Wednesday, December 12, 2018
Home > Literasi > Cerita > Gadis Ngarot

Gadis Ngarot

gantung diri

/1/

RUMAH bilik berdinding anyaman bambu dan beratap daun rumbia itu sejak matahari pagi tersembul di antara dua pohon jati tampak lengang. Tak tampak ada kegiatan bila dilihat dari luar rumah. Namun sebenarnya, kesibukan yang tidak biasa menguras perhatian semua anggota keluarga di dalamnya.

“Lekas Tri, semua gadis dan jejaka ngarot sudah berkumpul di rumah Bapak Kepala Desa Lelea! Sebentar lagi arak-arakan ngarot dimulai, bisa ketinggalan kita,” seru Mimi Roedah tak sabar. Namun Danastri tak jua beranjak, ia masih duduk di tepi ranjang besi menghadap sebuah kaca besar yang dibingkai dengan ukiran kayu jati berwarna coklat gelap. Berkali-kali ibunya bolak-balik dan mondar mandir keluar masuk kamar untuk melihat kesiapan Danastri. Seakan Mimi Roedah ingin membayar lunas hutang tahun lalu, Danastri tak ikut ngarot karena alasan sakit. Sebenarnya saat itu Danastri tidak sakit, ia sengaja menyelimuti badannya dengan sehelai selendang batik paoman dan berpura-pura layaknya orang demam.

Mimi Roedah saja yang ikut,” gumam Danastri pelan.

“Malas, Mi. Dilihat banyak mata lelaki,” jelas Danastri mencoba membuat alasan.

“Hus, ngarot itu untuk gadis atau jejaka saja,”  nada bicara Mimi Roedah mulai keras.

“Ya, habis mimi kelihatan paling semangat!” ucap Danastri.

Mimi Roedah tersenyum mendengarnya lalu ia berkata, “Tri, Tri, Mimi menikah dengan mama karena bertemu di ngarot itu.” Kini mata Mimi Roedah seperti lapisan-lapisan pelangi di langit biru mengenangkan pertemuannya dengan seorang jejaka bernama Saridin.  “Dalam acara tatap wajah gadis ngarot dengan jejaka ngarot, kerling mata mama-mu itu yang bikin lumer hati mimi. Nyes rasanya.” Kenang Mimi Roedah begitu syahdunya sambil terpejam-pejam kedua bola matanya.

Suaminya, Saridin yang tengah duduk menunggu di kursi ruang tamu yang terbuat dari bambu mendengar penuturan istrinya kepada anaknya Danastri ikut tersenyum-senyum sambil sesekali berdehem-dehem tanda sepakat.

“Tuh kan, mama-mu batuk-batuk. Kelihatan sekali kalau ia merasa seperti yang mimi rasakan,” senyum Mimi Roedah makin merekah.

Danastri jadi ikut tersenyum menyaksikan keromantisan bapak ibunya. Lalu dua biji matanya melirik ke wajah Mimi Roedah yang sedang dilanda kenangan indahnya.

“Jadi, Mimi ingin Danastri juga mendapat jodoh di ngarot nanti?” desah Danastri lirih. Disentuhnya rangkaian bunga di kepalanya seakan mahkota bunga itu menjadi beban dalam hatinya.

Mimi Roedah memandang anaknya dengan penuh sejuta pengharapan. “Siapa tahu Tri, umurmu kan sudah delapan belas tahun, sudah pantas untuk menikah. “Sudah, ayo cepat berdiri! Mama-mu sudah lama menunggu. Kasihan,” seru Mimi Roedah.

Sambil bersungut-sungut, Danastri bangkit. “Danastri belum kepikiran menikah, Mi,” jawab Danastri, “inginnya sih kerja dulu bantu-bantu mama.”

Mimi Roedah menghela napas. Keras kepala sekali Danastri, putri bungsunya yang masih gadis itu. Dua anak perempuannya yang lain tak sesulit Danastri. Dulu, ketika Apsari dan Gantari, kakak Danastri masih gadis, Mimi Roedah tak banyak mendapatkan alasan keberatan dari keduanya. Bahkan mereka sangat bersemangat sekali mengikuti kirab ngarot yang di awali dengan arak-arakan keliling desa. Dilanjutkan dengan upacara ngarot, yakni kepala desa dan sesepuh adat menitipkan kepada para gadis dan jejaka ngarot bibit padi unggulan, air, pupuk, dan peralatan pertanian lainnya sebagai simbol upaya melestarikan tradisi yang sudah dilahirkan secara turun temurun. Upacara tradisional masyarakat Lelea menjelang musim tanam inilah yang dimaksudkan ngarot.

“Dengar Tri, ngarot itu bukan sekadar pesta menyongsong datangnya musim tanam padi,” tutur Mak Roedah sambil membenarkan letak selendang Danastri, “ngarot juga bertujuan untuk menjaga pergaulan anak muda sepertimu. Jangan sampai bergaul melebihi batas!”

Kali ini kedua tangan keriput Mimi Roedah turut membenahi sanggul rambut anaknya yang sudah dihiasi rangkaian mahkota bunga kenanga, melati dan bunga kertas. Semerbak wanginya tercium begitu segar dan harum.

“Kau tahu Danastri, bunga-bunga di atas kepalamu ini bukan sekadar penghias rambut belaka, bukan hanya pewangi alami yang tanpa makna, bahkan dapat menjadi penanda kehormatan bagi seorang gadis. Rangkaian bunga ini akan layu bila ada gadis ngarot tidak lagi perawan. Makanya tidak ada gadis yang menolak ikut ngarot kecuali gadis itu sudah tidak perawan!”

Danastri kembali memandangi wajah Mimi Roedah. Entah mengapa hatinya berdesir mendengar kalimat terakhir ibunya itu.

 

/2//

Arak-arakan gadis dan jejaka ngarot yang dipimpin Kepala Desa Lelela dan sesepuh adat mengitari jalan-jalan desa, berkeliling-keliling, lalu berakhir untuk mengikuti upacara ngarot di kantor kepala desa. Kesenian tradisional Indramayu macam sintren, berokan maupun tari topeng ikut meramaikan iring-iringan. Danastri berjalan di antara gadis-gadis ngarot yang berpakaian kebaya, berkain batik, dan berhias mahkota bunga di kepalanya. Sementara jejaka–jejaka ngarot berjalan di belakangnnya, berpakaian serba hitam menyerupai petani dengan membawa alat-alat pertanian.

“Kalau anak perawan itu tidak gadis lagi, maka rangkaian bunganya akan layu,” begitu kata Kepala Desa Lelea. Deretan kata itu adalah mitos leluhur yang sampai hari ini masih dipertahankan. Tak sekadar mitos, kalimat itu akan terus dilestarikan lantaran memiliki banyak nilai dan makna untuk kehidupan masyarakat Desa Lelea dalam menjaga pergaulan remaja dan pemudanya.

Gadis dan jejaka ngarot duduk bersimpuh dan bersila di aula kantor kepala desa mendengarkan pembacaan sejarah ngarot dan wejangan kepala desanya. Mereka mengikuti pula proses penyerahan bibit padi, kendi berisi air, obat penyubur serta cangkul sebagai simbol untuk segera memulai menanam padi.

Selesai itu, gadis dan jejaka ngarot menyaksikan kesenian tradisional tari ronggeng ketuk yang dimaksudkan untuk menggoda agar para jejaka dan gadis berpandang-pandangan untuk selanjutnya saling jatuh cinta dan menemukan pasangan atau jodohnya.

​Saat itulah, dulu Mimi Roedah dan Mama Saridin, orang tua Danastri serta pasangan suami isti masyarakat Desa Lelea menemukan belahan jiwanya dan mendapatkan pujaan hatinya.  Musim tanam padi sekaligus musim mencari jodoh dan pasangan.

Kemudian semua mata tertuju pada Danastri. Gadis dan jejaka ngarot serta orang-orang yang hadir memenuhi kantor kepala desa saling berbisik kasak-kusuk. Semula hanya berupa suara gumaman, namun lambat laun menjadi gaduh dan riuh rendah.

Danastri belum memahami apa yang tengah terjadi, namun perasaannya mulai peka karena ia merasa sedang diperhatikan banyak orang.

“Tri, Danastri!” seru Ambarwati di sampingnya. “Bunga-bunga di kepalamu tampak layu.”

Danastri terkejut mendengarnya. Tangannya secara tak disadarinya mengambil beberapa mahkota bunga yang terselip di atas kepalanya. Benar, bunga-bunga yang diambilnya tampak tak segar lagi. Layu seperti berumur lima hari dari hari pertama dipetik.

Danastri bangkit dan berlari meninggalkan kantor kepala desa. Sementara ayah ibunya terpontal-pontal mengejar sambil berteriak-teriak memanggilnya.

“Tri…. Danastri…. tunggu….!”

Upacara ngarot pecah karena Danastri. Orang-orang mulai menghubungkan ketidakhadiran Danastri pada ngarot tahun lalu.

“Pantas saja tahun yang lalu putri bungsu Pak Saridin itu tidak mau ikut ngarot, ternyata kejadiannya seperti ini.” Ucap peserta ngarot mencoba menyimpulkan pandangannya.

“Iya ya, tidak disangka-sangka.” Peserta lain berpandangan serupa.

Kepala Desa Lelea dan sesepuh adat berunding dan bermusyawarah di ruang kerja kepala desa untuk membahas persoalan layunya rangkaian bunga milik Danastri, seorang peserta gadis ngarot.

“Danastri sudah tidak perawan, buktinya semua rangkaian bunga di kepalanya layu semua!” Argumen seorang sesepuh adat yang diikuti pendapat sesepuh yang lain.

“Benar pak! Sudah tidak perawan! Begitu kan tuah bunga-bunga itu jika gadis ngarot tidak perawan?”

“Ya benar, seperti itu mitosnya,” ujar kepala desa.

Pada hari itu juga Kepala Desa Lelea memanggil Danastri dan orang tuanya untuk dimintai keterangannya. Sepanjang perjalanannya dari rumah ke kantor kepala desa, Danastri menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Cacian dan cemoohan dilemparkan orang-orang kepadanya. Bahkan, Mimi Roedah dan Mama Saridin ikut terkena imbasnya karena dianggap tidak bisa menjaga anak gadisnya.

Di hadapan Kepala Desa Lelea terurai kekusutan itu. Danastri menangis tersedu-sedan bersujud mencium telapak kaki Mimi Roedah dan Mama Saridin. Kedua orang tua itu tak percaya anaknya berbuat hina dengan teman sekolahnya.

 

/3///

Esok paginya, warga Desa Lelea digemparkan oleh jeritan Mimi Roedah dan Mama Saridin. Sebuah berita tentang seorang perempuan yang ditemukan tergantung di atas pohon jati. Lehernya terjerat tambang, lidahnya terjulur seperti menahan sakit yang tak terkatakan. Berita itu langsung menyebar cepat seperti berita gadis ngarot kemarin. Danastri mengakhiri hidupnya karena malu dengan sangat tragis. []

Indramayu, 2017

Keterangan

Ngarot: Upacara adat datangnya musim tanam padi yang terdapat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.
Mama: Panggilan ayah dalam masyarakat Indramayu.
Mimi: Panggilan ibu dalam masyarakat Indramayu.

Biodata Penulis
Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis (Mazaya Publishing House, 2017), kumpulan puisi Bunga Kata (Karyapedia Publisher, 2017), dan kumpulan cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek (Karyapedia Publisher, 2017). Sementara karya nonfiksinya Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017). Puisi, cerpen, dan cernaknya tersiar di koran daerah dan nasional. Surel: ffarisalffaisal@gmail.com, facebook: www.facebook.com/faris.alfaisal.3, twitter: @lfaisal_faris,  IG: @ffarisalffaisal, Line: ffarisalffaisal  dan SMS/WA: 085224107934.

Facebook Comments