Monday, April 23, 2018
Home > Literasi > Cerita > Surga yang Menyiksa

Surga yang Menyiksa

“Pokoknya aku minta cerai. Titik!” suara Asri melengking, memecah keheningan. Bunyi jangkrik yang sedari tadi menjadi irama pengiring sunyi malam, tiba-tiba berhenti.

Asrul menatap lekat perempuan di depannya. Mulutnya ternganga lebar, seperti orang melihat hantu. Tak dia sangka, kata-kata haram jadah itu itu keluar dari bibir mungil perempuan yang sudah sepuluh tahun ini menemani hidupnya. Asri yang berdiri di hadapannya bukan lagi perempuan yang ia kenal dua belas tahun lalu.

“Mengapa Mama berkata seperti itu? Istighfar, Ma!” kata Asrul mencoba menenangkan.

Seperti sedang kesetanan, Asri justru semakin naik pitam. Keluar semua sumpah serapah yang selama ini ia sendiri tak pernah mendengarnya.

“Dasar cacat! Kampungan! Kuno!”

Yang disebut hanya terdiam.

Asrul melangkah pelan, semakin mendekat ke posisi Asri berdiri.Tangan kanannya mencoba meraih pundak perempuan yang masih berstatus istrinya tersebut. Tangan kirinya dibiarkan terkulai begitu saja. Sejak terkena stroke dua tahun belakangan, beberapa anggota tubuh Asrul memang tidak bisa berfungsi normal. Tangan kirinya kaku selama berbulan-bulan, lalu tak bisa lagi digerakkan. Jalannya pun sudah pincang karena salah satu kakinya juga sudah tidak berfungsi. Bagian tubuh sebelah kirinya seperti menyusut perlahan.

*

Jam sudah menunjukkan angka 01.12 WIB. Di luar, angin semakin kencang bertiup. Di langit, pelan-pelan awan hitam melumat bulan separuh yang berwarna keemasan. Malam berubah menjadi kian pekat.

Di lantai atas salah satu bagian ruko empat pintu yang berdiri kokoh di Simpang Asri, dua orang masih terlibat pertengkaran. Kata-kata kasar meluncur bertubi-tubi dari mulut Asri bak peluru yang dimuntahkan senapan serbu jenis AK-47 milik tentara.

Asrul terus berusaha meredam amarah perempuan yang jadi makmum dalam rumah tangganya itu. Ia semakin mendekat ke posisi berdiri ibu dari anaknya ini. Baru akan menyentuh pundak Asri, secepat kilat perempuan dengan amarah membuncah itu menepis tangan imamnya.

“Sudah, tidak usah pegang-pegang! Jangan rayu-rayu! Aku sudah tidak tahan lagi hidup sama kamu.”

Lancar sekali lidah Asri mengucapkan kata “Kamu” kepada Asrul. Padahal, dulu di awal-awal menikah, dialah yang meminta nama panggilan sayang keduanya “papa – mama”. Bahkan sejak keduanya masih berstatus tunangan, satu tahun sebelum mereka mengucapkan janji pernikahan.

Pandangan mata Asrul berubah nanar. Bukan karena jika benar-benar hidup tanpa wanita itu yang membuatnya sedih, bayangan Sari yang baru berumur empat tahun berkelabat di depan matanya.

Beruntung si Sari anaknya, malam ini tidak berada di kamar laki bini yang sudah gamang itu. Seperti biasa, Sari tidur di kamar sebelah bersama Bi Inah. Anak semata wayangnya ini memang lebih dekat dengan Bi Inah ketimbang ibunya. Sejak Asri pulang pergi tak tentu waktu, Bi Inahlah yang menjadi tempat Sari bermanja layaknya dengan seorang ibu meskipun Bi Inah lebih tepat dipanggilnya nenek. Kedekatan keduanya membuat kegelisahan Asrul sedikit berkurang.

Belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, Asri kembali membuat Asrul terperangah. Sekonyong-konyong perempuan itu melintas di depannya. Tangannya mendorong tubuh Asrul hingga terjatuh ke lantai. Masih dengan mata bengis, perempuan itu terus berlalu. Suara bantingan keras pintu kamar menjadi penutup kemarahan Asri malam itu.

**

Sebelumnya, keluarga kecil Asrul dan asri merupakan keluarga yang harmonis dan bahagia. Mereka punya usaha pakaian yang cukup maju. Toko grosir busana muslim yang dikelola berdua menjadi rujukan tempat berbelanja se-ecamatan tempat mereka tinggal. Saban hari tokonya disesaki pembeli. Selain menjual partai besar dengan harga murah, Asrul juga memberikan penawaran spesial bagi pembeli pakaian dengan jumlah sedikit.

“Toko Grosir Pakaian Muslimah Asri”, yang menempati ruko empat pintu itu mereka bangun dari nol. Asrul memulainya dengan menjadi penjual pakaian keliling dari rumah ke rumah. Usaha itulah yang ia tekuni sejak mempersunting Asri, gadis lugu anak petani sawit.

Tiga tahun menikah, usahanya semakin maju. Mulai dari membuka ruko satu pintu, lalu menjadi empat pintu. Bahagia sekali pasangan itu, hidup dari usaha yang mereka rintis. Kebahagiaan Asrul dan Asri semakin lengkap dengan kelahiran anak pertamanya yang sudah lama mereka nanti. Seorang bayi perempuan yang lucu hadir ketika usia pernikahan mereka menginjak tahun keenam. Semua terasa semakin sempurna.

Melalui bisnis pakaian muslim miliknya, Asrul dan Asri melanglang buana dari satu kota ke kota lain. Hanya sekadar mencari produk-produk baru, kadang memang sengaja untuk pelesiran. Sepanjang masa itu pulalah Asri mengubah gaya hidupnya. Meski tak disetujui, perempuan yang dulunya mengenakan kerudung dan pakaian longgar sejak dinikahi Asrul, tiba-tiba berpenampilan sangat “modis”, seperti setiap hari akan catwalk di panggung. Lingkungan pertemanannya juga sudah berubah drastis.

Kadang Asri lebih sering pergi bersama teman-temannya, dibanding menemani suaminya berbelanja keperluan toko. Sementara Sari, anak semata wayangnya, lebih sering dititipkan ke Bibi Inah, asisten rumah tangga yang sudah seperti keluarga di rumah Asrul. Mereka tinggal di ruko bagian atas toko yang dibangun dua tingkat.

Semakin hari, Asri semakin lupa diri. Aliran kas masuk toko busana muslim usaha satu-satunya keluarga ini menjadi tidak sehat. Apalagi setelah musibah yang menimpa Asrul. Ia terjatuh di kamar mandi ketika mendengar Sari merengek minta makan. Waktu itu Bi Inah sedang membeli kebutuhan dapur di pasar, sementara Asri istrinya masih asyik bersolek di kamar hias yang dibuat khusus beberapa tahun terakhir.

Insiden terjatuh di kamar mandi itu membuat Asrul harus kehilangan fungsi sebagian anggota tubuhnya. Ia sudah berobat ke mana-mana. Dokter mengatakan bahwa Asrul terkena stroke ringan. Penyakit itulah yang menjadi sebab Asrul harus sering lebih banyak beristirahat. Sementara urusan toko pakaian usaha keluarga sepenuhnya dikelola Asri.

*

Sudah dua minggu Asri meninggalkan rumah. Tanpa kabar dan tiadak ada pesan. Asrul sangat khawatir meski untuk alasan uang rasanya tidak mungkin wanita itu terlantar. Semua buku tabungan dan kartu ATM milik mereka dipegang Asri.

Di pagi yang mendung, ketika Asrul duduk di depan toko bersama Sari anak semata wayangnya, mereka dikejutkan dengan kedatangan dua perempuan tak dikenal. Dua orang itu langsung saja menyalami Asrul. Di depan toko pakaian yang sekaligus menjadi rumah mereka itu memang tidak ada pagar. Hanya di samping bangunan ada tanaman jenis bumbu-bumbuan yang dirawat Bi Inah.

Tamu Asrul bukan orang sembarangan. Dua wanita ini memperkenalkan diri sebagai aktivis pada lembaga perlindungan anak dan perempuan. Asrul mengajak keduanya ke dalam. Di dalam toko di lantai bawah memang ada ruangan yang disekat khusus cukup untuk menerima tamu sampai empat orang.

Sari membuntuti Asrul sembari tak berhenti mengajak kedua perempuan sebaya ibunya itu berbicara. Yang diajak bicara juga meladeni. Senang sekali kelihatannya anak kecil ini mendapatkan teman ngobrol baru.

Di ruang tamu ukurang 3 x 4 tiga orang dewasa duduk dan terlibat obrolan serius. Anak kecil yang dari tadi berceloteh sudah asyik dengan boneka di tangannya. Tak dihiraukannya lagi pembicaraan orang-orang tua di dekatnya itu

Wajah Asrul terlihat mulai tegang. Naik turun jakunnya mengimbangi dua wanita di depannya berbicara. Dia semakin sering menarik napas dalam.

Pembicaraannya dengan dua tamunya itu beranjak semakin serius.Wanita paruh baya yang duduk di sebelah kanan, menghadapnya, mengabarkan Asri terjaring razia BNN (Badan Narkotika Nasional). Bersama temannya, Asri tertangkap saat sedang berpesta narkoba di sebuah aprtemen di kota tidak jauh dari tempat tinggal Asrul. Lima laki-laki dan lima perempuan diringkus polisi dalam penggerebekan yang dilakukan dini hari kemarin.

Perempuan dari lembaga perlindungan anak dan perempuan, yang memperkenalkan diri dengan nama Astuti,mengatakan kasus serupa sering terjadi beberapa waktu belakangan. Sasaran para penjual dan bandar narkoba terutama anak-anak dan kalangan perempuan.

Astuti mengatakan pemasok barang haram untuk Asri dan teman-temannya sudah teridentifikasi. Saat ini, Bandar tempat Asri dan teman-temannya mendapatkan narkoba sedang dalam pengejaran petugas.

Astuti mengatakan bahwa lembaganya dan BNN sudah lama mengincar bandar yang memang sengaja menyasar anak dan kalangan perempuan. Para pengedar dan bandar semakin leluasa merekrut pengguna narkoba dengan sistem MLM (Multi Level Marketing). Asri menjadi jaringan ini sejak enam bulan lalu.

Astuti memperlihatkan benda serupa buku agenda yang dari tadi dipegang temannya. Dibukanya buku itu. Ada banyak foto dan kliping koran.

Dua kliping koran dari media besar terpampang.  Berita tanggal 07 Desember 2017: “Jaringan China Pasok Ribuan Ton Sabu ke Indonesia”. Di lembar sebelahnya ada pula berita hari Jumat tanggal 21 Juli 2017, “Ratusan Ton Sabu Asal China Masuk ke Indonesia Selama 2016”. Ada lagi potongan berita dari media lainnya, tanggal 19 Juli 2017, “250 Ton Sabu Asal China Masuk Indonesia, Korban Tewas 15 Ribu Orang”.

Asrul terhenyak. Ribuan tanda tanya mengambang di benaknya.

Astuti memperlihatkan foto penangkapan Asri dan teman-temannya yang terjaring razia narkoba kepada Asrul. Ia ingin meyakinkan apakah benar Asri yang ditangkap adalah istri dari laki-laki yang dari tadi diajaknya bicara.

Foto satu orang wanita dengan rambut sebahu dikeluarkannya.

“Astaghfirullah!”

Asrul menghela nafas.

Di foto itu, Asri hanya berpakaian minim dengan rambut tidak ditutup. Meski kepalanya menunduk, wajah Asri masih bisa dikenali dengan mudah.

Ketiga orang yang dari tadi ngobrol serius itu terperanjat. Tangan mungil tiba-tiba saja meraih foto yang disodorkan Astuti ke hadapan Asrul. Sari yang sedari tadi duduk bermain boneka bersandar di punggung Asrul, bangkit dan merebut foto di tangan Astuti.

“Mama,” kata Sari sembari menggores-goreskan telunjuk mungilnya di wajah Asri dalam foto yang baru saja ia ambil paksa.

“Pa, mau ketemu mama,” pinta Sari merengek.

Asrul kembali menghela nafas panjang.

***

Biodata Penulis

Jhoni Imron, sehari-hari bekerja sebagai jurnalis di salah satu media online di Jambi.

Facebook Comments