Tuesday, October 16, 2018
Home > Literasi > Cerita > Tanpa Banyak Kata

Tanpa Banyak Kata

pasangan dengan bunga1

“Kamu suka novel itu?” tanya seorang lelaki padamu.

Kamu hanya tersenyum kaku. Berusaha menghindari percakapan singkat itu.

“Aku juga suka banget novel itu. Ceritanya sederhana, tapi disajikan dengan cara yang luar biasa. Penulisnya hebat. Dia berhasil membuatku tersenyum dan menangis dalam satu helaan napas yang sama,” tanpa persetujuanmu lelaki itu merangkai kata, mengomentari novel di tanganmu.

Sekali lagi kamu hanya tersenyum. Malas merangkai kata untuk menanggapi komentarnya. Tanpa sepatah kata pun kau meninggalkan lelaki itu.

“Aku Ardi, siapa namamu?” belum jauh kau melangkah, lelaki itu mengenalkan diri. Tanpa basa-basi bertanya namamu.

“Adira,” katamu pendek.

Kamu menganggap pertemuan itu biasa saja. Sebatas angin yang menerpa wajah lantas berlalu. Kamu melangkah menuju kasir, mengeluarkan uang seratus ribu, menebus novel itu. Tanpa banyak kata, keluar dari toko buku terbesar di kota ini.

Setibanya di rumah, kamu melahap novel barumu. Kamu teringat ucapan lelaki itu, ia benar novel ini benar-benar menguras perasaan. Setiap lembar menyimpan kejutan.  Sepertinya malam ini tidak akan tidur cepat-cepat.

Malam mendekati puncaknya, dan kamu masih terjaga. Kamu berhenti membaca saat tiba di halaman 175. Bukan. Bukan karena tidak tahan menahan kantuk. Tapi karena cerita di novel itu seperti menceritakan kisahmu. Ya, cerita tentang anak perempuan yang dikhianati janji masa depan. Ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dicintainya. Hidup dalam sepi yang menyayat hati. Tanpa diminta air berjatuhan dari mata cokelatmu. Perlahan mengalir di pipi. Menggenang di dagu. Jatuh ke bumi. “Ya Tuhan, kenapa kenangan itu kembali lagi?” lirihmu.

***

“Eh kita ketemu lagi, Adira,” sapa lelaki berkaca mata, “Masih ingat aku kan? Minggu kemarin kita bertemu di sini,”

“Iya.”

“Gimana novel yang kemarin? Pasti seru ya bacanya hehe…. Aku suka sekali sama penulisnya. Pertama kali membaca bukunya, aku langsung tertipu. Kirain dia perempuan, eh ternyata laki-laki. Nama pena-nya mirip cewek india, haha…,” Lelaki itu melempar gurauan. Merasa sudah akrab denganmu.

Kamu hanya tersenyum menanggapinya. Beberapa detik kemudian sibuk memindahkan pandangan pada buku yang berjajar rapi di rak buku. Menghindar dari lelaki itu, menganggapnya tidak ada.

“Kamu sering datang ke toko buku ini ya?”

“Iya,” jawabmu singkat. Selalu saja singkat.

“Pantas saja saat aku tanya ke pelayan toko, dia langsung tahu orang yang aku maksud. Oh iya, aku baru dua minggu tinggal di Bandung. Sepertinya kita akan sering bertemu di sini. Soalnya aku hobi banget baca buku. Bahkan, aku berkeinginan mempunyai perpustakaan pribadi.”

Kamu menoleh padanya. Mengernyitkan dahi, meminta penjelasan.

Beneran, sedari dulu aku menyukai buku. Bagiku membaca adalah cara untuk menjelajahi dunia. Ya, aku bisa mengelilingi semua tempat hanya dalam satu waktu. Hanya duduk bertemankan buku… Meskipun buku yang aku miliki belum banyak, tapi cukuplah untuk memenuhi rumahku yang baru,” panjang lebar lelaki itu memberi penjelasan.

“Berarti kita punya keinginan yang sama,” kamu tersenyum.

“Wah! Serius? Biasanya kalau aku cerita ke orang lain perihal perpustakaan pribadi, mereka tertawa, tak lupa mengejek dengan sebutan kutu buku hehe….”

“Aku juga sering disebut kutu buku sama teman-temanku. Tepatnya si wanita kutu buku yang mistierius,” kamu kembali tersenyum.

“Haha, kalau aku disebut si kutu buku yang bawel.”

Kamu pulang dengan sisa tawa yang menggantung di bibir, setelah beberapa jenak membicarakan banyak hal mengenai dunia buku dengan lelaki berkaca mata itu. Buku favorite, penulis favorite hingga kesibukan menulis. Kamu memberitahukan pada lelaki itu sebuah rahasia yang sepuluh tahun lamanya disembunyikan.

“Raida? Penulis terkenal itu? aku kira dia itu sudah tua, ternyata masih muda.” lelaki itu tidak percaya kalau Raida adalah dirimu.

***

Benar saja apa yang diucapkan lelaki itu, setiap minggu kamu bertemu dengannya. Perlahan tapi pasti dia bisa membongkar pertahananmu. Kamu jatuh dalam percakapan-percakapan yang mengasyikkan. Dia selalu memulai percakapan. Tidak peduli jika kamu hanya diam, memperhatikan.

“Adira, makan bareng yuk!” ajak lelaki itu setelah lima kali berjumpa denganmu.

“Eh?”

“Aku lapar nih. Masa kamu tega membiarkan si kutu buku yang bawel ini makan sendiri. Kali-kali temani akulah,” lelaki itu tidak pernah menyerah meskipun tiga kali sebelumnya kamu menolaknya.

“Emm…,” belum sempat kamu menyelesaikan perkataanmu, lelaki itu sudah lebih dulu melangkah.

Tanpa sadar kamu mengikutinya. Menemani lelaki itu makan. Aneh. Untuk pertama kalinya kamu membuka diri pada orang lain. Bercakap-cakap banyak hal dengan lelaki yang bahkan baru beberapa kali bertemu denganmu.

“Aku pindah ke Bandung karena ingin melupakan masa lalu,” sambil menyendok nasi goreng, lelaki itu memulai percakapan.

Kamu menatapnya. Masa lalu?

“Bertahun-tahun ayahku sakit parah. Berbagai macam pengobatan telah dicoba…,” lelaki itu menggantungkan kata.

Kamu berhenti menyendok nasi goreng, serius menatap lelaki itu. Terus?

“Pengobatan yang dijalani Ayah memakan kocek yang luar biasa. Perlahan tapi pasti, harta kami terkuras. Puncaknya Ayah dibawa ke Singapura. Sebagai tebusannya toko satu-satunya sumber keuangan keluarga dijual.” Lelaki itu diam sejenak. Menyedot jus jeruk yang membeku di sebelah piring.

Lelaki itu berusaha mengatur napasnya. Kamu pun melakukan hal yang sama, dari tadi menahan napas demi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut lelaki berkacamata di hadapanmu.

“Akan tetapi semuanya sia-sia…,” lelaki itu menghela napas panjang, “Tepat saat matahari masih malu menampakkan sinarnya, Ayah telah pergi meninggalkan kami untuk selamanya.”

Tempat makan di pinggir jalan itu lengang beberapa saat.

“Aku pindah ke Bandung karena tidak tahan melihat Mamah yang selalu menangis. Tidak peduli airmatanya sudah kering sejak lama, dia terus saja menangis. Dia tidak bisa menerima kalau Ayah sudah pergi meninggalkan kami selama-lamanya. Semoga saja dengan pindah ke sini, Mamah bisa menerima kepergian Ayah. Berhenti mengingat kejadian yang menyakitkan itu.” Lelaki itu kembali melanjutkan ceritanya.

Kamu diam seribu kata. Tanpa sadar matamu pun ikut basah. Kamu tahu betapa sakitnya ditinggalkan orang yang sangat disayangi.

Suasana hening beberapa saat.

Lelaki itu menyendok nasi goreng. Kamu hanya menatapnya tak berdaya.

“Aku juga pernah mengalaminya. Kehilangan seseorang yang sangat aku cintai,” tanpa aba-aba rangkai kata-kata itu keluar dari mulutmu, membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya padamu, berhenti menyendok nasi goreng yang tinggal beberapa sendok lagi.

“Ya, Ayahku meninggal dunia. Kalau saja aku tidak meminta Ayah untuk membeli buku baru, malam itu pasti Ayah baik-baik saja. Tidak akan ada kecelakaan yang merenggut nyawanya. Ya, aku yang membunuh Ayah. Aku yang memaksanya datang ke toko buku. Demi membeli buku sialan itu!” Suaramu serak. “Ya, aku yang membunuh Ayah.”

Suasana di tempat makan pinggir jalan itu berubah. Waktu seakan berhenti.

“Bodohnya aku hanya bisa menangis. Pagi, siang dan malam airmataku tidak kunjung hilang. Mengadu pada lembaran kertas menyesali betapa bodohnya aku.” kamu diam beberapa saat. “Selepas Ayah meninggal, Ibu sedikit gila. Menangis tiada henti meski tanpa airmata.” Kamu kembali menghela napas panjang. “Dua tahun setelah Ayah pergi, Ibu menikah lagi. Dan itu menjadi bencana dalam hidupku,” lanjutmu.

“Bencana?” lelaki itu menyelidik.

“Iya, bencana. Ayah tiriku itu gila. Hampir setiap hari Ibu disiksa. Dan aku hanya bisa menangis saja. Tidak berdaya melawannya.” Airmata tidak bisa lagi kamu bendung. Bagai daun kering yang berguguran diterpa angin.

“Sabar ya, aku yakin kamu bisa menghadapi semua ini. Seperti Raida, perempuan yang kamu ciptakan. Perempuan berhati baja!” Lelaki itu tersenyum mencoba meredakan kesedihanmu.

“Dan satu lagi, sekarang kamu tidak sendiri. Aku bersedia menemani, kapan pun dan di mana pun.”

Kehadiran lelaki itu membuat simpul senyum di bibirmu. Sedikit demi sedikit kamu berbagi cerita padanya. Semenit demi semenit kamu mau larut dalam keramaian. Dan hari demi hari kamu mulai menjauhi sepi, yang selama ini menjadi sahabat setiamu.

***

Di pertemuan ke sepuluh, dia berhasil membuatmu kesal, sehingga bibirmu maju beberapa senti. Kamu selalu benci menunggu, tidak pernah mau menunggu walaupun hanya beberapa menit saja. Dan sekarang lelaki itu membuatmu menunggu hingga dua jam lamanya. Menunggu di toko buku kesukaanmu.

Airmata jatuh perlahan, membasahi pipi, luruh ke bumi. Kamu mengakhiri rasa kesal dengan airmata. Airmata karena tidak percaya melihat lelaki itu membawa buket bunga mawar merah. Tidak lama kemudian beberapa pelayan toko menghampiri, membawa kertas bertulis I LOVE YOU. Lelaki itu membisikkan mantra cinta, membuatmu mengangguk pelan. Menerimanya. Si kutu buku misterius menjalin kasih dengan si kutu buku yang bawel.

Hidupmu lebih berwarna. Canda dan tawa tak pernah hilang dari lembaran hidupmu. Setiap detik, menit, hari, hingga minggu, bahagia menjadi teman baikmu. Perlahan tapi pasti kamu menjauhi sepi. Tanpa banyak kata, lelaki itu mengerti apa yang kau rasa. Tanpa bercerita lelaki itu sudah paham masalah yang mendera.

Satu tahun lamanya lelaki itu menggoreskan pena bahagia di lembaran kehidupanmu. Dengan rasa gugup dan bertemankan keringat, lelaki itu melamarmu. Hari dan tempat pun sudah ditentukan. Undangan pun disebar. Si kutu buku yang bawel akan menikah dengan si kutu buku yang misterius.


Biodata Penulis

Lelaki jangkung yang memiliki nama lengkap Nasrul Muhamad Rizal ini, lahir tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Saat ini sedang berjuang menjawab pertanyaan “kapan lulus?” dan “kapan nikah?” Menulis fiksi adalah cara ia untuk menghibur diri di sela-sela skripsi. Lelaki jangkung ini aktif di komunitas Kafekopi. Jika tertarik untuk membantu menjawab “kapan nikah?,” bisa menyapa ia lewat email mr.nasrul19@gmail.com atau facebook; Nasrul Muhamad Rizal.

Nasrul M. Rizal
Nasrul M. Rizal
Facebook Comments