Wednesday, December 12, 2018
Home > Lingkungan > Asa Ruang Hidup Gajah di Tesso Nilo

Asa Ruang Hidup Gajah di Tesso Nilo

Asa Ruang Hidup Gajah di Tesso Nilo

Jambo, terlihat melumat lahap potongan pudding yang diberikan Dedi, mahout (perawat gajah)nya. Sinar mentari kemerahan di ufuk barat, menandakan senja merayap turun. Potongan pudding berbentuk segi empat seukuran kepalan telapak tangan orang dewasa itu tak satu pun dielakkannya. Dedi  terlihat berbincang sambil mengelus-elus punggung Jambo. Setidaknya sudah empat potong pudding yang sudah dimakannya. Jambo, gajah jantan berusia sepuluh tahun tersebut masih saja membukakan mulutnya tatkala potong pudding kelima masuk ke mulutnya.  Puding ini berbahan baku jagung pecah, dedak, beras ketan, gula merah dan mineral bubuk. Semua bahan-bahan direbus sampai lunak, kecuali mineral. Lalu dicetak berbentuk persegi panjang dan ditambahkan mineral. Setelah dingin, bisa langsung diberikan pada gajah. Dedi sudah lima tahun merawat Jambo, dia bercerita pemberian puding idealnya puding diberikan setiap satu kali dalam seminggu. “Kami berikan minimal satu bulan sekali, kalau gajah dibawa ke camp saja. Karena kalau lagi ngangon biasanya gajah makan rumput-rumputan dan beberapa pohon yang ada di sana,”sebutnya.

Jambo, adalah salah satu gajah yang berada di Flying squad (tim pengusir gajah liar) di Desa Pangkalan Gondai Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau milik Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo. Ada tiga flying squad yang ada di sekitar wilayah Taman Nasional Tesso Nilo, adalah tim Flying Squad Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN), Flying Squad World Wild Fund (WWF) Program Riau, dan Flying Squad APRIL.

Jambo, saat ini berusia sepuluh tahun. Dedi mengatakan, dia satu-satunya gajah yang berasal dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Sementara dua gajah lainnya Novi dan Dono dari taman rekreasi di Tanjung Balai Asahan. Dedi masih ingat bagaimana pertama kali bertemu dengan Jambo. Jambo ditemukan awal 2012 oleh tim patrol YTNTN yang bersamaan dengan itu juga ditemukan dua mayat gajah dewasa yang diduga kuat kedua orang tua Jambo di sekitar Desa Pangkalan Gondai. Jambo sempat mengalami disorientasi sehingga sempat nyasar sejauh 60 kilo meter hingga di daerah jembatan kerinci. Tim patrol segera mengevakuasi dan menjinakkan Jambo.

Diektur Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo yang berkonsorsium dengan Pundi Sumatera sebagai Fasilitator Wilayah TFCA regional Sumatera Bagian Tengah dan Selatan, Yuliantony mengatakan Jambo merupakan salah satu gajah yang dipersiapkan dan dididk guna membantu pengusiran gajah liar “Karena masih kecil, pilihannya tidak mungkin untuk dilepasliarkan dan diputuskan diserahkan ke kita untuk dirawat hingga saat ini,” jelasnya.

Selain Jambo, ada Novi dan Dono, gajah-gajah yang dipersiapkan untuk menjadi anggota tim Flying Squad yang akan ditempatkan di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau. Desa ini berada di sekitar TN. Tesso Nilo dan merupakan daerah jelajah gajah yang berada di kawasan konservasi tersebut. Frekuensi kedatangan gajah liar ke pemukiman atau perkebunan di sekitar desa ini cukup tinggi oleh karena itu disepakati perlu dioperasikan satu tim Flying Squad yang dikelola oleh Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo.

Sementara dipersiapkan menjadi tim Flying Squad atau tim pengusir gajah liar, ketiga gajah ini bergabung dan berlatih bersama tim Flying Squad WWF-BBKSDA Riau. Mereka perlahan diperkenalkan dengan kegiatan rutin yang dilakukan oleh empat gajah Flying Squad WWF-BBKSDA Riau yang beroperasi di Desa Lubuk Kembang Bunga, seperti berpatroli dan pengusiran gajah liar. Biasanya rute patroli yang dilakukan meliputi Desa Lubuk Kembang Bungo-Pontian Mekar (Bukit Apolo)-Baserah-Tesso-Pangkalan Gondai-Lubuk Kembang Bungo.

Penyadartahuan Masyarakat, Upaya Mitigasi Konflik

Keberadaan gajah yang dianggap masyarakat sebagai hama bagi tanaman dan kebun milik mereka. Membuat laju kematian gajah semakin cepat dan meningkat. Belum lagi ancaman perburuan yang tidak bisa dihindarkan. Yuliantony menyebutkan, sebagai upaya untuk menekan kematian gajah di Tesso Nilo terutama akibat konflik adalah dengan membentuk tim patroli gabungan yang beroperasi secara berkala.

Tony menyebutkan, konflik antara gajah dan manusia dengan kondisi degradasi terhadap kawasan hutan yang kian menggila tentu saja tidak dapat diindari. “ Konflik tentu saja tidak dapat kita hindari, namun yang kita lakukan saat ini adalah meminimalisir adanya korban baik dari gajah dan manusia. Kita berharap bagaiamana gajah dan manusia dapa hidup berdampingan,” sebutnya.

Data yang didapatkan dari BTNTN, populasi gajah yang tersisa saat ini diperkirakan hanya tersisa 150-200 ekor di blok hutan Tesso Nilo. Kematian gajah dalam kurun waktu lima tahun terakhir di 2014. Tony menyebutkan data yang mereka miliki tercatat 19 ekor gajah mati di lanskap Tesso Nilo karena konflik dan perburuan. Jumlah ini meningkat tajam dibanding dua tahun sebelumnya. Kondisi lanskap Tesso Nilo yang mengalami alih fungsi masif telah menyebabkan hilangnya habitat alami gajah sumatera.

Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini memiliki tingkat keragaman hayati sangat tinggi. Ada sekitar 360 jenis flora tergolong dalam 165 marga dan 57 suku untuk setiap hektarnya. Tesso Nilo juga dikenal sebagai habitat bagi beraneka ragam jenis satwa liar langka, seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), berbagai jenis Primata, 114 jenis burung, 50 jenis ikan, 33 jenis herpetofauna dan 644 jenis kumbang.

Patroli gabungan yang dilakukan terbukti menekan laju kematian gajah akibat konflik. Tony menyebutkan kematian gajah akibat konflik bahkan bisa ditekan dalam angka nol sepanjang 2017. “Data yang kita miliki terahadap jumlah kematian gajah akibat konflik dari tahun 2012 menunjukkan progress yang luar biasa. Di 2012, kematian gajah akibat koflik 12 ekor, 2013 ada 15 ekor, puncaknya 2014 ada 19 ekor gajah yang mati, 2015 menurun menjadi 7, tahun lalu hanya 2 ekor gajah yang mati akibat konflik. Bahkan di sepanjang 2017 kita tidak menemukan ada gajah mati akibat konflik,” jelasnya.

Facebook Comments