Wednesday, August 15, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Yante Fagnan Yanad : Gerakan Orang Tua Sayang Anak

Yante Fagnan Yanad : Gerakan Orang Tua Sayang Anak

Yante Fagnan Yanad : Gerakan Orang Tua Sayang Anak

Miris rasanya melihat beragamnya tindak kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini. Yang lebih membuat hati pilu, pelaku kekerasan seringkali justru orang terdekat dari anak korban kekerasan itu. Ada ayah kandung yang tega menyalurkan nafsu bejadnya kepada anak perempuan yang seharusnya dilindungi. Ada ibu kandung yang justru membunuh anak secara tak manusiawi. Faktor apa pun yang melatari tindak kejahatan ini, tetaplah harus mendapatkan hukuman setimpal meski kita sangatlah mahfum. Ibu kandung yang tega melenyapkan darah daging sendiri, cenderung adalah perempuan korban kekerasan. Baik itu kekerasan fisik, psikis, maupun bentuk kekerasan lain semisal kekerasan sosial dan ekonomi. Pernahkah Sahabat Puan mendengar istilah kekerasan sosial dan ekonomi?

Faktor ekonomi dan sosial dapat memicu terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Semisal perempuan dan anak dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah atau keluarga dengan status broken home lebih rentan mengalami tindak kekerasan. Sulitnya mencari nafkah dengan tingkat kebutuhan tinggi yang harus terpenuhi dapat membuat seseorang depresi dan melampiaskan rasa frustrasinya karena tuntutan ekonomi kepada perempuan dan anak didalam rumahnya. Inilah yang dimaksud dengan kekerasan ekonomi. Atau pula dapat dimaknai sebagai suatu tindakan yang memperbudak perempuan untuk mencari nafkah, sedangkan sang lelaki sebagai suami hanya bermalas-malasan di dalam rumah. Perempuan harus banting tulang memenuhi kebutuhan ekonomi dan lelaki hanya menikmati. Kondisi seperti ini tergolong dalam kekerasan ekonomi yang dilakukan oleh suami kepada istrinya. Atau juga bisa dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Misalnya memaksa anak di bawah umur bekerja di luar batas kemampuan mereka.

Anak adalah titipan Ilahi yang harus kita jaga. Selayaknya barang titipan berarti bukanlah kita sang empunya. Ada Sang Pemilik Hidup yang sewaktu-waktu dapat mengambilnya. Karena itu, haruslah diperhatikan semua aspek tumbuh kembang anak. Hak anak sendiri secara yuridis formal diakui dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang sudah beberapa kali direvisi untuk meningkatkan upaya perlindungan terhadap anak itu sendiri. Selain diubah dengan Undang-UndangNo 35 Tahun 2014, di tahun 2016 juga lahir Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 01, yang secara tegas mengatur hukuman bagi pelaku tindak kekerasan seksual kepada anak. Hukuman kebiri secara kimiawi diharapkan dapat menimbulkan efek jera kepada pelaku. Akan tetapi, toh nyatanya berita dan informasi tentang tindak kejahatan seksual maupun kekerasan lainnya makinlah masif kita dengar. Lalu, adakah yang salah di negeri ini? Mengapa anak-anak selalu menjadi tempat pelampiasan ataupun sasaran kejahatan?

Dilatari oleh makin maraknya tindak kekerasan terhadap anak serta mengarusutamakan hak-hak anak, Pemerintah Kota Tual melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) menggulirkan satu inovasi yang dikenal dengan nama Yante Fangnan Yanad. Inovasi ini sudah berjalan di Tahun 2017 dan akan terus digalakkan untuk meminimalisasi tindak kekerasan terhadap anak khususnya di Kota Tual, Maluku.

Apakah itu Yante Fangnan Yanad?

Yante FangnanYanad berasal dari bahasa Kei atau bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Kei yang mendiami Kepulauan Kei di Maluku. Yante artinya keluarga, fangnan artinya sayang, dan yanad berarti anak. Jadi, Yante Fangnan Yanad adalah gerakan keluarga sayang anak.

Yante Fangnan Yanad dimaknai sebagai upaya untuk mengembalikan delapan fungsi keluarga yang sudah teralienasi semenjak hadirnya teknologi tinggi. Terkadang, orang tua menerjemahkan rasa sayang kepada anak dengan memberi semua yang anak minta. Padahal, tak semua yang anak mau itu, baik dan layak diberikan di masa tumbuh kembangnya. Gawai, misalnya. Banyak para ahli yang telah meneliti bahwa anak yang terlalu banyak terpapar radiasi gawai cenderung mengalami gangguan syaraf dan fungsi motoriknya. Selain itu, jika anak lebih banyak bermain dengan gawainya, ia akan melupakan dunia kanak-kanak yang semestinya dilalui dengan riang dan gembira. Anak akan sulit bergaul dan berkomunikasi. Karena itu, pemberian gawai kepada anak haruslah tetap dalam pengawasan orang tua.

Teknologi tinggi tak hanya berdampak pada anak. Orang tua juga bisa terpapar dampak negatifnya jika tidak dapat mengelola dirinya. Misalnya, terlena dengan berbagai aplikasi yang ditawarkan oleh media sosial, kadangkala fungsi keluarga terabaikan. Anak, ibu, dan ayah yang berada dalam satu rumah bisa saja saling mengacuhkan karena masing-masing asyik dengan fasilitas teknologi tinggi yang menawarkan berbagai ragam hiburan nan menarik hati. Karenanya itu, Yante Fangnan Yanad hadir di Kota Tual untuk berusaha semaksimal mungkin memberikan sosialisasi dan pemahaman tentang pentingnya delapan fungsi keluarga guna mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Delapan fungsi keluarga yang seharusnya dilaksanakan oleh tiap rumah tangga yang membentuk sebuah keluarga, yakni

  1. fungsi keagamaan,
  2. fungsi cinta kasih,
  3. fungsi sosial,
  4. fungsi perlindungan,
  5. fungsi ekonomi,
  6. fungsi pendidikan,
  7. fungsi pelestarian lingkungan, dan
  8. fungsi reproduksi.

Fungsi keagamaan dalam keluarga dimaknai bahwa keluarga haruslah mampu menjadi tempat awal untuk seseorang mengenal konsep ketuhanan. Keluarga menjadi tempat yang sangat baik untuk membentuk karakter manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME sesuai dengan agama dan kepercayaan dari keluarga tersebut. Fungsi cinta kasih artinya bahwa dalam keluarga haruslah dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang. Fungsi sosial lebih diartikan bagaimana keluarga dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dengan baik.

Tiap anggota keluarga memahami bahwa diri mereka adalah juga makhluk sosial yang saling membutuhkan sehingga sikap toleran, saling menolong, dan menghormati keberagaman dapat dibentuk dari keluarga. Fungsi perlindungan menempatkan keluarga sebagai payung ataupun tameng yang selalu melindungi tiap anggota keluarga dari segala bentuk kekerasan dan marabahaya.

Keluarga harus dapat melindungi hak asasi dan hak lain yang dimiliki anggota keluarganya. Fungsi ekonomi menjamin bahwa keluarga dapat memenuhi kebutuhan ekonomi semua anggota keluarga. Fungsi pendidikan selain menjadikan keluarga sebagai tempat pertama bagi anak mempelajari apa saja, juga diartikan bahwa keluarga harus menjamin tiap anak mendapatkan pendidikan sesuai dengan tingkatan usianya.

Fungsi pelestarian lingkungan mengharapkan keluarga dapat memberikan sumbangsih bagi pelestarian alam misalnya dengan menjadikan lingkungan tempat tinggal sebagai wahana untuk melahirkan manusia yang mau menjaga lingkungan sekitarnya. Menanam pohon yang rindang atau apotek hidup, dll. Fungsi yang terakhir yaitu fungsi reproduksi. Pada fungsi ini keluarga dijadikan tempat untuk melahirkan keturunan atau generasi penerus.

Jika delapan fungsi ini diterapkan dengan baik, akan dapat dipastikan semua anak yang terlahir di bumi manusia (meminjam istilahnya Pramoedya A. T.) akan dapat terpenuhi semua haknya, baik itu hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan, maupun hak partisipasi. Tidak hanya anak, semua anggota keluarga akan dapat menikmati baiti jannati atau rumahku surgaku. Karena rumah yang menerapkan delapan fungsi keluarga akan selalu saling menyayangi dan saling menghormati hak dan kewajiban tiap anggota keluarga. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang beraroma kental kasih sayang akan tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Para pakar sudah membuktikan hal ini.

Sahabat Puan pun boleh mencari referensi lain atas pembenaran versi saya ini. Itulah sebabnya, dapat dikatakan bahwa generasi emas itu dilahirkkan oleh perempuan dalam keluarga yang tahu dan saling menghormati hak dan kewajiban tiap anggota keluarganya. Kasih sayang adalah kunci utamanya.

Selain berupaya mengembalikan keluarga pada fungsinya, Yante Fangnan Yanad juga terus berupaya menurunkan angka kekerasan terhadap anak di Kota Tual, Maluku. Untuk maksud tersebut, Yante FangnanYanad secara masif dan kontinyu digalakkan, yakni dengan dibentuknya Tim Gerakan Cepat Yante Fangnan Yanad dari tingkat kota, desa, lurah, dan dusun. Tim-tim tersebut dibentuk untuk dapat lebih banyak melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pengarusutamaan hak anak, juga upaya dan tindakan apa yang harus dilakukan, jika melihat dan/atau mendengar kasus kekerasan terjadi pada anak.

Kalau kasus kekerasan pada anak terjadi di desa atau dusun dan kelurahan, tim yang ada di desa atau dusun setempat harus proaktif mencatat dan menangani kasus tersebut. Jika kasusnya adalah tindak pidana, akan diteruskan terlebih dahulu ke tim tingkat kota untuk segera diambil langkah penyelesaian sesuai dengan standar operasional layanan kasus kekerasan. Dalam pelaksanaannya tim tingkat kota akan bekerja sama dengan P2TP2A yang sudah ada.

Untuk memaksimalkan upaya pencegahan dan perlindungan anak dari tindak kekerasan melalui inovasi Yante Fangnan Yanad, maka dibuatlah nomor SMS center 08114791000 sebagai pusat layanan pengaduan tindak kekerasan terhadap anak. Nomor SMS center itu adalah hasil kerja sama pihak Telkomsel Cabang Ambon dengan DP3AP2KB Kota Tual. Jadi bagi masyarakat Kota Tual dan sekitarnya yang mendengar dan atau melihat tindak kekerasan terhadap anak, segera laporkan pada Tim Yante Fangnan Yanad melalui nomor yag tertera.

Ingat nomornya ya! Layanan ini dibuka 24 jam dan laporan Anda akan segera ditindaklanjuti. Pelapor tak perlu ragu karena kerahasiaan dan keselamatan pelapor/saksi akan dilindungi.

So, apa pun bentuk kekerasannya dan siapa pun pelakunya, Laporkan sekarang juga! Pastikan semua anak di negeri kita terjamin dan terpenuhi semua haknya. Stop dan akhiri kekerasan pada anak! Mulailah dari diri sendiri! Ya, kita yang adalah seorang Ibu. Ibu bukan hanya perempuan yang melahirkan kehidupan dari rahimnya, tetapi perempuan yang dengan penuh cinta telah memberi harapan dan penghidupan baru bagi anak yang bukan darah dagingnya.

Ibu. Ya, ibu. Karena perempuan hebat itu bernama ibu. Itu sebabnya ibu harus jadi pelopor penghapusan tindak kekerasan pada anak, baik di seluruh Indonesia maupun di tingkat dunia. Setujukah Sahabat Puan? Jika iya, mari kita galakkan Gerakan Keluarga Sayang Anak di mana pun kita berada! Yante Fangnan Yanad dapat hadir di mana saja dengan kearifan lokal dan keluhuran budaya tiap daerah yang berbeda. Namun, satu hal yang pastinya sama bahwa semua keluarga menginginkan bahagia dan sejahtera. Untuk itu jangan ragu memberikan cinta dan kasih sayang pada anggota keluargamu sekarang juga!

Mari bersama kita wujudkan Indonesia dan dunia bebas kekerasan pada Anak! Jika tiap keluarga telah menjadi keluarga yang nyaman dan ramah bagi anak, dapat dipastikan lingkungan di sekitarnya (baik itu RT, RW, dusun, desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan negara) sudahlah menjadi ramah dan layak bagi anak.

Facebook Comments