Monday, December 11, 2017
Home > Literasi > Opini > Politik Boikot Produk Kekinian

Politik Boikot Produk Kekinian

SariRoti Rotinya Indonesia

Netizen di era media sosial seperti sekarang ini terlalu reaktif. Begitu mudahnya akses bersuara dan memperoleh informasi sehingga netizen bebas mengungkapkan segala yang ada di dalam kepalanya. Era yang sering disebut sebagai masa tsunami berita ini memang membuat pola pikir masyarakat berubah nyaris di seluruh aspek kehidupan, dari masalah moral hingga masalah agama, dari politik hingga ekonomi.

Bidang yang terakhir ini sudah sejak lama bagai dua sisi mata uang, tidak terpisahkan. Gonjang-ganjing politik bisa mempengaruhi ekonomi, begitu juga sebaliknya. Namun, di era media sosial ini, sentimen-sentimen di antara kedua bidang kehidupan tersebut makin mudah menyeruak. Tidak perlu banyak sumbu, cukup nyalakan satu sumbu saja, maka akan merembet ke sumbu-sumbu lainnya. Tak ayal terdapat istilah dalam perdebatan yang berkepanjangan di antara netizen yakni “kaum sumbu pendek.”

Istilah tersebut muncul setelah demonstrasi berjilid-jilid atas perilaku yang dianggap menista agama sehingga mengakibatkan Basuki Tjahaja Purnama berakhir di dalam bui. Rentetan permasalahan perbedaan pendapat dari dua kelompok itu pun tak pelak membawa salah satu produk roti yang sangat kekinian yakni Sari Roti dijadikan korban boikot oleh sebagian kelompok.

Awal mulanya terjadi pada saat demonstrasi kedua dan terbesar tentang isu penistaan agama pada 2 Desember 2016, salah seorang pembeli memborong produk Sari Roti yang digratiskan bagi seluruh peserta demonstrasi tersebut. Foto gerobak Sari Roti yang bertuliskan “gratis” beredar di media online sehingga memicu PT Nippon Indosari Corpindo Tbk membuat pengumuman yang berisi bahwa pihak perusahaan tidak ikut serta menyokong demonstrasi tersebut.

Reaksi atas pengumuman tersebut membuat jengah para demonstran sehingga mereka pun ramai-ramai menuliskan tagar di media sosial untuk memboikot produk Sari Roti. Permasalahan politik yang dipicu oleh isu agama menyeret sebuah produk bukanlah sesuatu hal yang baru. Contoh yang nyata pernah terjadi dan hingga kini seolah hilang dan timbul ialah politik boikot produk Israel.

Politik boikot produk kekinian pun terjadi pada Traveloka. Isunya pun tak jauh berbeda dengan politik boikot Sari Roti yaitu bukan sesuatu yang direncanakan melainkan buah dari salah satu sikap yang dianggap tidak sesuai dan diperdebatkan oleh netizen.

Pangkal permasalahan dari tagar #uninstaltraveloka yang beredar di media sosial terutama twitter ialah sikap Ananda Sukarlan yang melakukan aksi walk out saat gubernur Jakarta terpilih melakukan pidato dalam acara peringatan 90 tahun Sekolah Kanisius. Sikap tersebut dilakukannya karena pandangan politik yang tidak sejalan dengan Anies Baswedan selaku gubernur Jakarta saat ini.

Bisa jadi, Ananda tidak menyangka bahwa aksinya tersebut akan berakibat pada pemboikotan produk Traveloka yang didirikan oleh orang yang akan menerima penghargaan dari Kanisius, sama dengan dirinya. Derianto Kusuma sebagai pendiri Traveloka bisa jadi tak menyangka pula bahwa produk travel yang didirikan olehnya akan bernasib sama dengan Sari Roti, menjadi viral akibat tagar boikot produk.

Sejauh ini yang penulis ketahui baru 2 produk yang mendapatkan boikot, kemungkinan akan ada produk-produk lainnya yang menjadi sasaran dan viral akibat isu-isu politik yang bertebaran di media sosial. Sebagian netizen sudah menyadari bahwa itu hanya isu politik belaka yang berakibat atas suatu produk, namun sebagian lainnya masih senang dan bahkan memang menikmati setiap isu yang digulirkan.

Alangkah lebih bijak, netizen tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang terkadang hanya akan menjadi bumerang, padahal mereka sendiri terkadang menjadi konsumen setia dari produk tersebut. Perusahaan-perusahaan tentunya perlu waspada karena isu-isu politik bisa menyeret produk mereka ke arah yang bisa jadi menguntungkan dan bisa jadi merugikan.

Facebook Comments