Monday, December 11, 2017
Home > Literasi > Cerita > Langit Mimpi

Langit Mimpi

cerpen nana sastrawan

AKU selalu tertawa ketika merasakan kepedihan dalam hidup ini. Tertawa membuatku senang, meninggalkan kemarahan dan dendam dalam hati. Hidup dalam dunia yang meriah seperti sekarang ini tak berguna jika setiap hari hanya menangis dan meratapi nasib. Segalanya sudah tersedia di dunia ini. Aku harus menikmatinya. Tertawa juga bagian dari kesehatan, banyak ahli kedokteran menyatakan bahwa tertawa dapat membuat awet muda, menjauhkan dari stres dan memudahkan memiliki banyak teman.

Dulu, ketika pertama kali aku melamar pekerjaan setelah lulus kuliah dan selalu gagal, aku tertawa. Aku tidak ingin kegagalan itu membuatku putus asa dan pemurung. Aku terus berusaha untuk mendapatkan pekerjaan, sebab menjadi pengangguran itu sangatlah tidak enak, membebani orang lain. Tetapi, aku selalu gagal. Entah, padahal aku lulusan kampus ternama, nilai-nilaiku bagus, penampilanku juga baik.

Kegagalan-kegagalan itu membuat orang-orang di sekitar tidak mempercayaiku lagi, terutama keluarga, mereka sangat kecewa terhadap diriku.

“Ayah sudah habis-habisan untuk biaya pendidikanmu!”

“Iya ayah. Aku sedang berusaha terus mendapatkan pekerjaan.”

“Mau sampai kapan kamu jadi pengangguran? Harta ayah semua habis olehmu dan Ibumu!”

Wajah lelaki itu terlihat lebih kusut saat ini. Mungkin akibat terlalu memikiran ibu yang sudah hampir setahun bolak-balik rumah sakit, tetapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Dia juga sudah membawanya ke mana pun, mengobatinya dengan apa pun, tetapi malah semakin parah. Dia juga pernah ditipu oleh dukun praktek bodong, ratusan juta melayang, namun dia tetap tidak putus asa untuk menyembuhkan ibu. Rasa cintanya telah membuat ayah menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab.

“Ayah harap kamu mengerti kondisinya sekarang,” ucap ayah.

Itulah ucapan terakhir ayah kepadaku. Setelah itu dia tidak pernah bicara lagi sejak kematian ibu. Dia menjadi pendiam dan pemurung. Hidupnya sehari-hari hanya memandang foto pernikahan di dinding kamarnya hingga pada akhirnya dia juga meninggal dalam keadaan sedih. Rasa cintanya telah membunuh dirinya sendiri. Itulah akibat jika tidak tertawa, maka aku pun tertawa menerima kepedihan itu dalam hidup ini. Setelah tertawa semuanya berjalan normal kembali, aku tidak merasakan sakit di dalam dada yang menyiksa.

Kini hidupku hanya seorang diri, beban kreditan rumah dan mobil menjadi tanggung jawabku. Aku adalah anak tunggal, ayah dan ibuku juga anak tunggal. Nenek dan Kakek telah meninggal, aku juga sulit melacak keberadaan sepupu-sepupu ayah dan ibu yang merantau ke kota-kota lain. Sebagai karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan swasta ayah menerima uang santunan kematian dan pesangon yang cukup besar. Aku ahli warisnya, uang itu menjadi modal hidupku untuk kebutuhan sehari-hari.

Suatu hari, sahabat ayahku datang ke rumah. Wajahnya berseri-seri menemuiku, dia juga membawa titik terang dalam kebuntuan dan kesepian dalam hidupku.

“Daripada nyari kerja nggak dapet-dapet, mending bisnis!”

“Bisnis?”

“Iya. Sekarang banyak anak-anak muda yang sukses berbisnis, kaya raya, punya pacar cantik, mobil mewah, perusahaan dengan banyak anak buah, dan kerjanya cuma kelunyuran.”

“Memangnya bisnis apa?”

Dia menyeruput kopi yang aku suguhkan, menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya ke udara. Wajahnya semakin berseri-seri mendengar pertanyaanku itu, seolah dia memang yakin akan keberhasilan idenya untuk membuatku menjadi anak muda yang sukses dan kaya raya.

“Jual beli saham.”

Aku masih bingung dengan jawabannya. Dia kemudian menjelaskan caranya tentang jual beli saham perusahaan yang aku sendiri sangat tidak mengerti. Karena ucapannya yang penuh dengan keyakinan, apalagi ada banyak keuntungan yang di dapat hanya dengan berinvestasi tanpa kerja berat, aku menjadi tertarik. Kami pun berjabat tangan, kemudian tertawa merayakan kesepakatan.

Itulah awal tertawaku yang sangat menyenangkan. Melepaskan pikiran-pikiran yang semerawut hanya dengan membuka mulut, dan mengeluarkan suara, segalanya beres. Semakin hari tertawaku semakin kencang, tetangga-tetanggaku juga mendengar suara tawaku, mereka ikut tertawa, orang-orang yang lewat depan rumahku mendengar tawaku, mereka juga tertawa mengikutiku. Semua yang melihatku tertawa selalu ikut tertawa. Hingga aku menjadi terkenal, dan mendapatkan julukan si Dewa Tawa.

Pada suatu hari, Dayang menelponku. Wanita yang sudah lama mengisi hatiku sejak di kampus dulu.

“Kita putus!”

Aku membanting telpon. Kurang ajar! Bagaimana bisa dia dengan seenaknya memutuskan hubungan denganku. Aku sangat sayang sekali padanya, tidak ada hari dalam pikiranku yang selalu mengingat namanya. Apa pun keinginannya selalu aku ikutin, hingga aku menghabiskan banyak waktu, tenaga, uang untuk dirinya. Aku terduduk lemas di sofa, kuingat kembali wajah Dayang yang selalu tersenyum ketika bertemu denganku. Sikap manjanya membuatku tak sanggup untuk jauh walaupun hanya sejengkal. Mengingat wajahnya yang selalu tersenyum, aku ikut tersenyum, kemudian tertawa.

“Hahahaha… Bagaimana? Mudah bukan uang di dapat?” Pak Gufron tertawa terbahak-bahak sambil menyerahkan setumpuk uang ratusan ribu.

Aku tak percaya, begitu cepat uang bisa kudapat hanya dengan tertawa. Rupanya, bisnis jual beli saham yang aku jalankan telah membuahkan hasil. Kata Pak Gufron perusahaan untung besar di pasar bebas, harga saham meningkat dan aku masih tidak mengerti dengan apa yang dia jelaskan.

“Yang terakhir kamu beli hanya beberapa lembar saham saja. Kalau puluhan, kamu bisa menjadi kaya mendadak, perempuan-perempuan cantik akan dengan mudah didapat, bahkan mereka menghampiri sendiri.”

Aku terdiam, pikiranku tiba-tiba teringat Dayang, dendam mulai muncul.

“Mobil-mobil mewah juga tinggal tunjuk sesuka hati,” kata Pak Gufron ketika melihatku masih terdiam.

“Caranya?” aku mulai terusik dengan perkataan Pak Gufron, sahabat ayahku.

Pak Gufron tersenyum lebar, dia seperti sedang melihat seorang wanita cantik dengan dada dan pantat yang montok, matanya terlihat berkilau menatap padaku. Sementara hatiku mulai diliputi dendam kepada Dayang. Akan aku tunjukan padanya bahwa aku adalah laki-laki yang tepat dan dia telah salah memutuskan hubungan denganku. Setelah Dayang menelepon, aku segera melesat dengan sepeda motor menuju rumahnya, di sana aku lihat dia sedang bercumbu dengan seorang laki-laki.

“Jadi ini maksud semua itu?”

“Aku sudah memutuskan!”

“Tapi Dayang… Aku sangat mencintaimu!”

“Aku tidak. Aku juga punya masa depan, tidak ingin hidup dengan laki-laki pengangguran dan sial seperti kamu!”

Sial? Aku laki-laki sial? Mengapa Dayang tega mengucapkan itu semua kepadaku setelah bertahun-tahun pacaran, setelah segalanya telah aku berikan? Bahkan, tidak sedikit uang yang aku keluarkan hanya untuk mengikuti obsesinya berpakaian, membeli alat kecantikan dan lain-lain yang membuat kantongku kempes. Kulihat laki-laki itu; pakaiannya, sepatunya, jam tangannya, telpon genggamnya, mobilnya dan wajahnya. Sialan!

“Gimana?” tanya pak Gufron membuyarkan lamunanku.

“Gimana apanya Pak?” tanyaku balik.

“Loh… gimana toh? Tadi sudah Bapak jelaskan.”

“Mmm… baiklah!”

“Hahahahaha… itu baru laki-laki!”

Pak Gufron tertawa senang, dia menepuk-nepuk pundakku yang masih terdiam. Namun, mendengar tawanya yang terbahak-bahak dan tidak berhenti akhirnya tawaku ikut meledak. Bayang-bayang Dayang perlahan memudar, bermunculan bayang-bayang dunia gemerlap mengitari diriku. Aku menjadi kaya-raya, perempuan akan bertekuk lutut padaku, dan aku tidak akan terhina di mata orang-orang. Aku adalah anak muda yang kaya-raya, pembisnis sukses, tanpa harus bekerja, uang datang dengan sendirinya. Aku tertawa terbahak-bahak.

Setelah kesepakatan itu, pak Gufron meminta yang aneh-aneh. Dari uang tunai, sertifikat tanah, dan harta benda lainnya. Katanya, pasar bebas sedang ramai, aku harus membeli berlembar-lembar saham agar keuntungannya berlipat ganda. Ini kesempatanku untuk menjadi orang muda yang kaya raya. Eksekutif muda! Untuk memenuhi hasrat itu semua, aku ikuti saran pak Gufron, toh dia sudah membuktikan dengan memberiku tumpukan uang ratusan ribu. Tentu, yang ini pun akan menghasilkan yang lebih besar lagi. Kini, aku menyewa satu kamar untuk tempat tinggal, kemudian kurebahkan tubuh di atas kasur, sambil menatap langit-langit kamar, aku melihat langit-langit mimpi menjadi biru, hujan duit berjatuhan. Aku tertawa.

Sehari, seminggu, sebulan, setahun, sewindu, tawaku semakin nyaring. Dimana pun aku berada aku tertawa. Hatiku kini sudah tidak diliputi rasa sedih, tawa yang telah menghapus semua kesedihanku. Orang-orang melihatku, mereka juga ikut tertawa, menyaksikan tingkahku dengan pakaian kumal, compang-camping, rambut kotor dan gimbal. Namun aku tetap tertawa, memamerkan gigi-gigiku yang hitam. Aku melihat langit mimpiku semakin berwarna. Hahahahahaha ….

“Dasar Edan!”

2017


Biodata Penulis:

Nana Sastrawan, seorang guru yang menulis, pernah meraih penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2015.

Facebook Comments