasus, jin senantiasa mengganggu hidup manusia. Mereka sering bersekongkol dengan tukang nujum atau penyihir. Itu kenapa mereka meresahkan dan kenapa ada sebuah pengobatan non medis yang disebut dengan ruqyah.

Nah, jin yang sesungguhnya adalah sebentuk makhluk yang menakutkan dan bercokol dalam jiwa manusia. Ia tak hanya merasuk tapi mengusai, bukan hanya jiwa tapi juga raga. Namun, jin dalam tanda kutip di sini adalah sosok makhluk yang senantiasa memberikan dorongan yang kuat agar kita senatiasa produktif menulis. Alangkah lucunya, jika ada yang mengaku ingin menulis tapi tak pernah ada tindakan nyata. Setidaknya misi dari seorang penulis seperti nabi jua: menyampaikan wahyu atau pencerahan. Tapi apa mau dikata, tak semua orang mampu melakukan hal-hal gila tadi.

Itu satu dari alasan kenapa ada orang yang bertahan atau justru runtuh dengan sendirinya di dunia literasi. Coba saja bayangkan jika hidup di era 90-an, rasanya betapa sulit dan melelahkan menjadi seorang penulis itu. Kita harus berjibaku dengan mesin tik dan kertas. Bukan hanya berisik, jari-jari pun menebal serasa jempol semuanya. Belum terhitung jika ada salah ketik. Itu kenapa si juru tik harus memastikan kalimat yang disusunnya adalah benar. Jika tidak, hanya ada dua pilihan: menghapusnya dengan tip ex atau membuang hasil ketikan ke keranjang sampah.

Pada zaman itu email belum berfungsi sehebat seperti sekarang. Kurir terbaik saat itu adalah pegawai kantor pos. Bayangkan jika hasil pemikiranmu ditumpahkan dalam 500 halaman kuarto. Sebelum mengirim ke media sebaiknya harus punya salinan jumlah yang sama sekadar buat arsip pribadi. Lalu apa yang terjadi ketika setelah berhari-hari bergelut dengan mesin tik, kemudian mengalami penolakan dari media atau penerbit? Maka ada dua kemungkinan pula: naskah itu dikembalikan utuh dengan catatan seperlunya, atau tak menerima balasan apapun. Menyakitkan bukan?

Kita bandingkan dengan era digital yang super cepat ini. Cuma sekali klik, maka semua data yang diinginkan datang secepat kilat. Semuanya di-update dan di-upgrade. Termasuk dari era mesin tik ke komputer, kemudian ke laptop yang lebih ringan, simpel, dan menguntungkan. Bahkan, pada sebuah aplikasi yang bernama wattpad, kita hanya perlu android untuk mengetik naskah.

Baca juga: Tradisi Panjat Pinang: Merayakan Kemerdekaan atau Melecehkan Kemanusiaan?

Tak ada alasan lagi si jin pengganggu tadi mempengaruhi untuk malas berkarya. Seperti pesan penulis senior,“Menulislah!”. Rasanya memang benar, tak ada jin yang sangat baik ketimbang yang dimiliki Aladin. Sebab apa? Ia punya lampu ajaib yang bisa sekejap mata mengubah hidupnya.

Jika ada sebuah kemungkinan yang terbaik ketika seseorang buntu ide. Itulah saatnya mencuri lampu ajaibnya. Tak lama si jin keluar setelah digosok-gosok. Ia pun berkata,”Tuanku punya tiga permintaan yang bisa hamba kabulkan.”  Maka jawablah dengan sopan, kemudian sebutkanlah keinginanmu itu. “Jin… saya minta agar bisa menjadi seorang penulis yang andal, tersohor dalam sekejap!”  Saya yakin ia akan memberikan sebuah pena padamu.

Tanyalah dengan santun padanya yang baik hati itu. “Apa maksudnya semua ini hei Jin? Aku minta tiga permintaan bukan satu.”  Ia menjawab,”Permintaan pertama, menulislah, permintaan kedua, menulislah, dan yang ketiga, menulislah!” kemudian ia pun pergi, kau bisa apa?

 

Biodata:

Penulis adalah pecinta buku sastra, sejarah, filsafat yang bercita-cita keliling Indonesia dengan menulis. Ia adalah pengguna media sosial yang aktif menjajakan buku online. Penulis saat ini berdomisili di Jambi dan dapat ditemui di FB akun Gie.

Facebook Comments