Saturday, June 23, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Permainan Bahasa Lokal dalam Cerita Anak Milenial

Permainan Bahasa Lokal dalam Cerita Anak Milenial

Permainan Bahasa Lokal dalam Cerita Anak Milenial

Sebelum berbicara serius tentang buku yang akan dibahas pada opini kali ini, mungkin ada baiknya saya mengucapkan selamat pada penulis. Sebab, buku itu mengantarkannya menjadi nomor satu dalam sebuah kompetisi. Saya tahu, untuk berada pada posisi jawara ia harus menyepi beberapa waktu ke sebuah kampung. Ya, memang tidak mudah untuk sekadar menjadi penulis cerita anak.

Kesulitan itu juga dirasakan kawan saya dari Blitar ketika mengikuti pelatihan penulisan cerita fiksi dan non fiksi tingkat Jawa Timur di Batu baru-baru ini. Butuh kesabaran dan dedikasi untuk menghasilkan cerita yang bagus. Apakah setiap orang bisa menulis? Saya kira iya, tinggal sekarang pertanyaannya: seberapa seringkah mereka melatih kepekaan dalam mengolah rasa dan menyusun kalimat?.

Rini Febriani Hauri adalah nama yang tidak asing di telinga saya. Kemampuannya dalam mengolah kalimat hingga menjadi bait-bait cerita yang rancak sudah tidak diragukan. Opini ini tidak bermaksud mencari titik lemah karangannya, melainkan sekadar apresiasi dari sahabatnya di Banyuwangi.

Kurang Beruntung

Saya mungkin tergolong orang yang kurang beruntung. Ada beberapa sebab sehingga menjadikannya demikian. Pertama, ketika kecil saya jarang dibacakan cerita anak oleh orangtua. Kedua, meski chating hampir setiap hari tetapi saya belum pernah bertemu dengan Rini. Bagi sebagian orang ini aneh dan menggelikan. Atau mungkin mereka akan bilang ‘sok kenal dan sok dekat’.

Meskipun belum pernah bertemu tetapi saya berusaha paham dengan karakter dan pemikiran Rini lewat karya-karyanya. Suatu Sore, Bersama Jassin adalah karya pertama yang saya baca. Melalui puisi-puisi yang ada di dalamnya, ia ingin menyampaikan sebuah pesan rindu. Rindu ini tidak sebatas pada seorang kekasih tetapi rindu di antara masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Saya menikmati permainan bahasanya yang renyah dicerna. Walaupun terkadang ia menggunakan istilah kurang puitis –cagar budaya contohnya– namun bukan berarti tidak memiliki makna dan arti.

Bahasa Lokal

Kesan pertama yang saya tangkap ketika membaca kumpulan cerita anak berjudul Lubuk Bumbun ini adalah kaya akan istilah-istilah bahasa lokal. Melalui cerita karangannya, Rini ingin mempopulerkan kembali istilah-istilah lokal yang nyaris hilang dalam pergaulan. Contoh istilah lokal yang ada di dalam karangan itu seperti ladam dan pelanduk. Padahal istilah-istilah itu masih tercantum dalam kamus bahasa Indonesia.

Selain itu, ia juga memberi negasi penggunaan kata dalam bahasa Indonesia yang asal-asalan. Negasi itu terlihat dalam kalimat ‘hujan semakin lebat, tetapi hujan tidak bisa deras. Deras itu milik aliran air. Seperti air sungai yang deras. Jadi, bahasa yang baik itu hujan lebat bukan hujan deras.

Meski banyak menggunakan bahasa lokal tetapi ia tidak lupa untuk memberi penjelasan secara sederhana. Oh iya, kata Sang Tangan Besar, ladam adalah salah satu kosakata lama yang sudah jarang digunakan lagi. Tetapi kosakata ini masih ada dalam kamus bahasa Indonesia. Nah, orang-orang kampung di sini menyebutnya dengan tapal kuda. Tapal kuda adalah besi bekas sepatu kuda berbentuk huruf U. Cara yang cukup cerdik untuk menjebati para pembaca buku yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah.

Serupa Beda Arti

Jika boleh jujur, peristiwa keterasingan bahasa semacam itu tidak hanya didera oleh Jambi saja. Jawa pun hingga sekarang mengalami hal serupa. Bahkan, bahasa kami itu hampir dihapus dari mata pelajaran sekolah. Kemarin ketika saya bertemu dengan adik kelas, kami sempat memperbincangkan soal penggunaan bahasa Jawa yang salah kaprah. Kebetulan ia dulu kuliah di program studi bahasa Jawa.

Tanpa sadar orang Jawa zaman sekarang menggunakan bahasa yang salah kaprah (keliru tapi dibenar-benarkan). Kata réncang sering diartikan oleh banyak orang sebagai teman. Padahal jika dilihat kembali di dalam Bausastra Jawa arti kata ini yang sesungguhnya adalah batur atau réwang (pembantu). Artinya, kata tersebut telah mengalami penurunan makna. Sama seperti kata wanita dalam kumpulan cerita anak Lubuk Bumbun. Lalu si Tangan Besar menjelaskan padaku kalau kata wanita memiliki arti yang lebih sopan daripada perempuan. Untuk orang-orang yang kau hormati, kau bisa menyebutnya wanita bukan perempuan.

Bahasa lokal yang digunakan Rini dalam karangannya lebih banyak bahasa daerah Jambi. Namun di antaranya saya menemukan istilah serupa yaitu ambung, yang masih digunakan dalam bahasa Jawa hingga kini tetapi beda arti. Kata ini dalam bahasa daerah Jambi diartikan keranjang dari rotan yang dipakai penduduk kampung ketika pergi ke sawah. Sedangkan, kata ambung dalam bahasa Jawa artinya tumèmpèling irung ing pipi (melekatnya hidung di pipi) atau mencium pipi seseorang dengan hidung.

Selain kata ambung ada kata lain yang sama dalam pengucapan maupun artinya yaitu dalu. Kata dalu baik dalam bahasa Jambi maupun Jawa sama-sama diartikan sebagai malam. Hubungan yang cukup erat antara Jambi dan Jawa digambarkan Rini dalam cerita melalui kalimat: juga, dulu ada seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Pinang Masak. Kulit tubuhnya putih kemerah-merahan seperti kulit buah jambé/buah pinang yang sudah masak. Karena kecantikan putri ini terdengar sampai kerajaan Jawa, raja-raja Jawa lantas menyebut Putri Pinang Masak tinggal di Kerajaan Jambé. Lama-lama sebutan jambé berubah menjadi jambi.

Memang benar kata jambé dalam bahasa Jawa juga diartikan sebagai wohé pucang atau buah pinang yang sudah masak. Kalimat ‘lama-lama sebutan jambé berubah menjadi jambi’.di atas mengingatkan saya bahwa dalam bahasa Jawa dikenal istilah ‘i’ jêjêg (tegak) yaitu vokal ‘i’ dibaca semestinya. Contoh, kata ‘mati’ baik penulisan dan pengucapannya juga sama ‘mati’. Lain halnya dengan ‘i’ miring antara penulisan dengan pengucapan tidak sama, contohnya ditulis sapih namun diucapkan sapéh yang artinya pisah (untuk menerangkan ketika anak tidak diberi ASI lagi oleh ibunya).

 

Tanda Diakritik

Selain kelebihan yang sudah dibahas sebelumnya, cerita anak ini tidak luput dari kekurangan karena orang jarang memperhatikan yaitu tanda diakritik. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, diakritik adalah tanda tambahan pada huruf yang sedikit banyak mengubah nilai fonetis huruf itu. Contoh, kata pedeh dan dereh pada kalimat ‘Selain paneh berarti panas, ada juga pedeh berarti pedas dan dereh berarti deras’. Apakah pengucapan kedua kata tersebut sama seperti dalam bahasa Jawa yaitu pêdhês untuk pedas dan dêrês untuk deras. Dimana pengucapannya seperti huruf ‘e’ pada kalimat ‘melambai’?.

Tanda diakritik ini penting dicantumkan untuk memberi penegasan dalam pengucapan dan arti (khususnya bagi orang dari luar daerah Jambi seperti saya). Tidak dimungkiri bahwa hal sederhana semacam ini sering dilupakan oleh orang Jawa ketika menulis. Satu kata lokal yang ada dalam kumpulan cerita anak Lubuk Bumbun dan maknanya sama yaitu teklek. Kata ini baik dalam bahasa Jambi maupun Jawa maknanya adalah alas kaki.

Selain itu, baik dalam bahasa Jambi maupun Jawa kata teklek masing-masing memiliki istilah lain. Berkaitan dengan hal ini, Rini lewat karangannya mengatakan bahwa terompah itu kosakata lama yang jarang dipakai lagi, tetapi masih ada di dalam kamus bahasa Indonesia. Orang-orang kampung menyebutnya bakiak atau sandal teklek. Nah, meski mungkin pengucapannya sama namun dalam bahasa Jawa penulisan kata tersebut sedikit berbeda. Jika dibarengi dengan penulisan dan diakritik yang benar maka akan seperti ini: thèklèk. Atau orang Jawa juga menyebutnya dengan nama gapyak, sebuah kosakata lama yang jarang dipakai di era milenial seperti sekarang.


*Jingga Kelana, seorang arkeolog yang sekarang tinggal di Banyuwangi. Ia berusaha berkontribusi melestarikan budaya Jawa melalui hal-hal sederhana seperti dalam berpakaian.

Facebook Comments