Saturday, October 20, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Poligami

Poligami

Poligami

TIBA-TIBA netizen heboh oleh postingan foto seorang ustaz sedang makan bersama tiga orang perempuan. Ketiga orang perempuan itu adalah istrinya. Postingan ini kemudian menuai tangggapan yang beragam. Ada yang menolak dengan tegas, ada pula yang setuju dengan postingan tersebut.

Poligami merupakan istilah dalam pernikahan ketika laki-laki memiliki istri lebih dari satu orang. Dalam istilah antropologi adalah poligini. Hasil penelitian G.P Murdock pada awal 1940-an dengan mengambil sampel 565 kelompok masyarakat dari semua benua dengan latar belakang suku, bangsa, kebudayaan, serta agama dan kepercayaan yang berbeda, hanya sekitar 19 persen yang menganut sistem keluarga monogami, 82 persen menganut sistem poligini dan sisanya poliandri. Jika poligami selalu dikaitkan dengan agama Islam, tapi fakta menyebutkan bahwa poligami itu sudah ada di kalangan bangsa-bangsa yang hidup pada zaman purba. Poligami sudah dilakukan oleh bangsa Yunani, Cina, India, Babilonia, Asyria, Mesir dan lainnya sebelum Nabi Muhammad membawa Islam.

Umat terdahulu dalam agama samawi juga telah melakukan poligami. Bahkan, dulu poligami di kalangan mereka tak terbatas, hingga mencapai puluhan ribu istri bagi satu suami. Seorang Raja Cina ada yang mempunyai istri sebanyak 30.000 orang. Sedangkan di Indonesia, praktik poligami juga sudah ada sebelum agama Islam masuk dan  berkembang. Raja-raja di masa lalu, biasanya memiliki lebih dari satu istri. Istri pertama biasanya memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan istri –istri lainnya (selir).

Dalam ajaran Islam yang tertuang di Alquran surat Annisa ayat 3, disebutkan, “Dan nikahilah wanita yang kamu sukai dua, tiga, atau empat; dan apabila kamu tidak bisa berlaku adil, nikahilah seorang saja.” Menurut Hassan Halthout, agama samawi lain seperti Yahudi dan Kristen juga tidak melarang poligami. Nabi-nabi yang namanya disebut dalam Taurat semuanya berpoligami tanpa pengecualian. Nabi Sulaiman A.S. mempunyai 700 orang istri yang merdeka, dan 300 orang berasal dari budak (Jurnal Perempuan, No 31 Menimbang Poligami, Jakarta: 2003, hlm 34).

Sedangkan dalam agama Kristen, seperti ditulis oleh Mukhotib MD (2002, Injil membolehkan poligami, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Perjanjian Lama memiliki beberapa rujukan, termasuk dalam Keluaran 21:10 yang membolehkan seorang laki-laki untuk menikahi perempuan dalam jumlah tak terbatas tanpa melihat situasi. Demikan pula dalam Perjanjian Baru tak ada satu ayat pun yang melarang praktik poligami. Dalam Matthew 22 : 24 – 29, bangsa Yunani menunjuk Deuteronomy 25 : 5, (membolehkan poligami) dan membawanya kehadapan Yess, ia tidak menyalahkan dan tidak pula melarangnya.

Lalu, apa yang menjadi masalah terkait poligami, jika praktik ini sudah dilakukan selama berabad-abad tahun lalu? Masalahnya adalah banyak laki-laki yang tidak memperhatikan makna kata adil ketika memutuskan berpoligami. Bahkan banyak laki-laki malah melakukan pernikahan diam-diam tanpa sepengetahuan istri pertamanya.  Keadilan, menjadi sebuah kata yang mungkin gampang sekali diucapkan, namun kenyataannya banyak keadilan itu tidak didapatkan walaupun hanya sekedar kuantitas dan angka-angka. Misalnya dalam pembagian biaya hidup dan giliran kebutuhan seksual. Namun, jika kita berbicara keadilan yang kualitatif terkait cinta dan kasih sayang, saya berpikir apakah mungkin keadilan tersebut bisa dipenuhi suami? Sedangkan cinta seorang ayah saja kepada anak-anaknya, kerap berbeda dan sulit memperlakukan rasa sayang yang sama. Bagiamana dengan cinta dengan  lawan jenis yang di dalamnya tentu berbalut nafsu.

Bahkan banyak contoh kasus, kehidupan poligami malah menyengsarakan istri dan anak-anaknya. Seperti yang terjadi pada tetangga dekat rumah saya, yang mengalami gangguan jiwa karena suaminya menikah lagi. Pada akhirnya, suaminya menceraikannya dan tidak memberikan nafkah untuk anak-anak mereka. Jika berdasarkan Islam sebagai agama yang sangat memuliakan perempuan, Alquran mempertegas dan mengingatkan para pelaku poligami bahwa kemungkinan berbuat tidak adil yang berujung pada menyia-nyiakan istri dalam perkawinan poligami sangatlah besar. Seperti tertuang dalam Alquran  surat Annisa ayat 129 yang artinya; “Dan sekali-kali kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walapun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung….”

Banyak juga (saya tidak menyebutkan pelaku poligami yang bisa berlaku adil) tapi beberapa pandangan pernikahan poligami umum di masyarakat, suami cenderung sayang kepada istri muda. Namun belakangan malah istri muda yang biasanya melakukan pernikahan di bawah tangan (sirri) mengalami banyak bentuk kekerasan. Baik yang dilakukan oleh suaminya, maupun bullying oleh masyarakat sekitar seperti tetangga dan orang-orang lain. Dan berimbas juga cap buruk pada anak-anaknya, karena posisi ibunya yang lemah sebagai seorang istri di mata masyarakat. Istri muda ini juga mendapat kecaman sebagai perempuan penggoda, jalang, dan yang lebih sadis lagi pelacur karena telah merebut suami orang. Bisa dibayangkan perkembangan mental sang anak pasti akan sangat terganggu terutama jika anaknya berjenis kelamin perempuan. Kekerasan yang mereka dapatkan pasti berlapis, di antaranya psikologis, kekurangan ekonomi, kekerasan seksual, dan kekerasan fisik.

Ulasan sederhana di atas, tentulah tidak seutuhnya bisa menjelaskan bagaiamana poligami hanya memiliki lebih banyak dampak mudarat daripada maslahat. Dalam poligami  bayak mengabaikan hak seorang istri dan anak-anak terabaikan dalam keluarga. Jika ini terjadi, masihkah poligami menjadi bahan perbincangan laki-laki atas nama agama, atau dapat menjadi kebanggaan bagi seorang laki-laki? Saya sempat berdebat dengan suami tentang hal ini, suami memberikan pandangan, jika suami yang siap berpoligami laksana menyiapkan satu kakinya di dalam neraka dan kaki lainnya di pintu surga. Sungguh keputusan yang sangat sulit, dan pernyataannya terkait berlaku adil membuatnya tidak menyanggupi berpoligami sungguh meneduhkan hati saya. Karena saya sebagai seorang istri memilih tidak mau dipoligami. Karena bagi saya, poligami adalah proses dehumanisasi perempuan. Jika tidak dapat berlaku adil secara kuantitas maupun secara kualitas, maka laki-laki yang berpoligami telah merendahkan harkat dan martabat seorang perempuan.*

Facebook Comments