Monday, April 23, 2018
Home > Literasi > Cerita > Cinta di Kediri

Cinta di Kediri

pacaran

Pagi-pagi sekali remaja dari daerah selatan ini sudah bangun untuk solat subuh. Setelah salat, ia tidur lagi. Ia memang remaja yang religius karena dahulu pernah menjadi seorang santri di pondok pesantren Jember, Jawa Timur. Sementara rumah orang tuanya di Kebumen. Setelah merasa cukup tidurnya, diambillah beras untuk dimasak. Baginya, hidup adalah sebuah kesederhanaan. Tak lama, hanya menunggu sampai lima belas menit saja, nasi sudah matang dan bisa dimakan.

Hanya berlauk sederhana saja, tempe goreng. Walaupun begitu, tetaplah rasanya nikmat dimakan. Tepat pukul tujuh, ia ambil sepeda dan mengayuh kakinya menuju ke Fakultas Ilmu Budaya di UNS Surakarta. Tempatnya belajar menuntut ilmu.

“Akhirnya kamu sampai juga, sudah makan apa belum?” ucap Ahmad temannya.

“Sudah, tapi lauknya hanya tempe goreng,” jawabnya.

“Mbah Paino,” teriak Andre.

“Iya,” katanya sambil menengok ke belakang.

Oh iya, pemuda itu bernama Riyan. Namun, teman-temannya sering memanggilnnya Mbah Paino. Dari belakang, dosen sudah berjalan ke ruangan dan pembelajaran pun dimulai. Riyan dan teman-temannya pun masuk. Di dalam mereka memperhatikan dosen yang mengajar dengan serius.

Seperti biasa, setiap mahasiswa baru pasti mengikuti makrab (malam keakraban). Sebab dengan itu, mereka bisa memahami karakter dan kebiasaan teman mereka satu per satu. Makrab anak Sastra Indonesia diadakan hari Jumat besok. Semua antusias untuk menyambutnya. Riyan mempersiapkan semuanya dengan matang.

“Bagaimana, siap makrab?” tanya Nabil.

“Tentu siap,” jawab Riyan.

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Hari jumat pagi, semua mahasiswa sudah berkumpul di Taman Cerdas, sembari menunggu transportasi datang. Riyan dan temannya datang mengendarai motor. Sebagian ada yang naik bus dan, ada pula yang berboncengan  naik motor. Kebanyakan yang naik bus adalah wanita. Semua sudah siap dengan membawa bekal masing-masing. Riyan berboncengan dengan salah satu teman wanitanya.

Hanya satu jam waktu yang ditempuh untuk sampai ke Tawangmangu, tempat villa penginapan. Di sana mereka semua bermain dan bersenang-senang. Villa sudah dianggap sebagai rumah sendiri. Ada yang menonton TV, memutar musik, bermain sepakbola, tidur, dan bahkan ada juga yang sedang mempersiapkan makanan untuk dimasak. Kebetulan Rian membantu seksi dokumentasi untuk merekam aktivitas makrab.

Saat kamera video dinyalakan, direkamlah semua temannya dan disapa satu per satu. Ada perempuan cantik bersenyum manis bernama Dita, dia adalah anak Kediri. Riyan yang melihatnya sampai jatuh terkesima, alias suka. Mungkin karena hari itu dia nampak berbeda, sehingga ada yang mempunyai daya tarik baginya. Setiap gerak-gerik Dita selalu diperhatikan olehnya. Baik saat duduk, saat sedang bicara, dan tertawa. Bahkan, saat pulang dari makrab, dia selalu melihat video dokumentasi. Dilihatnya wajahnya secara mendalam.

Foto Dita selalu diperhatikannya setiap hari. Karena tiada bisa memendam rasa yang mendalam dalam hati, ia ingin meminjam buku ke Dita sembari ingin bertemu. Ternyata alangkah senang hatinya, bagai terbang ke angkasa.

“Ini bukunya, dikembalikan besok juga tidak masalah,” ucap Dita.

“Terima kasih ya, aku jadi ngrepotin kamu,” jawab Riyan.

“Kita kan teman,” ucap Dita.

“Iya.”

“Aku pulang dulu, mau mengerjakan tugas.”

“Iya, aku juga,” jawab Riyan.

Akhirnya, keinginan Riyan untuk bertemu dengan pujaannya terwujud juga. Ia pun mampir ke kos temannya yang bernama Irul. Di sana, Riyan bercerita kalau ia menyukai Dita. Irul hanya bisa menjawab dengan senyuman sembari memberi nomor telepon Dita.

“Oh iya, malam ini ada pameran smartphone. Bagaimana kalau kita kesana dan mengajak Dita?”

“Itu ide bagus. Aku setuju kali ini,” jawab Riyan.

“Ayo segera dipesan, jangan sampai tutup,” ucap Irul.

“Siap!” jawab Riyan.

Segeralah, Riyan menghubungi Dita melalui selular. “Dit, ayo kita nonton pameran smartphone sama teman-teman?”ajaknya.

“Iya, tapi aku ke sana naik apa?”tanya Dita.

“Aku akan menjemputmu, santai saja,” jawab Riyan.

“Baiklah,” jawab Dita.

Riyan segera bergegas menuju kos Dita. Ternyata Dita sudah memegang helm di tangan kanannya. Lengkung di bibirnya sangat manis dan menggoda hati Riyan. Lelaki itu pun dibuat jadi tersipu malu.

“Sudah siap?” tanya Riyan.

“Kalau aku kapan saja selalu siap,” jawab Dita.

Mereka memulai malam dengan mengembara ke sekitar kota sembari melihat keramaian para pedagang dan pembeli. Banyak juga para pemuda yang nongkrong di wedangan. Malam tersulut dengan api asmara. Bahkan, benih cinta tumbuh di hati pria ini. Saat libur semester, rindu semakin dalam dan ada hasrat ingin bertemu. Tapi apa daya, cintanya jauh di Kediri.

Setiap timbul kangen segera diambilnya telepon genggam untuk mendengar suara sang pujaan hati.

“Sedang apa ya, dia?” tanya Riyan dari dalam hati. Meski jarak membentang, mereka tetap menjalin kemesraan melalui telepon pintarnya. Jarak tak menyurutkan tekad Riyan untuk menumbuhkan kasih mesra di antara keduanya.

“Assalamualaikum,” ucap Riyan.

“Waalaikumsalam,” jawab Dita.

“Sedang apa?” tanya Riyan.

“Ini di rumah sedang membuat kue lapis,” jawab Dita.

“Memangnya ada apa?” tanya Rian.

“Sekedar ulang tahun adikku, perayaan sedang saja. Tidak terlalu besar,” jawab Dita.

“Aku boleh datang kesana?” tanya Rian.

“Silakan saja,” jawab Dita.

Mereka larut dalam obral-obrol remaja. Tiba-tiba pembicaraan terputus karena pulsa sudah habis. Segeralah Riyan berlari keluar mencari penjual pulsa. Di dekat warung sayur tempat mencuci motor, ia hendak membeli pulsa. Namun sayang, saldonya sudah habis. Akhirnya, ia turun ke pantai. Di sana banyak penjual pulsa. Rumahnya memang dekat dengan pantai yang ramai dan asri. Pasir putihnya ditumbuhi berbagai nyiur dan batu karang.

Ia memandang ombak yang menggulung-gulung, kemudian duduk di atas bebatuan karang. Ingatan tentang masa kecilnya tiba-tiba melintas. Ketika ia berlarian penuh canda tawa. Lalu bayangan Dita muncul tanpa diundang. Dita, satu-satunya wanita dambaan dari Kediri. Kelak bila libur semester usai, ia berjanji akan mengajak Dita ke tempat ini. Menikmati pantai berdua. Berjalan akki dan bergandengan tangan sembari mendengar debur ombak yang bermukim di hati. Ketika matahari nyaris tenggelam, ia disadarkan dari lamunan panjang.

 

 Surakarta, 19 April 2016


Biodata Penulis

Muhammad Lutfi, lahir di Pati pada tanggal 15 Oktober 1997. Menulis puisi dan sajak yang terangkum dalam berbagai antologi bersama para penyair lainnya. Mempunyai dua buah buku puisi. Dapat dihubungi melalui nomor Hp: 081391444664, FB: Muhammad Lutfi, dan Surel: ahmadsusendra79@yahoo.com. Sekarang berstatus sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Facebook Comments