Thursday, May 23, 2019
Home > Gaya Hidup > Komunitas > Teater Gendhing Muara Enim : Pergerakan, Spiritualitas, Musik dan Kehadiran Saraswati Sunindyo

Teater Gendhing Muara Enim : Pergerakan, Spiritualitas, Musik dan Kehadiran Saraswati Sunindyo

Di Kebun Ada Musik Hadirkan Spiritualitas Lewat Musik Bersama Saraswati Sunindyo

Bertempat di kebun belakang rumah yang sekaligus dijadikan sanggar Teater Gendhing, sekelompok anak muda yang hidup di kota kecil Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, pada Sabtu 3 Februari 2018 siang itu tengah asik menata sebuah panggung mini yang dilengkapi dengan sound system dan perlengkapan panggung lainnya. Tak banyak dekorasi dari panggung tersebut, hanya sebentuk panggung mini yang dihiasi kain hitam, sebuah menara mini yang juga diselubungi kain hitam dan dililit lampu hias.

Panggung tersebut diletakkan di alam terbuka pada tengah kebun yang banyak ditumbuhi pohon pisang serta pepohonan lainnya. Beberapa helai kain merah panjang dengan tulisan Gendhing berwarna hitam dililitkan pada pohon di belakang panggung, serta ada juga yang dipasang sebagai umbul-umbul pada beberapa batang pohon pisang yang tak jauh dari panggung, disamping yang dipasang pada dinding pagar pembatas antara rumah dan kebun. Sejumlah bambu yang berperan sebagai obor dipasang mengelilingi arena yang ditata sebagai tempat penonton hingga ke arah belakang panggung.

Malam harinya, rupanya digelar sebuah acara yang bertajuk “Di Kebun Ada Musik, De Left #9”. Jam 19.30 WIB, acara dimulai dengan sambutan dari tokoh yang bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Muara Enim, yaitu Alvin. Tak banyak yang dikatakan Alvin terkait acara ini, sebab ia juga sebagai anggota dari Teater Gendhing. Alvin hanya menyampaikan apresiasi yang bagus atas terselenggaranya acara tersebut, dan mengucapkan selamat datang kepada bintang tamu pertunjukkan malam itu yaitu Saraswati Sunindyo dan Didin sebagai Seni Kentrung.

Beberapa anggota Teater Gendhing maupun seniman musik dari Palembang dan Muara Enim turut mengisi acara tersebut, sebelum acara puncak yang diisi oleh bintang tamu. Mereka menampilkan musikalisasi puisi dan lagu yang berisi kritikan sosial, instrumen musik tradisional, maupun instrumen musik kreasi dari tokoh Teater Gendhing yang menyerupai gitar dan diberi nama Tanjak, ada pula instrumen musik blues dan sejenisnya.

Acara puncak berupa penampilan Saraswati Sunindyo dan Didin dengan pertunjukkan musik Kentrung. Saraswati Sunindyo merupakan seniman Kentrung asal Indonesia, yang saat ini menjadi warga negara asing dan bermukim di Seatle, Amerika Serikat.  Sejak akhir 2017, Saraswati pulang ke Indonesia dan melakukan perjalanan tour untuk pertunjukkan Kentrung di beberapa daerah di tanah air, seperti Malang, Kediri, Ponorogo, Semarang dan Batang. Muara Enim merupakan destinasi karena jalinan pertemanannya dengan pelaku seni di Teater Gendhing selama enam tahun lebih.

Kentrung merupakan seni pertunjukkan wayang dengan musik dan lagu berbahasa Jawa lengkap dengan nada-nada pentatonis, biasanya mengisahkan babad tanah Jawa dan kisah-kisah lain. Namun, ditangan Saraswati Sunindyo sebagaimana diungkapkan oleh Didin di media sosialnya, mahasiswa ISI Surakarta yang menjadi pasangan mainnya, Kentrung direinterpretasi dan digarap ulang sehingga menjadi karya baru. Melalui Kentrung yang dimainkannya, Saraswati mengibarkan kebebasan dengan bernyanyi menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Nada-nadanya pun jauh dari pentatonis.

Pada malam pertunjukkan di Muara Enim yang sempat Puan.co hadiri, Saraswati memainkan Kentrung dengan alat musik menyerupai rebana besar dan ditengah rebana tersebut bertuliskan surat Al-Ikhlas. Diiringi Didin yang memegang ketipung kecil, Saraswati memainkan Kentrung kurang lebih lima lagu. Diantara ke lima lagu tersebut, Saraswati membawakan gubahan lagu yang terilhami dari puisi sufi  Jalaludin Rumi, lagu daerah Jawa Barat yang dipasangkan dengan tembang Jawa oleh Didin, hingga ke lagu berbahasa Inggris Dona-Dona karya Joan Baez.

Menurut Ihsanul Fikri salah satu tokoh Teater Gendhing yang biasa dipanggil Fikri, pertunjukkan Saraswati Sunindyo baginya merupakan spirit dalam berkesenian. Gejala sosial direspon oleh Saraswati dengan alat musik yang dibawakannya (Fikri menyebutnya Deff). “Ditengah musik modern yang mendominasi, beliau bisa hadir dengan nuansa spiritual. Contohnya itu lagu Dona-Dona karya Joan Baez, rupanya bisa dibawakan dengan Deff,” tandas Fikri.

De Left sendiri merupakan acara berkelanjutan dari Teater Gendhing yang telah dijalankan sejak akhir tahun 2016 dengan periode waktu dua bulan sekali. Saat Saraswati Sunindyo tampil bersama didin, merupakan pertunjukkan yang ke sembilan dari pagelaran acara De Left. Selama itu, De Left digelar dengan tema yang berbeda-beda, dan ditempat yang berbeda pula, namun kebanyakan mengambil tempat di halaman Gedung Kesenian Muara Enim.

Fikri mengatakan bahwa De Left merupakan terminasi musik sanggar Teater Gendhing. Munculnya karena di Muara Enim menurutnya agak jarang ada acara musik yang tak berbayar dan  gratis main. “Kebanyakan ada festival yang  pesertanya harus bayar.  De Left hadir dengan opsi yang lebih longgar, siapa saja bisa main dan bisa menikmati hidangan seadanya dan dilanjut dengan diskusi sebagai penutup, De Left dalam pengertian sisi kiri, ini lebih cenderung bermotif ideologis sebagai counter culture,” papar Fikri.

Puan.co sempat mengikuti pertunjukkan De Left #9 sampai selesai hingga diskusi digelar. Selain mendiskusikan proses perjalanan Saraswati Sunindyo dan Didin, juga mendiskusikan gerakan-gerakan sosial dan motivasi untuk melakukan gerakan sosial. Bagi Fikri, diskusi dipilih sebagai tawaran umum setiap habis pertunjukkan yang bisa menjadi alternatif bagi lahirnya gagasan baru dalam bermusik maupun lainnya. Maka melalui acara tersebut, Fikri juga melakukan pergerakan lewat pendidikan alternatif bagi khalayak Muara Enim. Sebagaimana yang Puan.co saksikan malam itu, turut hadir teman-teman rumah singgah anak jalanan dan pemusik, serta pelaku seni lainnya juga pelaku gerakan sosial yang lebih luas.

Pada acara De Left  dari akhir tahun 2016 hingga 2018 ini, tak hanya Saraswati, sebelumnya beberapa seniman luar negeri juga pernah mengisi acara, misalnya pada De Left # 8 ada Cordey Lopez dari California, sebelumnya juga ada Cedrik dari Jerman, serta ada juga Hong June Park dosen musik dari Universitas Berkeley. Semua seniman ini merupakan jaringan yang aktif berkomunikasi dengan Teater Gendhing lewat jalur musik eksperimental.

Tak ada peserta militan dalam setiap gelaran rutin acara Teater Gendhing tiap malam minggu ini. Fikri dan teman-teman yang aktif melakukan pergerakan ekspresif lewat seni dan budaya ini, hanya menggelar acara untuk membuka ruang alternatif bagi kaum muda di Muara Enim.

Facebook Comments