Saturday, June 23, 2018
Home > Kupas > Sepasang Puisi dari Gang Semangat

Sepasang Puisi dari Gang Semangat

Sepasang Puisi dari Gang Semangat

Saat pertama kali melihat nama Mutia Sukma dan Indrian Koto masuk ke jajaran sepuluh hingga lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, saya merasa senang sekaligus bersyukur. Pasalnya, mereka bukanlah orang jauh bagi saya meski tempat tinggal saya dan mereka benar-benar jauh. Setiap kali singgah ke Yogyakarta, saya pasti mampir ke kediaman mereka (yang sekaligus Toko Buku JBS – Jual Buku Sastra) di Jalan Wijilan Gang Semangat 150, Alun-alun Utara, Yogyakarta. Sambutan mereka pun selalu hangat. Kunjungan terakhir saya ke sana  sekitar bulan Juli pascalebaran. Biasanya saya selalu membawa kopi Jambi, tetapi kali itu kopi yang saya bawa sudah habis dan kedatangan saya memang sengaja menjemput sepasang puisi milik suami istri ini.

 

Perempuan dan Puisi

Perkenalan saya dengan Sukma telah berlangsung sejak lima tahun silam tatkala ada acara PPN VI di Jambi. Kebetulan saya menjadi panitia. Saat itu Sukma datang bersama lelaki (bukan Indrian Koto). Saya masih ingat tanggal bersejarah itu. Kami bertemu di gedung olah seni galeri seni rupa Dewan Kesenian Jambi pada 27 Desember 2012. Sebab lelaki itu adalah teman baik Sukma dan Koto, yang juga eks moderator abadi kegiatan sastra di JBS, yang sekarang saya culik untuk pindah ke Jambi (dan saya pernah merasa sangat berdosa kepada Sukma dan Koto).

Jika kali pertama pertemuan kami disebabkan oleh puisi, pertemuan kami di hari-hari berikutnya ketika saya liburan ke Yogya, selalu membawa banyak kisah tersendiri. Sukma perempuan yang hangat dan sederhana. Saya suka puisi-puisinya yang lembut dan tenang. Namun setiap kali kami berbincang-bincang, kami hampir tidak pernah membicarakan puisi. Kami lebih banyak membicarakan produk kecantikan dan hal-hal seputar perempuan.  Namun Juli lalu ketika saya berkunjung ke JBS,  Sukma mengatakan bahwa buku puisinya baru saja diikutsertakan ke lomba KSK. Setelah itu kami (saya, kekasih saya, Sukma, Rinai dan Koto) makan siang bersama (hal yang sebenarnya membuat saya selalu merasa tidak enak kepada Sukma adalah karena Sukma selalu memosisikan saya sebagai tamu jauh).

Baiklah. Jarak yang jauh tak menutup kemungkinan saya untuk mengulik buku puisi Sukma yang berjudul Pertanyaan-Pertanyaan tentang Dunia. Tentu saja ada banyak cara menghubungi Sukma, memanfaatkan media sosial misalnya.

“Saat tahu nama saya ada di urutan sepuluh besar, tentu saya berbahagia. Namun sungguh tidak menyangka bisa masuk ke lima besar sebab saya sadar bahwa buku pertama saya ini disiapkan dengan gegabah. Tidak semua puisi awal hingga saat ini terkumpul. Padahal, banyak puisi semasa awal saya menulis yang seharusnya masuk. Puisi-puisi tersebut merupakan andalan sekaligus sejarah kepenulisan. Saat masa di mana saya menulis puisi dengan energi yang besar, pikiran murni, dan memandang dunia yang ajaib ini dengan perspektif yang sangat polos. Namun di balik kepolosan itu, kekuatan awal puisi saya tidak pernah mampu saya tulis kembali. Puisi-puisi itu raib bersama laptop, flashdisk, dan surel yang telah dibekukan oleh Yahoo,” jawab Mutia Sukma.

Sukma tentu bahagia meski dalam beberapa hal. Pertama, ia tahu karyanya benar-benar dibaca dengan sungguh-sungguh oleh orang lain, sebab kekhawatiran Sukma mula-mula yakin menerbitkan buku puisinya, adalah takut tidak memiliki pembaca. Kedua, Sukma merasa tersanjung karena bukunya diapresiasi, apalagi masuk dalam short list KSK, ajang penghargaan sastra bergengsi di Indonesia yang selama ini ia perhatikan.

Sukma sendiri telah bersinggungan dengan puisi sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebab sedari SD, Sukma sudah mendapatkan juara di bidang pembacaan puisi. Seingat Sukma, ketika masih SD dan SMP, ia tidak pernah menemukan lomba penulisan puisi. Saat SMA, ia baru mulai intens menulis puisi. Sukma mulai menyadari bahwa ia memiliki bakat menulis puisi ketika ia duduk di bangku kelas X SMA.

“Saat itu, saya dan seorang teman dihukum untuk diinterogasi di depan kelas. Guru tersebut merasa bahwa puisi yang kami buat dituduh menjiplak karya orang lain karena dianggap terlalu bagus untuk ukuran remaja semasa itu. Satu teman saya terbukti menyadur lagu Iwan Fals dan saya terbebas dari kecurigaan, sebab memang puisi tersebut karya saya sendiri,” jawab Sukma melalu Whatssap.

Di masa-masa awal menulis, Sukma banyak belajar dari bahan bacaan di rumahnya. Di rumah, ia membaca Kompas Minggu dan di sekolah ia membaca majalah Horison. Berkali-kali pula Sukma membaca buku Belajar pada Sastrawan Dunia.

“Tidak memiliki guru, tentu membuat saya tidak efektif terhadap bacaan. Semua buku-buku yang ada di Shopping (nama pasar buku di Yogya) saya baca. Dari buku Fira Basuki hingga Abu Nawas. Apa saja yang ada di sana saya beli berdasarkan rekomendasi penjual. Majalah Gadis dan Hai adalah bacaan wajib saya tiap Minggu,” ucap Sukma.

Mimpi menjadi penyair? Sukma pun tidak tahu, tetapi yang jelas, ia sangat mencintai sastra. Akan tetapi, sejak kecil ia selalu berpikir bahwa ia akan menjadi dosen/guru yang juga sekaligus penulis. Menjadi penyair bukanlah cita-cita, seakan Sukma yakin bahwa jalannya memang demikian.

Pengalaman paling unik tentang puisi bagi Sukma adalah  perjumpaan dengan teman-teman antardaerah dan antarnegara, baik berkenalan secara nyata maupun melalui gagasan dan karya. Sementara penyair yang digemari Sukma sangatlah dinamis: tidak ada spesifikasi menyukai siapa. Selain menulis puisi, Sukma juga menulis esai dan makalah. Bagi Sukma, waktu yang paling pas menulis puisi adalah ketika gagasan tema sudah matang dalam pikiran.

Jika diamati dengan saksama, buku puisi Pertanyaan-Pertanyaan tentang Dunia Mutia Sukma dan Pledoi Malin Kundang Indrian Koto terdapat kesamaan, yakni buku puisi itu dibuat dalam tiga bagian yang masing-masing terdiri atas beberapa puisi. Menurut Sukma karena proses pembuatan buku ini bersamaan, maka secara teknis memiliki kesamaan.

Buku puisi Pertanyaan-Pertanyaan tentang Dunia mengisahkan perspektif seorang remaja memandang dunia, seorang perempuan dewasa memandang dunia, dan seorang ibu yang memandang dunia. Bisa jadi, puisi-puisi ini merupakan suara pribadi Sukma atau mewakili suara sebagian orang. Selain itu, puisi-puisinya merupakan sejarah di zaman sekarang sebagaimana puisi-puisi penyair lainnya.

Saat puan.co menanyakan seberapa penting keberadaan perempuan di Sastra Indonesia? Sukma menjawab, “Karena saya bukan aktivis gender, tentu posisi perempuan menjadi penting sebagaimana posisi laki-laki. Setiap individu memberikan keunikan tersendiri dengan corak karyanya masing-masing untuk sastra Indonesia tanpa membeda-bedakan apa jenis kelaminnya.”

Banyak penulis perempuan yang berhenti menulis karena terjebak rutinitas. Tentu itu berlaku untuk siapa saja. Namun, Sukma mencoba menjaga ritme dengan rutin membaca dan menciptakan iklim produktif. Meski tidak setiap waktu ia bisa berada di depan laptop, tetapi  ia selalu menstok bahan bacaan di tempat-tempat yang terlihat dari pandangannya.

 

Kisah Cinta dan Romantika Masa Lalu yang Berkelindan

Ketika duduk di bangku SMA,  Sukma pernah membacakan puisi di mimbar penyair muda di Taman Budaya Yogyakarta. Kebetulan, Koto menjadi panitia acara tersebut. Namun, saat itu mereka belum saling memperhatikan. Ketika itu pula, Sukma remaja pernah menjadi fasilitator di program penulisan sebuah penerbit, yang ternyata Indrian Koto juga ada di acara tersebut. Namun, mereka belum saling bertemu dan berikrar janji.

Hingga saat masuk kuliah, Sukma dan Koto mulai memasuki lingkungan yang sama meskipun mereka tidak kuliah di kampus yang sama. Sukma sangat senang memiliki teman berbagi, ia juga bisa mendapatkan buku-buku bagus koleksi Koto. Dari situlah mereka menjalin cinta selama delapan tahun hingga memutuskan menikah.

Di rumah, tentu Koto bukan hanya seorang suami, melainkan juga teman diskusi yang baik. Koto sangat tekun membaca dan update buku-buku bagus. Sukma yang mulai sibuk dengan urusan rumah tangga, tak lekas pula melupakan aktivitas membaca dan menulisnya sebab mengimbangi aktivitas suaminya. Seandainya saja Sukma menikah dengan orang lain, barangkali Sukma akan tenggelam dalam urusan rumah tangga saja.

Hingga saat ini Sukma sedang mengandung anak keduanya. Anak pertamanya – Rinai Yasmin – tidak pernah diarahkan oleh mereka untuk menjadi penyair. Memang Rinai sangat menyukai buku, di usianya yang belum 2,5 tahun, Rinai adalah pembaca yang serius.  Rinai menghapal semua cerita di buku yang ia baca. Rinai sudah mengetahui huruf A – Z karena membaca buku bergambar yang disertai dengan huruf.

Sukma dan Koto tidak pernah memaksa Rinai untuk membaca. Mereka dengan sukarela memperlakukan buku seperti anak-anak yang pada umumnya bahagia dengan segudang mainannya. Harapan ke depannya, Rinai bisa mencintai buku seperti kedua orangtuanya. Menjadi apa pun nantinya, ia sudah dibekali dengan pengetahuan yang didapatkan dari buku bacaan.

 

Indrian Koto – Bos JBS yang Kreatif

Indrian Koto adalah penyair sekaligus cerpenis asal Sumatra Barat yang sekarang berdomisili di Yogyakarta. Karena kecintaannya terhadap buku, Koto mengambil jalan berbeda dari kebanyakan sastrawan Indonesia, yakni dengan mendirikan Toko Buku JBS. Hampir di setiap akhir tahun, Koto seringkali mengadakan kegiatan diskusi buku bersama para penulis dari Sabang hingga Merauke dengan tema “Tahun Baru di JBS”.

Saya pun mewawancarai Koto melalui surat elektronik. Barangkali wawancara berikut bisa mengusir kesepian dan kesendirianmu, atau setidak-tidaknya, mungkin bisa memberimu perspektif baru tentang dunia sastra dari sudut pandang Indrian Koto yang aduhai.

 

Sudah berapa kali mengadakan acara “Tahun Baru di JBS”, Bang? Tujuannya apa? Idenya dari mana?

Kalau tahun ini jalan berarti yang kelima. Saya ingin ada momen berkumpul bersama teman-teman penulis dan pencinta buku. JBS ini, meski toko buku,  tetapi maunya jadi semacam komunitas, wadah untuk penulis dan  pembaca. Jadi kita bikin acara kecil-kecilan, tidak formal, mengajak penulis yang notabene teman-teman sendiri untuk berbagi pengalaman mereka dengan pembaca dan para penulis generasi di bawah mereka. Ya, cara ini memang dibuat untuk berbagi saja. Sekaligus kami memberikan diskon yang lebih kepada pembeli pada saat acara berlangsung. Kami juga mengajak beberapa penerbit rekanan agar mau menitipkan buku mereka untuk dipajang dan memberi diskon pada acara tersebut.

 

Tanggapan masyarakat tentang kegiatan di JBS?

Saya kurang tahu. “Tahun Baru di JBS” saya kira masih sangat kecil skalanya. Belum ada apa-apanya dengan pameran buku lainnya. Cuma sejak awal, ini kan hanya alternatif. Jadi, ukuran kami adalah seberapa banyak orang baru yang datang pada saat acara berlangsung. Saya ingin ruang yang kecil ini bisa menjadi sebuah tawaran baru dari pameran buku pada umumnya, karena peran buku yang dipajang berimbang dengan kegiatan yang kami rencanakan. Meski pengungjung yang datang tidak selalu memuaskan di setiap sesi diskusi, ini menjadi semacam pilihan untuk menanggung risiko dan konsekuensi.

 

Sejak kapan menulis puisi dan cerpen? Lebih suka menulis yang mana? Lebih mudah menulis yang mana?

Saya menulis cerita sejak SD karena terpengaruh kakak saya yang punya buku tulis, yang menjadi novel tulis tangan, serta buku yang semacam bunga rampai yang berisi gado-gado tulisan. Saya mengikuti tulisannya sampai SMA. Saya punya semacam catatan harian dan kumpulan tulisan tangan karya sendiri di buku tulis yang saya beri nama Teratai. Teratai ini lebih dari sekadar diary karena saya menulis puisi, cerpen, dan pandangan-pandangan saya di dalamnya. Setelah saya tulis, biasanya akan dibaca teman-teman sekolah. Sejak SD kalau liburan sekolah selalu ada teman yang memberikan buku tulis kosong pada saya untuk ditulisi apa saja.

Saat SMA saya berhenti melakukannya sebab buku-buku yang saya tulis tersebut untuk teman saya, sehingga saya jadi tidak punya dokumentasi pribadi. Lalu jadilah Teratai itu, buku 120 halaman,  yang kalau tidak salah ada belasan jilid berisi tulisan tangan saya. Saya heran, kok ada satu-dua teman, yang mau membaca dan bisa membaca tulisan saya yang jeleknya setengah mampus itu. Untuk menulis serius, saya lakukan setelah di Jogja sejak 2004. Bertemu orang baru yang punya minat yang sama itu menarik.

 

Sebutkan judul buku beserta tahun dan penerbit yang memuat puisi dan cerpen Bang Koto!

Saya tidak ingat persis. Akan tetapi, umumnya pada masa-masa awal belajar menulis, kita seringkali tergoda ikut antologi bersama dan mengikuti lomba penulisan yang paling tidak karya kita akan dibukukan. Saya termasuk orang yang begitu di masa-masa awal belajar saya. Untuk publikasi pertama di media, saat saya SMA. Ada sebuah majalah sekolah yang digagas Yusrizal KW dan kawan-kawan. Puisi saya dimuat di situ dan hebohnya setengah mati. Ya saya, ya teman-teman saya.

 

Prestasi Bang Koto dalam menulis apa saja?

Tidak banyak. Saya ini nyaris tanpa prestasi. Untuk lomba penulisan, saya ikut beberapa kali dan menang beberapa kali. Untuk forum sastra, saya orang yang berusaha menghindarinya. Prestasi terbesar saya sejauh ini, saya bisa menulis lagi.

 

Kapan waktu yang tepat menulis puisi bagi Bang Koto?

Nyaris tidak ada waktu spesial. Periode sebelum menikah jelas semua waktu baik untuk menulis. Setelah menikah dan punya anak, biasanya menuangkan ide lebih pas di pagi hari sebelum aktivitas rutin dimulai.

 

Bagaimana karakter puisi Mutia Sukma di mata Bang Koto?

Puisi Sukma polos dengan perspektif anak-anak. Saya menyukai puisi-puisi awal Sukma sedemikian rupa, meski tidak banyak yang masuk ke antologi puisi pertamanya. Puisi-puisi Sukma berikutnya saya kira banyak percobaan. Sebab ia punya perspektif baru dan coba ia tuangkan dalam puisi-puisinya. Saya juga begitu. Saat ini, kami: saya dan Sukma, belum berada dalam posisi nyaman dalam menulis. Kami mash mencoba melakukannya. Kami masih sering berdiskusi.

 

Siapa jagoan Bang Koto dari 5 besar KSK? Menjagokan diri sendiri, Sukma, atau siapa?

Semua bagus, semua nyaris punya kesempatan yang sama. Saya menjagokan semua, kecuali buku saya sendiri. Saya tidak punya rasa percaya diri berkaitan dengan karya saya. Saya masih belajar dan ingin memperbaikinya. Saya tidak bisa menilai karya saya, karena itu sangat subjektif. Tentu saya juga ingin hadiahnya, meski menang pun tak akan membawa banyak pengaruh terhadap diri saya dan pandangan orang terhadap karya saya.

 

Penyair atau penulis yang disukai Bang Koto?

Saya menyukai banyak penyair sekaligus punya alasan untuk tidak menyukainya. Dalam proses belajar, saya kira sah-sah saja. Kalau saya mencintai sungguh-sungguh satu penyair, saya takut masuk perangkapnya dan bisa-bisa menjadi epigonnya. Jika tidak menyukai karya penyair tertentu, karya mereka bagus-bagus, saya bisa belajar banyak dari mereka. Saya keluar-masuk ke dalam karya banyak penulis. Mencari sisi bagus dari karyanya, sekaligus mencari bolongnya agar suara saya bisa hadir di situ.

 

Yakin menang ga sih bang di KSK? Kalau menang uangnya buat apa?

Saya tidak ada bayangan bisa menang. Sejak awal saya dan istri menduga, bahkan tidak akan ada nama kami di list sepuluh besar itu. Saya pribadi orang yang sering mencereweti event besar macam KSK, bahkan sekarang pun masih. Saya merasa dalam sastra Indonesia, saya tidak ada apa-apanya. Saya juga tidak mengharapkan pengakuan apa-apa. Buku puisi Pleidoi Malin Kundang juga tidak terlalu diminati, seperti penyair lain yang bisa cetak ulang berkali-kali. Sejak awal saya tidak punya target apa-apa terkait sastra. Saya mencintai sastra dan tidak berharap meminta apa-apa lagi dari sana. Saya sudah cukup banyak diselamatkan oleh tulisan, saya kira sastra sudah memberi banyak untuk saya. Saya yang nyaris belum melakukan apa-apa. Publik sastra pun saya kira tak bisa berharap banyak dari puisi-puisi saya. Namun jika ada yang menyukainya,  tentu saya bahagia sebab ada yang bisa merasakan suara saya. Uang itu selalu berguna dan pula senantiasa tidak pernah cukup.
Ceritain donk tentang rahasia buku puisi Pledoi Malin Kundang Bang Koto! Kira-kira tawaran estetik bagaimana yang disajikan buat pembaca?

Buku itu berisi tiga bagian. Titik berangkat saya, kampung halaman, perjalanan dan kelahiran baru saya. Itu garis besarnya. Saya menulisnya nyaris tidak memikirkan pembaca. Puisi-puisi tersebut lebih sebagai catatan dan pandangan saya terhadap peristiwa saya, lingkungan sekitar saya, dan dunia sejauh yang saya pahami. Puisi saya mungkin tampak personal, tetapi saya juga punya visi terhadap perubahan.

Kalau sekarang tentu puisi saya juga lebih berkembang. Dan sumpah, mengumpulkan puisi menjadi buku adalah pekerjaan paling berat di dunia. Sangat-sangat berat. Itu juga yang membuat saya tidak merasa ada yang bolong, saat melihat daftar isinya. Sebagai buku pertama, saya kira sudah cukup. Selebihnya pembacalah yang berhak menilai. Menakar bagus-tidaknya.

 

Mengapa buku pledoi wajib dibaca dan dimiliki? Apa sih keunikannya?

Tidak wajib dimiliki sih, tetapi perlu juga. Hahaha… Saat membaca buku ini, pembaca akan menjadi tahu pandangan saya. Kalau tidak membaca buku ini kita tidak akan saling kenal. Pilihannya mau tahu atau tidak?

 

Tips menulis puisi ala Bang Koto!

Membaca. Saya tidak bisa menulis puisi jika tidak memulai dengan bacaan. Itu pintu masuk saya dan sejauh ini memang begitu.

 

Bagaimana kita mengembalikan mood menulis saat mood itu hilang?

Saya kira ini problem semua penulis. Dan itu tantangannya, ujian terberatnya. Saya nyaris menjadi bagian dari sekian banyak orang yang pernah menulis dan dilupakan karena mood sialan itu.

 

Bagaimana sastra Indonesia hari ini di mata Bang Koto?

Sastra Indonesia bagus dan baik-baik saja, tentu juga mencemaskan. Banyak penulis bagus yang muncul. Banyak penulis lama yang bagus tetap bagus dan makin bagus. Tentu banyak pula penulis buruk yang lahir, menghasilkan karya tidak bagus, dengan motivasi yang kurang oke. Begitulah. Saya mungkin, mungkin loh, ada di posisi melahirkan karya yang tidak bagus-bagus amat (meski menurut saya tentu selalu baik) tetapi selalu mencoba untuk tahu diri.

Sastra kita selalu heboh. Sejauh yang saya tahu selalu begitu. Berlebihan memuji satu-dua karya tertentu atau sebaliknya, dan mengabakan yang lainnya. Yang menarik, buku sastra terus lahir, terus dibeli, dan dikoleksi dan dibicarakan di banyak tempat.

 

Puisi-puisi di Pledoi Malin Kundang ditulis dari tahun berapa sampai tahun berapa? Puisi yang paling berkesan yang berjudul apa?

Sekitar periode 2006 – 2011. Saya membatasi sampai di situ. Buat saya semua nyaris berkesan. Itulah sebabnya saya susah memilih puisi untuk dikumpulkan dalam buku ini. Ada yang bagus menurut saya, tetapi memang tidak masuk ke dalam buku ini. Selain karena alasan tema dan hal pribadi, saya juga dokumentator yang buruk.

 

Persepsi Bang Koto tentang puisi?

Puisi adalah media untuk memandang semesta. Menengok masa lalu untuk dirindukan dengan harubiru atau menolaknya. Sekaligus memandang hari ini dan masa depan. Puisi itu pikiran, yang sewaktu-waktu bisa berkembang atau menyempit. Puisi itu media saya, dan nyaris satu-satunya. Puisilah yang mahatahu tentang saya selain Tuhan dan segala perangkat-Nya.

 

Apakah menjadi penulis adalah cita-cita?

Puisi dan sastra secara umum itu minat saya. Cinta saya. Saya tidak punya alasan untuk meninggalkannya dan punya puluhan kemungkinan untuk terus menyuntukinya.

 

Mengapa Bang Koto suka menulis? Ada keterununan dari keluarga penulis atau bagaimana?

Suka itu susah didefenisikan. Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Saya tidak tahu soal turunan itu. Akan tetapi, saya kira memang ada bakat di situ. Bakat alam. Jadi saya bukan penyair yang banyak paham soal teori. Puisi itu rumit, karena itu pula saya mencintainya.

 

Pesan buat pembaca!

Beli bukunya dan baca ya! Puji-pujilah di media sosial meski kamu agak berdusta mengenai itu. Hahahaha….

Tidak, tidak. Saya hanya bercanda. Pesan saya: belilah buku sastra di Jual Buku Sastra. Ah, saya bercanda lagi.

***

 

Hal yang paling teringat usai berkunjung ke JBS beberapa bulan silam adalah ketika eks moderator abadi JBS – kekasih saya –  bertanya, ”Kamu tidak minta foto kepada mereka berdua?” sambil tersenyum saya menjawab, “Saking asyiknya ngobrol memang bisa lupa diri, namun yang terpenting dari sebuah pertemuan bukanlah foto bersama, melainkan perbincangan yang akan selalu terkenang dalam ingatan.” Motor kami melaju ke arah Kasihan Bantul menuju warung Bali milik seorang teman, Ni Komang Ira Puspita. Ah, saya jadi ingin ke Yogya lagi.

Facebook Comments