Monday, December 11, 2017
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Festival Kampung Senaung: Revitalisasi Budaya Kampung di Jambi

Festival Kampung Senaung: Revitalisasi Budaya Kampung di Jambi

Festival Kampung Senaung

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Rural Community Development (LPPM RCD) Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Nurdin Hamzah (STISIP NH) Jambi tahun 2017 ini mengadakan kembali festival kampung. Tahun ini pelaksanaannya berbeda dengan tahun lalu, tepatnya di Desa Senaung, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi.

Festival dengan tajuk “Bergerak Membangun Desa” ini diselenggarakan selama lima hari berturut, mulai tanggal 22 hingga 26 November 2017. Acaranya cukup padat yang pada intinya fokus pada adat dan hasil peninggalan benda yang sangat vital bagi keberlangsungan hidup masyarakat kampung di masa lalu.

“Ini yang pertama kali dilakukan di Desa Senaung dan melalui tahapan yang cukup panjang hingga sampai pada pelaksanaannya tanggal 22-26 November 2017,” kata Ketua LPPM RCD STISIP Nurdin Hamzah Jambi, Wenny Ira Reverawati, M.Hum.

Acara di hari pertama dimulai dengan Diskusi Kelembagaan Adat Desa yang disampaikan oleh Jafar Rassuh dan Nukman sebagai pemateri. Selanjutnya acara Pembukaan Tour Benda Bersejarah dan Arsitektur Bersejarah Kampung Senaung dilangsungkan. Acara tersebut dilaksanakan hingga akhir rentetan festival ini.

Festival ini merupakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Ilmu Pemerintahan STISIP Nurdin Hamzah Jambi, sehingga melibatkan berbagai pihak, seperti aparat desa, masyarakat, lembaga adat dan stakeholder. Persiapannya pun sudah dimulai sejak Desember 2016 yang menandakan bahwa fastival ini dirancang dengan matang.

Tanggal 25 November 2017 diadakan kegiatan yang merupakan warisan budaya dari para leluhur yakni pelarian di umo, yang dilanjutkan dengan cerita sejarah Desa Senaung dan legendanya, serta berbagai permainan tradisional seperti keronceng, ladang kere, hentak-hentak bumi dan peteng, sekaligus penutupan Festival Kampung.

Festival Kampung Senaung
Festival Kampung Senaung

Saat tour desa, diperlihatkan adanya benda-benda bersejarah yang hingga kini masih tersimpan rapi. Seperti, uang koin kuno, batik lawas yang diproduksi sekitar tahun 1901, serta kotak besi kuno yang pada zaman itu digunakan sebagai tempat penyimpanan. Menariknya, kunci dari kotak besi tersebut masih menggunakan cara tradisional.

Selain benda-benda bersejarah, di Desa Senaung juga terdapat bangunan bersejarah seperti Masjid Darusalam 1 yang dibangun tahun 1834. “Klarifikasi tentang masjid ini didapat dari orang tetua di desa ini yakni saksi Haji Ahmad. Saat beliau berusia 13 tahun mesjid tersebut sudah di bangun bertiang. Pada tahun 2000 ketika mengkonfirmasi umur bangunan masjid, usia beliau sudah 100 tahun,” jelas Sulaini.

Bangunan tua lainnya yang terdapat di Desa Senaung adalah Madrasah Diniyah yang dibangun pada tahun 1934 dan siap digunakan tahun 1937. Bangunan madrasah berhubungan dengan bangunan SDN 3 Senaung. Kala itu, warga setempat dan beberapa desa sekitarnya menggunakan madrasah sebagai tempat belajar dan satu-satunya yang ada di desa ini. Pada tahun 1940, oleh pemerintah madrasah ditetapkan fungsinya sebagai SDN 3 Senaung.

“Masih ada foto saat madrasah dibangun dengan kondisi jendela tempo dulu,” ujar Sulaini.

Tidak hanya arsitektur yang ditampilkan dalam tour Kampung Senaung tersebut, berbagai benda antik dan bersejarah berumur ratusan tahun pun ditampilkan. Misalnya, naskah permohonan dalam bahasa belanda tahun 1931 ada pula terompet, seperangkat alat menyirih, vas bunga, kain sarung yang berumur ratusan tahun serta meja pualam yang dibuat di tahun 1940-an.

Pemilik benda bersejarah turun temurun ialah Sidik, warga asli Desa Senaung. Ia menjelaskan bahwa benda peninggalan tersebut merupakan warisan dari kakeknya saat menjabat sebagai kepala desa tahun 1920-an. Benda tersebut sampai saat ini masih dijaga dan dipelihara dengan baik di kediamannya.

Benda-benda bersejarah
Benda-benda bersejarah

Meski festival kampung Senaung yang bertajuk “bergerak membangun desa ini sudah selesai, Sidik tidak keberatan untuk menerima masyarakat yang masih ingin melihat benda-benda bersejarah tersebut dan langsung datang ke rumahnya.

Pada 25 November 2017, acara tradisi Pelarian Umo atau biasa disebut tradisi gotong royong oleh warga setempat yaitu membersihkan sawah digelar. Tradisi turun temurun tersebut telah punah ditelan zaman. Tradisi Pelarian Umo kembali diadakan guna mengingatkan kembali warga Desa Senaung karena mereka sudah banyak yang tidak bekerja sebagai petani padi di sawah.

Beberapa warga Desa Senaung dalam prosesi tersebut membawa perlengkapan seperti parang dan kaitan yang terbuat dari kayu. Warga yang melakukan Pelarian Umo juga menggunakan pakaian khusus untuk turun ke sawah, seperti tengkuluk atau baju panjang, celana panjang, serta bagian kaki mengenakan kaos kaki yang dililit hingga menggapai lutut dengan menggunakan karet ban.

Sesepuh Desa Senaung, M.Rifa’i, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan warisan budaya dari para leluhur yang biasa dilakukan oleh muda mudi desa Senaung secara berpasangan. Mereka membersihkan umo atau rerumputan.

“Untuk menghilangkan rasa capek atau bosan saat prosesi membersihkan umo atau sawah, nantinya mereka akan berpantun dan saling membalas pantun,” ujarnya.

Pantun tersebut juga digunakan muda-mudi untuk berkenalan dengan lawan jenis mereka guna mengungkapkan perasaannya sambil membersihkan umo.

Festival Kampung Senaung ini pun berakhir pada 26 November 2017 pukul 17.00 dengan sukses dan berjalan sesuai harapan.

Facebook Comments