Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Cerita > Remah-remah Kenangan

Remah-remah Kenangan

Remah-remah Kenangan plus biodata

AKU pikir berbicara di depan orang banyak itu mudah namun ternyata sebaliknya. Banyak hal yang perlu dipikirkan, dan sesuatu yang sifatnya dadakan pasti akhirnya garing. Dusun di mana kutinggali memang memiliki pemuda yang cekatan. Mereka mampu menyelesaikan pekerjaan yang kata orang rumit dan melelahkan. Berpikir panjang pun tidak asal apa yang direncanakan purna seketika.

Cekatan dalam artian minim bicara dan giat bekerja. Mereka sering berkorespondensi dengan teman di luar kota. Bertegur sapa, bertukar gagasan lewat surel dan surat kabar. Setiap pidato kaum tua menghampiri gendang telinga, mereka lekas memalingkan muka. Kaum tua memang dari ukuran tenaga sudah jauh berkurang. Namun, pengalaman terkadang tidak demikian. Susah memang berbicara di depan orang banyak karena semalam aku merasakan pengalaman serupa.

Kata kawan sebaya, aku paling jago menulis tapi lemah sekali di ranah public speaking. Aku merenungkan kritikan itu di beranda rumah. Sedangkan, istriku sedang merapikan beberapa helai pakaian yang sedianya diangkut ke Surabaya. Sudah seminggu belakangan ia menjalankan bisnis online, semata-mata agar dapur kami tetap ngepul. Apalagi sekarang harga kebutuhan pokok lagi melejit. “Pa, kita harus mengencangkan ikat pinggang,” katanya.

Menjalani hidup di era sekarang memang serba tidak beraturan. Setiap orang harus cerdik mengatur siasat agar tidak tercekik di persimpangan. Dunia literasi tidak selalu memberi kepastian janji hidup kami bakalan sejahtera seperti orang kantoran. Ngutang tetangga kanan-kiri sudah hal biasa ketika isi dompet ludes entah ke mana.

Krisis ekonomi tidak sekali-dua kali menghampiri keluarga kecil ini. Namun, ada yang lebih genting karena sekarang kami mendengar para tetua sedang mengalami friksi gara-gara ada pemahaman yang kurang sejalan. Entah kenapa demikian, di ibukota atau pedesaan sama saja, selalu ada friksi sosial. Mereka yang seharusnya menjadi anutan malah ogah berjabat tangan. Kalau dibiarkan lantas kami bingung menentukan figur teladan.

Cerita yang kutulis memang kebanyakan ngelantur, persis seperti orang tidur pulas setengah sadar. Plot yang sudah ditata pun kadang tidak sesuai dengan harapan. Apakah itu memang karakter dasar manusia yang gampang terprovokasi ucapan liyan? Masih banyak hal yang kurang kupahami. So, terkadang aku tertawa sendiri melihat tubuh ini di depan cermin. Katanya jago nulis, tapi kenapa disuruh bicara di depan orang malah geragapan?

Pernah suatu ketika aku membaca puisi, tapi anehnya tidak bisa setenang penyair kawakan. Apa aku kurang jam terbang? Mungkin, jika sejak awal aku tidak ketakutan pasti sudah selantang almarhum Rendra. Tapi sayang, aku bukan ia si lelaki yang berjuluk burung merak itu. Jujur aku kagum dengan kepiawaiannya memikat perempuan. Menggunakan mantra sastranya untuk menggedor tembok tebal kaum ningrat yang berpending emas.

Aku punya dua buku biografinya, sekarang buku-buku itu kuberikan pada Naya; seseorang yang pernah hadir di sela-sela aktivitasku berolah seni peran. Ia sering menemuiku di Bentara Budaya. Ah, biarkan kenangan itu hilang ditelan kehampaan karena sekarang aku sudah punya pasangan.

Kenangan semacam kecambah, ia pasti bercabang ketika dibasahi dengan perasaan. Tiba-tiba masuk menguliti setiap jengkal syaraf otak yang memang masih enggan melupakan. Sudah berulang kali kusangkal tapi tetap saja hinggap tanpa mau berbelas.

***

SUASANA sudah riuh, para tetangga sedang bergotong-royong membenahi atap rumah Pak Kartiko. Ia adalah seorang pensiunan AKABRI tahun 1978. Meski bapak dua anak itu seorang angkatan namun tetap ramah kepada sesama. Muka garang ciri khas dari pasukan baret merah berusaha dienyahkan. Masa-masa itu sudah purna dan tinggal remah-remah kenangan saja. Hah! Hidup memang selalu berputar dengan dalih melanjutkan kehendak sang waktu. Orang yang dulu terhormat dan ditakuti nyatanya sekarang bisa berbaur dengan nyamannya.

Pak Kartiko pernah bercerita, dulu ketika ia masih bertugas di Bukit Barisan selalu saja rindu dengan masakan emak. Ya emak, sebutan udik tapi suka diucapkan secara lantang sebagai tanda kecintaan seorang anak. Tidak jarang juga harus dengan sabar menghadapi sejumlah aksi unjuk rasa dan segumpal orasi bebal dari kaum intelektual muda.

Muak rasanya melihat hal yang demikian. Unjuk rasa sebenarnya bukan pilihan mutlak untuk mengeluarkan sejumlah perasaan hampa khas anak yang salah asuhan. Tentu itu bukan salah negara, bahkan Marah Rusli pun tak kuasa mencarikan frasa pengganti yang tepat untuk mereka bawa pulang. Bagiku, mereka adalah sekumpulan orang yang kurang kerjaan. Tapi biar saja seperti itu karena hidup kalau tanpa bala Kurawa kurang sedap kelihatannya. Kampret!

Alam sosial yang kurang trengginas serupa genderang reformasi tidak punya simbal dan terompet untuk melengkapi. Seharusnya, sejak awal angkatan 1998 paham bahwa sampai kini reformasi belumlah matang benar. Ia harus digodok berulang-ulang hingga tahan banting dari terjangan krisis kepercayaan. Bukan karena Soeharto mundur, itu hanya nukilan dari misi besar aristokrat negara. Mungkin jika Munir dan Wiji Thukul masih ada, polemik antar penyidik KPK tidak sampai terjadi.

Istriku hampir rampung mengemasi baju baru, sedangkan anak semata wayangku baru pulang dari sekolah. Tempat di mana ia dapat memperoleh sedikit pemahaman betapa hebatnya menjadi generasi milenial sekarang. Berbekal gawai mereka sudah dapat menjelajahi setiap jengkal dunia yang seakan tanpa batas.

Jangan menyalahkan keadaan jika sekarang generasi tua sering ketinggalan. Dunia memang punya cara sendiri untuk mengungkapkan kehendak. Tentu tidak lupa dengan cara-cara yang manusiawi. Meski sekarang di dunia virtual dan layar kaca sedang banter-banter-nya diberitakan tentang Gunung Agung yang sudah siaga satu. Namun penduduk sekitar diharap tidaklah gusar menghadapi sabda yang demikian. “Pa, kenapa peristiwa itu disebut bencana?” tanya anakku. Ia penasaran karena memang baru sekali itu mendengar berita tentang gunung yang akan meletus.

Sebenarnya tidak ada bencana karena itu memang sudah kehendak alam. Kita sebagai manusia hanya meminjamnya sesaat saja. Lucu sekaligus menyebalkan memang ketika mendengar penyebutan bencana di pemberitaan. Seolah-olah manusia dengan entengnya menghakimi alam tak berkesudahan. Aku bilang kepada anakku, jangan mudah menelan informasi yang belum tentu kejelasannya. “Kau harus memikirkannya dengan seksama”, kataku sesaat sebelum ia masuk ke kelas.

Ketika ia lahir, aku masih umur 35 tahun. Kutimang dengan penuh kasih sayang, semoga keberadaannya dapat menjadi lentera di tengah keluarga. Setiap hari ibunya dengan sabar mengajarinya menjadi perempuan yang anggun. Ia jarang ditegur karena istriku tahu seorang anak jangan suka ditakut-takuti. Kami ingin anak itu tumbuh sewajarnya dan tugasku bersama ibunya hanya merawat dan menjaga sebisanya.

“Entah, besok ia akan menjadi apa? Pa, dulu selalu berharap anak kita bahagia tanpa rasa takut menghampiri dengan sengaja.” Aku hanya mengangguk. Istriku juga paham, aku jarang bicara karena memang kami tidak suka bertengkar. Buat apa berbuat seperti itu? Bukankah sejak awal sudah bersepakat untuk seiya-sekata?

Dulu aku menikahinya dengan hati yang mantap. Tidak ada permintaan aneh-aneh, yang penting kami dapat menjaga komitmen dengan akal sehat. Jangan memulai hal yang kurang sehat. Aku pernah mengatakannya di depan istri dan orangtuaku. Karena aku sebenarnya sudah jenuh mendengar pertengkaran dari dua mulut yang enggan mengalah.

Kadang aku bertanya, kenapa hal konyol semacam itu dipertontonkan di depan mata? Hah, sudahlah! Aku bersama istriku ingin memulai tradisi yang baru. Ibarat kata seperti peristiwa sesudah Bharatayudha. Dulu aku pernah ingin seperti Dewabrata. Bersumpah demi ibunya tidak akan menikah demi keberlangsungan sebuah tahta. Namun sekarang nyatanya aku sudah punya pasangan. “Ma, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana,” kataku meniru seorang penyair sebelum tidur dan pergi menuju peraduan. Tabik!


Jingga Kelana, seorang arkeolog yang sekarang menekuni dunia literasi. Selain itu, ia juga berkecimpung di dunia seni peran. Salah satu karyanya yang bertajuk Tari Kolosal Kidung Maha Wilwatikta tahun ini ia tampilkan di hadapan masyarakat Hindu se-Jawa Timur dalam acara Dharma Shanti Nyepi 1939 Saka. Bagi cowok kelahiran Banyuwangi dan pernah menggawangi Sanggar Poerbatjaraka dan Majalah Stupika ini menulis dan berseni peran adalah sebuah alternatif cerdik dalam menyampaikan aspirasi di tengah dunia yang serba instan seperti sekarang.

Facebook Comments