Monday, December 10, 2018
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Kampung Nelayan Tua Itu Bernama Sungsang

Kampung Nelayan Tua Itu Bernama Sungsang

Sungai Musi sebagai kolam renang anak-anak desa

Tidak ada jadwal terencana. Akhirnya, saya tiba di salah satu kampung nelayan di Sumatera Selatan. Sering mendengar cerita kawan-kawan mahasiswa program studi kelautan yang sering bertandang di desa ini. Kebanyakan yang singgah, untuk tujuan penelitian baik mangrove maupun perikanan, namun ada pula yang hanya singgah sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan.

Bertemu teman baru, putra daerah Sungsang, akhirnya saya putuskan mengikutinya pulang kampung. “Kamu mau melihat apa di Sungsang?” tanyanya ragu ketika saya utarakan ikut ke desanya. Saya hanya jawab ingin melihat laut. Lalu, ia pun bingung.

Menempuh perjalanan darat selama dua jam dari Palembang, kami dihadiahi pemandangan pohon kelapa yang menjulang tinggi, terselip sawit di beberapa bagian, dan sawah di beberapa daerah. Kebetulan kami berangkat ketika jalanan sedang ramai oleh hiruk pikuk butiran kelapa yang diangkut menggunakan truk besar, yang katanya masuk pabrik di sekitar Jalan Tanjung Api-Api. Terbukanya akses darat ini meningkatkan tindak pencurian di sekitaran Sungsang.

Kapal-kapal nelayan parkir di Desa Sungsang II, Kecamatan Banyuasin II Banyuasin
Kapal-kapal nelayan parkir di Desa Sungsang II, Kecamatan Banyuasin II Banyuasin

Sungsang sebagai nama daerah sekarang tidak menjual lagi. Pemerintah sudah memberi julukan baru “Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api (KEK-TAA)”. Karena posisi daerah ini memang berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Api-Api, yang menghadap Selat Bangka sekaligus ekor Laut China Selatan.

Tiba di perhentian terakhir travel, kami melanjutkan perjalanan menggunakan becak di atas jalan beton yang ukurannya kurang lebih hanya tiga meter saja. Mobil tidak bisa masuk, hanya becak, sepeda, dan motor.

Sungsang sangat ramai. Dengan rumah panggung rapat yang berjejer di pinggir sungai, suara-suara yang tidak bisa didengar dengan volume kecil, menambah nuansa yang hidup di kampung nelayan, yang akhirnya saya ketahui bahwa terdapat lima desa definitif di dalamnya.

Jujur saja, saya bingung membedakan mana pasar, mana perumahan. Hampir setiap rumah memiliki susunan sama: warung di bagian depan dan ruang pribadi keluarga di bagian belakang. Di sepanjang jalan, kita kan menemukan macam-macam warung, mulai dari warung sembako, perabot rumah tangga, fesyen, material, hingga kuliner yang siap dimakan di tempat atau dibawa pulang.

Dua hari di sana, saya banyak mengobrol dengan orang yang saya temui. Desa tua di pesisir timur Banyuasin ini terdiri dari berbagai suku, yakni Bugis, melayu, jawa, dan lain-lain. Dari segi bahasa, mendengar orang Sungsang berbicara seperti mendengar dialek Melayu yang khas, namun banyak juga yang berpadu padan dengan kosakata Jawa. Juga terlihat keturunan China yang tidak berbahasa Mandarin lagi. Mereka melebur sebagai identitas baru: wong laut (orang Sungsang).

Memakan makanan olahan laut seperti pempek udang, tekwan udang, udang goreng, udang bakar, tentu tidak saya lewatkan. Entah sudah banyak sekali yang masuk ke perut. Uniknya, karena berbahan dasar udang, pempek dan tekwan disini berwarna merah muda. Tanpa pewarna tambahan. Kedua pangan olahan tersebut terlihat memesona. Saya pikir ketika kids jaman now yang tingkat ke-baper-annya mudah membludak, cerita pempek mermud (merah muda) ini bisa saja menjadi viral. Keistimewaan lain dari desa ini adalah kita dapat makan di teras rumah sambil melihat sungai sambil melihat peradaban yang terbangun dari kapal-kapal nelayan yang terparkir rapi.

Kami berkeliling desa. Aksesnya sudah bagus, dari desa pertama hingga desa kelima, terhubung oleh jalan beton. Di desa kelima, kami melihat ada PDAM yang dibangun sejak tahun 2006, namun tidak sempat beroperasi karena ada beberapa bagian yang hilang akibat dipinjam tanpa kembali. Entah alasan itu hanyalah tameng atau begitu adanya. Proyek 15 M itu sia-sia saja.

Pembangunan PDAM ini dulunya dimaksudkan agar menjadi sumber air bersih bagi masyarakat, khususnya untuk dikonsumsi. Kebutuhan air bersih masyarakat pesisir, sudah jamak diketahui hanya mengandalkan air hujan semata. Sementara untuk kegiatan MCK (Mandi, Cuci, dan Kakus) menggunakan air sungai. “Butuh lima puluh gentong air hujan per-KK untuk dapat bertahan di musim kemarau,” ucap si kawan.

Kami juga melintasi tempat pelelangan ikan, yang hari itu tampak sepi, mungkin karena kami datang di siang hari. Tepat di pelelangan ikan ini, kita dapat melihat Pulau Bangka di arah timur. Nun jauh disana, terlihat puncak tertingginya berupa Bukit Maras. Pulau Bangka dapat dicapai menggunakan kapal Ferry, melalui Pelabuhan Tanjung Api-Api. Menuju Pelabuhan TAA dari Sungsang dapat ditempuh hanya dua puluh menit menggunakan motor.

Anak-anak kecil tidak ragu berenang di sungai. Walau apa saja terendam dan terlarut dalam muara Sungai Musi. Mengingat banyak sampah yang dilempar warga dari jendela-jendela rumah. “Ini bukan di kota, cek (sapaan untuk perempuan lebih tua). Tidak perlu pusing masalah sampah,” kata teman saya. Ada sesuatu yang terasa menohok hati saya.

Beberapa waktu lalu, desa – desa  ini pernah didatangi Tim ENJ (Ekspedisi Nusantara Jaya). Sebanyak 25 mahasiswa Universitas Sriwijaya tergabung di dalamnya. Mereka datang membawa isu lingkungan, khususnya di bidang kemaritiman. Kegiatannya lebih kepada pengabdian dalam pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan sosial. Membantu masyarakat membersihkan sampah dan memasukkanny ke dalam karung. Lalu karung sampah itu dibawa ke TPA. Terdapat lima karung sampah plastik yang diangkut. Masyarakat mengakui bahwa kesadaran seperti ini hanya tumbuh sesaat. “Kami butuh pembinaan,” tukas Pak Hendra.

Pikiran saya nanar, memang bukan Sungsang saja, namun begitulah kebanyakan kondisi pemukiman di pesisir. Lalu, ke mana lagi sampah akan bermuara bila jendela masing-masing di rumah pinggir sungai ini langsung menjadi tong sampah? Pasang surut air laut menarik ulur, membawa sampah ke sana kemari. Bagaimana menarik minat ribuan wisatawan bila harapan membuang sampah pada tempatnya masih sebatas lisan. Istilah waterfront city muncul di kepala, mengabur lalu hilang disapu angin muson barat.

Facebook Comments