Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Resensi > Perempuan di antara Buku Harian dan Otobiografi

Perempuan di antara Buku Harian dan Otobiografi

Perempuan di Antara Buku Harian dan Otobiografi

SAYA membaca buku ini dalam suasana hati yang penuh penyesalan. Mengapa? Sebagai penulis buku harian yang tak begitu istiqomah, saya merasa terlambat menemukan dan membaca buku Kisah di Balik Pintu ini. Ditulis oleh Soe Tjen Marching, buku ini menjadikan buku harian dan otobiografi sebagai pintu masuk untuk melihat lebih dalam isi hati dan pikiran perempuan. Memang, penelitian terhadap dunia perempuan sudah jamak dilakukan, apalagi dalam hubungannya dengan wilayah publik dan domestik. Akan tetapi, alternatif yang unik dalam pemilihan objek material tersebut menjadikan buku ini memiliki daya magnetnya sendiri.

Mulanya, buku ini adalah disertasi yang diterbitkan dengan judul The Discrepancy between the Public and the Private of Indonesian Women oleh The Edwin Mellen Press pada 2007. Buku itu kemudian diterbitkan dalam edisi “populer” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penulisnya sendiri. Menurut Susan Blackburn, yang memberi pengantar, buku ini “amat original dan menggebrak” karena di Indonesia belum pernah ada penelitian terhadap otobiografi dan buku harian seperti yang dilakukan Soe Tjen.

Tak perlu disangkal, mengorek-ngorek rahasia orang lain yang paling tersembunyi adalah suatu hal yang menyenangkan dan mendebarkan, bukan? Namun, apakah Soe Tjen bertungkus lumus dengan otobiografi dan buku harian semata untuk tujuan banal itu? Tentu tidak. Buku ini memiliki ambisi yang jelas lebih besar dari itu.

Sebagai media yang digunakan untuk, katakanlah, mengekspresikan diri dan mencurahkan isi hati, otobiografi dan buku harian seringkali diletakkan pada dua kutub yang berlawanan. Otobiografi siap dipandang publik, sedangkan buku harian justru bersembunyi dari tatapan publik. Akan tetapi, Soe Tjen memperlihatkan bahwa kedua hal itu tidaklah mutlak. Antara yang publik dan yang privat dalam otobiografi dan buku harian tidak dapat dipisahkan dengan jelas.

Bagi saya pribadi, tak ada temuan yang lebih menarik selain ini: “meskipun bersembunyi dari tatapan publik, tetap ada keinginan buku harian untuk dipandang”. Ini terbukti dari adanya “pembaca lain” dalam buku harian, entah itu disadari atau tidak. Dibandingkan otobiografi, buku harian memang memiliki keleluasaan dalam mengekspresikan diri dan dari norma masyarakat. Namun, kerap tanpa disadari, pandangan dari luar seringkali masuk dalam diri para penulis buku harian. Inilah yang kemudian digali lebih dalam oleh Soe Tjen.

Tak tanggung-tanggung, dalam penelitiannya ini Soe Tjen menggunakan delapan otobiografi. Otobiografi itu diambil dari para nasionalis atau kerabat nasionalis, atau orang yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, di antaranya, Mencari Makna Hidupku (Sujatin Kartowijono, 1983), Bapakku Ibuku (Rachmawati Soekaro, 1984), Pending Emas (Herlina 1985), Bangkit dari Dunia Sakit (Herlina, 1986), Kuantar ke Gerbang (Inggit Garnasih, 1988), Kisah Cinta Inggit dan Bung Karno (Ratna Juami Asmarahadi, 1992), Bung Tomo Suamiku (Sulistina Soetomo, 1995), dan Lasmidjah Hardi: Perjalanan Tiga Zaman (Lasmidjah Hardi, 1997). Di sini, Soe Tjen tak memakai kategori yang ketat terkait mana yang otobiografi dan mana yang biografi. Buku Kuantar ke Gerbang misalnya, yang oleh penulisnya dimaksudkan sebagai kisah cinta, tetap dimasukkan dalam otobiografi. Selain itu, riwayat Lasmijah Hardi juga tetap dimasukkan dalam kategori otobiografi meskipun ditulis oleh orang lain.

Sementara itu, ada sembilan buku harian yang digunakan sebagai pembanding. Buku-buku harian itu milik para perempuan yang, katakanlah, biasa saja dan tidak populer. Karena sifatnya yang lebih privat, Soe Tjen mengharuskan dirinya untuk menyamarkan nama-nama pemilik buku harian tersebut. Tidak mudah untuk mendapatkan buku-buku harian itu, tapi Soe Tjen memiliki kegigihan seorang peneliti. Untuk mendapatkan kesembilan buku harian itu, selain melalui pengumuman media massa, Soe Tjen juga mewawancarai dan meyakinkan para pemilik otobiografi akan jaminan kerahasiaan.

Buku harian dan otobiografi tersebut ditempatkan dalam lingkup kekuatan ideologi Orde Baru, terutama yang berkaitan dengan gender dan isu perempuan. Soe Tjen berasumsi bahwa ideologi dan politik tidak dapat dipisahkan dari catatan pribadi. Karenanya, dialog dan tawar-menawar antara identitas dan ideologi tidak dapat dipisahkan dari buku harian dan otobiografi. Lebih lanjut, Soe Tjen ingin membuktikan bahwa ideologi Orde Baru begitu represif hingga mampu masuk ke wilayah-wilayah yang paling pribadi.

Ideologi Orde Baru digambarkan sebagai ideologi yang selalu menempatkan perempuan sebagai subjek yang paling dirugikan. Kejahatan pemerintah Orde Baru terhadap perempuan, menurut Soe Tjen, antara lain adalah terlalu ngotot dalam memilah, menciptakan, mendoktrinasi, dan memaksakan konsep gender. Kepasrahan perempuan dianggap sebagai pengabdian pada bangsa. Aturan monogami yang seolah-olah membela perempuan justru sangat melemahkan perempuan. Selain itu, masih menurut Soe Tjen, indoktrinasi agama semakin menempatkan perempuan sebagai pengabdi suami. Ancaman dosa pun semakin mengerdilkan nyali perempuan.

Dua pokok besar yang dilihat Soe Tjen dari otobiografi dan buku harian terkait dengan ideologi Orba tersebut adalah ambisi dan seksualitas. Dalam hal ambisi, otobiografi cenderung menyembunyikannya dan menggantinya dengan dukungan terhadap suami atau orang lain. Penulis otobiografi memperlihatkan dirinya sebagai makhluk yang tidak ambisius. Sebaliknya, para penulis buku harian lebih bebas mengungkapkan ambisi-ambisinya dan menojolkan dirinya sendiri.

Dalam hal seksualitas, otobiografi memperlihatkan bahwa ideologi Orde Baru ditambah dogma agama dan sistem partiarki Jawa mengharuskan perempuan untuk mengebiri hasrat seksualnya. Meskipun pengecualian diperlihatkan oleh otobiografi Inggit dan Herlina, mereka masih menganggapnya sebagai dosa atau tindakan yang tidak patut. Dalam buku harian, para penulisnya menuliskan seksualitas dengan penuh keraguan dan banyak mengutuki diri sendiri. Seksualitas bukan hal yang bisa dinikmati, tetapi sudah berubah menjadi konflik sosial.

Soe Tjen memperlihatkan bahwa otobiografi yang ditulis pada masa Orde Baru harus “menaati” aturan pemerintah. Kasus yang paling menarik adalah otobiografi Herlina pada edisi kedua. Ada beberapa bagian yang mengharuskan Herlina untuk mengganti teks yang awalnya netral menjadi mengagungkan penguasa Orde Baru. Hal serupa juga terjadi pada buku harian yang dipublikasi. Sebagai contoh, buku harian Soe Hok Gie yang terkenal itu, Catatan Seorang Demonstran, menurut Soe Tjen tak luput dari sensor Orde Baru.

Tak ingin terperosok pada jebakan yang justru melegitimasi kekuasaan Orde Baru, bahwa Orde Baru tak terkalahkan, Soe Tjen mencari kemungkinan perlawanan yang sayup-sayup disuarakan buku harian dan otobiografi. Meskipun dalam otobiografi para penulisnya masih menyalahkan perempuan atas terjadinya diskriminasi sosial dan stereotipe yang merugikan perempuan, yang menyiratkan betapa kuatnya cengkeraman ideologi dalam memanipulasi perempuan, tampak adanya perlawanan dalam buku harian. Menurut Soe Tjen, dibandingkan dengan otobiografi, buku harian memang lebih dapat menjadi cermin dari politik dan ideologi yang lebih nyata.

Sejak awal, Soe Tjen memang menggambarkan Orde Baru dengan nuansa tutur yang sinis. Karena itulah, buku ini cenderung ditulis dengan penalaran deduktif. Otobiografi dan buku harian semata alat untuk mendukung premis yang sudah diyakini di awal, bahwa sangat sulit—untuk tak mengatakan tak mungkin—lolos dari cengkeraman Orde Baru. Salah satu implikasinya, pembahasan menjadi tidak merata. Data yang mendukunglah yang lebih banyak dibahas. Otobiografi Inggit dan Herlina, misalnya, mendapatkan porsi jauh lebih banyak dibanding otobiografi yang lain.

Orde Lama hampir tak disinggung padahal para penulis otobiografi hidup pada zaman Orde Lama. Itulah yang menyebabkan Soe Tjen menjadi berat sebelah dalam memandang Orde Baru dan Orde Lama. Samar-samar terlihat bahwa Soe Tjen menganggap Orde Lama lebih membebaskan perempuan di wilayah publik.

Di luar itu, saya sepakat dengan Susan Blackburn bahwa Soe Tjen memberikan analisis yang mendalam untuk menguatkan gagasan-gagasannya. Ia juga menunjukkan sensitivitas dan gaya yang tangguh dalam analisisnya terhadap objek material yang dipilih. Buku ini berhasil menjadi “pintu”, ruang antara yang mempertemukan dua dunia yang seolah bertentangan, dunia otobiogafi yang publik dan dunia buku harian yang privat. Melalui buku ini, pembaca pun jadi tahu, bahwa untuk mencurahkan perasaan dengan bebas dan tanpa rasa bersalah adalah sebuah perjuangan bagi perempuan.

Saya pribadi, sebagai penulis buku harian, selesai membaca buku ini merasa perlu untuk menengok kembali apa dan bagaimana saya mencatat di masa-masa terdahulu.

Judul : Kisah di Balik Pintu: Identitas Perempuan Indonesia Antara yang Publik dan Privat
Penulis : Soe Tjen Marching
Penerbit : Penerbit Ombak
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : 256 halaman
ISBN : 978-602-8335-81-2

 Anis Mashlihatin, alumnus pascasarjana UGM, sehari-hari bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia. Saat ini tinggal di Surabaya

Facebook Comments