Sunday, May 27, 2018
Home > Literasi > Opini > IDEALITAS SUPERIORISME PEREMPUAN FIKSI DAN FAKTAWI: Pramoedya A.T. tentang Nyai Ontosoroh dan Kartini

IDEALITAS SUPERIORISME PEREMPUAN FIKSI DAN FAKTAWI: Pramoedya A.T. tentang Nyai Ontosoroh dan Kartini

kebaya indonesia

Narasi superiorisme Sanikem, alias Nyai Ontosoroh, tokoh rekaan dalam Bumi Manusia karya Pramoedya memenangkan berbagai penghargaan prestisius. Menulis Nyai Ontosoroh, bagi Pramoedya, agaknya bukan sekadar menuliskan sejarah kolonial Belanda, melainkan juga menuliskan sejarah perkembangan feminisme di Indonesia dan dunia. Nyai Ontosoroh kira-kira hidup di masa selesainya Perang Aceh, yang langsung disusul persiapan perlawanan Diponegoro di Jawa. Di masa itu, luar biasa jika seorang perempuan yang bukan siapa-siapa menjadi apa-apa sebesar Nyai Ontosoroh – seorang business woman sukses – direktris sebuah perusahaan pertanian (Belanda: Boerderij Buitenzorg) besar. Lepas bahwa sebagai “wanita idaman lain”, ia mendapat didikan tuan penguasanya – Herman Mellema yang Belanda asli – yang menggunakan karakter keseharian modern mengenai tata cara makan, kebersihan, kedisiplinan memanfaatkan waktu, pergaulan antarsesama manusia, sampai peradaban sastra tinggi: membaca dan menulis.

Nyai Ontosoroh semula adalah Sanikem yang “tegas”. Inilah yang membedakannya dengan Sanikem yang lain –  yang hidup di zamannya. “Tegas”, bahwa dengan satu waktu saja, ia berhasil secara frontal melepaskan diri dari keakuannya sebagai anak Sastrotomo (Jawa: juru tulis yang utama), yang dihormati karena satu-satunya yang dapat baca-tulis di kantor, yang menjualnya demi sekeping uang dan sepenggal pangkat. Segera Sanikem mematrikan tekad, tak hendak mengingat keluarga dan rumahnya sekalipun. Ia lalu bermetamorfosis menjadi Nyai Ontosoroh yang rasionalis dan berkarakter sekuat baja. Sebuah proses revolutif: tegas dan singkat.

Sementara membaca Kartini, bagi Pramoedya, agaknya menghujamkan kedalaman empati terhadap kaum perempuan umumnya, kemudian melahirkan buku Panggil Aku Kartini Saja/PAKS. Bagi saya pribadi, membaca Kartini dari berbagai sumber orisional sekalipun, masih tetap tidak lengkap tanpa membaca PAKS. Sebab selain PAKS ditulis oleh sang sastrawan segudang prestasi, PAKS juga ditulis melewati lintas kelamin, rentang sejarah yang panjang, dan di atas karakter humanisme mutakhir yang dianut Pramoedya. Maka PAKS adalah sebuah analisis obyektif terhadap sejarah ketokohan Kartini, jauh dari kepentingan sepihak.

Kartini adalah seorang bangsawan, juga hidup di masa kolonial. Masa kecilnya, ia hanyalah seorang raden ajeng yang dibingungkan dengan berbagai tanda tanya cerdas mengenai kapasitasnya kelak, tetapi tak pernah terjawab. Setelah bertemu dengan sahabat-sahabat Eropanya seperti Ny. Abendanon, Estella Zehandellar, dan seterusnya, ia kemudian bermetamorfosis menjadi Kartini yang kritis, pemberontak, senang berkonsepsi. Namun, ia tetap berpijak pada peradaban feodalisme yang kental dengan kastaisme dan marjinalisme perempuan. Ia hidup dalam kebimbangan antara fakta bahwa ia seorang bangsawan yang harus mengikuti tata cara istana. Di satu pihak, ia mengidealitaskan diri menjadi humanis, di antara manusia bumi, dan berbakti untuk sesama. Sampai akhir hayatnya, ia menjadi tokoh perempuan yang mengalami ketragisan hidup, tak pernah selesai bermetamorfosis secara evolusioner, tergerus dalam tarik ulur yang mencekam antara naluri rasional dan emosional.

Dan adakah hubungan antara Sanikem dengan Kartini sebagai subyek yang ditulis Pramoedya tersebut? Kira-kira, apa yang melatarbelakangi, sehingga seorang Pramoedya menciptakan tokoh rekaan “fiksi” Nyai Ontosoroh yang revolutif, dan di sisi lain ia menelaah Kartini sebagai subyek tokoh faktawi yang evolutif? Di sinilah bagi saya daya tarik idealitas superiorisme perempuan fiksi dan faktawi bagi seorang Pramoedya A.T. dengan mengikonkan Nyai Ontosoroh dan Kartini yang dihidupkannya sebagai bagian dari seluruh karyanya yang senantiasa genial, tendensius, dan prestisius.

Lewat Nyai Ontosoroh dan Kartini tersebut, Pramoedya mengidealkan superioritas perempuan, sekalipun untuk itu ia harus membangun dua medium, antara fiksi dan faktawi. Sebagaimana Nyai Ontosoroh, jika perempuan tersebut lahir dalam kelas masyarakat jelata, sebagaimana Kartini jika perempuan tersebut lahir dalam kelas masyarakat feodal, dan tidak sebagaimana Simone de Beauvoir (1929); mahasiswi Universitas Sorbonne yang memproklamasikan penentangannya terhadap perkawinan, yang baginya hanyalah sebuah lembaga borjuis. Atau Virginia Woolf yang membunuh nyawanya sendiri atas nama perjuangan feminisme.

Di sini, Pramoedya menuliskan keberpihakannya terhadap Nyai Ontosoroh dan Kartini yang piawai menempatkan diri: tanpa harus menabrak nilai sosial atau menghanguskan diri sebagai yang putus asa di tengah jeram pemerkosaan nasib. Dalam sebuah paragraf Bumi Manusia, seorang Minke; tokoh pembawa pencerahan kedua setelah Nyai Ontosoroh, menyuarakan kata hatinya:

“Dan semua teman sekolah tahu, ada juga seorang wanita pribumi yang hebat, seorang dara, setahun lebih tua daripadaku. Ia putri Bupati J. Wanita pribumi pertama yang menulis …. Setengah dari teman-temanku menyangkal kebenaran berita itu. Mana bisa ada pribumi, dara pula, hanya lulusan E.L.S., bisa menulis menyatakan pikiran secara Eropa, apalagi dimuat di majalah keilmuan? Tapi aku percaya dan harus percaya, sebagai tambahan keyakinan, aku pun bisa lakukan apa yang ia bisa lakukan…. Dan di dekatku kini, ada wanita lebih tua. Dia tidak menulis, tapi ahli mencekam orang dalam genggamannya. Dia mengurus perusahaan besar secara Eropa! Dia menghadapi sulungnya sendiri, menguasai tuannya; Herman Mellema, bangunkan bungsunya untuk jadi calon administratur, Annelies Mellema…(Hal.106).

Di sini, Pramoedya berusaha menyatukan dua perempuan menjadi satu filsafat superioritas perempuan ideal, baik Nyai Ontosoroh sebagai praktisi di tataran kemanusiaan, khususnya di bidang ekonomi, sedangkan Kartini sebagai konseptor di tataran kemanusiaan, khususnya di bidang pendidikan.

Demikianlah, membaca Nyai Ontosoroh dan Kartini dari pikiran dan tangan Pramoedya, tersirat semakin jelas bahwa humanisme dalam diri Pram memang sangat lekat. Pertanyaannya sekarang, mungkinkah Sanikem yang bermetamorfosis secara revolusi berada di lingkungan istana sebagai raden ajeng? Sebaliknya, mungkinkah bangsawan Kartini yang bermetamorfosis secara evolusi berada di bawah aroganisme seorang tuan kuasa sebagai nyai? Sampai di sini kesadaran kita kembali berpijak bahwa: betapa pun sebuah idealitas semestinya menemukan konstektualitasnya masing-masing. Dan Pramoedya berhasil mempertemukannya.

Bibliografi

Ananta Toer, Pramoedya. 2003. Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta: Lentera Dipantara.

Ananta Toer, Pramoedya. 2009.  Bumi Manusia, Jakarta: Lentera Dipantara.

Budianta, Eka. 1992. Menggebrak Dunia Mengarang. Jakarta: Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.

Bunga Rampai. 1979. Satu Abad Kartini. Jakarta: Sinar Harapan.

Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra: Dari Strukturalisme Genetik Smapai Post Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  1. Awuy Tommy. 1995. Wacana, Tragedi dan Dekonstruksi Kebudayaan, Yogyakarta: Jentera Wacana Publika.

Pane, Armijn. 2002.  Habis Gelap Terbitlah Terang, Jakarta: Balai Pustaka.

Sutrisna, Sulastin. 1989. Terjemahan Kartini: Surat-surat Kepada Nyonya R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, Jakarta: KTLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde) dan (Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia).

Tagging: #opiniperempuan #feminismeindonesia #pramoedyaanantatoer


Biodata Penulis

ESTI NURYANI KASAM, Lahir di Gunungkidul Yogyakarta, 13 Februari 1977. Menyelesaikan SD-SMA sejak 1983 – 1995, tetap di Gunungkidul. Semasa SMP, beberapa puisi dan artikelnya telah dimuat di tabloid remaja; sisipan majalah wanita Kartini, Jakarta dan majalah remaja Gatutkaca, Yogyakarta. Semasa SMP dan SMA pula, memenangkan lomba esai keagamaan Provinsi. DIY dan penulisan ilmiah ICMI pusat Jakarta. Selepas SMA, magang sebagai wartawan kurang dari satu setengah tahun, kemudian memutuskan belajar menulis fiksi sejak 1998.

Hasil-hasil tulisannya baik berupa cerpen, puisi, esai dan naskah dramanya telah terpublikasi baik dalam media lokal, nasional maupun regional. Antara lain dimuat di Hu Republika, Skh Kedaulatan Rakyat, Skh Surabaya Post, Skh Bernas, Tm Minggu Pagi, Majalah Sastra Pesantren Fadilah, majalah Islam Sabili, majalah Suara Muhammadiyah, jurnal sastra Asia Tenggara Pangsura, dan berbagai jurnal ilmiah lainnya. Menjadi juri di berbagai ajang lomba kepenulisan kreatif, baik esai, pidat,o maupun lomba menulis dalam Bahasa Inggris. Menjadi pemakalah di berbagai pelatihan kepenulisan. Secara rinci, kontribusi dalam aktivitas kepenulisannya sebagai berikut.

Sejak tahun 2008 hingga saat ini, masih suntuk berproses di bidang sastra bersama siswa-siswi di kelas ekstra sastra di SMP N I Karangmojo, SMP N I Ponjong, KOPISAJI; SMA N I Wonosari, SMP N I Wonosari, dan beberapa bengkel sastra yang secara temporal mengundangnya berbagi. Beberapa hasil buku dari hasil binaan dan editorialnya adalah, Biarlah Kupu-Kupu Mengajariku, Mengejar SMP Impian, Metamorfosis, Pesan dari Surga, Gendhing Jawa dan Sebutir Tasbih, Darah Rasulan, Senja di Pentas Seni, Bulan Berdarah, Sepucuk Suratku Untukmu, dan Sekolah Ampuh.

Prestasi yang memberikan kesan khusus bagi penulis:

  • Tahun 2000, menjadi satu-satunya pemenang perempuan dari dua belas pemenang lainnya, dalam lomba esai sastra, memperingati seratus tahun sastra Indonesia Yogya, diadakan oleh DKY, bekerja sama dengan TBY dan PPKPS UGM.
  • Tahun 2004 dan tahun 2007, esainya terpublikasi dalam Jurnal Sastra Asia Tenggara asuhan MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara); Pangsura, berkedudukan di Brunei Darussalam.
  • Awal tahun 2005, salah satu cerpennya masuk dalam cerpen terbaik 2004, antologi Dokumen Jibril terbitan HU Republika.
  • Mei 2005, antologi cerpen tunggalnya Resepsi Kematian, dengan kata pengantar Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo (Gubes Sastra UGM), telah diluncurkan penerbit Adi Wacana Group, Yogyakarta.
  • Tahun 2006 kembali memasuki bangku belajar di Fakultas Sastra dan Budaya, Sastra Inggris-S1, UTY (Universitas Teknologi Yogyakarta) atas beasiswa dari Yayasan Sekolah Tinggi Indonesia-Netherland (STS) Stichting Thepass Seket, berkedudukan di Leiden, (kemudian pindah ke Leiderdorp), Belanda sampai Oktober 2011.
  • Tahun 2007, antologi cerpen berikutnya Orang Gila Dilarang Tertawa diterbitkan dengan mendapat kata pengantar antara lain dari Prof. Dr. Melani Budianta (Gubes Sastra UI).
  • Mei 2008 menjadi pemenang III Lomba Penulisan Cerpen Bahasa Indonesia tingkat mahasiswa dalam rangka satu dasawarsa Fakultas Sastra UAD dan Hardiknas.
  • Tahun 2010, lima puisinya terpublikasi dalam buletin Tugu, YOGYAKARTA.
  • Oktober 2009 menjadi pemenang karya favorit tingkat mahasiswa dalam Lomba Menulis Cerita Pendek Tingkat Nasional Lip Ice-Selsun Golden Award 2009, terpublikasi dalam antologi cerpen Mencari Wajah Ibu.
  • Tahun 2011 menulis skenario dan menjadi sutradara fragmen pendek “Pahlawan Keluarga” dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMA, menyabet juara III.
  • Tahun 2011 esainya terpublikasi dalam buku Indonesia Memahami Kahlil Gibran, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Jakarta.
  • Oktober 2011, untuk kedua kalinya menjadi Pemenang Karya Favorit tingkat mahasiswa dalam Lomba Menulis Cerita Pendek Tingkat Nasional Lip Ice-Selsun Golden Award 2011 terpublikasi dalam antologi cerpen Musim Kesunyian.
  • Oktober 2011 cerpennya terpublikasi dalam antologi cerpen nominasi lomba cerpen tingkat mahasiswa STAIN Purwokerto, Lelaki yang Dibeli,
  • Maret 2012, puisinya masuk dalam antologi Di Pangkuan Yogya, ajang lomba menulis puisi Ernawati Literary Foundation.
  • April 2012, menerbitkan buku antologi cerpen ke-3 Perempuan Berlipstik Kapur, dengan pengantar antara lain Prof. Dr. Faruk (Gubes FIB UGM) diterbitkan Andi Publiser.
  • Mei 2012, kembali menulis naskah dan menjadi sutradara drama Tradisional dan Modern yang dimainkan siswa-siswi SMA N 1 Wonosari dalam ajang FLS2N Dinpendkebpora Kabupaten Gunungkidul dan menyabet gelar pemenang ke-2.
  • September 2012, kembali memasuki bangku kuliah tingkat pascasarjana, Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra, Universitas Gajah Mada.
  • Pada 8 November 2012, dianugrahi gelar “Sastrawan Indonesia” bersama kritikus, peneliti, dan sastrawan lainnya oleh YASAYO ( Yayasan Sastra Yogya; didirikan oleh Gubes UGM; Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo), bekerja sama dengan PKKH (Pusat Kesenian Koesnadi Hardjo Sumantri).
  • Juli 2015, tanggal 09, lulus dari S2 UGM dengan mempresentasikan thesis Negosiasi Perempuan Untuk Bertahan Dalam Wild Swans Karya Jung Chang dengan nilai A.
  • Agustus 2015 menerbitkan buku antologi puisi tunggal berjudul Perjodohan Matahari, diterbitkan oleh Gambang Buku Budaya, Yogyakarta.

 

 

Facebook Comments