Wednesday, October 17, 2018
Home > Lingkungan > Trend Kreasi Busana Berbahan Daur Ulang Sampah

Trend Kreasi Busana Berbahan Daur Ulang Sampah

Beberapa dekade ini, kampanye kepedulian untuk menjaga lingkungan kian marak dan masif. Berbagai cara dilakukan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Terutama kepedulian dalam mengelola sampah hasil limbah rumah tangga. Tidak dapat dipungkiri bahwa rumah tangga dengan pola-pola konsumtif menghasilkan sampah paling banyak, terutama sampah berbahan dasar plastik. Sampah plastik yang berbentuk kantong, kemasan, botol dan lain-lain merupakan sampah yang sangat sulit terurai. Kebiasaan masyarakat dalam membakar sampah jenis ini malah akan menimbulkan masalah lain. Ketika dibakar, beberapa bahan plastik justru mengeluarkan zat yang berbahaya, yang senyawanya mengambang di udara. Disamping itu, sisa zat di dalam plastik, yang berbentuk cairan kimia akan lebih berbahaya jika dibakar. Untuk mengatasi masalah ini, banyak diterapkan kampanye daur ulang limbah sampah plastik dan turunannya. Di Indonesia, terlebih dahulu trend mengolah limbah plastik menjadi produk yang dapat digunakan kembali seperti tas, dompet dan lain-lain. Namun akhir-akhir ini, kampanye kepedulian terhadap pengelolaan sampah telah merambah dunia fesyen. Maka dari itu, kini makin marak kreasi busana daur ulang sampah yang dikampanyekan pada lomba-lomba bertema lingkungan maupun pada event yang menunjukkan adanya kepedulian terhadap isu lingkungan. Salah satu kampanye yang diadakan, yakni dengan menggelar event Sanitasi Expo 2017, yang dihelat oleh Satker PSPL PUPR (Satuan Kerja Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Pemukiman Provinsi Jambi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat. Pada event tersebut diagendakan penampilan busana dari daur ulang sampah yang dikreasikan oleh dua puluh lima lebih sekolah di Provinsi Jambi, terutama sekolah menengah. Setidaknya ada tiga puluh lebih kreasi busana daur ulang sampah yang ditampilkan dalam pergelaran fashion show bertema lingkungan. Model yang terdiri dari murid-murid sekolah menengah di provinsi Jambi ini melenggak-lenggok dengan cantik membawakan beragam mode busana daur ulang sampah. Busana daur ulang sampah tersebut mereka kreasikan sendiri dengan dibantu oleh teman, orangtua, maupun kerabat. Waktu pengerjaannya pun relatif cepat. Ada yang hanya memakan waktu seminggu hingga dua minggu pengerjaan, yang sekaligus juga pencarian bahan daur ulang. Bahkan ada yang cuma tiga hari pengerjaan sekaligus pencarian bahan. Semua tergantung pada kerumitan kreasi busananya. Beberapa kreasi busana a da yang terbuat dari limbah plastik deterjen, karung beras, kantong plastik, bungkus permen, hingga makanan ringan. Ada juga yang menampilkan kreasi busana dari limbah kain perca, baju bekas, dan kepingan compact disk yang tidak terpakai lagi, serta tak lupa dari limbah kardus juga karung goni. Namun, kreasi busana dari daur ulang limbah koran yang dipadu dengan limbah plastik dan tikar bekas berhasil mencuri perhatian. Bentuk kreasi busana ini sangat unik dan cantik ketika dibawakan oleh model remaja profesional. Kebanyakan mereka berasal dari sekolah menengah kejuruan, yang memang akhir-akhir ini telah terbiasa mengkreasikan busana daur ulang sampah di sekolahnya untuk event dalam sekolah maupun event yang lebih luas. Pihak panitia Sanitasi Expo 2017 sendiri mengatakan bahwa event ini memang diperuntukkan bagi kampanye penyadaran lingkungan kepada generasi muda. Kreasi busana dari daur ulang sampah, tampaknya akan makin menjadi trend meskipun hanya sebatas pada event-event karnaval, festival, dan perhelatan bertema lingkungan. Apalagi ketika Indonesia telah memiliki Hari Peduli Sampah Nasional yang rutin diperingati setiap tanggal 21 Februari. Tentunya kampanye dalam halpengelolaan lingkungan melalui kreasi busana dari daur ulang sampah akan semakin ditingkatkan. Selain itu, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional merupakan pengingat bencana longsornya TPA (Tempat Pembungan Akhir) sampah di Leuwigajah Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 yang sampai menelan korban ratusan korban meninggal dan dua kampung hilang dari peta. Melalui fesyen, agaknya kampanye kepedulian terhadap sampah yang dihasilkan oleh limbah rumah tangga manusia zaman modern kini dapat mencapai pemahaman terhadap makna sampah yang tidak hanya sekadar sampah, namun juga dapat menghasilkan estetika yang menunjang peradaban manusia modern penghasil sampah terbesar beserta segenap permasalahannya. Kreasi busana daur ulang sampah tidak hanya sekadar tampilan apik mode fesyen daur ulang, namun juga sebagai otokritik terhadap industri dan manusia yang menyisakan limbah serta berjibaku dengan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan kemampuan bumi dalam menyangga kehidupan manusia. Kita saksikan trend kreasi busana daur ulang sampah ke depan. Apakah ada yang diperuntukkan kembali untuk siap pakai?

Beberapa dekade ini, kampanye kepedulian untuk menjaga lingkungan kian marak dan masif. Berbagai cara dilakukan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Terutama kepedulian dalam mengelola sampah hasil  limbah rumah tangga. Tidak dapat dipungkiri bahwa rumah tangga dengan pola-pola konsumtif menghasilkan sampah paling banyak, terutama sampah berbahan dasar  plastik.

Sampah plastik yang  berbentuk kantong, kemasan, botol dan lain-lain merupakan sampah yang sangat sulit terurai. Kebiasaan masyarakat dalam membakar sampah jenis ini malah akan menimbulkan masalah lain. Ketika dibakar, beberapa bahan plastik justru mengeluarkan zat yang berbahaya, yang senyawanya mengambang di udara. Disamping itu, sisa zat di dalam plastik, yang berbentuk cairan kimia akan lebih berbahaya jika dibakar.

Untuk mengatasi masalah ini,  banyak diterapkan kampanye daur ulang limbah sampah plastik dan turunannya. Di Indonesia, terlebih dahulu trend mengolah limbah plastik menjadi produk yang dapat digunakan kembali seperti tas, dompet dan lain-lain. Namun akhir-akhir ini, kampanye kepedulian terhadap pengelolaan sampah telah merambah dunia fesyen. Maka dari itu, kini makin marak kreasi busana daur ulang sampah yang dikampanyekan pada lomba-lomba bertema lingkungan maupun pada event yang menunjukkan adanya kepedulian terhadap isu lingkungan.

Salah satu kampanye yang diadakan, yakni dengan menggelar event Sanitasi Expo 2017, yang dihelat oleh Satker PSPL PUPR (Satuan Kerja Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Pemukiman Provinsi Jambi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat. Pada event tersebut diagendakan penampilan busana dari daur ulang sampah yang dikreasikan oleh dua puluh lima lebih sekolah di Provinsi Jambi, terutama sekolah menengah.

Setidaknya ada tiga puluh lebih kreasi busana daur ulang sampah yang ditampilkan dalam pergelaran fashion show bertema lingkungan. Model yang terdiri dari murid-murid sekolah menengah di provinsi Jambi ini melenggak-lenggok dengan cantik membawakan beragam mode busana daur ulang sampah. Busana daur ulang sampah tersebut mereka kreasikan sendiri dengan dibantu oleh teman, orangtua, maupun kerabat. Waktu pengerjaannya pun relatif cepat. Ada yang hanya memakan waktu seminggu hingga dua minggu pengerjaan, yang sekaligus juga pencarian bahan daur ulang.  Bahkan ada yang cuma tiga hari pengerjaan sekaligus pencarian bahan. Semua tergantung pada kerumitan kreasi busananya.

Beberapa kreasi busana a da yang terbuat dari limbah plastik deterjen, karung beras, kantong plastik, bungkus permen, hingga makanan ringan. Ada juga yang menampilkan kreasi busana dari limbah kain perca, baju bekas, dan kepingan compact disk yang tidak terpakai lagi, serta tak lupa dari limbah kardus juga karung goni.

Namun, kreasi busana dari daur ulang limbah koran yang dipadu dengan limbah plastik dan tikar bekas berhasil mencuri perhatian. Bentuk kreasi busana ini sangat unik dan cantik ketika dibawakan oleh model remaja profesional. Kebanyakan mereka berasal dari sekolah menengah kejuruan, yang memang akhir-akhir ini telah terbiasa mengkreasikan busana daur ulang sampah di sekolahnya untuk event dalam sekolah maupun event yang lebih luas.  Pihak panitia Sanitasi Expo 2017 sendiri mengatakan bahwa event ini memang diperuntukkan bagi kampanye penyadaran lingkungan kepada generasi muda.

Kreasi busana dari daur ulang sampah, tampaknya akan makin menjadi trend meskipun hanya sebatas pada event-event karnaval, festival, dan perhelatan bertema lingkungan. Apalagi ketika Indonesia telah memiliki Hari Peduli Sampah Nasional yang rutin diperingati setiap tanggal 21 Februari. Tentunya kampanye dalam halpengelolaan lingkungan melalui kreasi busana dari daur ulang sampah akan semakin ditingkatkan. Selain itu, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional merupakan pengingat bencana longsornya TPA (Tempat Pembungan Akhir) sampah di Leuwigajah Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 yang sampai menelan korban ratusan korban meninggal dan dua kampung hilang dari peta.

Melalui fesyen, agaknya kampanye kepedulian terhadap sampah yang dihasilkan oleh limbah rumah tangga manusia zaman modern kini dapat mencapai pemahaman terhadap makna sampah yang tidak hanya sekadar sampah, namun juga dapat menghasilkan estetika yang menunjang peradaban manusia modern penghasil sampah terbesar beserta segenap permasalahannya.

Kreasi busana daur ulang sampah tidak hanya sekadar tampilan apik mode fesyen daur ulang, namun juga sebagai otokritik terhadap industri dan manusia yang menyisakan limbah serta berjibaku dengan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan kemampuan bumi dalam menyangga kehidupan manusia.  Kita saksikan trend kreasi busana daur ulang sampah ke depan. Apakah ada yang diperuntukkan kembali untuk siap pakai?

Facebook Comments