Thursday, July 19, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Jangan Tanya Kapan Saya Menikah!

Jangan Tanya Kapan Saya Menikah!

Kapan kamu menikah?

Kapan lagi coba? Ingat umur loh, keburu kedaluwarsa.

Eh, kamu kan perempuan, jangan sampai kelamaan! Kalau cowok masih santailah.

Pertanyaan dan pernyataan di atas agaknya sering kali diterima oleh perempuan dewasa yang belum menikah. Pasal 330 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyatakan bahwa usia dewasa ialah 21 tahun. Meskipun demikian, syarat boleh menikah untuk perempuan Indonesia tidak perlu menunggu umur 21 tahun. Bagi perempuan delapan belas tahun yang ingin menikah sudah diperbolehkan karena batas minimal usia menikah bagi perempuan adalah usia delapan belas tahun. Usia minimal ini pun didapat setelah diadakannya KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) di Cirebon, 27 April 2017 lalu. Sebelumnya, batas minimal usia menikah pada perempuan enam belas tahun.

Ketika peraturan lama berlaku, kenyataannya masih banyak juga remaja yang menikah di bawah umur yang telah ditentukan. Pernikahan di bawah umur minimal ini, kerap menjadi masalah bagi pihak terkait, seperti BKKBN dan Komnas Perlindungan Anak dan Perempuan. Namun di masyarakat, menikah dini – meskipun menjadi bahan perbincangan, paling-paling hanya sepintas lalu – dan tidak jadi soal. Berbeda perlakuannya terhadap perempuan dewasa yang belum menikah.

Saya, gadis dengan usia 28 tahun. Tak ada yang aneh, memang. Hanya yang menjadi salah apabila ada orang yang selalu mempertanyakan status. Dalam hal ini, “selalu” mempertanyakan kapan saya menikah. Suatu waktu saya bertemu teman lama. Pada perjumpaan itu, saya ditanya “eh kapan lagi?” Saya yang ditanya sontak heran dan membatin. Maksudnya kapan apa ya? Bukankah kita tidak pernah mengobrol sebelumnya? Saya pun menjawab dengan bertanya “Kapan apa ya?” dengan nada bercanda. Oh, oke. Anggap saja itu bercanda. Dia pun menjawab “Kapan menyebar undangan?” tanpa perlu saya perjelas lagi saya langsung tahu arah dan maksudnya. Sambil tersenyum penuh dusta saya pun menjawab “Tunggu saja undangannnya, tidak mungkin kamu tak saya undang.”

Pada kesempatan lainnya, masih dengan orang yang sama, dengan pertanyaan yang hampir mirip diksinya, tetapi kali ini lebih mengagetkan. “Hai, kapan pulang? Sudah mau nikah ya?” Pada saat itu juga saya langsung memutar otak untuk memilih jawaban yang anggun dan elegan. Akhirnya, saya hanya mengatakan “Ah dapat kabar dari siapa? Aduh didoakan saja ya, ini kebetulan lagi cuti kok pulangnya.”

Kali lain, dan setelah banyak “kali yang lainnya” masih dengan orang yang sama. Dengan kata serupa ia pun bertanya lagi. “Eh di sini ya sekarang, kapan nih ngundangnya?” Pada tahap ini, saya sudah tak tahan lagi. Barangkali juga sedang PMS – ah, saya tak ingin juga selalu menyebut PMS sebagai kambing hitam. Akhirnya, saya ingat ucapan seorang kawan, yang bernasib sama seperti saya.

“Kalau ada yang tanya kapan nikah, jawab gini aja say, “Emang kamu mau iuran berapa buat biaya pernikahanku?” Oke, tetapi saya tak setersinggung itu, hanya sedikit dongkol. Sambil senyum saya jawab pertanyaan seorang kawan itu “Wah, kamu udah siapin kado ya buat pernikahan saya nanti? Tunggu sajalah, nggak usah ditanya-tanya. Mending tanya kabar saya atau pengalaman saya yang lain yang mungkin dapat saya ceritakan ketimbang setiap jumpa kasih saya pertanyaan yang sama.” Dia hanya nyengir.

Lalu saya susul dengan pertanyan, “Kamu apa kabar? Anak sehat? Bagaimana sekolahnya? Sudah kelas berapa?” Saya pikir pertanyaan ini cocok untuk basa-basi bagi kawan lama yang jarang bersua. Lebih variatif dan tak provokatif. Ketimbang “Anak sudah berapa? Oh, sudah tiga? Duh, rapat ya. Tidak KB ya? Kenapa tidak KB? Terus, masih mau buat anak lagi? Kan tiga anaknya cewek semua.” Pertanyaan tersebut tentu bisa menyebabkan dia baper dan pulang-pulang berantem sama suaminya. Ah berlebihan, kalau sudah menikah banyak yang bilang kalau emosinya lebih stabil. Jaminannya? Depend on your faith.

Saya tidak mempersoalkan pertanyaan terkait pernikahan ini jika hanya sekali sebab bisa dibilang masuk kategori basa-basi. Namun jika berkali kali, apalagi sampai menganalogikan orang yang belum menikah seperti barang komoditas yang punya masa berlaku, rasanya kuranglah tepat. Perempuan itu bukan barang, bukan makanan yang ada masa kedaluwarsanya. Wahai orang-orang di luar sana, pikirkanlah pertanyaanmu sebelum menyinggung perasaan perempuan lain.

Saya pikir, laki-laki yang belum menikah juga sebenarnya sama. Hanya perempuan mendapat posisi yang lebih dirugikan. Berikut ini salah satu bukti percakapan di media sosial bahwa posisi perempuan yang belum menikah kurang diuntungkan.

Cowok: “Hai Ta, apa kabar?”

Cewek: “Kabar baik, kamu apa kabar Do?”

Cowok: “Baik. Kamu mengapa belum menikah?”

Cewek: “Ya, memang belum aja.”

Cowok: “Jangan lama-lama! Kasihan, kamu kan cewek. Tunggu apalagi, Ta? Umur sudah berapa? Kalau cowok  mah santai.

Cewek: Kasihan? Kayaknya lebih kasihan kamu deh. Kan katanya populasi cewek lebih banyak tuh dari cowok. Lah, mengapa kamu belum menikah? Belum berani melamar ya? Gak kuat modal?”

Cowok: @%%&#

Percakapan ini dikutip dari obrolan seorang kawan dengan kawan yang lain di salah satu personal chat media sosial. Entah apa konteks obrolan ini. Mungkin, ini obrolan pembuka karena lama tak menyapa. Jika demikian, tidak adakah sapaan yang lebih santun yang tak menyinggung perasaan perempuan? Atau sejak awal memang hanya ingin meledek seorang teman yang tengah berjuang menemukan jodohnya atau bahkan sedang mempersiapkan dirinya untuk berumah tangga. Lalu mengapa anggapan kalau perempuan yang belum menikah atau memilih tidak menikah itu  suatu kesalahan besar?

Sahabat, hidup ini pilihan. Termasuk memilih mengapa belum menikah dan tidak ingin menikah. Bagi yang beragama, jika dia belum menikah, ia mempercayai itu sebuah takdir. Tanpa kita tahu apa takdir berikutnya. Sama ketika orang yang menikah belum punya anak, sudah punya anak lalu sulit dapat anak kedua. Sudah punya anak banyak, tetapi anaknya berjenis kelamin sama. Itu sudah takdir, tak perlu dipertanyakan.

Budaya bertanya manusia, khususnya di Indoensia memang tinggi sekali, tetapi saya tekankan bahwa jika hanya bertanya sekali dan itupun pertanyaan basa-basi karena tak punya referensi pertanyaan yang lain lagi, saya pikir masih dimaklumi. Jika berkali-kali menanyakan masalah terkait status, sungguh menyakitkan hati. Jagalah perasaan orang lain!

Sahabat Puan, banyak alasan mengapa orang belum menikah. Belum menemukan orang yang pas, sudah ada calon, tetapi belum siap untuk hidup berdua alias sedang mengumpulkan dana, dan masih banyak lagi. Jodoh nanti akan datang sendiri. Iya, bagi orang yang benar-benar yakin. Lalu trauma masa lalu terkait percintaan?

“Ah kamu kurang doa dan usaha, makanya belum nikah.”

Urusan besarnya doa dan usaha tak perlu diberi tahu orang lain. Cukup diri sendiri dan Tuhan. Tak perlu direcoki, cukup bantu doa terbaik. Atau siapa tahu, Anda bersedia membantu dana? maka saya dengan senang hati memberikan nomor rekening saya? Ah, tapi saya tak sampai sebegitu  menginginkan dana yang banyak jikapun saya menikah.

Toh, jika sudah datang waktunya, saya bisa saja memutuskan untuk menikah di KUA. Gratis. Cuma modal urus syarat-syarat administrasinya saja. Tak perlu make up, tak perlu perhelatan dengan banyak makanan dan undangan.

Jadi masih mau tanya kapan saya menikah?

Facebook Comments