Monday, April 23, 2018
Home > Literasi > Cerita > Sebuah Cerita untuk Perlip

Sebuah Cerita untuk Perlip

Batu besar di pantai

BERSAMA gugur waktu merangkai rasa kujatuhkan rindu kepadamu. Lewati gelombang ombak lautan dari pagi ke petang yang berulang-ulang. Bahkan telah kugapai kemilau bintang terlarang. Telah habis ribuan purnama kurindukan kamu. Aku percaya, teramat yakin sungguh, suatu hari pesanku akan sampai kepadamu: Kekasih.

***

 

DAHULU, ada sebuah kisah tentang persahabatan. Persahabatan karib yang mengalir dengan cinta dan tawa. Di antara kersai hujan merinai. Matahari pagi yang bersinar. Silir mengalir. Gelegar gemuruh. Lembaga pendidikan. Guru-guru menjelaskan. Buku yang merangkum cerita. Tulisan yang menuai kisah.

Dahulu, persahabatan karib itu terukir manis dan indah. Persahabatan seorang lelaki dengan seorang perempuan manis nan anggun menawan. Perempuan yang memang sangat menawan. Kala itu, berduka tersenyum mereka lalui bersama meski masing-masing minum dari gelas tahta berlainan materi. Lelaki dan perempuan ini sangat dekat, sangat akrab, bagai lamat pepatah lama “air mendekap tebing”. Tiada satu pun mampu halangi persahabatan mereka meski ada banyak sekali ketidaksepadanannya. Satu dan yang lain selalu ada untuk yang lain. Senandung sukacita mengalun merdu kala itu.

Dahulu, banyak kenangan indah yang mereka pahatkan di hati. Bersama-sama duduk satu bangku. Bercanda-canda hingga dimarahi guru. Marah dan kesal hingga saling lempar buku. Ke belakang sekolah memetik kembang sepatu –bunga pekat merah serupa darahmu. Berdua duduk di baris depan sebelah kanan meja guru. Saling pandang dan tersenyum malu-malu. Dahulu ….

Ah, Ya, Dahulu.

Kenangan indah itu terjadi hanyalah dengan awalan kata dahulu. Cerita yang tercipta ketika puluhan tahun lalu, saat mereka masih kecil –masih memakai pakaian yang kecil-kecil. Saat masa indah itu tercipta apa adanya —mengalir apa adanya. Saat hati terlampau suci untuk dinodai. Kala hati terlampau jujur untuk berbohong. Ketika hati perlahan berdegup merasa rasa, namun masa itu hati juga terlampau keluh untuk menggerimis-rinaikannya.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, serta Sabtu mereka selalu bertemu, sedang Minggu adalah pemisah yang sengaja tercipta untuk menimbulkan kerinduan. Keakraban dalam persahabatan yang mereka bina, membuat si lelaki menjadi sangat peduli kepada sahabat perempuannya. Lambat dalam pasti kepedulian itu terus bertumbuh, menjelma sebagai sebuah perasaan sayang yang semakin subur hingga bermutasi menjadi sebuah perasaan agung dalam tahta hidup manusia. Siang berlalu penuh sukacita dan malam tersulam dalam gemilap indah. Sempurna tampaknya.

Rupa ceria binaran pelangi selalu singgah mewarnai hatinya, hati si lelaki. Lebih indah dari hanya sekedar Mejikuhibiniu. Lebih, lebih banyak lagi puspawarna yang merekah di taman hatinya. Namun, sungguh dunia adalah tempat yang fana. Keindahan itu belum menjadi utuh. Manusia bisa saja maha pinta, tetapi tetap Dialah yang menguasai segala hajat. Manis tak selalu menjadi madu; jalan hidup yang berliku, nelangsa adakalanya datang membelenggu, terkurunglah rasa dalam rindu. Setelah siang pastilah ada malam. Masa indah itu akhirnya pupus jua dalam waktu.

Setamat SD gadis anggun itu akan pergi berlayar bersama dengan sebuah kapal yang anggun setara dirinya. Gadis itu akan pergi. Katanya, “aku ingin berlayar mengejar bintang yang kemilau di langit. Jikalau nanti aku telah tiba di sana, pastilah akan kukabarkan dirimu. Tunggulah daku!”

Akhirnya ia pergi, aroma tubuhnya terbawa pergi. Sepi semilir.

Sekarang, kerjaanku hanya bercerita. Sudi atau tidak aku tetap bercerita. Terlanjur. Mau bagaimana lagi.

Bagaimana lagi selanjutnya? Selanjutnya mereka berpisah atau mungkin tepatnya terpisah? Entahlah, terserahmu saja. Siang dan malam berganti, memeluk rindu yang menyakitkan hati. Rindu itu hadir setiap saat, ia datang dalam tajam lalu menyayat lehernya hingga menganga luka hitam yang sangat dalam. Bukankah memang sakit memeluk rindu kepada orang yang dicinta namun tak bisa dijumpa? Merindu dalam penantian. Menunggu. Luka itu semakin menganga. Menunggu. Masih adakah yang bisa dilakukan seseorang yang ditinggal melainkan ia hanya dapat menunggu? Mengejar? Tak perlu, dia bilang akan berkirim kabar.

Saban hari ia selalu termenung di tepi pelabuhan. Duduk di pinggiran dermaga menanti kapal anggun yang pergi itu. Menghela napas menjuntai kaki. Membuang kerikil sekehendak hati. Mendengar derung kapal, “drungg …”. Memandang kuli tak berbaju memikul karung, setengah mati lelah terhuyung. Menatap matahari senja keemasan. Teh celup di atas laut. Anak-anak yang mandi telanjang. Semilir angin berembus. Kapal-kapal yang nampak membesar. Mungkin gadis itu telah kembali? Selalu, hampir setiap hari ia sisihkan waktu untuk begitu. Dan akhirnya sang lelaki itu teguh kukuh untuk menunggu. Ia tidak pernah pulang ke rumah. Hanya menunggu. Masa depan? Merengkuh cinta hanya itulah masa depan baginya.

Kerjanya memandang kosong laut lepas. Merasakan angin dan deburan ombak. Menunggu. Keluarganya tentu saja bingung melihat keadaan sang lelaki yang menjadi begini. Tetapi masih adakah yang dapat mereka lakukan? Hendak bagaimana lagi…, begitulah akibat dari lima huruf yang bila tak berpaut akhirnya meranumkan petaka.

Bukankah cinta itu memang tak punya mata dan para pecinta itu adalah buta? Laki-laki itu tak pernah berhenti untuk menunggu, untuk berharap, untuk kembali dapat melihat gadis itu. Setiap kapal yang singgah selalu ia harapkan gadis itu. Ingin sangat ingin ia melihatnya kembali karena hatinya ingin menjaga. Ingin melayang berkasih sayang. Ingin tinggal. Ingin berlayar bersama kapal anggun tersebut, walau nyatanya ingin tetaplah saja menjadi ingin. Mawar tetaplah saja merekah meski datangnya angin meski datangnya dingin.

Satu tahun berlalu, dua tahun berlalu –sang waktu adalah penguasa yang tak pernah bisa diajak kerjasama, dan puluhan tahun tetap saja berlalu. Lelaki itu masih di sana, masih menunggu. Tak pernah makan, tak pernah minum, tak pernah lepas memandang laut, dan juga tak mati seperti rasa cintanya yang tak pernah mati-mati kepada seorang gadis yang telah pergi. Melihat kenyataan yang terjadi ini, kadang aku merasa benar kata orang-orang tua dahulu sewaktu aku kecil: kesungguhan cinta yang mengakar di hati mampu mengalahkan segalanya bahkan tajam kematian sekalipun.

Tahun-tahun kembali berganti tanpa pernah berucap permisi. Mataku yang telah sayu terus saja memandang bebas ke laut lepas. Dari hari ke minggu hingga puluhan windu ingatanku akan raut wajah gadis itu pun perlahan memudar. Tetapi, cintaku yang terlanjur membara ini tak pernah bisa pudar. Hingga hari ini aku rasa telah hampir tujuh ratus tahun sudah kapal itu pergi. Keadaan di sekitarku sekarang telah jauh berbeda. Dulunya, di sana itu lebat oleh hutan namun kini pabrik-pabrik bertebaran; dulunya di situ ada beratus hektar sawah namun kini telah menjadi pusat belanja super megah. Ya, semuanya berganti kecuali cintaku kepadanya.

“Hmm… mungkinkah dirimu mengenaliku jikalau nanti kita bersua duhai perlipku?”

Sebenarnya pernah ada kapal-kapal menawan lain yang coba mendekat. Namun, entah mengapa kapal anggun ini tetap tak pernah pergi dari hati. Hingga hanya dia, dia dan dia. Dia yang tak pernah terganti. Hingga kini aku masih saja tetap menunggu, menanti kapal tersebut hingga akhir yang tak terjadwal. Bergeming demi dia. Demi janji dirinya.

Kalau aku mengingat jalannya waktu masa lalu, saat perlahan aku semakin tua. Selang waktu tentu jenuh bila hanya menatap ke tengah laut. Bosan pula hanya memandang tebaran mega merah muda bersemu nila setiap sore senja. Pernah waktu itu aku mengadukan nasibku kepada Tuhan. Lalu Tuhan mengajakku naik ke istana-Nya di langit. Dan aku menceritakan semua isi hatiku. Seluruh penghuni langit menangis bagai sekumpulan bayi yang lucu. Malaikat-malaikat meraung derita tak tega melihat aku yang katanya tolol terus menunggu. Bidadari jelita menggugurkan bening kristal airmatanya haru pada cerita cintaku. Tuhanku Yang Maha Pengasih nan serta Maha Penyayang pun akhirnya iba juga. Tidak, tak pernah ada kata berlebihan bila engkau merasakan cinta.

Seringkali setelah jenuh menatap laut, aku mulai menyisihkan waktu untuk bercerita. Aku bercerita kepada malam, kepada siang, senja, angin, awan, air, matahari, rembulan, hujan, waktu, botol hanyut, sampah yang mengapung, sebutir beras, kepada apa pun ciptaan Tuhan yang memahami rasaku. Mereka semua tersedu haru mendengar kisahku. Namun, mereka hanyalah dapat berdoa, selain itu tak berguna. Tak bisa melanjutkan cerita cintaku kepada manusia lain –apalagi menyampaikannya kepada Perlip. Kalian tentunya mahfum: berbicara dengan alam adalah anugerah manusia pilihan.

Akhirnya, aku pun memulai untuk mencoba berkisah kepada makhluk-makhluk Tuhan yang ada di sekitarku yang punya hidup bebas seperti kepada ikan-ikan, siput, kerang, kumbang, burung camar di belakang kapal, manusia, hingga makhluk lain yang tak kuketahui namanya. Aku berharap mereka akan meneruskan ceritaku hingga dapat sampai kepada Perlip.

Sungguh, aku berkata jujur perihal cerita ini. Aku ingin membagi rasa hati yang selama ini selalu aku simpan. Lebih dari itu aku juga berharap kepada semuanya agar dapat melanjutkan kembali kisah ini. Meneruskannya kepada keluarga, teman-teman, kekasih, atau apa saja…, sehingga barangkali di suatu hari kemudian gadis yang aku cintai itu bisa tahu —bisa mengerti kalau ternyata di sini, di tempat ini, hingga hari ini ada seorang lelaki yang sedetik pun tak pernah berhenti untuk mencintai dirinya. Menyesal, dulu tak sempat kugerimis-rinaikan rasa ini padanya.

Tolol? Malaikat telah mengatakannya. Namun, mungkin saja pada suatu hari kemudian di sebuah senja yang indah ketika aku sedang termenung, duduk di pinggiran dermaga menanti kapal anggun yang pergi itu. Menghela napas merenung menjuntai kaki. Membuang kerikil ke mana arah sekehendak hati. Mendengar derung kapal, “drungg….” Menatap matahari senja keemas-emasan. Anak-anak yang mandi telanjang, lantas sebuah noktah kapal yang perlahan-lahan utuh membesar ke arahku. Sebuah kapal yang anggun. Kapal yang membawa Perlip. Dan, dia kembali beserta senyum manisnya. Sebuah senyum yang tetap tak kan pudar meski raganya telah dimakan usia. Semoga, semoga saja.

Sekarang, aku selalu menyisihkan waktuku untuk bercerita. Sadar sungguh aku sadar bahwa cintaku ini seperti lautan yang luas. Lautan yang indah, menawan, teduh dan memesona, namun pada sebalik sisinya laut ini amat menakutkan karena bisa menjadi ganas tiada terkendali.

Temanku yang manis, sekarang kita akhiri dulu ceritanya. Aku ingin kembali menatap laut. O ya, esok hari maukah engkau kembali menemaniku menanti sembari kutraktir minum kopi?

 

Sekayu, Maret 2010 – 2017


Biodata :

Herdoni Syafriansyah
Herdoni Syafriansyah

Herdoni Syafriansyah lahir di Kayuara – Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 7 Oktober 1991. Pendiri Perkumpulan Seni, Sastra dan Budaya Arus Musi (ARSI) Kabupaten Musi Banyuasin. Menghadiri seminar Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) V di Palembang (2011), Temu Sastrawan Indonesia (TSI) ke-4 di Ternate Maluku Utara (2011), dan Pagelaran Sastra Lisan Balai Bahasa Sumatera Selatan (2016). Puisi dan cerpennya dipublikasikan beberapa media cetak seperti Majalah Sastra Horison, Dinamika News, Tembilang Jambi, Sumatera Ekspres, Berita Pagi Sumsel, Harian Musi Banyuasin, Majalah Pemprov Sumsel Young –G, Majalah Muba Randik, dan ragam media cyber sastra lainnya. Buku pertamanya yang sudah terbit, antologi puisi berjudul: “Aku Burung dan Kau Pisau yang Berputar” (Digna Pustaka, 2012). Karya-karya puisinya juga termuat dalam beberapa antologi bersama lainnya seperti: Perahu Kelebu (Hasfa Publishing, 2011), 125 Puisi Pahlawan FSBP (UmaHaju, 2011), Tuah Tara No Ate (Ummu Press, 2011), Munajat Tugu Bundaran (Digna Pustaka, 2014).

Facebook Comments