Wednesday, December 12, 2018
Home > Literasi > Pendidikan > Jejak Peradaban Manusia Purba Di Museum Sangiran

Jejak Peradaban Manusia Purba Di Museum Sangiran

Jejak Peradaban Purba Manusia Di Museum Sangiran

Pada tahun 2017, Museum Manusia Purba Sangiran – yang merupakan bagian dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia – menggelar pameran lima kota di Sumatra. Ada pun kota yang dijadikan tempat singgah pameran antara lain, Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, dan Bandar Lampung. Tujuan pameran ini sendiri untuk menyebarluaskan informasi akan pentingnya Situs Sangiran.

Pameran tersebut menampilkan beberapa jejak peradaban manusia purba yang ditemukan di Sangiran, berupa fosil:  fauna di lingkungan laut, fauna lingkungan rawa, fauna lingkungan darat, beberapa tengkorak manusia purba , tulang paha, persenjataan, tak lupa pula replika manusia purba Homo Erectus yang terdiri dari laki-laki, anak laki-laki, perempuan dewasa. Fosil dan replika manusia purba ini menjadi penanda jejak perkembangan kebudayaan manusia dan alam.

Situs Sangiran telah ditetapkan sebagai salah satu situs warisan budaya dunia pada tahun 1996 oleh UNESCO (United National Education, Scientific and Cultural Organization) sebagai badan khusus PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), yang membantu PBB dalam peningkatan kerja sama antarnegara dan bangsa di dunia melalui bidang pendidikan, ilmu, dan kebudayaan. Ini dikarenakan situs Sangiran memiliki potensi sebagai situs manusia purba dan memiliki nilai penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Indonesia sendiri pada tahun 1977 telah menetapkannya sebagai kawasan cagar budaya.

Penemuan Situs Sangiran telah dimulai sejak tahun 1864 oleh kelompok peneliti pada masa kolonial Belanda, namun pada saat itu baru temuan berupa fauna. Sampai kemudian E Dubois diteruskan oleh Von Koenigswald yang memetakan dan mengkaji lebih dalam keberadaan Situs Sangiran.  Keduanya berhasil menemukan peralatan dan sisa-sisa manusia purba. Situs Sangiran semenjak itu menjadi perhatian dunia internasional, dan dianggap penting di dunia.

Lokasi Sangiran sebagai tempat ditemukannya jejak peradaban purba manusia disebut sebagai pusat perkembangan manusia di dunia. Keberadaannya memberikan petunjuk tentang eksistensi manusia sejak seratus lima puluh ribu tahun yang lalu. Di Indonesia dan Asia, Situs Sangiran merupakan kompleks manusia purba di zaman Pleistosen (zaman es dan perubahan iklim terjadi pada masa dua juta hingga sepuluh ribu tahun yang lalu) yang paling lengkap dan penting.

Di zaman Pleistosen tidak hanya ditandai dengan perubahan iklim yang menyebabkan perubahan geografi lingkungan saja, tetapi juga migrasi besar-besaran fauna dan manusia purba. Perubahan geografi dan migrasi ini menandai evolusi peradaban manusia dan lingkungan sekitarnya. Evolusi ini merupakan rekam jejak aspek evolusi fisik dan budaya manusia dalam konteks natural serta periode yang panjang. Pada evolusi ini, manusia dan fauna hidup berdampingan secara harmonis meskipun sebagian fauna dijadikan objek berburu manusia purba.

Yang menarik dari pameran ini, tidak hanya ditemukan replika manusia purba Homo Erectus-nya, tetapi juga ada beberapa  fosil tengkorak manusia purba . Replika dan  fosil tengkorak manusia purba tersebut menghantarkan pemahaman akan adaptasi manusia pada lingkungannya. Adaptasi ini akhirnya membentuk perkembangan kebudayaan manusia dan peralatan kerja zaman purba yang menunjukkan penanda hubungan kerja serta produksi antara manusia dengann alam dan antarmanusia itu sendiri. Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa manusia tidak berdiri sendiri. Keberadaan manusia sebelumnya telah mewariskan perkembangan peradaban manusia hari ini berikut kemampuannya untuk beradaptasi.

Facebook Comments