Home > Sudutpuan > Terkait Petisi Tolak Puisi Esai, Ini Kata Fatin Hamama

Terkait Petisi Tolak Puisi Esai, Ini Kata Fatin Hamama

fatin

Pasca munculnya nama-nama penulis puisi esai perwakilan tiga belas provinsi di Indonesia, bertubi-tubi bermunculan status facebook yang pro dan kontra terkait penulisan buku puisi esai nasional yang digagas oleh Denny J.A.

Dari penelusuran puan.co ada berbagai pihak yang menolak proyek penulisan buku puisi esai jilid II ini, antara lain Majelis Sastra Bandung, IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia), berbagai komunitas sastra, dan tak ketinggalan perkumpulan penyair muda Indonesia.

Perkumpulan penyair muda Indonesia dengan terang-terangan membuat petisi penolakan atas penulisan buku puisi esai nasional. Petisi tersebut telah ditandatangani oleh 549 orang. Hingga saat ini, penandatanganan petisi masih terus dilakukan di change.org.

Setelah isi petisi sempat viral di dunia maya, tim redaksi puan.co mencoba menghubungi Denny J.A. via telepon dan WA, namun tidak mendapat respons. Kemudian tim redaksi mencoba menghubungi Fatin Hamama, penulis buku puisi berjudul Papyrus sekaligus koordinator penulisan buku puisi esai nasional untuk Indonesia bagian barat.

Fatin mengatakan “Para penulis puisi esai bebas saja berkarya dan berkreasi. Kemunculan sesuatu yang baru itu memang terkadang menuai kontroversi. Berbeda pendapat sah-sah saja, asalkan menggunakan bahasa yang santun, yang tidak melukai perasaan orang lain.”

“Dunia ini berubah. Untuk itu, kita perlu bergerak kreatif dan harus siap dengan perubahan. Mengapa orang dilarang berkreasi menulis puisi esai? Sementara penulisan ini tidak dilarang dalam undang-undang. Kelahiran puisi esai tidak serta-merta menggerus puisi-puisi konvensional. Mengapa kita harus terpecah belah? Indonesia ini beragam. Orang berhak menulis puisi saja selama tidak menyalahi undang-undang,” ucap Fatin.

Facebook Comments