Monday, December 10, 2018
Home > Literasi > Resensi > Disorientasi Berujung Maut

Disorientasi Berujung Maut

Pernahkah Anda merasa tersihir usai membaca sebuah novel? Bila belum, novel terjemahan yang ditulis oleh penulis Mesir ini bisa menjadi salah satu pilihan membuang waktumu. Kisah dimulai ketika Said Mahran yang baru lepas dari jeruji besi, merasa harus mencari Nabawyya dan Ilish. Sebab ia merindukan Sana – anak perempuan berusia enam belas tahun hasil pernikahannya dengan Nabawyya. Namun nasib buruk telah menghantamnya. Sana menyangkalnya. Ia tak mau mengikuti ayahnya yang mantan narapidana – pencuri berdarah dingin sekaligus residivis kelas kakap.

Kehancuran merobek-robek hati Said. Ditambah lagi, Nabawyya telah menikah dengan Ilish – bawahannya sekaligus bekas sahabat baiknya. Di tengah perjalanannya, ia bertemu Nur – kekasih lamanya – yang rela melakukan apa pun demi Said. Namun pada akhirnya, Nur pun melakukan pengkhianatan dengan menjalin kisah dengan lelaki lain. Sebab Said Mahran adalah lelaki yang kaku, sementara perempuan butuh lelaki yang hangat. Said selalu terlambat mengungkapan cinta. Barangkali itulah salah satu alasan mengapa Said beberapa kali dikhianati wanitanya.

Saat Said menemui sahabat lama lainnya yang kaya raya, Rauf Ilwan, sang pemilik media tersohor di Mesir, ia juga mendapat penolakan. Media mana yang mau menerima mantan napi? Namun, Rauf masih memeperlakukannya dengan baik, ia masih mengasihani sahabatnya itu dengan memberikan beberapa lembar uang. Said yang merasa terhina, keesokan harinya menyelinap ke istana megah Rauf. Ia hendak mencuri kembali – sebuah pekerjaan yang menurutnya bukanlah sebuah kejahatan, yang ia yakini sebagai sebuah kebaikan. Usaha itu gagal karena Rauf mengetahuinya. Said melarikan diri. Persahabatan mereka putus saat itu juga.

Jika ditilik dari judulnya, Pencuri dan Anjing-Anjing merupakan judul yang sangat apik. Pencuri melambangkan diri Said Mahran – yang pertama kali ia memang merasa harus mencuri karena terdesak oleh biaya rumah sakit ibunya. Dulu ketika mahasiswa, Rauf pernah berada di posisinya, membantunya, bahwa mencuri adalah suatu perbuatan yang adil baginya. Lambat laun, perbuatan itu menjadi candu meski ini tidak dibenarkan. Semenatra “anjing-anjing” merupakan metafor bagi orang-orang yang dibencinya, yakni Nabawyya, Ilish, dan Rauf.

Sebuah novel yang mampu menyihir pembaca, biasanya merupakan sebuah novel psikologis – yang mampu menyentuh relung terdalam. Trevor Le Grassick pernah mengatakan bahwa novel Pencuri dan Anjing-Anjing lebih bersifat impresionis ketimbang realis. Novel ini bergerak dengan kecepatan dan ekonomi sebuah cerita detektif. Di sini, untuk pertama kalinya Mahfouz memanfaatkan teknik “aliran kesadaran” untuk menunjukkan penderitaan mental tokoh utamanya yang digerogoti kepahitan dan hasrat untuk menuntuk balas kepada orang-orang yang telah membusukkan dan mengkhianati dirinya serta menimpakan kutukan yang tak terhindarkan.

Di tengah kebingungannya menghadapi kenyataan yang pahit, Said Mahran seperti kehilangan orientasi. Hidupnya hanya ia habiskan untuk menyusun siasat demi siasat untuk menghabisi anjing-anjing kudisan yang membuatnya menderita. Beberapa kali, ia mencoba membunuh anjing-anjing itu, namun dua kali peluru revolvernya salah sasaran ke orang-orang tak berdosa. Semua media membicarakannya. Said menjadi penjahat yang diburon polisi. Ia harus menyamar dan mengendap-endap agar identitasnya tak diketahui.

Meski Said seorang pencuri, pembunuh, sekaligus residivis, selalu ada sisi baik yang bisa ditiru. Said adalah seorang yang gemar membaca. Saat kepulangannya dari penjara, yang ia tanyakan pada Sana adalah buku-bukunya. Meski dijawab ketus, tentulah sejahat apa pun ayah kandung, haruslah tetap dihargai walaupun memang sekarang Sana lebih memilih tinggal di bawah pengasuhan ibunya dan Ilish.

Bila ditilik dari latar belakang keluarga Said, ternyata ayahnya adalah seorang yang religius. Almarhum ayahnya dahulu sering datang dan mengikuti pengajian bersama di rumah Syekh Ali al-Junaidy dengan mengajak Said kecil. Betapa tidak, ketika Said dilanda kebingungan yang menyayat, selain flat Nur, rumah Syekh Ali merupakan tujuan singgah untuk menenangkan diri. Bedanya, ketika Syekh Ali berdzikir, melakukan shalat, mengadakan pengajian seusai senja bersama masyarakat, Said hanya tertidur dan mendengkur tanpa peduli bahwa di rumah Syekh Ali sedang ada kegiatan religius.

Syekh Ali sering kali memberikan petuah yang sangat bijak. Ia menjamu Said dengan makanan-makanan enak meski ia tahu Said telah melakukan kesalahan pasca membunuh orang-orang tak bersalah. Seseorang sesungguhnya membutuhkan pegangan hidup yang mampu menenangkan diri tatkala dirundung keputusasaan. Namun yang ilahiah itu, belum ditemukan Said secara mendalam sehingga esensi religius masa lalu yang diturunkan kepadanya belum dapat berjalan sebagaimana yang diinginkan. Kontradiksi inilah yang kemudian memunculkan ironi bahwa nasib telah membawanya ke jalan lain yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Novel ini ditulis dengan sangat mengagumkan. Pembaca tidak mudah menebak alur dan dibuat berpikir dan bertanya-tanya. Siapakah lelaki yang ada di flat Nur yang ditemui Said itu? Jika pembacaannya tidak serius, pembaca dibuat bingung untuk menerka lelaki itu sebab Naguib Mahfouz tidak serta-merta menceritakan dengan bahasanya yang lugas.

Pengkhianatan memang terkadang memunculkan dendam tak berkesudahan. Ketika kesakitan bermunculan dan menyerang sesuatu yang di luar kendali, Said berniat menelusuri sebuah flat yang letaknya sangat dekat dengan kuburan. Ia melangkahi batu-batu nisan. Desing peluru bertaburan di udara dan suara-suara mengepungnya. Said terperosok ke dalam liang tanpa dasar.

Judul : Pencuri dan Anjing-Anjing
Penulis : Naguib Mahfouz
Penerjemah : An. Ismanto
Penerbit : Basa-Basi
Cetakan ke : pertama, September 2017
Jumlah halaman : 180 halaman
Facebook Comments