Monday, December 11, 2017
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Jelajah Kota yang Tak Mengenal Kata Tua

Jelajah Kota yang Tak Mengenal Kata Tua

Jelajah Kota Tua

Kakiku melangkah ke Stasiun Cikini, kemudian naik kereta menuju ke Stasiun Kota. Rasanya sudah lama tak menaiki kereta tersebut untuk sejenak menyapa Kota Tua di ujung utara Jakarta. Terakhir sepasang kaki ini menginjakkan tapaknya di Kota Tua pada medio 2008. Sudah lama bukan?

Sekitar 45 menit tiba ke stasiun akhir di Jakarta Utara. Gedung yang megah masih mengingatkan saat pertama kali ke sana, meskipun beberapa ada yang mengalami perubahan. Tentu saja, mesin-mesin reservasi online dahulu belum berdiri sekokoh sekarang. Pengguna kereta bisa melakukan transaksi sendiri tanpa bantuan petugas apabila memiliki kartu yang ada layanan khususnya. Bagi saya yang bukan pengguna tetap, maka bantuan petugas sangat dibutuhkan.

Keluar dari Stasiun Kota, saya melangkah sekitar 500 meter untuk sampai ke bangunan utama nan bersejarah di Kota Tua yakni Museum Fatahillah. “Oh, berubah sekali wajah Kota Tua yang dulu pernah aku sambangi,” begitu batin saya.

Tentu saja sangat berubah. Dahulu Kota Tua belum terawat sepenuhnya, terutama bagian sekitar lorong sebelah kanan Cafe Batavia. Sangat tidak terawat bangunannya dan saya pun masih memiliki dokumentasi bangunan itu. Saya dahulu sempat memanjat dinding berteralis bangunan itu untuk memperoleh pose maksimal.

Saya memandangi seluruh penjuru halaman Museum Fatahillah. Ada beberapa pohon yang sudah ditumbangkan. Sayang sekali. Pohon-pohon itu diganti dengan pemandangan pengunjung yang bersepeda kesana-kemari dengan menggunakan topi ala Abad Pertengahan. Sepeda dan topi itu disewa dari pemiliknya yang memang mencari nafkah dengan cara tersebut.

Tak hanya berpuas dengan pose di halaman Museum Fatahillah, saya pun masuk ke museum yang dahulunya merupakan Gedung Gubernuran masa Pemerintah Kolonial Belanda. Tiketnya sangat murah, hanya 5 ribu rupiah.

Saya menelusuri setiap ruangan. Menikmati kembali bangunan nan megah di zamannya dan saat ini pun masih menampakkan kemegahannya. Arsitektur Eropa memang memiliki ciri khas dengan bangunan yang tinggi nan megah. Saya mengagumi arsitektur tersebut karena hingga saat ini masih bisa bertahan meski diterpa oleh zaman.

Mata saya berulang kali memelototi pintu dan jendela yang terbuat dari kayu-kayu yang kuat. Furnitur yang menjadi koleksi museum tersebut pun tak kalah eloknya, terutama cermin besar yang menjadi tempat favorit pengunjung untuk melakukan selfie. Hasil selfie saya tidak terlalu bagus karena harus berebut dengan pengunjung lain.

Saya ke sana tepat di hari Minggu sehingga jumlah pengunjung lebih dari biasanya. Bahkan para pedagang pun memenuhi ruas jalan dari ujung jalan dekat Stasiun Kota hingga ke halaman museum. Manusia-manusia batu yang menjadi ikon kota ini pun puluhan jumlahnya. Penjual karya seni tersebut dahulu belum ada dan sekarang sudah puluhan dan memiliki paguyuban. Tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung, terutama bagi yang jarang ke sana seperti saya.

Sekitar 3 jam saya menjelajahi kota yang tak pernah menua seperti namanya. Semacam nostalgia di masa lalu saat saya pertama kali mengunjunginya. Meskipun sudah teramat beda wajahnya, namun suasananya tidaklah berubah, malah seperti kota-kota baru yang selalu ramai oleh kerumunan manusia. Saya pun bergembira ria dan berharap supaya suatu saat kembali ke Kota Tua meskipun hanya sekedar menyapanya.

Facebook Comments