Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Opini > Sriwijaya sebagai Pusat Pengajaran Agama Buddha di Asia

Sriwijaya sebagai Pusat Pengajaran Agama Buddha di Asia

Sriwijaya sebagai Pusat Pengajaran Agama Buddha di Asia

SETELAH sekian tahun menggeluti dunia arkeologi pasca menyelesaikan studi di Universitas Udayana, saya menjadi mengerti bahwa peristiwa yang sekarang booming diperbincangkan, sebenarnya tidaklah asing karena dari dulu memang sudah terjadi. Toleransi yang belakangan dipermasalahkan gara-gara kontestasi politik, telah mendapat keteladanan dari masa klasik.

Beberapa saat lalu terdengar ada konflik antara masyarakat Rohingya dengan masyarakat Buddha di Myanmar. Berita ini digoreng di media sampai berbulan-bulan hingga menimbulkan sejumlah aksi di mana-mana, tak terkecuali di Indonesia. Secara kasat mata memang seolah-olah telah terjadi friksi berkepanjangan antara masyarakat Rohingya dengan masyarakat Buddha di Myanmar, namun sebenarnya itu akibat dari manuver elit politik saja.

Myanmar sekarang memang mayoritas penduduknya beragama Buddha dan berkebalikan dengan fakta di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Meskipun begitu, dulu ketika Sriwijaya masih eksis Nusantara pernah menjadi pusat pengajaran agama Buddha terbesar setelah Nalanda.

Bambang Budi Utomo melalui studinya mengungkapkan, selain pusat kekuasaan Sriwijaya juga menjadi pusat kebudayaan, peradaban, dan pusat ilmu pengetahuan ajaran Buddha. Hingga permulaan abad ke-11 Masehi, Sriwijaya masih merupakan pusat pengajaran agama Buddha. Pada waktu itu, yang menjadi raja adalah Sri Cudamaniwarman yang masih ada kaitannya dengan keluarga Sailendra.

Dikenalnya Sriwijaya sebagai pusat pengajaran agama Buddha tidak lain adalah peranan dari seorang bhiksu yang menyusun kritik atas kitab Abhisamayalamkara bernama Dharmakirti. Saking terkenalnya hingga pada tahun 1011 hingga 1023 Masehi, seorang bhiksu dari Tibet bernama Atisa (Dipamkarasrijnana) datang ke Swarnadwipa untuk belajar kebuddhaan pada Dharmakirti.

I-tsing dalam kitabnya berjudul Biografi Pendeta-pendeta Mulia dari T’ang yang Mengajar di India, ditulis tahun 688-695 mengatakan bahwa bhiksu-bhiksu Tionghoa yang ingin pergi ke India untuk menuntut ilmu ajaran Buddha dan membaca teks-teks asli, sebaiknya menetap di Sriwijaya dulu selama dua atau tiga bulan. Di situ menjalani latihan sebelum berangkat ke India.

Selain itu, jauh sebelum agama Islam menyebar di Asia, para saudagar Arab dan Persia sudah berniaga ke Asia Tenggara. Saudagar Arab dan Persia ini sudah lama dikenal di kerajaan-kerajaan Asia Tenggara. Nama Persia yang sekarang dikenal dengan nama Iran, menurut catatan harian Tionghoa adalah Po-sse atau Po-ssu dan Ta-shih untuk menyebut orang Arab.

Kehadiran orang-orang Po-ssu dan Ta-shih di bandar-bandar sepanjang tepian Selat Melaka, pantai barat Sumatera, dan pantai timur Semenanjung Tanah Melayu sampai ke pesisir Laut Tiongkok Selatan diketahui sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah. Hubungan pelayaran dan perdagangan antara bangsa Arab, Persia, dan Sriwijaya rupanya dibarengi dengan hubungan persahabatan di antara kerajaan-kerajaan di kawasan yang berhubungan dagang. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya beberapa surat dari Maharaja Sriwijaya yang dikirimkan melalui utusan kepada Khalifah Umar ibn ‘Abd. Al –Aziz (717-720 Masehi).

Surat itu berisi pemberian hadiah sebagai tanda persahabatan. Selain itu, Maharaja Siriwijaya juga mohon dikirimkan mubaligh untuk mengajarkan Islam di Sriwijaya. Ini artinya, kehidupan religi di tanah pesako cukup serasi dan toleransi di mana tiap ajaran atau agama mempunyai hak yang sama untuk berkembang.

Masa Lalu di Depan Publik

Kisah keteladanan dari masa lalu perlu diberitakan melalui berbagai cara dan salah satunya lewat tulisan sebagaimana I-tsing  contohkan. Agar masyarakat yang hidup sekarang tidak terlampau asing terhadap kebiasaan atau pun fenomena yang berkembang di sekitarnya. Ketika berita tersebut sudah ditulis dan diwartakan ke ranah publik, pasti dua kubu akan segera terbentuk.

Publik sebagai salah satu unsur penting dalam penelitian arkeologi juga demikian. Mereka punya tanggapan yang cukup beragam ketika berita arkeologi hadir di depan mata. Dalam sebuah status saya mengatakan, arkeologi untuk publik, siap? Ya, kami siap. Tapi publiknya yang kadang tidak siap menerima kenyataan. Kan lelah jadinya. Status itu sebagai refleksi bahwa masyarakat selain menerima juga bisa melakukan resistensi terhadap fakta yang coba akademisi arkeologi ungkap dalam tulisannya.

Resistensi muncul disebabkan banyak faktor, yaitu karena privasi atau kepentingan internal mereka tidak mau diwartakan dan kemudian menjadi konsumsi publik; mereka sudah terlampau nyaman dengan tatanan sekarang; atau antara ekspektasi mereka di masa kini dan fakta masa lalu tidaklah sama. Sayang, sampai sekarang belum diketahui bagaimana respons publik setelah membaca catatan I-tsing yang mewartakan bahwa selain Nalanda ada pusat pengajaran agama Buddha lain yang sama besarnya yaitu Sriwijaya.

Citralekha

Meski penulis kadang mendapat sindiran dan resistensi dari publik sebagai penikmat tulisannya, namun mereka berusaha tetap eksis melalui sejumlah pemikirannya. Di masa klasik seorang penulis akrab disebut citralekha. Pada masa Jawa Kuna keberadaannya ditafsirkan sebagai penulis prasasti, yang dituntut mempunyai keahlian dan pemahaman terhadap jargon dan birokrasi kerajaan. Sehingga sebelum ditetapkan sebagai penulis, mereka harus menjalani serangkaian pendidikan atau pelatihan.

Penguasa kerajaan menyadari bahwa peran seorang penulis (citralekha) sangatlah besar dan penting. Maka, ia sering disebut dalam sejumlah prasasti salah satunya berbunyi …likhita dangacaryya ambrita (ditulis oleh pejabat dang acaryya yang bernama Ambrita (prasasti Wulig, 935 Masehi)). Di dalam prasasti, seorang penulis sering disebutkan bersama dengan pejabat kerajaan lainnya, seperti wahuta, nayaka, pratyaya, parujar, parwuwus, tuhan, dan juru.

Awalnya, berdasarkan gelar yang disandang pada abad ke-9 Masehi seorang penulis umumnya berasal dari golongan bangsawan, yaitu dapunta (gelar yang sebelumna dimiliki oleh raja, keluarga raja, dan pembesar kerajaan Sriwijaya) dan rakai dan dyah (gelar yang sebelumna dimiliki oleh raja, keluarga raja, dan pembesar kerajaan Mataram). Kemudian, pada awal abad ke-10 Masehi penulis juga berasal dari kalangan rakyat biasa karena prasasti Panggumulan (902 Masehi) menyebutkan bahwa penulis juga memiliki gelar si.

Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan sosial dalam masyarakat Jawa Kuna. Jabatan di kerajaan lebih terbuka untuk masyarakat umum dan tidak eksklusif untuk kalangan bangsawan saja. Perubahan tersebut mendorong terjaadinya mobilitas sosial secara vertikal. Untuk dapat menjabat sebagai penulis kualitas yang harus dimiliki adalah paham bahasa dan aksara Jawa Kuna, paham jargon kerajaan, dan birokrasi kerajaan.

Selain menulis, berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Febriana Ramadhani, peran seorang citralekha adalah berpartisipasi dalam peristiwa penting terkait perkara tanah, hukum, dan kerajaan di dalam kerajaan yaitu sebagai tatra saksi.


*Jingga Kelana, arkeolog di Banyuwangi.

Facebook Comments