Tuesday, June 19, 2018
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Negeri Sejuta Warung Kopi

Negeri Sejuta Warung Kopi

Negeri Sejuta Warung Kopi1

Tanpa pikir panjang, Aceh menjadi tujuan utama pasca mengikuti kegiatan bertema lingkungan di Medan selama 3 hari. Dari hotel tempat menginap, saya langsung menuju Loket Bus Kurnia, dan mengambil tiket perjalanan Medan – Banda Aceh pada pukul 21.00 WIB. perjalanan memakan waktu dua belas jam. Semua bus Medan – Aceh terjamin nyaman, ditambah kondisi jalan yang mulus dan bebas jerawat.

Perjalanan berakhir di Terminal Batoh, Banda Aceh. Seperti diketahui, di Medan dan Aceh, becak motor mendominasi sarana transportasi dalam kota. Hanya saja, biayanya tidak ramah penumpang. Minimal Rp20.000,00 untuk jarak yang bisa dibilang sekali lempar batu. Untungnya, Aceh sudah punya transportasi ojek online.

Ini ketiga kalinya saya menjamah bumi Serambi Mekkah. Kembali ke Aceh seperti halnya pindah ke bagian dunia yang lain: terbebas dari hiruk pikuk panik di balik beberapa kronik konflik. Saya berlabuh di rumah kawan lama yang berada di Lhong Raya. “Kau lagi,” ucap Santi membuka cerita perjumpaan.

Dengan ceriwis, Santi bercerita banyak hal. Jadwal kedatangan kali ini sedikit mengecewakan. Sebab tidak pas dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW – yang perayaannya bisa sampai dua pekan. Acara budaya yang bisa dibilang gabungan tradisi Islam dan kuliner Aceh, yang bisa disantap tanpa bayar. Juga ada Sail Sabang 2017, yang konon menghadirkan berbagai kapal pesiar dari negeri-negeri luar.

Tiga tahun lalu saat pertama kali ke Aceh, rumah Santi juga menjadi tempat berteduh. Dia mengajak berkeliling sepeda sekadar melihat-lihat Banda Aceh dan sekitarnya. Namun, kali ini dia enggan bernostalgia dengan kayuhan sepeda. “Sudah masuk musim hujan, nanti kita banyak lambat,” ungkapnya. Maka kami menelusiri Aceh dengan kereta (sebutan untuk sepeda motor).

Santi selalu masak makanan khas Aceh untuk menjamu kawan-kawan traveller yang bertamu di rumahnya. Menunya seperti asam ke’eung, telur dadar Aceh, rujak salak Aceh dengan plik’u dan lain – lain. Khayalan pun akhirnya terkabul.

Hari pertama di Banda Aceh, kira – kira baru sepuluh menit berkendara, perjalanan kami menuju museum disambut hujan mendadak. Beberapa ruas jalan sudah tergenang air. Potret kota tidak jauh dari bencana buatan: banjir karena genangan air. Sampah pun disumpahi. Lantas, siapa yang salah?

Museum Aceh mengisahkan benda-benda pusaka, potret masjid dari zaman ke zaman, potret pahlawan hingga pernik pernikahan. Ada pula Rumoh Aceh yang diangkut dari Paviliun Aceh pada Pameran Kolonial (De Koloniale Testooteling) di Semarang dan diresmikan di Banda Aceh pada tahun 1915. Rumoh Aceh berbentuk segi empat menghadap kiblat. Terdapat ruang besar sebagai tempat menjamu tamu di bagian depan, ruang tengah sebagai ruang keluarga, dan di bagian belakang terdapat dapur lengkap dengan peralatan dari tembikar dan bumbu dapur.

Langit masih gelap. Untuk menuju Masjid Baiturrahman, kami mesti menerobos gerimis. Tiga belas tahun lalu, masjid inilah yang menjadi tempat berteduh dan berlindung para korban Tsunami. Hingga kini, masjid tersebut tetap kokoh dengan infrastruktur yang sangat modern. Bayangkan, parkirannya seperti parkiran mal. Ada portal otomatis yang terletak di underground.

Disinyalir, pengunjung yang hadir di masjid ini sekitar seribu orang per hari. Jika ingin salat berjamaah, jangan lupa menggunakan rok dan membawa mukenah bagi wanita! Dikhawatirkan jamaah tidak kebagian mukenah, mengingat jumlah pengunjung yang berlimpah.

Kalau Sahabat Puan main ke Aceh, selain mampir ke museum dan masjidnya, tak lengkap tanpa menghabiskan hari di warung kopi. Sesuai julukannya, “Negeri Sejuta Warung Kopi”. Pada setiap sudut jalan akan sangat mudah ditemui warung-warung kopi. Entah berapa lama waktu yang akan dihabiskan di sana. Orang-orang seperti sulit beranjak. Lupakan sejenak teknik seduh manual brew atau latte art yang sedang booming di kota-kota seberang! Kopi tarik ala Aceh tetap menjadi pilihan utama. Sanger, Pancong, mie Aceh, dan roti srikaya. Siapkan perutmu, kawan!

Obrolan di warung kopi bukanlah hal sepele. Semua orang dapat membahas apa pun, bahkan dari masakan hingga politik yang hangat. Hangat kopi kali ini ditemani seorang mahasiswa ekonomi pascasarjana. Ketidakpercayaannya terhadap berita yang menyebutkan bahwa Aceh adalah provinsi termiskin di Sumatra menjadi awal cerita. Si kawan menyebutkan bahwa trend penjualan mobil yang meningkat tiap bulannya. Selain itu, masyarakat sangat konsumtif saat menghabiskan hari-harinya di warung kopi. Kategori miskin mungkin perlu ditelisik lebih dalam, terlebih penggunaan kata miskin sangatlah sensitif. “Mana datanya?” ucap Santi dengan penuh sangsi.

Silaturahmi kami kemudian berlanjut ke bagian timur Nanggore, tepatnya di Pantai Lhok Mee, Desa Lamreh, Kabupaten Aceh Besar. Pantai ini hanya dapat dicapai dengan kendaraan pribadi dengan jarak 40 km dari Banda Aceh. Jalannya sangat mulus sehingga perjalanan memakan waktu satu jam saja. Dalam perjalanan menuju pantai ini, kami melewati pantai tempat sepuluh ikan paus yang  terdampar di awal November  2017 lalu. Tak dinyana, kehadiran paus-paus tersebut menjadi tanda tanya bagi masyarakat Aceh. Apakah akan ada bencana lagi? Apalagi ketika sepuluh paus diiring pulang ke laut. Ia malah kembali lagi hingga akhirnya empat ekor diantaranya harus meregang nyawa. Dalam sisi lain, masyarakat Aceh tetap mengenang Desember sebagai waktu bencana.

Pemandangan pohon Geurumbang menjadi daya tarik utama dari pantai Lhok Mee. Jejeran Pohon jenis Avicennia marina ini tumbuh di dalam air asin. Ia memberi warna lain dalam tosca laut. Bila sisi timur Pulau Sumatra didominasi lumpur, kali ini malah pasir putih. Timur Sumatra memang rumah berbagai mangrove, sekaligus pintu perdagangan dengan bangsa luar yang masuk dalam jalur Sutera. Salah satu pelabuhannya berada di Teluk Krueng Raya. Sekarang disebut Pelabuhan Malahayati. Lokasinya cukup mundur 2 km saja dari pantai ini.

Menelusuri Aceh takkan ada habisnya. Apalagi vakansi kali ini, setiap harinya hujan turun tanpa beri ampun. Bahkan untuk perjalanan ketiga ini, alam liarnya belum sempat dijamah sama sekali. Keinginan masih menyisa untuk menelisik budayanya. Apapun itu, selalu sisakanlah rindu dan tanda tanya untuk Aceh agar kembali bertemu.

“Kencangkan sabuk pengaman” ucap pramugari di dalam pesawat. Dan Aceh pun sudah sekian meter di bawah kaki.

Facebook Comments