Wednesday, August 15, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Layanan Prabayar Sastra Indonesia

Layanan Prabayar Sastra Indonesia

Salah satu angkatan sastra Indonesia dalam periodisasi sastra Indonesia adalah Angkatan ’70 atau dikenal dengan sastra kontemporer. Salah satu tokoh sentral angkatan ini adalah Sutardji Calzoum Bahri (SCB) dengan kredo puisi mantra. SCB dianggap salah satu sastrawan yang melahirkan “pembaruan” dalam puisi Indonesia. Sebelum itu, saya mencatat lompatan pencapaian dalam puisi Indonesia ada pada dua tokoh, yakni Amir Hamzah kemudian Chairil Anwar sebagai tonggak puisi modern Indonesia yang tidak lagi “patuh” pada kaidah konvensional perpuisian Indonesia.

Setelah angkatan kontemporer sastra Indonesia, muncul Afrizal Malna (AM) yang oleh Korrie Layun Rampan digolongkan dalam sastra Indonesia Angkatan 2000. Jika Chairil Anwar mendobrak tatanan bahasa puisi lama dan SCB mengembalikan ruh puisi sebagai mantra dengan membebaskan kata-kata dari beban makna, Afrizal Malna menunjukkan kekacauan bahasa dalam puisinya. Eksperimen bahasa dalam puisi AM dihadirkan seolah ingin mengejek strukturalisme. Berbagai kemungkinan pengucapan ia lakukan seperti puisi “Tidak Ada Artinya: Satu Puisi Berulang” dalam antologi Museum Penghancur Dokumen. Bahkan, baru-baru ini di harian Kompas, 13 Januari 2018, AM memasukkan link internet dalam puisinya. Semua hal menjadi bahasa dan dibahasakan dalam puisi-puisi AM.

Dalam perjalanannya, sejarah sastra Indonesia selalu dipenuhi pesta gagasan. Di era digital, pertemuan gagasan bukan monopoli karya tulis ilmiah / esai di koran maupun jurnal-jurnal, tetapi status-status di medsos adalah gagasan-gagasan yang tidak kalah menariknya melahirkan keterkejutan.

Memasuki era serbacepat ini, kondisi kesastraan pun semakin “semarak”. Inilah era cepat saji kesastraan Indonesia dalam gerbang budaya instan. Budaya instan ini telah menumpuk dalam pola pikir manusia dan berlumut-lumut mengaburkan cara pandang manusia pada proses yang alamiah. Begitulah era sastra kekinian berada, nyaris tanpa kontemplasi. Buku-buku dengan mudah dicetak. Namun, miskin gagasan dan miskin tawaran estetik.

Rupa-rupanya, ada yang memanfaatkan era ini. Bukan dalam ruang kontemplatif seperti penyair merespons dan memaknai realitas untuk menjadi bagian dari prosesnya sekaligus menjaga jarak dengannya, tetapi kemudahan ini digunakan sebagai ruang “strategi kebudayaan” manipulatif untuk mengukuhkan kedirian seseorang yang penuh dengan delusi.

Seorang manipulator sastra – Dr. Denny J.A. – dengan kuasa materinya muncul berbekal kondisi zaman now yang serbainstan ini. Semua bermula pada pengukuhannnya sebagai sastrawan berpengaruh dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh tahun 2014. Denny J.A. ada di dalamnya meskipun publik tidak mengenalnya sebagai bagian dari sastra Indonesia, sebagaimana nama-nama yang sudah saya sebut di atas. Adalah Maman Mahayana yang dengan tegas keluar dari Tim 8 yang mengurasi sastrawan berpengaruh itu dan menyatakan mengembalikan uang sejumlah 25 juta rupiah.

Denny J.A. menokohkan dirinya dengan memanfaatkan kondisi kemiskinan kebanyakan sastrawan. Saat ini, ia memberikan layanan prabayar lima juta rupiah agar publik sastra menulis puisi footnote sebagai bagian dari meneguhkan bahwa ia berpengaruh. Ya, bagi saya, apa yang diklaimnya sebagai puisi esai, tidak lebih dari puisi footnote yang puisinya sendiri sangat buruk. Sangat menyedihkan!

Pikiran yang berlumut-lumut oleh serbainstan ini juga menutupi nurani manusia untuk bergerak. Ada sesuatu yang menyalahi proses kebudayaan. Ada manipulasi yang jelas di depan mata. Ada kejahatan kebudayaan. Ada klaim-klaim delusi atas “penemuan” maupun label “pembaruan.” Namun, yang diagung-agungkan sebagai sastrawan, publik sastra, maupun akademisi sastra sepertinya acuh tak acuh.

Apa sudah ada pernyataan sikap dari gerombolan sastra di Jakarta yang selalu mengadakan kajian sastra yang konon kaum in-telek itu? Apa sudah ada pernyataan sikap dari kampus-kampus yang ada jurusan sastranya itu? Fenomena ini bukan lagi pertemuan gagasan, melainkan bagaimana manipulasi sastra Indonesia ini terus dilawan dengan pernyataan sikap.

Manipulasi Denny J.A. tidak bisa disetarakan dengan polemik tentang kiblat kebudayaan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane tahun 1930-an. Atau polemik kebudayaan tahun 1960-an antara realisme sosialis dengan humanisme universal. Atau polemik sastra lendir beberapa tahun silam. Kontroversi manipulasi sastra Denny J.A. terlalu gagah untuk disebut polemik. Posisinya masih pada tataran kontroversi.

Membiarkan manipulasi sastra terus bergulir tanpa pernyataan menolak adalah kejahatan kebudayaan. Kita tentu tidak mengharapkan anak cucu kita menemukan Denny J.A. sebagai sastrawan berpengaruh di buku pelajaran sekolahnya. Alih-alih bahwa di seorang sastrawan.

Budaya instan ini telah mengaburkan logika manusia sehingga Denny J.A. dan kroninya menganggap arena ini seharusnya buku lawan buku, esai lawan esai, gagasan lawan dengan gagasan. Padahal, seperti analogi Malkan Junaidi tentang makanan berbahaya, yang perlu dilakukan adalah

“Menyelidiki benar tidaknya dugaan itu. Ambil sampel, bawa ke dinas kesehatan! Atau kalau tak mau ribet, bisa melakukan aduan via telepon atau SMS ke pihak berwenang, yakni pemeriksaan dan pembuktian adalah langkah pertama. Jika sudah terbukti berbahaya, maka harus ikut menyebarkan pengumuman. Jelaskan di pengumuman itu kenapa makanan tersebut berbahaya. Ini bagian dari tanggung jawab moral dan sosial.”

Sungguh, tidak ada yang lebih menyedihkan dari kondisi ini, melainkan diam dan membiarkan kejahatan manipulasi sastra Indonesia tanpa perlawanan. Hanya ada satu kata, “lawan!” Begitu kata penyair yang sejatinya berpuisi untuk memotret batin realitas sosial masyarakatnya, Wiji Thukul.

Catatan:

Beberapa kata, frasa, klausa, maupun kalimat yang ditulis dalam esai ini mengutip status FB Malkan Junaidi. Istilah  prabayar, saya temukan kali pertama dari status FB Saut Situmorang.


Biodata Penulis

Umar Fauzi Ballah, esais kelahiran Sampang Madura. Menamatkan studi Sastra Indonesia di Unesa. Saat ini mengelola Komunitas Stingghil, Sampang. Penulis buku puisi JalanKepiting ini adalah penikmat masakan enak.

Facebook Comments