Monday, June 18, 2018
Home > Lingkungan > Para Perempuan Rumah Kopi

Para Perempuan Rumah Kopi

Para Perempuan Rumah Kopi

Wajan berukuran besar terlihat penuh berisi biji-biji kopi warnanya kecokelatan. Tungku dengan api yang sangat kecil menghasilkan aroma kopi  disangrai pada sebuah dapur sederhana ala kampung yang terbuat dari kayu. Tiga orang perempuan secara bergantian mengayun sebuah sendok panjang berujung lancip yang biasa terbuat dari kayu atau besi. Gerakan mereka seperti menari, menganyun berirama dan sesekali terdengar suara cekikikan menambah syahdunya sangraian kopi pagi ini.

Biasanya menyanggrai kopi dilakukan setiap minggu di Rumah Kopi. Rumah Kopi, merupakan unit pengolahan kopi dan kulit manis yang berada di Desa Madras dan Desa Baru. Ini adalah bentuk dukungan proyek OPAL dalam menghasilkan kualitas kopi premium sehingga petani mendapatkan penghasilan yang jauh lebih baik.

Pengelolaan Rumah Kopi di kedua desa ini dipegang oleh kelompok perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT). KWT di Desa Muara Madras kemudian kelembagaannya berkembang menjadi koperasi dengan nama Koperasi Amanah Madras Sejati.

Secara umum keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lahan di Merangin cukup tinggi. Para perempuan biasanya ikut berladang bersama laki-laki. Dalam konteks perbaikan teknik budidaya kopi yang didorong oleh proyek OPAL, dilakukan bersama-sama antara perempuan dan laki-laki. Pengelolaan Rumah Kopi oleh perempuan diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif perempuan dalam pengelolaan sumberdaya alam serta berkontribusi pada peningkatan ekonomi, khususnya perempuan.

Darma Julita Ketua Koperasi Amanah Madras Sejati menyebutkan mereka sudah memproduksi olahan serbuk jahe, kayu manis steak dan kopi dalam kemasan biji maupun bubuk. “Koperasi ini didirikan Juni 2016, dan sudah ada 37 anggota petani perempuan. Awalnya hanya 15 orang. Kami setiap bulannya meproduksi kopi bubuk hingga 300 kilo gram kopi serbuk untuk kebutuhan pasar lokal saja di Bangko,”sebutnya.

Para Perempuan Rumah Kopi
Para Perempuan Rumah Kopi

Para perempuan pengelola Rumah Kopi di Desa Muara Madras dan Desa Baru terus meningkatkan kapasitasnya dalam pengelolaan pasca panen kopi, mulai dari pengolahan menjadi bubuk kopi hingga pemasaran. Pengelolaan Rumah Kopi di kedua desa ini merupakan salah satu praktik CBFE (Community Base Forest Entrepreneurship) yang dikembangkan di Kabupaten Merangin agar masyarakat pengelola Hutan Desa maupun kawasan penyangga memiliki paradigama usaha atau bisnis, tidak hanya sebatas memperoleh akses kelola.

“Kita sudah dapat bantuan dari MCA Indonesia sebanyak 1 buah gudang penyimpanan, 2 mesin olahan kayu manis dan 2 mesin penggiling kopi basah dan kering. Kalau mesin penyanggrai belum ada, Sanggrai masih dilakukan manual dengan wajan dan tungku,” tambahnya.

Salah satu upaya yang dilakukan dalam membuka akses pasar dan pembiayaan adalah dengan mendatangkan para stakeholder ke lokasi wilayah kelola petani untuk komoditi kopi melalui kegiatan bertajuk Safari Kampung Kopi. Selain para pengelola coffeshop se-Jambi sebagai pelaku usaha kopi, kegiatan ini pun mengundang pemerintah sebagai pihak yang dapat mendukung masyarakat pascaproyek. Pemerintah Kabupaten Merangin berkomitmen menyediakan anggaran untuk mendorong sertifikasi indikasi geografis kopi Merangin.Saat ini, baik Rumah Kopi di Muara Madras maupun Desa Baru, sudah mulai mengambil peran dalam suplai kopi untuk pemenuhan kebutuhan lokal.

“Kita mewajibakan simpanan wajib kopi sebanyak 2 kilo gram setiap bulan untuk semua anggota. Boleh juga lebih, ada yang meyerahkan sampai 10 kilo gram itu kita masukan ke simpanan sukarela. Dan kopi-kopi ini kita sangria dan jual ke pasar-pasar dekat sini maupun pasar di kabupaten. Kalau untuk ke luar kabupaten kami belum sanggup, karena produksinya masih terbatas,” pungkasnya.

Facebook Comments