Monday, December 11, 2017
Home > Literasi > Resensi > Menonton Marlina dalam Empat Babak

Menonton Marlina dalam Empat Babak

Menonton Marlina dalam Empat Babak

Babak I

Jika pembahasan  banyak orang tentang Marlina: Pembunuh empat babak banyak soal feminisme dan perempuan, kita melupakan suami Marlina yang sudah jadi mumi. Sosok mayat yang didudukkan di ruang tengah rumah Marlina (Marsha Timothy) dan menjadi perhatian saya sejak awal.

Mumi suami Marlina yang diperankan Tumpal Tampubolon ini diam-diam menimbulkan nuansa ngeri yang ganjil. Dia tinggal di pikiran Marlina dan diam-diam menyematkan dendam yang bercampur aduk dengan ketakutan. Dia diam dan diselimuti kain tenun khas Sumba.

Dalam tradisi kepercayaan Marapu, di Sumba, jenazah yang masih baru tidak langsung dikubur. Jenazah akan dibiarkan selama tiga hari sampai satu pekan dirumah.

Jenazah akan dibungkus  dengan kain tenun Sumba dan diposisikan meringkuk, seperti bayi dalam rahim. Karena pada hakikatnya manusia kembali dalam posisi kepasrahan total. Pada posisi inilah Tumpal memerankan mumi suami Marlina.

Diam-diam pula suami Marlina memunculkan perlawanan sendiri dari kematiannya. Dia diam dan terus menjadi perhatian di pojok kanan layar untuk waktu yang lama. Belum lagi si sutradara (Mouly Surya) memberi jeda dari satu frame ke frame lainnya dengan waktu yang cukup lama untuk membuat kita berpikir.

Melalui mumi ini perlawanan Marlina tumbuh. Dia mengambil buah yang dicampurkannya dalam sup ayam pesanan Markus (Egy Fedly), perampok yang juga merupakan teman Marlina. Dia berhasil meracuni makanan para perampok tapi tak pada Markus. Marlina pun diperkosa dan ditengah rudapaksa Marlina menebas kepala Markus.

 

Babak II

Marlina keluar dari rumah. Membawa kepala Markus dibungkus kain putih. Dia berjalan sampai jalan raya untuk naik transportasi lokal berupa truk.

Sebuah truk datang, ketika Marlina naik semua penumpang turun karena merasa jijik dan takut. Si supir keluar dan protes pada Marlina. Tapi perempuan berbaju hijau itu kemudian meletakkan parang di leher supir.

Tapi sebelum ketemu truk ini, seorang perempuan hamil, Novi namanya dan diperankan Dea Panendra, mendekati. “Kenapa kau tak ke gereja saja?”

“Kenapa ke gereja, aku mau ke kantor polisi,” kata Marlina.

Mereka berangkat bersama menuju kantor polisi. Namun di tengah perjalanan dua dari lima kawanan perampok yang dibunuh Marlina datang dan menyandera truk tersebut. Beruntung Marlina sembunyi.

Gambaran absurd sekaligus sedikit menyeramkan adalah tubuh Markus tanpa kepala selalu mengikuti Marlina. Sembari memainkan alat musik tradisional Sumba dengan dua sampai enam nada.

Beruntung lagi ada seekor kuda yang ditinggalkan untuk Marlina melanjutkan perjalanan. Absurdnya saat kuda dikendarai Marlina, Markus- tanpa kepala-  mengikuti dan hanya Marlina dapat melihatnya sesekali.

 

Babak III

Pada babak kedua, sembari kencing, Novi terus mengoceh pada Marlina di sebelahnya. Dia mengejek bodohnya pria tentang tiadanya pengetahuan soal libido perempuan saat hamil. Kebodohan lelaki menjadi guyon gelap sekaligus satire.

Pada babak ketiga posisi lelaki juga timpang. Lelaki diselipkan pada supir yang mati dibunuh perampok, ayah Topan si penjual sate yang wajahnya tidak diperlihatkan, polisi yang mengabaikan pelapor berlama-lama, perampok yang melepaskan sanderanya hingga kemudian mati dipenggal oleh perempuan hamil.

Ketimpangan sosial juga seperti dimampatkan dalam babak ketiga. Bagaimana kepolisian yang tidak bisa menangani kasus dengan cepat karena keterbatasan fasilitas, bagaimana transportasi umum yang jarang lewat sampai Novi yang sulit melahirkan karena bidan dianggap tidak tahu mengapa kandungan Novi sampai berumur 10 bulan.

 

Babak IV

Pada babak terakhir kita kembali bertemu dengan mumi suami Marlina. Marlina juga pulang dan ada Franz dan Novi di rumahnya. Franz melepas kain tenun Sumba yang menutupi tubuh mumi.

Franz adalah satu dari dua perampok yang masih hidup. Sedang air ketuban Novi mulai menetes. Kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Ingin melahirkan tapi sedang disandera perampok.

Franza membawa tubuh Markus- yang tak berkepala. Memosisikan tubuhnya seperti mumi suami Marlina. Mengambil kain mumi dan memasangkannya pada Markus.

Marlina tiba dan memberikan kepala Markus pada Franz.

“Terimakasih,” kata Franz.

Setelah memasangkan kepala Markus, Franz minta dibikinkan sup ayam pada Novi. Sedang Marlina, dia ingin menidurinya.

Novi merebus air. Dia tak tahan, bayi dalam perutnya ingin keluar tapi dia bingung harus bagaimana. Dia duduk, berdiri lagi, mengambil parang, kemudian kembali ke dapur melanjutkan masak tapi tak jadi. Namun, akhirnya dia membulatkan tekad.

Dendam pun merasuki diri Novi sebab Franz juga menganggu rumah tangganya. Sedang mumi suami Marlina yang tak lagi diselimuti kain tenun tetap masuk dalam frame. Dia tetap diam.

Saya pun diam dan terhenyak mengikuti detik demi detik film bergenre Satay Western garapan Mouly Surya ini. Keindahan Sumba membuat saya seketika ingat pada Djanggo Unchained yang digarap Quentin Tarantino, atau film koboi lainnya.

Kerasnya karakter Marlina, guyon-guyon yang terasa gelap, posisi perempuan sebagai subjek sekaligus objek, ketimpangan sosial bercampur dalam empat babak. Sungguh saya tidak rugi menghabiskan malam saya di bioskop menonton Marlina yang mendapat pujian dan penghargaan di beberapa negara ini.

Kekerasan demi kekerasan yang ada di film Marlina pun tidak terasa horor. Hanya pada adegan terakhir, sebelum Novi melahirkan, saya agak merasa mual. Kematian berdampingan dengan kelahiran dengan kondisi yang tidak mengenakkan. Sedang Tumpal Tampubolon tetap diam. Dendam akhirnya selesai dan kematian- kelahiran tetap terjadi.

Marlina the Murderer in Four Acts (2017)
Marlina the Murderer in Four Acts (2017)

 

Director: : Mouly Surya
 Writers : Rama Adi, Garin Nugroho
 Stars  : Egy Fedly, Dea Panendra, Yoga Pratama

 


Biodata:

Jaka HB

Jurnalis yang lahir dan bermukim di Jambi. Kadang-kadang hobi traveling, kadang-kadang hobi menonton dan suka minum kopi Arabika Kerinci.

Facebook Comments