Monday, December 10, 2018
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Menelusuri Romansa Masa Lalu Kebun Raya Bogor

Menelusuri Romansa Masa Lalu Kebun Raya Bogor

kebun_raya_bogor

Siapa yang tidak kenal dengan Kebun Raya Bogor. Letaknya berdampingan dengan Istana Bogor.  Rasanya hampir seluruh masyarakat Indonesia mengenal nama Kebun Raya Bogor yang memiliki koleksi ribuan pohon yang berasal dari dalam dan luar negeri. Namun, apakah mereka juga tahu nilai sejarah dan romansa yang ada di dalamnya?

Kebun Raya yang memiliki luas 87 hektare dibangun pada tahun 1817 oleh Professor Caspar Georg Karl Reinwardt, seorang peneliti botani asal Jerman. Ia memiliki ketertarikan pada berbagai tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat-obatan. Lalu, ia mengumpulkan berbagai jenis tanaman untuk dijadikan objek penelitiannya di satu kebun, yang kemudian menjadi Kebun Raya Bogor.

Selama lima tahun menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Bogor (1817-1822), Reinwardt berhasil mengoleksi tanaman mencapai 900 jenis yang berbeda. Tanaman-tanaman tersebut berasal dari berbagai daerah di Hindia Belanda dan juga merupakan tanaman dari benih-benih baru yang ditanam di area Kebun Botani.

tugu Reinwardt
tugu Reinwardt

Dari awal terbentuknya Kebun Raya Bogor pada 1817 sampai Januari 2016, jumlah tanaman di Kebun Raya Bogor mencapai 13.061 koleksi. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa Reinwardt tersebut, tugu Reinwardt pun didirikan di pinggir sungai halaman belakang Istana Bogor.

Selain tanaman dan taman yang indah, kebun ini juga menyimpan sejarah romansa pemimpin pemerintahan Hinda-Belanda, Thomas Stamford Raffles. Raffles dikenal sebagai sosok pemimpin Hinda-Belanda yang sangat mencintai bumi Nusantara. Ia sangat mengagumi alam dan budaya Jawa, termasuk flora dan fauna di dalamnya. Kecintaannya kepada Pulau Jawa ini dituangkan dalam buku History of Java.

Jejak Raffles hingga kini masih tertinggal di Kebun Raya Bogor berwujud sebuah tugu. Bangunan tugu putih yang mirip gazebu melingkar dengan menggunakan atap beton dengan ukiran klasik Eropa tersebut merupakan tugu yang didirikan untuk menjadi bukti cinta Raffles terhadap isterinya yaitu Lady Olivia Mariamne.

bukti cinta Raffles terhadap isterinya Lady Olivia Mariamne
bukti cinta Raffles terhadap isterinya Lady Olivia Mariamne

“Inilah tugu yang dibangun Raffles untuk istri tercintanya,” kata seorang teman, Sunu Dyantoro, yang sebelumnya sudah pernah berkunjung ke Kebun Raya Bogor dan mengetahui sejarah singkatnya.

Lady Olivia Mariamne meninggal akibat penyakit malaria pada tanggal 26 November 1814. Istri Raffles tersebut sangat senang dan merasa nyaman berada di lingkungan asri Kebun Raya Bogor. Maka untuk mengenang istri yang begitu dicintainya, Raffles pun membangun sebuah tugu di tempat favorit mendiang sang istri.

Raffles menuliskan puisi yang menunjukan sisi romantisnya dan kecintaannya pada Olivia di di bangunan putih tersebut. Puisi itu berbunyi: “Oh thou whom neer my constant heart, One moment hath forgot, Tho fate severe hath bid us part Yet still – forget me not” yang apabila diterjemahkan akan memiliki makna “Kau yang tak pernah satu kali pun terlupakan oleh detak jantungku. Takdir keji telah memisahkan kita. Namun, jangan pernah lupakan aku!”

Walaupun Raffles menikah kembali tiga tahun setelah Olivia meninggal, tugu tersebut tetap menjadi saksi cinta Raffles pada Olivia. Sesuai dengan keterangan yang ada di tugu, tugu tersebut sempat hancur akibat angin dan direkonstruksi kembali pada 1970.

Selain monumen bersejarah, ada beberapa spot atau tempat menarik yang sayang bila tidak dikunjungi saat ke Kebun Raya Bogor, diantaranya  adalah Museum Zoologi, Griya Anggrek, Kolam Teratai, serta beberapa koleksi patung dari pematung kesayangan Presiden RI Pertama, Soekarno.

“Kita hanya bisa menyaksikan patung-patung indah itu dari jauh, dari seberang kolam ini,” kata Sunu. Sunu juga bercerita bahwa patung-patung tersebut sarat cerita sejarah. Ia paham karena sebagai jurnalis, ia pernah menulis tentang Trubus Sudarsono dan patung-patung karyanya.

Patung karya Trubus Sudarsono – pematung asal Yogyakarta – yang terkenal diantaranya diberi judul “Gadis dan Kodok” dan “Si Denok”, perempuan tanpa busana. Dua patung perempuan telanjang itu dibikin pada 1957-1958 di rumah Trubus di kotanya dan diselesaikan di Istana Bogor.

Denok yang dipahat dari batu Gunung Merapi itu menampilkan perempuan yang sedang bersimpuh dengan lutut kaki kiri menyentuh lantai. Sosoknya seperti diharapkan Soekarno, seorang perawan Indonesia yang percaya akan hari depan yang damai. Trubus menggunakan seorang model bernama Ara untuk menyempurnakan wajah Si Denok.

Si Denok
Si Denok

Patung “Gadis dan Kodok” dibikin dari batu andesit tua atau batu kali berwarna hijau. Patung setinggi sekitar satu meter itu menggambarkan perempuan dalam posisi merangkak dengan rambut terikat. Di antara kakinya ada seekor katak. Unsur sensualitas patung tersebut sangat kuat. Model patung yang ditempatkan di pinggir kolam Istana itu adalah Alice, menantu Ernst Dezentje, pelukis yang dekat dengan Sukarno. Sebagai imbalan jadi model, Alice diajari melukis oleh Trubus.

Objek patung yang dihasilkan Trubus kebanyakan mengangkat sosok perempuan Indonesia. Sering kali tubuh bagian atas patung manusia biasanya dipahat secara detail menyerupai orang, tetapi tubuh bagian bawah dibiarkan tidak selesai, yakni dibiarkan layaknya batu yang masih utuh. Trubus adalah salah satu seniman kesayangan Bung Karno. Trubus pernah aktif di Pelukis Rakyat yang dekat dengan aktivitas Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat). Dalam perjalanan karirenya, Trubus sempat menjadi anggota DPRD Yogyakarta dari PKI (Partai Komunis Indonesia). Trubus hilang bersamaan dengan bergantinya orde lama ke orde baru atau dari masa Soekarno ke Pemerintahan Soeharto.

Facebook Comments