Tuesday, November 21, 2017
Home > Gaya Hidup > Komunitas > Yang Tersembunyi dari Lapak Baca Jambi

Yang Tersembunyi dari Lapak Baca Jambi

Yang Tersembunyi dari Lapak Baca Jambi

Sahabat Puan yang tinggal di Jambi dan suka membaca buku, sudah pernah main ke Lapak Baca Jambi belum? Jika belum, tempat ini bisa jadi salah satu alternatif sebagai tempat nongkrong buat kamu. Yuk, simak obrolan santai puan.co bersama Lapak Baca Jambi!

 

Lapak Baca Jambi itu apa sih?

Lapak Baca Jambi adalah nama yang saya berikan pada kegiatan sederhana ini. Hanya membawa buku untuk bisa dinikmati oleh orang banyak.

 

Sejak kapan Lapak Baca Jambi berdiri?

Lapak Baca Jambi berdiri sejak 20 Agustus 2016. Tidak terasa sudah setahun dan mohon doanya agar dapat lanjut terus J

 

Lapak Baca Jambi ini komunitas atau milik pribadi? Siapa saja penggiatnya?

Lapak ini milik sendiri, tetapi saya sering dibantu oleh teman jika mereka ada waktu luang. Alhamdulillah teman-teman banyak yang mendukung. Tentunya dengan mereka hadir walau hanya sekadar nongkrong sudah sangat menyenangkan bagi saya.

 

Lapak Baca Jambi biasa sering nongkrong di mana? Tiap hari apa aja?

Setiap hari Minggu pukul 16.00 WIB sore sampai terasa capai. Untungnya, membuka Lapak Baca Jambi ini sendirian adalah saya bisa mengatur waktu menjadi fleksibel untuk buka-tutupnya dan tidak membebani orang lain. Kadang, kita bisa buka sampai malam jika ada yang masih nongkrong atau membaca di sana. O iya, kita ngelapak di Taman Pedestrian Jomblo, Kota baru, Kota Jambi. Tepatnya di depan Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi.

 

Ada nggak tempat nongkrong  Lapak Baca Jambi yang lain?

Tidak ada. Saya hanya berusaha berada dalam satu tempat. Membangun citra di tempat itu. Tentu agar orang-orang mudah mencari jika tidak berpindah-pindah. Namun, ada satu—dua kesempatan saya ngelapak di tempat lain, tetapi itu hanya jika ada acara dan sedang gabung dengan komunitas lain. Dengan Malam Puisi Jambi, misalnya. Saya membuka lapak di Lippo Mall dan pernah beberapa kali di kafe.

 

Ngomong-ngomong, keseharian Bang Rajib sebenarnya apa sih? Apa kegiatan Lapak Baca Jambi tidak mengganggu rutinitas harian?

Kebetulan saya sedang bekerja di Radio Boss FM Kota Jambi. Tentunya tidak mengganggu. Bahkan, dalam pikiran saya malah sebaliknya. Jangan sampai kegiatan saya yang lain mengganggu rutinitas Lapak Baca Jambi. Karena lapak sudah menjadi rutinitas saya. Hahaha

 

Target pembaca dari usia berapa sampai berapa?

Soal target pembaca, sebenarnya saya ingin menargetkan orang dewasa yang memang sudah bisa berpikir layaknya orang dewasa. Tentu mereka harus membaca. Orang-orang dewasa tidak sama dengan anak kecil. Jika anak kecil tertarik membaca karena gambar kover dan sebagainya, maka orang dewasa ini harus sudah tahu alasannya membaca dan kita berusaha memenuhi itu.

 

Apakah boleh meminjam buku untuk dibawa pulang? Syaratnya apa saja?

Sangat Boleh. Tidak ada syarat khusus untuk saat ini. Hanya berjanji akan dikembalikan saja sudah cukup. O iya, saya hanya meminta nama dan nomor telepon si peminjam. Ah, saya jadi teringat sesuatu dari buku 24 jam bersama Gaspar, katanya begini kira-kira, “Taman baca tentu gagasan baik untuk mengumpulkan orang. Di sana mereka bebas, membaca, meminjam, mencuri buku pun boleh. Asal mereka mau datang saja.”

 

Adakah peminjam buku yang tidak mengembalikan buku? Apa upaya yang dilakukan Lapak Baca Jambi?

Ada. Pasti. Kayak hukum gravitasi. Hehe. Paling saya berusaha mengubungi nomor mereka yang pernah ditinggal. Kalau tidak ada jawaban, selebihnya saya berusaha ikhlas. Hahaha

 

Ada berapa jumlah buku koleksi Lapak Baca Jambi?

Kelemahan saya adalah memiliki sifat pemalas. Jadi, saya tidak pernah menghitung buku saya secara pasti. Sudah banyak teman menyarankan saya menghitung buku dan mencatatnya. Semoga suatu saat, saya mencatat buku-buku saya agar lebih tertata. Satu ransel, satu kota berukuran sedang (kalau tidak salah seukuran dus pampers), satu kotak kecil ukuran dus air mineral, dan dua buah plastik  hitam berukuran tidak terlalu besar. Ayo tebak ada berapa?

Selama ini buku-bukunya milik siapa?

Awalnya buku milik saya pribadi. Kebetulan ada sedikit buku dan cukup untuk membuka lapak baca. Selebihnya, banyak dapat dari teman mau pun pengunjung yang memberi buku kepada saya. Ada juga dari beberapa penulis yang menitipkan karyanya ke lapak.

 

Apakah ada yang donasi buku? Dari kalangan mana saja?

Ada. Kebanyakan dari kalangan umum. Maksud saya umum di sini adalah dari mereka yang memang membaca. Selain itu dari beberapa teman.

 

Apakah masih membutuhkan donasi buku? Kira-kira donasi buku dialamatkan ke mana?

Boleh sekali. Silakan datang saat Lapak Baca Jambi buka (setiap Minggu sore) atau bisa hubungi saya di 0813 6877 3231. Nanti bisa diatur penjemputannya jika memungkinkan.

 

Apa kendala saat menggelar Lapak Baca Jambi?

Tidak ada selain cuaca. Hujan, misalnya.

 

Kira-kira ada nggak keuntungan menggelar Lapak?

Banyak. Keuntungan terbesar adalah saya dipertemukan dengan orang-orang yang mencintai buku. Dan itu sangat berharga. Saya percaya buku membuat peradabannya sendiri dengan menghadirkan orang-orang luar biasa di mata saya.

 

Bagaimana seandainya hujan mendadak? Apakah ada buku-buku yang rusak?

Pernah sekali saja hujan mendadak. Untungnya sempat mengemas buku-buku dengan bantuan pedagang di sekitar. Mereka baik sekali.

 

Mengapa sih mau jadi relawan Lapak Baca Jambi?

Karena saya menyukai buku. Itu saja.

 

Uang trasnport kan mengeluarkan sendiri ya, Bang? Apa tidak merasa rugi?

Tidak. Toh, saya tidak berjualan jadi tidak ada ruginya. Apa lagi merasa rugi—tentu tidak.

 

Apa selama ini ada bantuan dari pemerintah?

Tidak. Namun, pemerintah sudah sedikit peduli dengan pengiriman gratis setiap tanggal 17 untuk semua pegiat literasi di Indonesia menyalurkan buku-buku donasi.

 

Apa sih perbedaan membaca di perpus dengan membaca di Lapak Baca Jambi?

Kalau di perpus ‘kan kita harus membaca dengan tenang. Kalau di lapak kita bisa lebih dari itu. Berlatih membaca dengan adanya gangguan suara dan lainnya. Atau di lapak juga bisa memperbincangkan buku. Ngomongin orang juga boleh. Bebas kok.

 

Target Lapak Baca Jambi lima tahun ke depan ?

Wah, Jauh sekali lima tahun ke depan. Saya tidak punya target besar-besar. Saya cukup ingin konsisten membuka lapak selama saya masih berada di Jambi. Target kecilnya, saya ingin kurasi buku-buku di lapak, agak-agak berat sedikit deh bukunya.  Walau pun saya juga ingin Lapak Baca Jambi menjadi sebuah penerbit dan toko buku, tetapi ‘kan tidak semudah membuat mi instan.

 

Selama menggelar Lapak, apa pengalaman menariknya?

Bertemu orang dengan latar belakang berbeda-beda. Paling menarik jika saya bertemu seorang penulis. Saya sangat mengagumi penulis.

 

Kalau pengalaman sedihnya?

Enggak ada secara pasti yang memengaruhi saya untuk sedih. Paling tidak jika ada yang mau ke lapak tapi enggak jadi. Itu aja.

 

Jika kita berkunjung ke Perpustakaan Kota dan Provinsi Jambi, isinya kebanyakan hanya siswa/mahasiswa/pembaca umum yang memang mencari buku demi kepentingan tugas, mereka tidak akan datang ke perpus jika tidak butuh buku, dan pembaca yang benar-benar haus membaca bisa dihitung pakai jari. Apakah minat literasi sudah semakin ditinggalkan? Bagaimana menurut Bang Rajib?

Saya kira, buku bisa dihidupkan di mana saja. Jadi, tidak ada alasan mengatakan literasi sudah ditinggalkan. Untuk orang-orang seperti itu memang ada dan saya dulu juga seperti itu. Ke perpus hanya untuk keperluan tugas. Ya, saya kira soal literasi ini hanya masalah akses bukan minat. Saya berkhayal satu hari buku bisa menjadi gaya hidup. Maksudnya, walaupun hanya digunakan untuk gaya-gayaan saja sudah sangat menyenangkan. Orang-orang akan jalan dengan buku di tangannya. seperti fenomena gawai sih, lebih kepada gengsi daripada fungsi.

 

Kalau dilihat-lihat, gedung bioskop dan mal lebih ramai daripada dua gedung perpustakaan Jambi, menurut Bang Rajib apa sih penyebabnya?

Penyebabnya sangat jelas. Mal lebih mampu membuat orang tertarik ketimbang perpustakaan. Coba bayangkan perpustakaan kita bisa menerapkan marketing seperti mal? Hehe. Oiya, satu lagi. Saya dari dulu memperhatikan bahwa sebagian besar masyarakat Jambi ini suka sekali dengan sesuatu yang berprestise tinggi. Dan mal menghadirkan itu, kecuali nanti ketika seperti yang saya bilang, buku sudah menjadi gaya hidup.

 

Baik Bang Rajib, Terima kasih atas ngobrol-ngobrol santainya. Sukses selalu!

Terima kasih kembali. Sama-sama.

Yang Tersembunyi dari Lapak Baca Jambi2
Lapak Baca Jambi
Facebook Comments