Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Cerita > Tiga Tangis Perempuan

Tiga Tangis Perempuan

Tiga Tangis Perempuan

SIAPA perempuan ini? Dari mana asalnya, ke mana tujuannya aku tidak tahu. Dia hanya perempuan yang aku temui di angkot yang sedang sepi penumpang. Aku sungguh tidak akan memperhatikan dia kalau saja tidak mendengar tangisnya. Matanya basah.

Perempuan cantik. Usianya kutaksir 10 tahun lebih muda dari ibuku. Tingginya sama, besarnya sama dan yang paling penting cara menangisnya sama. Dia jauh lebih cantik dari ibuku, lebih rapi dan modis. Bibir merah mudanya bergetar menahan tangis.

“Pelabuhan ya, Pak,”

Sekarang aku tahu, kemana dia akan pergi. Dia turun dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Angkot kembali berputar dan entah untuk alasan apa aku juga sudah turun dari angkot tadi. Kurasa otak dan kakiku sedang tidak sinkron. Mana mungkin aku ingin sekali turun dan tahu hal lebih banyak lagi tentang perempuan itu hanya karena cara menangisnya sama seperti ibuku. Siapa dia, mau ke mana, terlebih lagi kenapa dia menangis seperti tadi. Seingatku, ibu pernah menangis persis seperti perempuan tadi ketika ia akan meninggalkan aku dan adikku untuk pergi jauh, jauh sekali. Atau ketika nenekku secara terang-terangan mengusirnya. Selebihnya tidak pernah. Atau mungkin lebih tepatnya, ibu lebih sering menyembunyikan tangisannya. Akankah dia pergi jauh seperti ibuku? Kemana anaknya? Mungkin ibuku seusianya saat dulu memutuskan untuk pergi.

“Titip Bapakmu ya.” itu saja pesan singkatnya.

Perempuan itu berdiri menghadap laut, sengaja aku duduk di kursi penumpang yang paling dekat dengannya. Rambut hitam lurusnya diterbangkan angin. Masih menangis. Kenapa dia? Apa masalahnya? Aku mulai menebak sendiri. Apa anaknya sedang sakit keras? Atau apa mungkin suaminya baru saja meninggal dunia? Tapi tidak mungkin, dia harusnya lebih memilih di rumah jika memang sedang dalam keadaan berduka. Dia melirik ke arahku kemudian melempar senyum. Sangat mirip dengan hal yang dilakukan ibuku. Sedang berpura-pura kuat. Kemudian aku bangkit berdiri, tepat berada di sebelah kanannya. Menghadap laut.

Kapal sudah berjalan, menimbulkan bunyi bising mesin, beberapa pedagang sibuk menjajakan barang dagangan. Aku harus berkali-kali menggeleng kalau ada pedagang yang hendak mendekat. Beberapa orang mulai memperhatikan kami. Aku juga tidak tahu harus memulai obrolan macam apa dengan perempuan ini. Aku hanya diam, sambil tetap menatapnya yang masih menangis. Pelan, aku sodorkan selembar tisu. Tangisnya menjadi. Aku dibuatnya semakin bingung. Apa aku menambah bebannya? Tapi kenapa? Aku tidak berani bertanya. Atau mungkin aku tidak terbiasa bertanya banyak hal pada orang yang sedang menangis.

Mungkin dia sedang butuh didengarkan, tidak butuh nasehat apapun. Setidaknya itu yang ada dalam pikiranku saat ini. Aku melihat lagi pada matanya yang menatap kosong ke laut. Airmatanya meleleh, dia menangis tanpa suara. Dan aku tidak bisa menatap lama mata yang demikian. Seminggu yang lalu, ibu juga melalukan hal yang sama. Tentu aku tidak berani bertanya. Aku menunggunya sampai benar-benar tenang.

“Perempuan kaya yang jahat, jahat!”

“Sama jahatnya seperti Bapakmu.”

“Perempuan yang tidak tahu bagaimana perasaan seorang perempuan.”

Rupanya, ibu bertengkar hebat dengan bapak. Aku hampiri ibuku pelan kemudian memeluknya. Dadanya berdetak hebat. Ingin rasanya aku membunuh perempuan yang dibicarakan ibu. Atau paling tidak, aku ingin menjambak rambutnya karena dia telah melukai hati ibuku. Tapi aku sendiri tidak tahu siapa perempuan itu. Apa mungkin perempuan ini mengalami hal yang sama seperti ibu? Kalau memang iya, kasian sekali nasibnya. Aku semakin iba. Perasaan perempuan mana yang tak sakit jika mengalami hal yang sama seperti ibu. Ibu bahkan berkali-kali berdoa, “Semoga engkau dan adikmu tidak pernah bernasib sama seperti ibu.”

Aku memberanikan diri untuk melihat pada matanya yang tak lagi berair. Barangkali dia sedang berpikir. Apa yang selama ini terjadi pada hidupnya, bagaimana cara agar dia bisa keluar dari masalah yang dia hadapi, meski pun aku memang tidak pernah tahu persis apa yang ada di pikirannya, itu hal yang aku lakukan jika aku sedang menangis. Perempuan secantik dia seharusnya sedang dalam perjalanan liburan ke luar kota, atau sedang perawatan ke salon untuk rambut lurusnya. Ia terlalu cantik untuk menangis di tempat umum seperti ini.

“Kau mau ke mana? ” dia membuyarkan lamunanku.

“Eh, anu, ke Surabaya,” jawabku bohong.

“Terima kasih sudah menemani.”

Matanya berkaca-kaca. Ingin rasanya aku bertanya panjang lebar, Ibu kenapa?  Ada masalah apa? Ceritakan padaku, barangkali aku bisa membantu atau minimal aku bisa menjadi temanmu, kau bebas bercerita, berteriak dan melakukan apa pun padaku. Jangan hanya diam begini.

“Kau sudah menikah?” aku menggeleng.

“Kau akan tahu jika kau menikah nanti. Tapi semoga kau tak pernah bernasib sama sepertiku. Semoga tidak pernah.”

Dia menangis lagi. Sementara aku diam. Aku mengingat ibu.

“Itu juga yang sering ibuku katakan.”

“Benarkah?”

Aku mengangguk. “Jangan mencintai pria yang salah. Jangan!”

“Apa Ibu mencintai pria yang salah?”

“Tidak. Aku yang salah karena mencintainya.”

Bu, perempuan yang aku temui ini sama sepertimu. Ibu juga selalu berkata bahwa bapak bukan laki-laki yang salah. Tapi, dia tak sekuat engkau, bu. Aku menunduk agak lama. Ingatan-ingatan tentang pertengkaran ibu dan bapak, tentang aku dan adik-adik, tentang teriakan bapak dan tangisan ibu memenuhi kepalaku. Aku seperti berada di tempat pemutaran film yang pemeran utamanya adalah ibu. Kejadian-kejadian yang membuat hidup kami berantakan datang seperti slide yang silih berganti.

“Ceritakan tentang Ibumu.” seolah-olah dia bisa membaca pikiran, dia meminta.

“Ibuku wanita tersabar dan paling pemaaf. Sebanyak apapun suaminya menyakiti, ia akan tetap bertahan dan memaafkan. Tidak peduli berapa kali dikhianati, tidak peduli seberapa banyak luka yang telah dibuat, ia tetap bertahan dan memaafkan. Berulang kali, dengan kesalahan yang dilakukan laki-laki yang sama. Bapakku sendiri.”

Kali ini, perempuan itu menatapku. Airmatanya kembali meleleh.

“Seandainya, istrinya sebaik Ibumu, seandainya aku berhadapan dengan orang sesabar Ibumu dan seandainya anaknya sebaik kamu,” dia kembali menangis.

Aku tidak mengerti apa yang dia katakan, hampir saja aku bertanya sebelum dia mengeluarkan selembar foto yang dia tunjukkan padaku.

“Ini suamiku.” Aku mematung.

“Aku sangat mencintainya, tapi dengan cinta yang salah.”

Tanganku dingin, dadaku berdetak hebat. Bu, perempuan ini benar-benar sama sepertimu, tingginya sama, cara menangisnya sama, bahkan dia juga mencintai laki-laki yang sama. Airmataku leleh dan perempuan itu menatapku.

 

-Selesai-


Titik Fatima, Lahir di Bangkalan Madura. Aktif bergiat di Komunitas Literasi Bawah Arus Bangkalan.

Facebook Comments