Thursday, July 19, 2018
Home > Literasi > Cerita > Kisah Nahkoda

Kisah Nahkoda

Sebuah biduk tak lagi memiliki arah karena nahkoda melupakan peta perjalanannya, tertinggal saat mencicipi semerbak aroma kopi tetangga yang sangat jauh. Peta tertinggal, nahkoda kebingungungan. Perjalanan itu menjadi tak lagi jelas arah dan tujuannya. Tiga penumpang itu tak lagi percaya. Mereka minta segera turun di pelabuhan terdekat yang dapat disinggahi. Penumpang tak mau berlayar tanpa tahu kapan harus menepi.

“Perjalanan konyol macam apa ini,” kata seorang penumpang yang geram melihat nahkoda termangu di atas singgasananya.

“Meski kami ini hanya penumpang, kami punya hak untuk menentukan arah mana yang hendak kami tuju. Kami naik perahu ini karena kami pikir Anda layak dipercaya mengantarkan kami ke tempat terakhir sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat,” gerutu seorang penumpang yang kesal saat nahkoda mulai bingung menentukan arah.

Para penumpang terus berkesah. Dengan egonya, sang nahkoda tak menerima ocehan penumpangnya.

“Ah, tahu apa kau tentang perjalanan. Tidurlah saja, tak perlu kau tengok kiri kanan. Membawa biduk ini adalah urusanku. Kau hanya penumpang, tak perlu mengaturku! Jika kau tak senang, turunlah sekarang! Sebab aku masih ingin berlayar sesukaku. Tak suka aku berlayar dengan penumpang cerewet macam kau ini,” sanggah si nahkoda.

“Apa? Kau bilang aku cerewet? Aku bukan cerewet, aku hanya mengingatkanmu jika kau telah keluar dari jalur yang hendak kita tuju. Waktu keluar dari dermaga, biduk ini hendak turun di surabaya. Mengapa malah hendak ke Priok? Padahal kau tahu bila tak ada penumpangmu yang turun di sana. Jika hendak kau ke Priok, turunkanlah kami dulu! Jangan kau bawa serta! Karena kami tak ingin penat dalam perjalanan yang bukan tujuan kami,” ucap penumpang.

“Oh, jadi kau menegurku? Tak suka dengan caraku? Aku memang ingin ke Priok. Aku terlupa jika kau dan anak-anakmu hendak ke Perak. Tapi tak masalah kuturunkan kau di Priok saja. Kau bisa naik kereta api dari Stasiun Senen ke Surabaya. Atau naik bis Patas dari terminal. Kau bisa turun di Terminal Purabaya atau Bungurasih. Tapi terserahlah kau mau naik apa. Pastinya aku tak akan kembali ke Tanjung Perak. Kasihan calon penumpangku sudah lama menunggu di Priok,” ujar nahkoda yang tak mau kembali pada tujuan semula.

“Ok baiklah. Aku ikuti katamu. Karena kami hanyalah penumpang, tak perlu kau risaukan dengan cara apa kami hendak melanjutkan perjalanan. Pastinya, aku akan membawa anak-anakku selamat hingga tujuan. Silakan lanjutkan perjalananmu! Jangan membuat calon penumpangmu lama menunggu! Pastikan kau berlayar di jalur yang benar! Jangan salah arah lagi karena lautan ini tak selamanya teduh. Gelombang dan badai bisa saja datang menyapa. Jika kau berlayar tanpa peta lagi, aku takut kau akan membawa calon penumpang ke tempat yang tak ingin mereka tuju. Atau bisa saja di tengah keraguanmu itu, gelombang dan badai datang menyapu. Awas, lautan ini buas! Dia bisa memangsa siapa saja yang tak tahu cara berlayar. Apalagi nahkoda yang tak teguh pada tujuan sepertimu. Lautan hanya terkalahkan oleh mereka yang teguh pada prinsip dan fokus pada tujuan yang hendak dituju. Riak ombak, gelombang, dan badai adalah serba-serbi yang harus dilewati oleh mereka yang mengarungi samudera. Bahtera akan tetap melaju jika nahkoda tak ragu,”jawab si penumpang.

“Untuk apa aku berdebat dengannya, hanya membuang waktu. Mungkin nahkoda ini telah tergiur dengan calon penumpang  yang katanya sudah menunggunya di Priok,” bisik lirih si penumpang pada dirinya sendiri.

“Aku harus bergegas. Jika tidak, akan tertinggal kereta pertama yang akan ke Surabaya,” batin si penumpang sambil mulai mengemasi barangnya.

Akhirnya, penumpang dan kedua anaknya turun di Priok. Nahkoda terlihat cuek. Tak peduli gerutuan dan umpatan penumpang yang merasa tertipu.

“Aih, cepat turunlah kau dan anak-anakmu itu! Calon penumpangku sudah tak sabar menungguku,” tegur nahkoda itu.

Ketika tiga penumpang turun, mereka memandangi biduk yang diam itu. Sungguh, tempat ini tak pernah terbayang di benak mereka. Tapi demi kedua anaknya, perempuan itu berusaha tegar. Ia meyakinkan anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, semuanya akan baik-baik saja. Perempuan itu menatap kedua belahan jiwanya.

“kita akan tetap sampai di Surabaya, Nak. Meski harus mengarungi bahtera yang lain,” ucap sang ibu. Anak-anak itu menatap dalam matanya.

*

Nahkoda bersuka. Sambil bersiul, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dipakainya kaos hitam dan celana jeans kesayangannya. Tak lupa topi yang melingkar di separuh kepalanya.

“Aku harus terlihat rapi di hadapan calon penumpang ,” katanya sambil menatap wajah tirusnya di dalam cermin, yang tertutup debu akibat terlalu lama tak dibersihkan. Setelah siap, nahkoda bergegas turun. Ia melayangkan pandang ke semua penjuru pelabuhan.

“Di mana calon penumpang  itu, bukankah ia sudah berjanji menungguku di Tanjung Priok dekat container warna merah milik pedagang rempah?” ujar nahkoda yang mulai merasa resah karena tak kunjung menemukan calon penumpang nya.

“Tak apalah, mungkin calon penumpang  itu pun sedang bingung mencariku karena memang belum pernah bertemu. Aku dan dia ‘kan hanya saling kenal di dunia maya, belum pernah bertatap muka” bisik nahkoda meyakinkan diri.

Dengan gontai, ia melangkahkan kakinya menuju warung kopi terdekat. Ia hubungi calon penumpang nya jika saat ini ia telah lama menunggu di warung kopi. Di sana, ia memesan secangkir kopi hitam.

Tersebab ia belum punya nomor HP calon penumpang  itu, lalu diambilnya telepon genggam dari saku celana dan dibukanya messengger untuk menginbok penumpang baru.

“Kutunggu di warung kopi bertenda biru. Aku sudah tak sabar ingin melihat langsung paras cantikmu itu” pesan itu meluncur seketika.

Kemudian ia menyecap kopi hitam kesukaan sambil memantik sebatang rokok. Ditatapnya telepon genggam yang terdiam di atas meja. Dahinya mengerut.

”Pesanku sudah masuk, tapi mengapa belum dibaca calon penumpang itu? keluh si nahkoda yang mulai gelisah dibangkunya.

Digunakannya fasilitas mesengger untuk menelpon calon penumpang  itu, tapi tak juga diterima panggilannya. Nahkoda mulai merasa resah. Kopi yang diminumnya tak lagi terasa nikmat. Kegelisaannya semakin kentara dari asap rokok yang tak hentinya disemburkan menjadi gumpalan asap.

“Aih, apa pula yang terjadi ini? Ke mana perempuan itu? Tak tahukah dia jika aku sudah penat menunggunya disini? Sudah kembung perut ini oleh lima cangkir kopi,” gerutu kecil si nahkoda.

Kembali dia menatap layar telepon genggam nya, tapi tetap tak ada tanda bahwa perempuan calon penumpang  itu membalas pesannya.

*

Dua jam sudah, ia menunggu. Karena malu pada pemilik warung yang sewot ia pun membayar tagihan dan bergegas kembali ke bahteranya.

“Kutunggu saja dia di bahteraku,” kata nahkoda itu sembari melangkahkan kakinya.

Waktu begitu lambat merayap. Hari telah berganti malam, tapi calon penumpang itu tak kunjung datang. Pesannya juga tak berbalas. Teleponnya selalu berakhir sama dengan pesan yang ia kirim penuh cinta.

Hari berganti hari. Si nahkoda masih menanti. Wajahnya yang dulu sumringah saat bahtera sandar awal di pelabuhan, kini telah kusam dan penuh guratan. Pakaiannya pun jadi lusuh. Sebulan dalam penantian, si nahkoda beralih menjadi kuli angkut pelabuhan. Sekadar mencari tambahan penghasilan. Maklumlah uang di kantongnya ketika itu hanya mampu bertahan seminggu.

Waktu itu, nahkoda berkhayal akan bertemu dengan calon penumpang yang dapat memberinya lebih daripada penumpang pertama dan kedua anaknya, yang telah ia turunkan tidak di tempat tujuannya.

Ada rasa sesal menyusup sanubarinya. Ditatapnya wajah kusam, rambut gondrong awut-awutan serta pakaian kumal yang melekat di badannya.

“Sudah jadi apa aku ini? Ke mana calon penumpang itu?” bisiknya lirih.

“Apa yang hendak kulakukan sekarang? Tak mungkin pula aku harus menjadi kuli pelabuhan sepanjang waktu,” ia bermonolog di tengah keputusasaannya.

Calon penumpang  itu tak lagi dapat dijumpai. Harapan melihat wajah cantik dan berlayar dengan penumpang idaman hilanglah sudah. Lenyap bersama dengan telepon genggam si nahkoda yang telah habis terjual bersama dengan seluruh barang berharga miliknya.

Kini yang tersisa hanya diri si nahkoda dan bahteranya yang tak lagi dapat kemana-mana. Habis sudah bahan bakar dan perbekalan untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Terlintas di benak sang nahkoda untuk mencari penumpang pertama dan kedua anaknya. Nahkoda ingin meminta maaf karena sikap arogannya. Calon penumpang  dunia maya itu telah membutakan matanya. Ia begitu terkesima dengan raut cantik dan pesan-pesan menarik yang selalu menghiasi teleponnya.

Tapi ke mana nahkoda hendak mencari? Ia tak tahu alamat rumah penumpang pertama itu. Yang ia tahu, penumpang pertama dan kedua anaknya hendak ke Surabaya. Ia sangat menyesali diri. Sekian lama berlayar dengan penumpang pertama, tapi tak pernah tau alamat tinggalnya.

Nahkoda sadar akan kealpaannya. Jika selama berlayar, ia tak menjejak alam nyata. Ia mengabaikan penumpang pertama karena terbuai teman dunia maya yang begitu memikat hatinya.

“Apalah dayaku sekarang ini, nasi telah menjadi bubur. Air ditempayan itu telah kutumpahkan karena mengharap hujan besar yang akan datang. Tapi hujan itu tak juga mengguyur tubuhku, meski waktu sebulan telah berlalu. Tinggallah kini diriku yang kusam dan gersang hati,” ia merenungi nasibnya.

Kini hidupnya sangat menderita. Menjadi kuli kasar di pelabuhan. Tak henti-hentinya, ia tawarkan bahtera kepada siapa saja yang hendak membeli. Atau mungkin ada calon penumpang  lain yang sudi bersamanya melanjutkan perjalanan lagi. Tapi siapa yang hendak sudiberlayar bersama lelaki yang sudah tampak kumuh dan tak pantas disebut nahkoda lagi?

ilustrasi: beaufortncevents.com

Facebook Comments