Thursday, May 23, 2019
Home > Gaya Hidup > Ibu dan Anak > Hargai Anak Sejak Dini

Hargai Anak Sejak Dini

Banyak anak tumbuh tanpa mendapatkan penghargaan pada dirinya oleh keluarga, masyarakat maupun lingkungan kerja. Mereka didiskriminasi, dibully, dijadikan budak kekerasan dengan beragam bentuk, diintimidasi, dipandang sebelah mata dan sejenisnya. Ada yang mampu bertahan dalam perlakuan buruk yang mereka terima.

Sebagian lainnya ada yang melawan dengan segenap kekuatannya dan berhasil lepas. Akan tetapi yang disayangkan justru, seperempatnya tumbuh menjadi sosok yang mereproduksi kerja merendahkan martabat manusia di segala bidang. Pada yang terakhir ini, justru meneruskan pola-pola buruk ini ke anak-anaknya, ke tempat kerja dan ke masyarakat. Betapa beban psikologis yang dikandung seorang anak dapat berkembang dan memproduksi cara-cara yang buruk ke masyarakat generasi per generasi.

Contoh dari kasus ini ada pada diri seorang Anggrek (bukan nama sebenarnya). Anggrek saat ini telah tumbuh menjadi orang dewasa. Di tempat kerjanya, Anggrek rentan diintimidasi serta ditindas  oleh bosnya. Namun Anggrek tidak berani melawan bosnya. Secara mental, Anggrek memang tidak berani melawan sesuatu yang berlawanan dengan dirinya. Sekian lama Anggrek mengalami perlakuan intimidatif dari bosnya. Terkadang, apa yang telah menjadi pencapaian Anggrek di dunia kerja dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan terutama bosnya, padahal Anggrek telah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan kadang Anggrek kerap menerima bully dari rekan maupun bosnya.  Angrrek menghadapi kondisi ini tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menerima dan diam.

Saya yang tertarik melihat kondisi Anggrek, menelusurinya lebih jauh, mengapa Anggrek tidak bisa berbuat apapun terhadap kondisi yang merendahkan martabatnya. Ternyata, Anggrek tumbuh di keluarga yang memang selalu merendahkannya. Ibunya terutama, tidak pernah menghargai Anggrek atas apapun yang dicapainya. Si ibu kerap melakukan kekerasan verbal maupun psikis  serta fisik yang memojokkan Anggrek, mempermalukan, merendahkan Anggrek di rumah maupun di tempat umum.

Martabat Anggrek telah direndahkan bermula sejak dari keluarganya sendiri, ibunya sendiri. Anggrek terbiasa dengan perlakuan ibunya terhadapnya sejak kecil hingga dewasa. Tidak ada upaya Anggrek untuk membela diri maupun melawan, dia hanya memendamnya. Maka, dari sinilah Anggrek memiliki pembawaan yang tanpa disadarinya rentan untuk direndahkan dan tak dihargai kemanapun Anggrek berada.

Tentunya apa yang terjadi pada diri Anggrek dapat kita jadikan pelajaran terhadap pola asuh anak di keluarga. Sebab, apa yang terjadi di keluarga, akan dibawa keluar oleh anak-anak, dan orang lain akan memperlakukan anak sesuai dengan pembawaan si anak bagaimana di keluarganya dia diperlakukan. Contoh lain selain kasus Anggrek, betapa sering kita mendengar orangtua mengeluarkan kata-kata yang mencaci maki seperti, bodoh!, tidak berguna! Dan lain sebagainya jika anak tidak dapat menuruti apa kehendak orangtua, atau jika anak tidak dapat mempertahankan capaian yang menjadi gengsi orangtua dalam hal kompetisi belajar maupun perlombaan misalnya.

Kita semua tidak menyadari lebih lanjut, bahwa jika ingin anak tumbuh menjadi orang yang dihargai dan diperlakukan baik di luar rumah oleh orang lain, maka hargailah anak di rumah. Selain penghargaan yang dimulai dari rumah oleh ayah maupun ibu di rumah, perlakuan manusiawi terhadap anak juga dimulai dari rumah. Bagaimana kita menginginkan anak berkembang menjadi orang dengan penghargaan dan perlakuan baik dari orang lain, sementara di rumah justru memberikan pola asuh yang mengecilkan keberadaaannya, menindasnya, memandangnya sebelah mata dan merendahkan martabatnya sebagai manusia.

Facebook Comments