Monday, December 10, 2018
Home > Literasi > Cerita > Godaan Kartu Seluler Murah

Godaan Kartu Seluler Murah

Cerpen Minggu Godaan

Kepada teman sekamarnya, dengan penuh kekesalan, Safira berkesah, kartu seluler yang baru ia beli kemarin sinyalnya tak bagus. Ia bilang, sebentar sinyalnya timbul, sebentar kemudian tenggelam. Sebentar naik, sebentar turun. Padahal, pada kemasan kartu yang baru ia beli itu, jelas-jelas tertulis Jaringan yahud, internet supercepat! Malahan pagi ini, ia sama sekali tak bisa berbuat apa pun, terutama mengakses internet yang menjadi kegemarannya tiap bangun tidur.

Sembari mengotak-atik ponsel agar sinyalnya kembali timbul, Safira terus meluapkan rasa kesalnya. Padahal, kartu yang ia beli itu memiliki paket data sebanyak 8 gigabyte untuk akses internet, 360 menit untuk nelepon, dan 500 bonus SMS. “Jika terus seperti itu atau sering-sering seperti itu, apa gunanya kartu itu dipertahankan,”  ucapnya.

Lebih lanjut, Safira berkeluh kepada teman sekamarnya. Padahal kemarin,  ia masih bisa mengakses internet dengan sangat cepat, lalu bertelepon dengan sangat lancar tanpa sinyal yang ngadat-ngadat.

Safira menjelaskan, ia sudah me-restart dan memeriksa kondisi ponselnya dan sudah mengecek kondisi fisik kartunya. Semua, kata dia, baik-baik saja. Tak ada yang bermasalah. Ia mengaku sudah berkonsultasi dengan operator pusat layanan pelanggan kartu selulernya, dan dinyatakan bahwa baik kartu maupun ponselnya, baik-baik saja.

Safira memang suka ber-online ria dengan ponselnya. Ia juga suka teleponan di kala malam dengan beberapa pria. Sesekali, ia juga harus membalas SMS dari beberapa sejawat yang tak punya medsos seperti dirinya. Baginya, berkirim pesan via SMS terasa jadul dan menyebalkan.

Meski gaya hidup Safira sudah sangat sosialita, dengan alergi tinggi terhadap ketertinggalan sesuatu hal baru, ia sangat irit dalam urusan mengeluarkan duit. Ia sangat teliti menimbang-nimbang pengeluaran untuk suatu tujuan. Termasuk urusan kartu seluler untuk ponselnya.

Maka jadinya, kartu yang ia beli itu, yang kini ia kesalkan di hadapan teman sekamarnya itu, adalah kartu yang kelima dalam tahun ini, atau yang ke-36 sejak ia punya ponsel tiga tahun lalu. Tiap awal bulan, bisa dipastikan, ia akan menyebarkan pengumuman, yang memberitahukan nomor barunya: ’08xx1239764.

Ini nomor baruku. Save, ya!

Broadcast itu dimulainya lewat medium yang ia anggap paling murah macam Facebook, Twitter, Instagram, dan medsos lainnya. Hingga yang dianggap mahal dan jadul semacam SMS yang terkadang akan membuatnya berpikir ulang.

Orang-orang yang mendapat broadcast darinya punya reaksi macam-macam. Yang sudah mengenalnya lama akan geleng-geleng kepala. Yang mengenalnya beberapa bulan akan menganggapnya orang tak punya pendirian. Sebagian yang lain akan memilih menghiraukan saja permintaannya untuk menyimpan nomor barunya.

Suatu kali, seorang pria yang jatuh hati padanya, dibuatnya merana lantaran kehilangan jejak nomor ponselnya. Meski pada akhirnya pria itu berhasil menemukannya. Pria itu terus menerus dibuatnya galau berkepanjangan karena harus mencari-carinya tiap bulan. Hal itu terjadi lantaran ia tak pernah memberitahukan alamatnya. Mereka hanya bertemu dan berpisah di luar rumah. Tiap kali berkencan, Safira memilih untuk tidak dijemput maupun diantar.

Nasib pria itu pun terus tak jelas. Ia terus disandingkan dengan pria-pria lain yang terus berganti saban bulan.

***

Safira lupa, sepuluh hari yang lalu, Zamrud, pria yang selalu galau tiap bulan itu, menyampaikan bahwa ia tak bisa lagi menjalani hubungan dengannya. Ia akan melanjutkan pendidikan ke luar kota. Menurutnya, setelah ia sadari, sangat tidak layak mempertahankan hubungan dengan perempuan seperti Safira.

Tentu bukan cuma karena alasan sering gonta-ganti kartu itu ia mengambil keputusan demikian. Ia sudah tahu seperti apa Safira. Dan tentu bukan maksud pria itu untuk tak setia. Ia sangat ingin setia. Ia sudah mencobanya selama setahun, dengan segala daya upaya dan keseriusan, mulai dari memberi bunga mawar hingga mencoba melamar, meski dengan galau yang terepetisi setiap bulan.

Zamrud mengatakan bahwa kesetian itu memang mahal, sementara ketidaksetiaan adalah sebaliknya. Seperti pada kartu seluler, yang terasa mahal untuk disetiai, dan murah jika digonta-ganti. Murah di awal, tetapi untuk disetiai. Ia tetap butuh kemahalan.

“Aku bisa saja membayar perempuan lain dengan harga murah dan berganti-ganti kapan saja aku mau,”  kata Zamrud kesal pada Safira.

Safira terkejut. Ia, yang selama ini merasa di atas angin, mendadak seperti daun yang gugur perlahan. Maka, sejak saat itu Safira terus menelepon Zamrud tiap malam. Meminta maaf dan berjanji untuk setia. Ia juga berjanji untuk tak lagi bertukar-tukar kartu seluler. Dan upayanya pun berhasil setelah bertubi-tubi selama sembilan hari. Ia bujuk Zamrud untuk kembali, dengan konsekuensi putus selama-lamanya jika ia kembali mengulangi.

Namun pagi ini, ketetapan hati Safira kembali goyah. Ia, yang baru saja berhasil membujuk Zamrud, merasa ingin kembali bertukar kartu. Selain karena kartunya saat ini sudah tak punya apa-apa – tak ada pulsa maupun paket data – ia sangat tergiur dengan promo kartu baru yang menawarkan lebih banyak bonus dengan harga yang jauh lebih murah.

Jika dibanding mengisi pulsa dengan jumlah rupiah yang sama, kartu baru itu sangat jauh menggiurkan. Apalagi ia juga ingin memutus hubungan lebih cepat dengan pria tandingan Zamrud yang baru ia kenal beberapa hari lalu. Ia merasa pria tersebut tak lagi menarik, setelah diketahui bahwa kredit mobilnya macet. Sebab, dalam pikirannya, jika tak segera ditukar, pria itu hanya akan menjadi pengganggu belaka.

***

Teman sekamarnya terbahak-bahak mendengar cerita itu. Ia lantas menanyakan, apakah Safira siap berkenalan dengan Rubi, seorang pria baru yang ia tawarkan. Ia juga mempertanyakan, apakah Zamrud sudah berhasil ia kembalikan.

“Aman,” kata Safira, dengan mata nakal.

Ia mengaku siap berkenalan dengan Rubi. Namun sebelum sebelum perkenalan dimulai, ia mengatakan bahwa ia harus mengganti kartunya terlebih dahulu. Agar setidaknya, ia terbebas dari gangguan pria yang hendak ia campakkan, yang baru dikenalnya beberapa waktu lalu itu.

Safira pun kembali bertukar kartu dan berkencan dengan Rubi, pria baru itu. Namun, ia lupa dan belum mengabari Zamrud nomornya yang baru. Ketika malam tiba, saat ia merasa harus memberi kabar, ia lantas mendapatkan jawaban, bahwa yang berada di seberang telepon sana, tak kenal dengan yang namanya Safira.


Biodata Penulis

Abul Muamar, sehari-hari bekerja sebagai koresponden sepak bola sambil belajar mengarang cerita. Dapat dihubungi di FB: Abul Muamar. Instagram: @abulmuamar

Facebook Comments