Saturday, October 20, 2018
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Perempuan-perempuan Tangguh di Hamparan Kebun Teh

Perempuan-perempuan Tangguh di Hamparan Kebun Teh

Perempuan-perempuan Tangguh di Hamparan Kebun Teh

SEJAUH mata memandang hanya tampak hamparan daun teh yang menghijau di bawah kaki gunung Kerinci yang diselimuti gulungan awan putih. Semilir angin gunung berembus perlahan menggoyang daun teh dan bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitarnya. Di tengah hamparan kebun yang menghijau, tampak perempuan-perempuan pemetik teh sedang bekerja. Di kepalanya bertengger caping bambu untuk menahan jilatan matahari. Mereka juga melumuri muka dengan bedak beras agar kulit wajah aman dan tidak terbakar matahari. Di pinggang mereka terpasang lembaran karung plastik yang telah dimodifikasi menyerupai celemek, dan di punggungnya tergantung sekantung karung plastik tempat menampung daun teh yang telah dipetik.

Baca juga: Alunan Gemuruh Telun Berasap yang Menenangkan

Sambil berjalan beriringan menuju lokasi teh yang akan dipetik daunnya, mereka menyanyikan lagu atau yel-yel sukacita sebagai pendorong semangat bekerja. Sebagian lagi ada yang tengah bergerombol mengumpulkan karung-karung berisi daun teh yang telah dipetik. Sementara beberapa perempuan lainnya tampak asik menyembul dan menghilang di antara  hamparan pohon teh. Mereka  tampak asyik memetik daun teh di perkebunan Kayu Aro Kerinci yang produk premiumnya menjadi komoditas favorit ratu Inggris juga Belanda.

Namun, tidak semua perempuan di perkebunan teh Kayu Aro menjadi pemetik daun teh. Sebagian ada yang mengelola tanaman tumpang sari seperti kentang dan buncis di areal perkebunan teh terluas di dunia ini atas izin PTPN VI yang memiliki hak kelola perkebunan tersebut. Tanaman tumpang sari ini dikelola oleh perempuan-perempuan petani bersama anak dan keluarganya.

Tanaman kentang menjadi komoditas utama yang ditanam secara tumpang sari. Hasilnya cukup lumayan ketika dipanen setelah dua bulan masa tanam. Perempuan-perempuan petani tanaman tumpang sari ini, berjibaku membantu keluarganya  tanpa kenal lelah dari masa awal tanam hingga panen. Mereka dibantu dengan anak dan sesama perempuan di keluarganya. Pada waktu penulis berkunjung ke perkebunan teh Kayu Aro beberapa waktu lalu, sekelompok perempuan petani sedang memanen kentang di tengah perkebunan teh. Para pria membantu mengumpulkan kentang yang telah dipanen dan memasukkan ke dalam karung-karung besar hingga mengantar ke pengepul. Perkebunan teh yang memiliki luas sekitar 3.020 hektar ini menjadi tempat bagi para perempuan pemetik teh dan perempuan petani tanaman tumpang sari berjibaku mencari penghidupan.

Selain menjadi perkebunan teh terluas di dunia, perkebunan ini merupakan perkebunan teh tertinggi di dunia setelah perkebunan teh di India. Letaknya ada di 1600 mdpl. Perkebunan ini telah  beroperasi sejak tahun 1920 pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pada saat itu sebuah perusahaan perkebunan Belanda Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging Amsterdam (NVHVA) yang mengelola perkebunan teh Kayu Aro. Pohon teh mulai ditanam oleh perusahaan perkebunan Belanda tersebut pada tahun 1923. Sedangkan pabriknya berdiri sejak 1925. Pada tahun 1959, perkebunan teh Kayu Aro dinasionalisasi oleh Indonesia dan perusahaan pengelolalanya PTPN VI hingga sekarang.

Baca juga: Menikmati Debur Ombak Danau Kerinci

Saat ini, daun teh yang selalu menghijau sepanjang tahun itu rutin menghasilkan sekitar 5000 ton daun teh setiap tahun. Daun teh dari perkebunan ini, diekspor ke berbagai negara seperti Rusia, Eropa, Timur Tengah, Amerika Serikat, Asia Tengah, Pakistan dan Asia Tenggara berupa produk teh unggulan yaitu teh ortodox grade satu.

Perempuan-perempuan pemetik teh yang berjasa bagi produk teh terbaik di dunia ini, dan juga perempuan-perempuan petani tanaman tumpang sari yang berjibaku membantu keluarganya, berasal dari beragam suku. Namun yang terbanyak berasal dari suku Jawa, terutama Jawa Tengah. Konon, mereka telah hidup sejak awal perkebunan teh didirikan. Keluarga mereka dikenai kewajiban kerja paksa pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda untuk mengelola perkebunan teh Kayu Aro. Saat ini, perempuan-perempuan tersebut telah hidup turun temurun di perkebunan teh Kayu Aro Kerinci. Hasil tangan dan kerja keras mereka dapat mendorong anak-anak mereka sebagai generasi penerus untuk menempuh pendidikan tinggi hingga setaraf Strata 1. Anak-anak mereka, generasi penerus itu baik laki-laki maupun perempuan menempuh pendidikan di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di pulau Jawa.

Demikian perempuan-perempuan pemetik daun teh dan perempuan petani tanaman tumpang sari di perkebunan teh Kayu Aro mengisahkan bagaimana mereka bisa terdampar di tengah hamparan kebun teh yang menghijau menyejukkan mata itu. Merasakan semilir angin sambil menyaksikan perempuan-perempuan itu bekerja, serta sejuknya udara pegunungan, membuat kita terlena dan tak ingin cepat-cepat meninggalkan perkebunan teh Kayu Aro.

Perempuan-perempuan Tangguh di Hamparan Kebun Teh
Perempuan-perempuan Tangguh di Hamparan Kebun Teh

Lanskap gunung Kerinci sebagai gunung tertinggi di Sumatera dan masih aktif sangat jelas dan begitu terlihat dekat ketika memasuki areal perkebunan teh di daerah Kersik Tuo Kerinci. Hamparan perkebunan teh yang sangat luas menjadi pemandangan yang luar biasa. Setiap bukit dan lembah ditanami pohon teh. Beberapa pohon ada yang telah menua dan tidak lagi menghasilkan pucuk daun teh. Jalanannya cukup berliku-liku. Di hari-hari libur, jalan menuju areal perkebunan teh akan macet karena banyaknya wisatawan lokal yang hendak menuju perkebunan teh Kayu Aro dan menikmati pemandangannya. Pada hari-hari libur yang padat kunjungan ini, biasanya dapat ditemui perempuan-perempuan penjual jagung goreng.

Pihak PTPN VI juga dengan senang hati akan membantu wisatawan yang ingin mengetahui sejarah serta proses produksi teh Kayu Aro. Di sekitar pabrik, anda dapat berfoto-foto bernostalgia dengan bangunan kolonial atau dengan mesin-mesin pabrik zaman dahulu yang masih tersisa, selain bernostalgia dengan tanaman teh yang menua maupun yang masih menghijau.

Baca juga: Menikmati Pesona Air Terjun Segerincing

Di dalam areal perkebunan teh ini anda juga akan menemukan tugu yang didirikan dengan simbol harimau menginjak seekor kambing yang tidak berdaya. Lokasi tugu tersebut dinamakan dengan simpang macan. Konon katanya, di sekitar simpang tersebut dahulunya sering dilintasi harimau Sumatera yang kini sudah terancam punah.

Wisata perkebunan teh Kayu Aro ini merupakan wisata nostalgia warisan kolonial Hindia Belanda yang menakjubkan. Di dalamnya beragam suku yang ada di Indonesia hidup berdampingan dan bersama-sama mengelola perkebunan teh. Kita patut berterima kasih kepada perempuan-perempuan pemetik teh dan juga perempuan-perempuan petani tanaman tumpang sari, mereka telah merawat nostalgia itu untuk dapat dinikmati hingga kini dan nanti.

Facebook Comments