Monday, November 18, 2019
Home > Literasi > Cerita > Kembangsari

Kembangsari

tengah hamil muda

Perempuan sahabatku itu kini tengah hamil muda. Setiap kali aku mengunjunginya, matanya mengerjap ceria dan pipinya bersemu merah. Ia lalu menceritakan kebahagiaannya kepadaku. Kalau saja aku bukan sahabat yang baik, aku akan jengah mendengar cerita yang sama. Seharian ia akan berceloteh panjang tentang kehamilannya. Ingin sekali aku jujur bahwa aku telah jemu mendengar kisahnya. Namun bila itu kulakukan, aku akan kehilangan satu-satunya sahabat dekat. Lebih kutakutkan lagi, aku tak bisa bercengkerama dengannya.

Kehamilan perempuan itu bukan melalui perkawinan yang sah. Ia selalu tak pernah menyesalkan ini terjadi. Namun di balik itu, ia tak mau memberi tahu siapa lelaki di balik perut bulatnya itu. Tatkala pertama mendengarnya, ingin sekali kuhardik lelaki yang tak bertanggung jawab itu, tapi siapa lelaki itu? Aku juga tak tahu. Sebab ia memiliki banyak sekali teman laki-laki.

Bila aku ada waktu luang, aku acapkali diam-diam menyelinap ke arah tempat tinggalnya. Kuamati satu per satu kendaraan yang berlalu lalang. Barangkali saja ada lelaki yang akan berhenti di dapan rumahnya, mengetuk pintu, dan masuk sembunyi-sembunyi. Barangkali dengan melakukan spionase begini, aku bisa mengetahui siapa ayah dari calon buah hati sahabatku itu.

***

“Perempuan lain tentu akan meminta pertanggungjawaban lelaki yang menghamilinya, tetapi kau tidak. Kau malah bangga akan hal itu. Berusaha menggugurkannya pun tidak. Aku tidak mengerti cara berpikirmu,” terpaksa kuucapkan begini,  suatu hari ketika bersamanya.

“Ini bagian terindah antara aku dan dia. Tak mungkin aku meminta pertanggungjawaban darinya. Dia sudah punya keluarga, punya istri, dan punya anak. Kalaupun dia meninggalkanku, setidaknya aku punya kenangan yang indah darinya. Kenangan yang akan hidup dan memiliki nyawa. Seorang anak yang lucu, yang kelak tawa renyahnya akan menghilangkan segala gundah dan kesepianku” jawabnya dengan nada bahagia. Ia lalu mengelus perutnya yang semakin hari semakin membesar seperti balon.

Entah mengapa ucapannya itu sungguh membuatku sedikit jengkel. Aku pun diam saja. Kuharap diamku tak bakal merusak suasana hatinya yang sedang  bahagia. Kemudian ia berceloteh lagi. Katanya lelaki itu bisa memberikan apa saja yang ia inginkan, termasuk ketenangan dan kebahagiaan. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai suami orang? Apakah istrinya di sana tahu jika suaminya bermain serong? Aku pun tak pernah tahu. Rasanya seperti tidak adil saja. Tak tahu mengapa, tapi aku benci sekali dengan sosok lelaki keparat itu.

Katanya lagi, ia merasa teduh berada dalam rengkuhan lelaki berdada bidang itu. Bahunya yang kekar juga salah satu tempat yang nyaman untuk bersandar. Aku masih diam seperti patung tua yang diabaikan. Tiba-tiba ada yang perih di balik jantungku. Namun, aku tak tahu bagaimana rasa sakit itu bisa muncul mendadak tatkala ia kisahkan kekasih gelapnya itu. Tak mungkin pula kuungkapkan isi hatiku padanya. Lalu kupaksa bibirku untuk melengkung meski kemarahan tersimpan di dalam dada. Rasanya aneh, tetapi apa hakku untuk marah? Aku juga tak pernah tahu.

***

Tak pantas saja, perempuan muda berwajah oriental itu menjatuhkan diri ke dalam pelukan lelaki beristri. Mengapa tidak jatuh ke pelukanku saja? Aku kan belum punya istri. Ah, barangkali aku kalah dengan harta yang dimilikinya, pikirku dengan ngawur.

Semenjak hamil, sahabatku itu semakin memikat saja. Jari-jemarinya panjang dan lentik. Bila ia mengembangkan senyum, rona pipinya merah muda seperti kuntum bunga sepatu. Matanya bening dan tajam. Tatapan matanya meneduhkan. Di atasnya berjajar lengkung alis yang indah bak semut beriring. Lehernya jenjang dan betisnya tipis. Indah sekali. Tubuhnya tinggi semampai bak seorang model. Pria yang memuja keindahan pasti akan terpesona tatkala menatapnya.

Sempat terlintas di kepelaku bila lelaki beristri itu memakai guna-guna. Demi menghilangkan penasaran akan sikap kolotku, lalu kudatangi beberapa dukun sakti. Saat itu kubawa foto perempuan itu juga rontokan rambutnya yang kucuri diam-diam. Dari dukun pertama hingga kesekian, entah mereka kompak atau bagaimana, katanya tak ada energi hitam yang melingkupi tubuhnya. Mereka pun mengatakan bahwa cinta mereka adalah murni yang berawal dari ketertarikan visual.

Ah, tolol sekali. Apa semua dukun itu telah berbohong kepadaku? Atau jangan-jangan, lelaki beristri itu telah menyuap dukun-dukun ini. Namun apa mungkin? Entahlah, rasanya juga mustahil.

***

Beberapa bulan telah berlalu. Perut sahabatku semakin membesar. Namun saat itu, tubuhnya tergolek lemah tak berdaya. Air ketubannya telah pecah. Sudah waktunya ia melahirkan. Dahinya mengernyit, ia pun merengek menahan sakit. Kucoba pula menenangkannya. Di saat seperti ini, kupikir lelaki keparat itu harusnya ada di sini. Namun, kenyataan memang sering berbeda dengan keinginan.

Kudengar suara sirine ambulans semakin dekat. Dalam hati aku berharap pula bila lelaki keparat itu akan datang. Nyatanya, hanya petugas rumah sakit yang bergegas membawa sahabatku ke dalam mobil. Brengsek. Ia benar-benar brengsek. Di saat genting begini masih menghilang.

Seketika aku hendak menaiki ambulans, seorang petugas melarangku dengan alasan yang tak logis. Keparat. Drama apa lagi ini? Baiklah, mungkin aku perlu mengambil jalan lain. Mobil ambulans melaju dan hilang di pengkolan jalan. Gawai sahabatku tertinggal di atas meja. Ternyata tidak diberi pengaman khusus, telepon genggam itu dengan mudah kubuka. Kulacak keberadaan lelaki itu. barangkali aku mampu menemukan jejaknya. Namun lagi-lagi aku salah, tak kutemukan sedikit pun riwayat obrolan mereka di semua pesan masuk atau di medsos lainnya.

Sungguh aneh. Rapat sekali hubungan mereka. Kubuka nomor telepon kontak di teleponnya, ternyata hanya ada satu nomor, yaitu nomorku. Keparat. Lelaki itu sudah menjadi bajingan kelas kakap di mataku. Barangkali saja hubungan mereka hanya disimpan dalam ingatan masing-masing.

Apa mungkin lelaki keparat itu telah menungguinya di rumah sakit? Bila saja aku melihatnya di sana, aku juga takkan berani mendekat. Selama ini, ia pasti juga sudah mengintaiku, sebab aneh saja mengapa aku dilarang petugas rumah sakit tadi, yang katanya selain keluarga pasien dilarang ikut. Apa mungkin lelaki keparat itu takut bertemu denganku? Kupikir tidak juga. Mungkin saja ia malas. Segala kecamuk tiba-tiba saja muncul di benakku.

***

Dengan nekat kuberanikan langkah kakiku menuju rumah sakit. Setelah tiba di ruangan, seorang bayi perempuan mungil berbaring di sampingnya. Perempuan itu tersenyum kepadaku. Aku menghampirinya.

“Apa dia datang?” tanyaku padanya sambil mengelus punggung tangannya.

“Ya, tadi dia datang dan sudah memberi nama. Kembangsari. Nama yang cantik bukan? Secantik wajahnya,” katanya.

Aku hanya membatin. Sial sekali, lelaki keparat itu selalu selangkah di depanku. Ia memang lihai memenangkan perasaan perempuan. Kupikir, sudah saatnya aku memburunya, tetapi buat apa?

***

Beberapa tahun kemudian, lelaki itu sudah tak bisa dihubungi. Sudah kukatakan sejak awal bahwa dia keparat atau bajingan kelas kakap. Barangkali di luar sana, ia juga melakukan hal sama dengan perempuan-perempuan cantik lainnya. Melepaskan nafsu bejatnya kemudian menghilang ditelan angin.

“Kalau begitu, biar aku saja yang menjadi ayah dari anakmu,” kataku padanya.

“Jangan. Kamu jangan bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak kamu lakukan! Biarkan. Biarkan aku mengenang anak ini, satu-satunya kenangan yang ia tinggalkan untukku. Biarkan aku menikmati hasil dari kesalahanku. Aku memang perempuan yang kalah, namun aku tak ingin membebankan kekalahanku kepadamu. Biarkan aku bahagia bersama Kembangsari,” katanya dengan lirih seolah menyimpan kesedihan yang tak ingin ia ungkapkan.

Tubuhku tiba- tiba lemas. Kutarik napas dalam-dalam. Selama ini, akulah yang selalu bersamanya, menemani suka dukanya. Namun apa dikata, takdir berkata lain. Ada yang tiba-tiba menusuk jantungku. Perih. Perih sekali.

 

Biodata Penulis

Rumadi, lahir di Pati, Jawa Tengah pada tanggal 12 September 1990. Anak pertama dari dua bersaudara. Penulis beralamat di desa Gajahkumpul, kecamatan Batangan kabupaten Pati Rt. 07 Rw. 02, kec. Batangan, kab. Pati. Penulis sekarang berdomisili di Ciputat, belum menemukan tempat tinggal tetap, beberapa bulan sekali, pindah kos. Pendidikan terakhir, SMKN 1 Rembang jurusan otomotif. Menyukai sastra sejak duduk di bangku SLTP. Tokoh sastra yang dikaguminya, Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan. Kedua tokoh itu, yang menginspirasi penulis. Lomba cerpen yang pernah diikuti, baru satu kali, yang diadakan oleh festival sastra UNPAM pada Desember 2017 lalu, dengan juri Ni Komang Ariani dan Yusri Fajar. Dua cerpennya yang diikutkan lomba, masuk 20 besar, yaitu “Bara Dendam” (peringkat 6)  dan “Keluarga Itu” (peringkat 13).

Penulis bisa dihubungi lewat email sangpendekarhati@gmail.com, fb Roemadi Sang Pendekar Hati, twitter @pendekar_heart, ig @pendekar_hati, wa 085881456370, dan nomor ponsel 087861795536.

Facebook Comments