Tuesday, October 16, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Perihal yang seks mengancam perempuan

Perihal yang seks mengancam perempuan

sex perempuan dan anak

Pada Kamis (8/3) pekan lalu,  Kota Jambi memperingati HPI (Hari Perempuan Internasional) sebagai simbol perlawanan atas segala bentuk penindasan terhadap kaum perempuan. Acara yang diadakan di halaman Kantor Gubernur ini diselenggarakan oleh aliansi SOS (Save Our Sisters) Jambi. Peringatan HPI ini diisi dengan serangkaian kegiatan diantaranya, senam One Billion Rising, aksi damai, dan pentas seni. Tuntutan yang disampaikan pada peringatan HPI, yakni penegakan hukum yang berpihak kepada korban kekerasan seksual dan mendesak pemerintah untuk meningkatkan serta menyediakan fasilitas pelayanan korban kekerasan seksual hingga ke pelosok desa. Tuntutan-tuntutan tersebut mencuat karena belakangan ini Provinsi Jambi dihujani kasus-kasus tindakan kekerasan seksual yang menimpa anak-anak dan perempuan.

Pada Agustus 2016 lalu, Kota Jambi dikejutkan dengan peristiwa yang menyayat hati para orang tua, di mana laki-laki bernama Wahono (65) menyetubuhi empat orang anak yang masih duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) secara bergantian. Kasus ini terungkap setelah salah satu orang tua korban melapor ke Polresta Jambi. Atas perbuatan kejinya, pelakuhanya divonis satu tahun penjara. Vonis tersebut rasanya tidak sebanding dengan beban trauma yang harus ditanggung para korban, ditambah para orang tua harus berhadapan dengan proses hukum yang tidak berpihak kepada korban. Tentu, sanksi ringan yang diterima oleh pelaku sama sekali dianggap tidak memberikan rasa keadilan.

Kemudian Februari 2017 terjadi lagi di Desa Jebak Kecamatan Tembesi Kabupaten Batanghari. Seorang laki-laki bernama Hermanto beberapa kali menyetubuhi putri kandungnya sendiri. Sekarang, pelaku sudah diamankan oleh pihak kepolisian. Belum lama dua kasus yang menyita perhatian khalayak tersebut, 25 Januari 2018 muncul lagi kasus baru di Dusun Pangkal Bloteng, Desa Teluk Rendah Ulu, Kecematan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Seorang gadis malang bernama Dina Wulandari harus mengembuskan napas terakhirnya di tengah derasnya aliran Sungai Batanghari. Setelah dianiaya dan di perkosa, ia lalu di bunuh secara sadis. Pelaku mengikat leher korban dengan akar dan memilitkan tubuhnya ke sebuah kayu. Kemudian korban ditenggelamkan ke sungai bersama sepeda motornya dengan kondisi yang masih bernyawa.

Hasrat birahi yang berlebih membuat para pemangsa tubuh perempuan kerap gelap mata. Tidak mampu membendung fantasi liar yang menguasai, lagi-lagi perempuan dan anak terancam menjadi tumbal bagi para penikmat seks yang lupa daratan. Hanya demi menghilangkan dahaga seksnya, mereka rela melakukan apa saja asalkan dapat menyetubuhi perempuan dengan buas. Seolah-olah perempuan dan anak dihalalkan untuk disantap sesukanya. Menurut Sigmund Freud kehidupan manusia memang tidak bisa dilepaskan dari persoalan seksualitas. Sejak bayi, manusia sudah memiliki naluri seksual dalam tahap-tahap tertentu, di mana implementasi bagi masing-masing manusia kemungkinan tidak sama. Ada manusia yang begitu cepat memperlihatkan insting seksualitas, sedangkan sebagian yang lain belum juga memperlihatkan insting seksualitas meski sudah berusai dewasa.  Bagi masyarakat yang dangkal pengetahuan, minimnya iman dan ketakwaan, serta faktor lainnya, membuat kemampuan seksualitas ini justru disalahgunakan atau disimpangkan sedemikian rupa sehingga tidak sejalan lagi dengan fitrahnya.

Kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak dapat terjadi di mana saja, baik di tempat umum, tempat kerja, maupun di lingkungan keluarga. Pelakunya dapat dilakukan oleh siapa saja baik teman laki-laki, pasangan, bahkan orang terdekat seperti ayah, saudara laki-laki, dan lain sebagainya.

 

Faktor Apa yang Menjadi Penyumbang Terbesar Terjadinya Tindakan Kekerasan Seksual?.

Pertama, faktor budaya. Stigma yang beredar di masyarakat derajat laki-laki lebih superior daripada perempuan sehingga laki-laki merasa mempunyai hak penuh untuk memperlakukan perempuan semaunya. Kedua, faktor ekonomi. Faktor ini paling dominan karena ketergantungan perempuan terhadap laki-laki untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Dilihat dari faktor hukum, posisi keberpihakan terhadap perempuan sangat lemah. Padahal, berdasarkan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Jika ditilik  dari faktor politik, kekeresan terhadap perempuan dan anak belum sepenuhnya dianggap sebagai persoalan yang serius bagi para pembuat kebijakan. Itulah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan seksual, yang hingga kini merupakan PR dan tanggungjawab pemerintah.

Maraknya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak seolah-olah merupakan suatu penyakit yang sukar disembuhkan. Oleh karenanya, dibutuhkan pemulihan dan penanganan yang intensif agar Jambi kembali menjadi lingkungan yang ramah untuk anak-anak dan perempuan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengentaskan persoalan kejahatan seksual, diantaranya undang-undang tentang penghapusan kekerasan seksual harus benar-benar tewujud, mengoptimalkan fungsi P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) dalam memfasilitasi kebutuhan perempuan dan anak korban kekerasan dan memenuhi hak korban (hak atas kebenaran, hak atas perlindungan, hak atas keadilan, dan hak atas pemulihan), dan lembaga yang diamanahi negara dalam mengatasi persoalan kekerasan seksual perlu menjangkau masyarakat hingga ke tingkat desa.

Dalam konteks yang lebih luas, untuk menghentikan kejahatan seksual, aspek lain yang perlu diperhatikan adalah memberlakukan fungsi kontrol dan pengawasan. Fungsi kontrol dan pengawasan ini perlu dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan oleh aparatur negara, para orang tua, serta masyarakat guna meminimalisasi pontesi terjadinya kasus-kasus serupa. Selain itu, penting sekali melakukan edukasi seksual sejak dini kepada anak laki-laki dan perempuan. Pendidikan seksual itu penting demi menghindarkan mereka dari penyalahgunaan seksual baik dalam bentuk eksploitasi, pelecehan, maupun tindak kekerasan. Oleh karena itu, mari kita awasi dan lindungi saudara perempuan kita di mana pun mereka berada!


Biodata Penulis

Dessy Rizky, mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Syariah UIN STS Jambi.

Facebook Comments