Tuesday, June 19, 2018
Home > Kupas > Penyair Tiga Generasi: Para Nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Penyair Tiga Generasi: Para Nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Penyair Tiga Generasi

SEBELUM melangkahkan kaki ke ibukota, saya menghubungi tiga nomine Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2017. Dua di antaranya kebetulan akan menghadiri acara serupa dengan saya, yakni Deddy Arsya dan Hasta Indriyana. KSK adalah ajang penghargaan bergengsi untuk sastrawan Indonesia yang didirikan oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki. Ajang ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2001. KSK, dulunya bernama Khatulistiwa Literary Award (KLA). Pemenang utamanya akan mendapat hadiah seratus juta rupiah.

Tersebab saya tiba lebih awal di Jakarta sebelum acara Gerakan Literasi Nasional 5-7 Oktober 2017, malam itu saya menonton perhelatan akbar malam anugerah Hari Puisi Indonesia 2017 di gedung Graha Bhakti Budaya TIM, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Tepat pukul 21.35 WIB, seorang penulis muda berbakat kelahiran 1990 mengabarkan bahwa ia baru saja selesai rapat di IKJ dan sekarang telah berada di sebuah kantin di TIM. Saya pun bergegas meninggalkan ruangan dan menuju penulis muda berbakat itu, Heru Joni Putra (HJP).

Formula Badrul Mustafa

HJP yang ketika itu berada satu meja dengan Pinto Anugerah, Fariq Alfaruqi, Iyut Fitra, dan teman-teman penulis asal Sumbar, terpaksa saya gondol ke meja sebelah. Kami pun berbincang-bincang mengenai Badrul Mustafa. Di tahun 2017 ini, buku puisi HJP yang berjudul Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa masuk lima besar KSK dalam dua nominasi sekaligus, yakni kategori puisi dan kategori karya pertama atau kedua. Mengapa Badrul Mustafa? HJP mengatakan bahwa Badrul Mustafa merupakan tokoh fiksi yang menjadi fokus penceritaan, tetapi ia tidak sepenuhnya sebagai nama tokoh, ia juga menjadi perumpamaan, menjadi kata ganti, dan lain sebagainya. Dalam buku puisinya, HJP menggabungkan bentuk puisi dan prosa.

Judul buku puisi HJP bisa dikatakan unik karena ada pengulangan Badrul Mustafa sebanyak tiga kali. Tiga kali karena kehadiran Badrul Mustafa bermacam ragam, berbagai karakter, berbagai latar, dan berbagai dinamika hadir di dalamnya. Angka tiga sebagai bentuk terkecil dari jamak, bukan satu yang tunggal atau dua yang dikotomis. Sebagai formula, nama “Badrul Mustafa” bisa digunakan secara kultural menjadi semacam si Fulan. Tidak ada sebuah karakter nyata. Ia hanya Fulan yang hadir di berbagai tokoh dan situasi untuk menyebut banyak peristiwa.

Saat pertama kali melihat kover buku HJP, saya sempat berpikir bahwa nama Badrul Mustafa lebih mirip dengan nama orang-orang keturunan Arab. HJP menjelaskan bahwa dalam urusan sastra, kita boleh-boleh saja menyerap unsur apa pun dari sastra dunia. Tapi, apakah ada korelasi antara Arab dan Minang? Masuknya Islam ke Minangkabau tentu membawa pengaruh Arab di dalamnya, meski tak sepenuhnya. Pada sisi tertentu, banyak aspek kebudayaan Arab-Islam yang sudah melebur bersama kebudayaan Minangkabau-Hindu-Budha sebelumnya. Sehingga, apa yang pada zaman dulu mungkin masih disebut sebagai kebudayaan Arab, kini telah menjadi suatu produk akulturasi yang tak bisa sepenuhnya dicari kemurnian Arabnya. Contohnya pada nama-nama khas Minangkabau yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab.

Proses menulis puisi dalam buku Badrul Mustafa sudah berlangsung sejak 2006 – 2016, tetapi formula yang lebih utuh untuk Badrul Mustafa baru ditemukan 2013. Bila membuka buku puisi ini, Sahabat Puan akan menemukan bahwa dalam setiap puisi hadir tokoh fiksi yang bernama Badrul Mustafa dalam berbagai modus kehadiran.

“Badrul Mustafa hanyalah salah satu cara untuk mencoba kemungkinan lain dalam menulis puisi. Memang tak mudah. Saya memang tidak tergesa-gesa untuk memiliki antologi tunggal. Keinginan untuk memiliki buku tentu saja sudah muncul sejak lama. Namun, saya berusaha untuk menahan diri. Betapa sulitnya meyakinkan diri bahwa puisi-puisi yang saya tulis sudah “layak” dipublikasikan dalam bentuk buku. Kalau menerbitkan saja mah gampang. Akan tetapi, menulis puisi itu sangat sulit. Satu puisi rata-rata tiga bulan. Setahun paling cuma sepuluh puisi. Bagaimana pula lagi? Belum lagi mengumpulkan bahan-bahan yang akan kita gunakan untuk menulis karya. Kan kita menulis sastra, bukan curhatan patah hati,” tuturnya. Bagi HJP, puisi semestinya bisa menjadi  “pamflet” di zamannya.

Malam semakin dingin. Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB, saya berpamitan kepada teman-teman penulis. Taksi online menurunkanku di Stasiun Cikini. Gerbong bernomor dua belas membawa serta tubuhku sampai Stasiun Pondok Cina, Depok. Deru mesin kereta mengingatkanku bahwa masih ada dua nomine KSK lagi yang harus diburu: penulis Penyair Revolusioner dan Rahasia Dapur Bahagia.

HJP dan Badrul Mustafa
HJP dan Badrul Mustafa

Penggemar Adonis yang Memangkas Akar Beringin

TANGGAL 5 Oktober 2017, saya sudah tiba sejak pagi di Hotel Santika, TMII, Jakarta Timur. Dari sekian banyak teman penulis, saya belum melihat Deddy Arsya dan Hasta Indriyana. Lagipula, acara pembukaan acara GLN 2017 yang digelar Kamis malam dihadiri Menteri Pendidikan RI, Muhadjir Effendy dan selesai pukul 22.00 WIB. Lalu saya memutar kepala dan tibalah saat yang dinanti. Setelah acara pembukaan selesai, saya menuju resto dan menghampiri Deddy Arsya.

Obrolan saya bersama Deddy Arsya di restoran hotel malam itu dimulai dengan puisi dan diakhiri dengan kopi. Kami duduk berdua sambil menikmati makan malam dan saya merasa merdeka karena berhasil menculik beliau dari teman-temannya. Deddy sudah menulis puisi sejak sepuluh tahun lalu, namun akhir-akhir ini Deddy lebih senang menulis sejarah. Deddy juga menulis cerpen, esai, dan cerita anak. Di acara GLN 2017 ini saja, buku cerita anak Deddy lolos dua judul. Ya, lumayan bisa mengantongi dua gepok uang yang masing-masing nominalnya Rp 10 juta. Lucunya, Deddy tidak mau dibilang sebagai multitalent, sembari tertawa ia memplesetkan menjadi multidisipliner.

“Saya tidak yakin menjadi pemenang KSK meskipun masuk lima besar kategori buku puisi. Saya belum membaca semua buku nomine KSK kecuali Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa. Menurut saya yang paling berpeluang adalah Hasta Indriyana. Sebab yang menjadi pertimbangan lain bukan hanya teks, melainkan juga hal-hal di luar karyanya,” tuturnya.

Karena tak diburu keberangkatan kereta dengan bayang-bayang pintu pagar akan dikunci oleh Pak kos seperti pertemuan pertama dengan HJP, kami mengobrol dengan santai seperti obrolan teman lama yang baru bersua.

Sebelum Penyair Revolusioner, buku puisi Deddy yang juga pernah masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2013 berjudul Odong-Odong Fort de Kock, meski tidak menjadi juara utama di KLA, buku ini terpilih sebagai sastra terbaik 2013 versi majalah Tempo. Perbedaan antara buku puisi yang lama dengan yang baru bisa dilihat dari bahasa. Puisi-puisi di Penyair Revolusioner lebih pepat dan padat. Ibarat pohon beringin, akarnya terlalu banyak menjalar kemana-mana dan pada buku puisi kedua, akar-akar ini sudah dipangkas. Proses menuju pemangkasan melalui upaya berkreasi dan evaluasi kerja kepenyairan sebelumnya.

“Tiba-tiba saya merasa bahwa puisi yang baik itu yang sederhana,” ucapnya.

Buku yang sering dibaca oleh Deddy, selain Chairil Anwar, ada Emily Dickinson (Penyair AS) dan Adonis (Penyair Arab). Menurut Deddy, Adonis adalah tonggak perpuisian modern Arab dan seringkali diunggulkan meraih nobel. Selain Nizar Qabbani, ia sangat senang membaca Adonis. Dengan membaca, tidak bisa dipungkiri bahwa puisi-puisi Deddy terpengaruh gaya kepenyairan idolanya.

Sambil menelan es buah, Deddy menjelaskan bahwa buku Penyair Revolusioner mendeskripsikan tentang autokritik, menggugat adat, menggugat sejarah, dan menggugat dunia sastra sebab ia tidak begitu suka dengan  hiruk pikuk sastra, awalnya buku ini akan diberi judul Musim Beras Mahal dan Wabah Cacar, pertimbangannya bisa salah letak di rak kesehatan, maka saran editor akhirnya judul buku berganti menajadi Penyair Revolusioner.

Mengapa buku puisi Penyair Revolusioner perlu dibaca banyak orang? Sebab Penyair Revolusioner berbeda. Terkadang ada penyair lain yang  terlalu sibuk dengan bahasa, berakrobat dengan kata-kata, dan mengasah kemahiran bahasa sehingga mengabaikan konten dan hasilnya, pembaca hanya akan menikmati kerimbunan bahasa tanpa mendapatkan apa-apa. Dalam Penyair Revolusioner, kerimbunan bahasa dan konten dipadupadankan.

“Menulis puisi bagi saya berangkat dari konten, setelah itu baru mempermainkan konten degan kemahiran bahasa. Jangan sampai terbalik atau kehilangan salah satunya. Penyair yang lebih menggunakan objek bahasa tanpa konten seringkali terjebak pada kerimbunan bahasa sehingga seringkali penyair memberikan sisipan konten setelah menafsirkan. Saat menulis puisi, saya tidak pernah mencari kata-kata, tetapi kata-kata yang menghampiri saya. Ia datang tiba-tiba di kepala dan segalanya menjadi senyap. Barangkali seperti nabi Muhammad kala menerima wahyu dari Allah SWT,” tutur Deddy.

Di sela-sela obrolan, Esha Tegar Putra menuju meja kami. Sejenak, obrolan saya dengan Deddy beralih ke Esha. Tahun 2016, buku puisi Esha yang berjudul Sarinah pernah masuk sepuluh besar KLA dan tahun 2015 bukunya berjudul Dalam Lipatan Kain masuk lima besar KLA. Deddy masih asyik dengan es buahnya dan denting suara sendok mengudara. Saat saya menanyakan mengapa banyak penulis berbakat lahir dari Sumbar? Esha menjawab bahwa ini hanya persoalan iklim. Lanskap daerah sangat berpengaruh dari proses kreatif. Akan lebih gampang Orang Minang menulis daripada bercakap. Secara pribadi, Esha sendiri menjagokan Deddy. Namun ada kemungkinan Hasta, Kiki, atau Toni. Semuanya berada di tangan juri.

Malam semakin larut. Obrolan kami diakhiri dengan janji ngopi di sekitar areal TMII. Saya, penyair perempuan Sumbar, Evan YS, penyair-penyair Sumbar lainnya (Esha, Pinto, Dian, Iyut Fitra, dan Deddy Arsya), dan Beny Bara (penulis dari NTB) yang juga peserta GLN menelusuri lekuk tubuh Jakarta dengan berjalan kaki. Di sela perjalanan, Deddy menanyakan usia saya, tapi saya tidak mau menjawabnya. Saat saya tanya kembali usia Deddy, ia tidak mau menajawab. Padahal saya tahu, di biodata bukunya ia adalah lelaki kelahiran 1987, generasi di atas HJP. Warung kopi di sekitar hotel tak ada yang buka. Perjalanan hampir sejauh 10 km yang kami tempuh tak membuat kami berkeluh kesah karena lelah. Kami kembali ke hotel dan menikmati kopi sidikalang khas Sumut di kamar 348 sambil memperbincangkan banyak hal hingga pukul 00.30 WIB.

 Hasta: Bapak Rumah Tangga yang Senang Memasak

PADA hari kedua acara, saya yang berada di ruang C dan tak terlalu paham dengan aplikasi indesign mencari udara segar, tanpa pamit kepada panitia. Tentu saja mencari Hasta Indriyana yang berada di kelas sebelah. Tanpa seizin istrinya yang juga ada di acara yang sama, saya mengajak Hasta berbincang-bincang di lobi hotel. Malam anugerah KSK akan diadakan 25 Oktober 2017, pukul 19.00 WIB di Plaza Senayan, Jakarta. Hasta berharap bisa datang sekadar berjabat tangan dengan teman-teman, namun ia belum tahu bisa datang atau tidak mengingat ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. “Semoga bisa datang”, ucapnya.

Berbicara mengenai Resep Dapur Bahagia (RDB), di tahun ini ia masuk lima besar kategori puisi di KSK 2017. Buku bersampul kuning itu mengisahkan perihal tentang masakan. Pada prosa, cerita tentang masakan sudah banyak bisa dijumpai, sebut saja cerita Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya dan masih banyak lagi yang lain.

Indonesia sangat kaya, termasuk kulinernya. Banyak tersedia bumbu, rempah-rempah, hasil bumi yang bisa dinikmati  sehingga harus dikabarkan dalam bentuk puisi. Meski sudah ada penyair Indonesia yang menulis tentang masakan, yakni penyair wanita berdarah Tionghoa, Hana Fransiska. Menurut Hasta yang membedakannya hanya persoalan batasan tema, bentuk, dan jenis-jenis masakan tertentu yang akan ditulis.

Saat puan.co menanyakan apakah Hasta bisa memasak? Dengan tidak malu-malu, penulis kelahiran 1977 ini menjawab, “Saya bisa memasak karena belajar dengan istri. Selain momong anak perempuan – si Candi – hampir tiap hari saya memasak untuk rumah sebab istri saya bekerja. Perihal enak atau tidaknya, yang penting bisa melepaskan lapar. Saya memang bapak rumah tangga,” tuturnya sambil menyeringai.

Hasta kemudian menceritakan bahwa judul buku puisi Resep Dapur Bahagia merupakan masukan dari istri. Bahwa ada kata “rahasia” yang menarik untuk didengar karena kata itu mengandung misteri. Sementara kata “dapur” mewakili kuliner, dan kata “bahagia” memang ingin menampilkan hal-hal yang riang.

Mengenai buku puisi nomine lain, Hasta mengatakan bahwa ia belum membaca semuanya. Yang sudah ia baca hanya buku puisi HJP sebab ia memang suka dengan buku puisi itu dan Hasta tak pernah bosan membacanya. Menurut Hasta semua buku yang masuk lima besar pasti bagus dan memiliki kelebihan tersendiri. Puisi itu masuk ke wilayah seni. Ketika seni dilombakan, tentu saja subjektivitas juri yang akan berbicara. Cita rasa yang dikehendaki seperti apa ia juga belum tahu. Biasanya tidak hanya semata teks yang dinilai, tetapi di luar teks juga menjadi pertimbangan.

“Saya belum pernah membayangkan akan jadi pemenang, ini event sastra yang cukup besar di Indonesia. Saya merasa belum pantas menjadi juara meskipun saya diam-diam mengharapkan hadiahnya. Harus banyak berproses,” tuturnya sambil tersenyum.

Buku RDB memang sudah diniatkan jauh-jauh hari dalam sekian tahun. Untuk menulis puisi-puisi dalam buku RDB, Hasta banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan kuliner, seperti Serat Centhini, Babad Tanah Jawi, Babad Gunung Kidul, dll. Setelah membaca biasanya pengetahuan semakin bertambah. Sebut saja masakan kare dari India, ketika masakan itu masuk pertama kali di Indonesia melalui Aceh, maka ia akan berbaur dengan budaya setempat dan tidak lagi murni sebagai kare India. Hal ini banyak terjadi pada beberapa masakan, misalnya saja semur yang aslinya berasal dari Eropa. Ketika semur masuk Indonesia, citarasanya sudah Jawa banget. Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa semur adalah pencapaian masakan Eropa tertinggi di Indonesia.

Yang menjadi pembeda buku puisi RDB dengan buku puisi Piknik yang Menyenangkan (PYM) adalah bahwa buku PYM memang sedari awal niatnya mau dibagi-bagi sebagai dokumentasi saja. Selama bertahun-tahun beragam gaya puisi dicoba: mulai dari mengeksplor gaya bahasa yang lebih bebas, struktur kalimat, hingga pencarian rima. Puisi terbaik ada di buku PYM. Buku yang pernah menjadi unggulan puisi HPI ini memang tidak untuk dijual. Dicetak sebanyak 120 eksemplar, 80 eksemplar dibagikan kepada siapa saja yang menginginkannya. Hingga sekarang ada penerbit yang menginginkan buku PYM dicetak ulang sebab banyak yang ingin membacanya, namun Hasta belum mengizinkannya.

Tawaran estetik RDB memang ada, tetapi tidak terlalu banyak. Buku puisi ini ditulis dalam tiga bagian. Bagian satu berjudul “Rahasia” ditulis dengan gaya alusi dengan sedikit banyak acuan sejarah. Bagian dua berjudul “Dapur” memakai impresi dengan mengisahkan rempah-rempah dan menunjukkan kekayaan Indonesia. Sementara bagian tiga “Bahagia”  mengisahkan perkakas-perkakas dapur tradisonal.

Azan Jumat menggema dan saya bergegas pamit menuju ruang C. Di akhir Oktober nanti Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa dan Penyair Revolusioner akan menemui takdirnya bersama Rahasia Dapur Bahagia. Lalu bagaimana dengan buku puisi lain yang belum masuk KSK? Ia akan mengalir tak henti-henti di tubuh pencintanya.

Deddy Arsya dan Hasta Indriyana
Deddy Arsya dan Hasta Indriyana
Facebook Comments