Thursday, July 19, 2018
Home > Literasi > Resensi > Ketika Perempuan Berbicara Tentang Hidup

Ketika Perempuan Berbicara Tentang Hidup

Buku Cemong

Sebagai pendatang baru dalam khasanah sastra Indonesia, Ida begitu piawai membawa Aceh dengan segudang cerita. Ia bukan hanya berbicara tentang teror, ketakutan, kekhawatiran dan harapan yang mungkin kandas. Tapi ia membawa nuansa baru yaitu sebuah kebangkitan yang terus berkobar dan penuh semangat. Dalam sekumpulan naskah yang ditulis, ia tak melulu berbicara tentang Aceh dan kultur yang melekat di dalamnnya. Ia seakan mengajak pembaca ‘bertamasya’ ke seluruh dunia miliknya. Boleh jadi ia adalah pelancong ulung yang mencatatkan sederet kisah getir, manis, dan mengagumkan. Bisa juga itulah cara dia dalam mengekspresikan Aceh dalam segepok kisah.

Sebagai perempuan, bisa saja ia mengalami prasangka, masa lalu, impian dan sebuah harapan. Hal-hal demikian tak mungkin bisa dihindari dari sosok manusia, demikian pula halnya dengan Ida. “Sayur plik terenak yang dimakan lelaki itu. Lagi sebuah senyuman terukir di wajah lelaki itu. Kebahagiaan perempuan terletak pada senyuman lelakinya” (hal. 21).

Kita tak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada seorang perempuan terhadap lelaki. Ida telah memberikan clue, bahwa sejatinya ia tetap manusia biasa yang punya perasaan yang sama. Cerpen Lelaki Tertawan Di Gunung mungkin sebuah teks yang menjadi identitasnya. Aceh, tentu saja tak bisa dilepaskan begitu saja dari kehidupannya. Alam begitu kuat mencengkeram jiwanya.

Lantas, apa ia berbicara cinta? Tentu saja, dan Ida pun mengatakan itu dalam kumcer Seraut Wajah Berbingkai Pohon bahwa sesungguhnya cinta itu tak hanya kata yang berbunga-bunga. Toh, jalinan peristiwa demi peristiwa yang bergulir dengan ketakterdugaan adalah sebuah matarantai yang menjerat romantikanya. Dengan apiknya ia menuturkan dalam sepenggal paragraf begini, “Rajan mengenal Mama? Pasti ada sesuatu yang salah. Jika lelaki yang duduk di depannya adalah lelaki yang wajah patungnya berada di akar pohon, tentu umurnya sudah ratusan tahun. Sementara mamanya paling tidak baru berumur lima puluhan tahun“ (hal. 16). Teka-teki semacam apa itu? Seseorang di masa lampau kembali berulah pada masa sekarang.

Ida ternyata mampu bermain-main dalam labirinnya dengan baik, pelan, tertata dan sungguh mengejutkan. Ia mungkin tak sadar kalau pembaca harus mengenali siapa Gautama. Tentu dalam cerpen ini ia menyisakan sebuah tanda tanya besar tentang cinta yang mampu menembus ruang dan waktu. Dan lagi pembaca tak dibebani dengan diksi yang (melulu harus) indah dan menawan. Ia menjadi dirinya dan tanpa canggung mengeksistensikan lebih dari apa yang orang lain pikirkan.

Buku ini sungguh kaya. Sentuhannya dalam mengatur ritme cerita membuat pembaca dibawa kemana-mana. Bukan hanya terbang melewati banyak hal yang mungkin tak pernah orang lain lakukan. Pun menggeluti peristiwa demi peristiwa yang berada di sekitar kita. Apa ia melulu membisikkan lokalitas yang berhamburan dalam sekumpulan cerpen? Tentu saja tidak.

Dalam cerpen Bukan Sulaiman kita akan melihat sebuah benturan yang nyata pada dirinya. Kisah dan karakter si aku begitu sederhana dan tanpa merumitkan pembaca. Seakan-akan ia membuka sebuah pertanyaan mendasar. Siapa Nabi yang mampu berkomunikasi dengan binatang. Atau kenapa seorang Sulaiman mendapat mukjizat itu. Lantas apakah si tokoh mampu menjadi sosok nabi yang dianugerahi kelebihan itu. Diramu dengan bahasa yang mudah dimengerti, ternyata kisah itu menjadi luar biasa dan memunculkan beragam interpretasi. Betapa tidak, dalam sebuah dunia modern ada seseorang dijuluki nabi. Itu alasan sesungguhnya ia menulis dengan kata ‘bukan’. Sesuatu yang terjadi di luar kendali diri kita. Bergejolak di sekitar kita. Dan terjadi dalam diri kita.

Ida memang piawai menyelubungi perasaannya dalam balutan cerita pendek. Pembaca bisa jadi berkerut kening namun tak jarang ada juga yang justru mengangguk dan tersenyum kecil merampungkan Cemong. Seperti kata pengantar yang ditulisnya cemong adalah bedak yang ditabur tak rata. Ia meloncat-loncat dari peristiwa demi peristiwa dengan molek. Ia kadang-kadang melucu, satire dan bergelora lebih dari itu: mentertawakan diri sendiri. Tak jarang pembaca menemukannya, seperti dalam Kanibal Linge. Pembaca dibuat shock ketika sesuatu diburu dan dibuat sebuah propaganda, maka justru pelakunya adalah seseorang di dekat kita. Itu pun bisa ditemukan dalam Kumpulan Para Jenius, Kematian Seekor Tikus, atau Kota Dalam Kenangan. Manakala orang-orang terlampau sibuk mencari sebuah kebenaran, kadang-kadang semua itu hilang seketika atau justru berada di depan mata dan hati kita.

Seluruh cerpen di buku ini menawarkan segepok cerita yang penuh kejutan, berlangsung cepat namun mengesankan. Jika ada pembaca yang sekedarnya saja membaca tentu akan kesulitan mengeja jalan pikiran Ida. Absurditas kerap muncul di beberapa karyanya. Siapa pun bisa terjebak jika tak menangkap pesan di balik tuturannya yang menawan. Pembaca (kalau mau) bisa saja mencoba bertanya siapa Aniqya, Sappho dan Li Qiang. Jika ternyata mereka benar-benar berasal di abad kekinian, bagaimana? Ida pun mengekplorasi diri terus mencari cara untuk terus mencari tahu. “Aku berjalan untuk menutup pintu. Hujan pun reda, listrik menyala kembali. Yang harus aku lakukan sekarang adalah mencari tahu sosok Sappho” (hal. 131).

Bagaimana pun ia membawa pembaca ke seantero negeri, siapa sangka jika ia membicarakan hidup itu sendiri. Pergulatan di dalamnya seringkali menjadi guru terbaik. Sekalipun terlihat nyeleneh Ida sangat serius dan cerdik. Cerpen Tirakat Mak Ramen misalnya. Ada sekujur luka, nyeri, dan bayang-bayang tertuang di sana. Entah mengapa si tokoh begitu getir di antara harapan yang dibangun. “Orang bilang, lelaki Aceh itu sangat bertanggung jawab” (hal. 167). Di sini ia sesungguhnya mencoba mematahkan semua itu. Tak melulu apa yang orang katakan sesuatu benar tidaknya menjadi semacam hukum pasti. Tentu saja tidak, semuanya kembali kepada diri si individunya: mau percaya atau tidak.

Penutup buku ini terasa memilukan dan menyayat hati. Sekaligus menegaskan darimana Ida berasal: Aceh. Kekayaan alamnya menyeruak dan terasa benar bagaimana kehidupan di masa lampau dan kini. Ketika kaum pemberontak itu masih berkeliaran, ketakutan dan kekhawatiran itu kerap muncul. Seperti suara derap sepatu berbaju loreng, seperti letusan senjata boh jantong atau seperti ketika harus bersikap pada tentara; berkompromi atau disebut komplotan. Cerpen Sebuah Pertanda adalah semacam intuisi yang kerap muncul di benak masyarakat. Jika ada yang bertanya, “untuk apa?” yang pasti ada hal-hal yang mungkin di luar nalar manusia.

Serupa dengan Bakti Ayudia, Ida menyisipkan sebuah pesan moral yang kerap diabaikan manusia. Mungkin saja orang-orang modern menganggap pertanda adalah takhayul. Namun siapa sangka justru hal demikianlah yang membuat alam bersahabat baik dengan kita. Dan dari sekumpulan cerpen yang dirangkumnya dalam buku ini, ia begitu manis mengisahkan sekelumit tempat terpencil di ujung Sumatera. Harapan yag mungkin muncul di benaknya, Pembaca tentu saja bisa begitu larut, terjerembab, dan melirik sejenak kehidupan yang jauh dari urban.

Buku Cemong

Judul : Cemong
Penulis : Ida Fitri
Penerbit : Basabasi
Cetakan : Pertama, September 2017
Tebal : 184 hal; 14×20
ISBN : 978-602-61246-2-3

Biodata:

Sugianto adalah pecinta buku sastra, sejarah, filsafat yang bercita-cita keliling Indonesia dengan menulis. Ia adalah pengguna media sosial yang aktif menjajakan buku online. Penulis saat ini berdomisili di Jambi dan dapat ditemui di FB akun Gie.

Facebook Comments