Monday, December 11, 2017
Home > Literasi > Cerita > CERITA TENTANG SEBUAH TAMAN

CERITA TENTANG SEBUAH TAMAN

CERITA TENTANG SEBUAH TAMAN

HANYA sebuah taman. Tepatnya di tengah-tengah kota tak jauh dari alun-alun yang berhadap-hadapan dengan kabupaten. Dan di kabupaten itu, kau tahu, beberapa truk tentara parkir dan berjaga setiap harinya sejak sebulan lalu sehabis terjadi kerusuhan.

Entah mengapa, aku benar-benar tak paham. Aku cuma mengenang tanggalnya. Dua puluh Agustus dua ribu dua, orang-orang itu datang dengan beragam persoalan. Mereka sampai di depan pintu Pendopo Agung dengan membawa bendera nasibnya masing-masing. Mereka ngamuk, marah-marah dan melemparkan batu-batu. Melemparkan dendam yang seperti telah dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya.

Hanya itu…, hanya itu yang kuingat. Selebihnya aku tak tahu lagi tentang apa, mengapa dan bagaimana nasib sebagian dari mereka yang ditangkapi petugas keamanan.

Sebuah taman dengan beberapa jenis bunga, kau sungguh harus melihatnya. Ada bunga leli, mawar, rumput tikar dan kembang sepatu tumbuh dan mekar membawa hidupnya di situ.

Ada empat bangku panjang pula. Penuh coretan, tapi cukup ramah. Bangku-bangku panjang itu saling menyudut agak berjauhan letaknya. Mereka tidak bermusuhan. Bahkan bersitatap sepanjang hari, seperti layaknya pasangan mempelai yang gemetar saling mengenal.

Bila sore tiba di taman ini, bangku-bangku panjang itu jadi ramai sekali suaranya. Orang-orang datang dengan pakaian warna-warni, seperti perihalnya percakapan mereka yang beragam demikian indahnya. Ada yang cuma sekedar datang. Mungkin pelancong yang kebetulan lewat, lalu sejenak singgah untuk istirahat.

Diam-diam mereka menyimpan wajah bunga-bunga itu ke dalamnya hati. Untuk kenangan. Sedangkan yang lain? Mereka senantiasa dengan sengaja dipertemukan lantaran sore dan senja. Apakah yang kau bayangkan tentang mereka? Di taman ini mereka merasa, bahwa usia tak pernah beranjak pergi tua dan renta. Entah pula mengapa.

Ah, sebuah taman. Hanya sebuah taman sederhana.

Tanpa kolam dan ikan-ikan, tanpa pohon-pohon palem dan cemara. Cuma pucuk-pucuk akasia yang menjulang tinggi dan suka menjatuhkan daun-daunnya bila dirasa telah kuning warnanya, serta pohon-pohon asam yang coklat berdiri membentuk lingkaran mengelilinginya.

Taman itu, liontin dari kegelisahan. Liontin dari pertemuan kekerasan dan bunga. Tempat Lukito dan Zainab dulu bertemu sebelum kawin.

Taman itu hanyalah sebuah taman. Tempat tiga lelaki tua dan seorang perempuan yang suka tersenyum. Dan sungguh pun, aku suka mengenangnya.

 

Bangkalan, 2001-2003.

  



Biodata Penulis

Timur Budi Raja, lahir di Bangkalan, 01 Juni 1979. Pendidikan terakhir S1 Sosiologi di Universitas Trunojoyo Madura. Aktif berteater, menulis puisi, prosa lirik, beberapa naskah pertunjukan, esai sastra dan bergiat mengaransir puisi-puisinya ke dalam bentuk musikalisasi puisi.

Buku puisinya yang telah terbit: Aksara Yang Meneteskan Api (Lingkar Sastra Junok, 2006). Opus 154 (AkarHujan Press, 2012). Tujuh Tipografi Tahun (Penerbit Delima, 2017), dan Penyamun Sholeh (Rumah Akar Literasi, 2017).

Puisi-puisi dan esainya dimuat di Voice Of Law, Surabaya Post, Kidung, Horison, Mimbar Pengajian Agama, Fajar, Palapa Post, Pewarta Siang, Buletin Penggak (Bali), Jendela Newsletter (Bandung), Lorong (Surabaya), Buletin Tera (Madura), Radar Madura (Jawa Pos), Pedoman Rakyat (Sulawesi Selatan), Jurnal Sastra Amper, Majalah Sastra Kalimas, Suluk, dan Bali Pos.

Puisi-puisinya menjadi bagian dalam beberapa himpunan puisi bersama; Akulah Mantera (1996), Mosshat (1998), Anak Beranak (1998), Istana  Loncatan (1998), Luka Waktu (1998), Narasi 34 Jam (Komunitas Sastra Indonesia, 2001), Osteophorosis (2001), Hidro Sefalus (2001), Sastra Pelajar (Horison, 2002), Ning (Sanggar Purbacaraka Udayana, 2002), Permohonan Hijau (Festival Seni Surabaya, 2003), Penyair Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2004), Pelayaran Bunga (Festival Cak Durasim, 2007), Laki-Laki Tak Bernama (Dewan Kesenian Lamongan, 2008), Rumah Kabut (2009), Pesta Penyair Jawa Timur (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2009), dan Forum Sastra Hari Ini (Salihara, 2010), Lelaki Kecil Di Lorong Maling (Melati Press, 2013), Mahar Kebebasan (MataMalam, 2013), Wasiat Cinta (Nala Cipta Litera, 2013), dan Tentang Yang (antologi puisi Fiction Writers & Font, Makassar International Eight Festival & Forum kedua, 2017).

Sebagai konstributor pemikiran di Komunitas Bawah Arus dan menjabat sebagai direktur Penerbit Rumah Akar Literasi (Bojonegoro). Surel: akarhujan@gmail.com

Facebook Comments