Monday, December 11, 2017
Home > Literasi > Cerita > Kakakku Jangan Menangis

Kakakku Jangan Menangis

Kakakku Jangan Menangis

 

Kak, jangan nangis….

Setiap pagi sepulang kerja, aku bangun tidur dan kakak pulang dengan mata panda. Ia menatapku, mengulas senyum, menguap, menutup mulut, ke dapur mencuci muka, memasak telur, ikan atau nasi goreng untuk aku sarapan pagi. Kakak tidak sarapan. Aku sudah paham.

Kalau aku sedang sarapan, kakak menyiapkan buku dan segala perlengkapan ke dalam tas sekolahku. Biasanya, setelah aku berangkat sekolah sekitar pukul tujuh kakakku akan langsung tidur, setelah terlebih dahulu mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Ia akan bangun menjelang siang hari. Mandi, makan, lalu menyiapkan makan siang kami. Aku sayang sekali sama kakakku. Dialah satu-satunya orang yang menyayangi dan menjagaku.

Beberapa tahun yang lalu, sebelum aku bersekolah di Sekayu, aku bersama kakak tinggal di rumah sepupu ibu di Palembang. Tapi, kemudian kami pindah. Kakak bilang ia sudah tidak nyaman lagi, istri dari sepupu Ibu mudah cemburuan dan suka marah-marah sesuka kepada kakak, bahkan kakakku pernah ditampar dan ditendang. Kakak tidak tahan lagi, ia mengajakku pindah diam-diam. Kata kakak, sepupunya ibu (paman kami) pasti akan melarang kami pergi dari rumahnya. Namun, kakak tidak enak hati sama istrinya, maka kami pergi tanpa permisi. Kakakku selalu cerita banyak kepadaku, karena akulah adik dan keluarga kandungnya yang tersisa; satu-satunya curahan hati tempat berbagi suka dan resah.

Sebelum pindah diam-diam dari Palembang, kakak bilang ia akan mencari kerja. Paras kakakku lumayan cantik, oh ya, nama kakakku Syifa Eka Putri, panggil saja kakakku: Syifa. Aku bingung berapa umurnya, tapi kakakku lahir Oktober 1991, bintang Libra dan Shio Kambing, kata kakak.

Kakak bilang dengan anugerah paras yang lumayan, mungkin ia akan berpeluang bekerja sebagai SPG, atau penjaga toko, atau hal sejenis lainnya. Kakakku tidak bodoh, ia langganan tiga besar semasa SD, salah satu bintang kelas kesayangan para guru. Namun, kakakku putus sekolah ketika pertengahan SMP empat tahun yang lalu, ketika aku masih berusia enam tahun. Sebabnya, karena ayah dan ibu pergi liburan. Waktu itu aku sangat sedih, ayah dan ibu pergi liburan tidak mengajakku. Aku sebal dan menangis tersedu-sedu.

Sesudahnya, hampir satu minggu aku tinggal di rumah sepupu ibu, lalu kakak datang bersama para tetangga, hmm… ada bapak lurah juga waktu itu. Kakak bilang, Ibu dan Ayah pergi liburan, liburan yang jauh dan lama. Lalu kakak menatapku, tersenyum. Tapi, entah kenapa airmatanya tiba-tiba mengalir. Aku bilang, “kakakku jangan menangis,” tapi kakak justru tertawa tertahan, lalu memelukku erat, menciumku berkali-kali, dan membelai-belai rambutku. Aku tak mengerti, tapi aku sedih bila melihat kakakku menangis.

Lalu Pak Lurah memanggil kakakku untuk berbicara bersama sepupu Ibu di ruang depan. Setelah itu kakak berkata kepadaku, “Dik, untuk sementara kita tinggal di sini dulu. Ini rumah sepupu Ibu, Paman kita.”

Aku bingung, ingin aku bertanya, “kenapa dengan rumah kita?”

Namun, aku tak jadi bertanya. Entah kenapa aku merasa pertanyaan itu tidak tepat, tidak tepat saja. Lalu kakak berkata lagi, “mengenai rumah kita, Paman yang akan mengurusnya.” Aku hanya menggangguk saja.

Dan kami bercanda di dalam kamar hingga tertidur.

Sekarang kami pergi, pindah ke Sekayu, Musi Banyuasin. Masih wilayah Sumsel kata kakak. Di sini biaya sekolah tidak mahal –kakak berencana mencari kerja dan ingin menyekolahkan aku, itulah sebabnya mengapa kakak memilih tempat ini.

Dua hari kami tidur di masjid. Dua hari pula kami makan apa saja seadanya, sekedar penunda ajal. Lalu kakak mengajakku berkeliling jalan kaki. Ada hajatan nikahan di daerah yang bernama Kelurahan Soak Baru. Kakakku beranikan diri meminta makan. Tuan rumahnya baik, kami diajak ke rumah dan makan sepuasnya bersama rombongan pemain orkes yang baru datang.

Ketika melihat paras kakakku, pemilik orkes itu langsung tertarik dan bertanya maukah kakakku menjadi biduan. Soal suara bisa belajar lantaran kakakku masih muda. Sedang soal tampang, katanya, tampang kakakku sangat menjual. Kamu punya pesona dan talenta seorang bintang katanya lagi. Kulihat kakak tersenyum. Rasanya hati lebih tenteram. Aku suka bila melihat kakakku tersenyum.

Setelah itu kami tinggal di rumah pemilik orkes itu, tetapi tidak lama. Hanya satu minggu. Setelah kakakku punya uang hasil dua kali manggung, kakak langsung menyewa tempat kost-an yang sederhana, seadanya, semiskinnya, namun kami bahagia.

Pemilik kost kami adalah seorang janda dengan tiga orang anak lelaki. Dua sudah menikah, satu masih kuliah. Karena semua anaknya laki-laki maka ia sangat sayang pada anak perempuan; pun halnya kepada aku dan kakakku.

Tiga tahun berlalu, kakak mampu menyekolahkanku bahkan kehidupan kami semakin membaik dengan pekerjaannya sebagai biduan dan pekerjaan tambahannya. Banyak orang yang terkadang memandang rendah kepada kakak, bahkan juga aku. Untungnya ibu kost kami orang yang sangat baik.

Aku sedih, mengapa orang suka memandang rendah kami. Padahal kami selalu berusaha untuk baik kepada mereka. Mungkin bagi sebagian orang, biduan adalah pekerjaan yang sangat rendah derajatnya. Namun aku masih ingat jelas ucapan guruku, ia pernah bilang bahwa orang yang selalu mengumbar janji namun tak bisa menepati, suka menyakiti dan berhati dengki, menyikut orang lain demi kerakusan, mengambil hak-hak orang lain, dan banyak lagi hal-hal serupa sejenis, itulah serendah-rendahnya budi dan pekerjaan seseorang. Sekarang aku bingung. Baik dan buruknya seseorang siapa yang memutuskannya?

Akhir kata, hanya begini saja yang Alisya dapat tuliskan mengenai pengalaman hidup Alisya. Maaf ya Bu Guru, tangan Alisya sudah pegel-pegel. Tidak dapat nilai A juga tidak apa-apa. Alisya sayang sama Bu Guru. Ibu baik, sama seperti kakak Alisya. Cuma sayangnya kakak Alisya suka menangis, kadang nangis karena rindu ayah dan ibu, kadang dia nangis karena katanya takut tidak dapat suami. Duh, maaf ya Bu bila terlalu banyak cerita tentang Kak Syifa di sini. Soalnya, ya mau bagaimana lagi Alisya sayang sekali sama kakak Alisya. Sejak tiga tahun lalu hingga kini hanya kakak saja yang menemani Alisya.

Oya, sebenarnya, saat ini Alisya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu, dan waktu itu mungkin kak Syifa hanya tidak tega saja menceritakan kejujurannya kepada Alisya. Ya…, semoga tak akan ada lagi kesedihan yang membuatmu menangis Kak Syifa. Untuk Ayahanda dan Ibunda, damai dan tenang ya di sana, jangan lupa makan yang banyak.

Sekayu, 2012 – 2017


Herdoni_Syafriansyah

BIODATA :

Herdoni Syafriansyah lahir di Kayuara – Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 7 Oktober 1991. Pendiri Perkumpulan Seni, Sastra dan Budaya Arus Musi (ARSI) Kabupaten Musi Banyuasin. Menghadiri seminar Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) V di Palembang (2011), Temu Sastrawan Indonesia (TSI) ke-4 di Ternate Maluku Utara (2011), dan Pagelaran Sastra Lisan Balai Bahasa Sumatera Selatan (2016). Puisi dan cerpennya dipublikasikan beberapa media cetak seperti Majalah Sastra Horison, Dinamika News, Tembilang Jambi, Sumatera Ekspres, Berita Pagi Sumsel, Harian Musi Banyuasin, Majalah Pemprov Sumsel Young –G, Majalah Muba Randik, dan ragam media cyber sastra lainnya. Buku pertamanya yang sudah terbit, antologi puisi berjudul: “Aku Burung dan Kau Pisau yang berputar” (Digna Pustaka, 2012). Karya-karya puisinya juga termuat dalam beberapa antologi bersama lainnya seperti: Perahu Kelebu (Hasfa Publishing, 2011), 125 Puisi Pahlawan FSBP (UmaHaju, 2011), Tuah Tara No Ate (Ummu Press, 2011), Munajat Tugu Bundaran (Digna Pustaka, 2014), dan lainnya.

Facebook Comments