Monday, December 11, 2017
Home > Gaya Hidup > Tips & Trik > Anda, Para Istri Korban Pelakor? Simak Tips Berikut!

Anda, Para Istri Korban Pelakor? Simak Tips Berikut!

pelakor

Pelakor adalah akronim dari “Perebut Laki Orang”. Istilah atau julukan ini ramai diperbincangkan berbagai kalangan. Baik di dunia gosip selebritis, rakyat jelata, kalangan sosialita, hingga  pejabat. Label Pelakor ditujukan pada perempuan yang masih single, ibu-ibu, janda, hingga perempuan yang statusnya tak jelas sekalipun – yang suka merusak rumah tangga orang lain dengan cara menjalin hubungan spesial dengan sang suami, baik suami wanita yang tak dikenalnya, maupun suami teman karib sendiri. Akibat ulah pelakor ini, tak sedikit para istri yang mengalami sakit hati dan trauma berkepanjangan. Pelakor di era masa kini dianggap semacam musuh bagi kaum wanita kebanyakan.

Kisah-kisah keluarga korban pelakor telah mewarnai kehidupan kita sejak dahulu kala. Bagi masyarakat yang didominasi perspektif patriarki, tak jarang keluarga korban pelakor justru disalahkan, terutama wanita yang suaminya direbut. Wanita korban pelakor justru dihujat tak becus mengurus suami sehingga suami lebih kepincut perempuan lain. Parahnya, para istri korban pelakor sering dihakimi sebagai  “wanita yang tak piawai mengurus  diri dan rumah tangga”. Sebab sang suami tak betah di rumah dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama pelakor.

Pandangan patriarki yang demikian dianggap sebagai hal yang wajar.  Sebab wanita hanya dianggap sebagai objek, warga nomor dua yang tak berdaya. Meski demikian, tak sedikit pula istri-istri korban pelakor yang sukses mengembalikan keutuhan rumah tangganya, yakni meyakinkan suami agar meninggalkan si pelakor. Agar harga diri serta kehormatan para istri korban pelakor tidak semakin turun di mata masyarakat dan keluarga, tentu diperlukan berbagai strategi untuk mengatasinya. Ketimbang harus ribut-ribut, mencak-mencak, jambak-jambakan, labrak-labrakan, atau dengan sadis memviralkan aib suami ke media sosial, Sahabat Puan yang sedang menjadi korban pelakor bisa menerapkan tips-tips berikut.

  1. Bersikap tenang. Jangan panik!

Tenanglah menghadapi pasangan yang tengah kepincut pelakor! Ambil napas dalam-dalam, tahan, kemudian lepaskan dan istighfar atau berdoalah sesuai keyakinan Anda! Yakinkan diri bahwa semua masalah bisa diselesaikan baik-baik dan ada jalan keluarnya! Jangan ambil langkah panik seperti melabrak,  menggerebek, menjambak, memukul, dan melakukan aksi kekerasan lainnya!

Jika Anda melakukan hal tersebut, justru akan membuat pelakor senang karena efeknya sang suami akan semakin menjauh dan akan semakin simpati pada si pelakor. Sebab di masa itu, perempuan yang terbaik di mata suami adalah si pelakor, bukan Anda. Wanita yang tenang menghadapi masalahnya akan tampak jauh lebih kuat dan terhormat sehingga tak heran pula bila mengundang simpati orang banyak.

  1. Tidak mengumbar masalah, seperti mengunggah foto pelakor di medsos

Jangan sekali-kali mengumbar masalah keluarga terkait perilaku pelakor ini di medsos, seperti menyebarkan foto-foto suami dan si pelakor! Apalagi kemudian Anda meneror pelakor lewat medsos hingga upaya ini tercium wartawan untuk meliput kegaduhan keluarga Anda.

Langkah ini justru membuat publik muak dan hilang simpati terhadap Anda. Terlebih suami dan keluarga suami. Anak-anak juga kasihan jika suatu saat melihatnya. Disamping itu, gosip akan semakin menyebar, keluarga Anda dan isinya makin transparan ditelanjangi orang lain.

Lebih baik selesaikan masalah secara tertutup dan kekeluargaan yang mengedepankan dialog santai. Biarkan orang lain tidak tahu dan hanya menduga-duga! Tindakan ini jauh lebih baik dan terhormat.

  1. Jangan meminta pasangan anda untuk “Pilih aku atau dia” !

Ketika suami sedang kepincut dengan pelakor, yang terbaik di mata suami hanyalah si pelakor. Jika dalam keadaan demikian, istri korban pelakor melontarkan pertanyaan: “Pilih aku atau dia?” Jawabannya sudah pasti si suami akan lebih memilih si pelakor. Daripada melontarkan pertanyaan terebut, akan lebih baik jika Anda memegang kendali untuk berperilaku yang baik. Bersikaplah tenang dan tidak meledak-ledak! Selesaikan masalah dengan baik-baik!

  1. Tidak memprovokasi anak-anak untuk membenci ayahnya atau pelakor.

Tindakan ini penting. Sebab jika anak-anak terus diprovokasi untuk membenci sang ayah dan pelakor, kejiwaan anak-anak akan terganggu. Dalam hatinya, akan tumbuh dendam tak berkesudahan. Kondisi seperti ini tidak menuntup kemungkinan suatu saat nanti akan berbalik menyerang ibunya.

Lebih baik anak-anak diberi tahu secara baik-baik apa yang terjadi dengan keluarganya. Biarkan mereka memilih apa yang terbaik untuk mereka lakukan! Tidak seharusnya jiwa polos mereka disemai dengan kebencian orang dewasa.

  1. Hiduplah sewajarnya, tak usah berpura-pura bahagia ketika suami jatuh ke pelukan Pelakor!

Para istri korban pelakor yang mencari pelampiasan lebih suka berpura-pura bahagia.  Ketika suami jatuh ke pelukan pelakor, biasanya suami lebih senang menghambur-hamburkan uangnya. Untuk membalas sakit hati tersebut, ada pula laku beberapa istri yang berfoya-foya demi menepis rasa sakit hati yang demikian dalam, yakni dengan cara karoke bersama teman, shopping di luar batas, piknik, dan lain-lain. Pikiran mereka beranggapan “Daripada uang digunakan untuk membiayai pelakor, lebih baik dihabiskan sendiri saja.”

Tindakan pura-pura bahagia justru akan menyisakan lubang yang semakin besar dan tak terselesaikan. Sebab Anda telah menipu diri sendiri. Perempuan kuat dan tabah akan terlihat luar biasa justru tanpa harus menipu diri sendiri atau memanipulasi keadaan. Bersikaplah tenang dan santun! Selesaikan masalah pribadi dengan tidak melibatkan pencarian simpati public.

foto: detik.com

Facebook Comments