Monday, April 23, 2018
Home > Literasi > Pendidikan > Gamang Menatap Masa Depan

Gamang Menatap Masa Depan

pendidikan1

Suasana kelas yang hening, beberapa siswa membentuk kelompok kecil dengan posisi mengelilingi sebuah meja. Panas menyengat di luar ruangan tidak mematahkan semangat anak-anak tersebut untuk membaca halaman buku yang mengupas tentang keberagaman adat istiadat di Indonesia.

“Apa nama tradisi lompat batu di Suku Nias?” tanya Puji Astuti, Guru SDN 171/VI Pauh Menang Kecamatan Pemenang Kabupaten Merangin. Suaranya memecahkan kesunyian, Supriyadi salah satu murid terlihat malu-malu mau mengacungkan tangan.

“Iya, Supri. Tahu jawabannya? Silahkan Supri,” lanjutnya.

“ Fahambo Batu, bu,” seru Supri.

Supriyadi, atau biasa dipanggil Supri adalah salah satu putera dari Mansyur. Mansyur merupakan anggota  dari kelompok Orang Rimba atau komunitas Suku Anak Dalam (SAD), yang melihat pendidikan sebagai tujuan untuk membuat kehidupan mereka berubah. Mansyur sudah menyekolahkan tiga anaknya, kakaknya Rahman malah sudah ditingkat akhir SMP.

Supriyadi, bukan satu-satunya “anak rimba” yang bersekolah disini, ada tigabelas anak lagi yang berasal dari komunitas SAD.  Sejak sepuluh tahun terakhir, minat bersekolah formal komunitas ini meningkat pesat, ini ditandai dengan bertambahnya mereka setiap tahunnya. Puji Astuti menyebutkan, setiap tahun jumlah peserta didik dari komunitas ini memang semakin meningkat, katanya dulu hanya kurang dari 5 murid namun sekarang mereka menjadi lebih banyak. “ Dulu kakaknya ada di sini, dan kemudian dilanjutkan dengan adik-adiknya. Dulu dominan hanya laki-laki dan sekarang perempuannya juga sudah ada,” katanya.

Ada 5 anak perempuan yang bersekolah yaitu, Dalina, Superni, Janah, Mariyan dan Santi. Mereka biasanya selalu diantar jemput oleh orang tuanya, karena bagi komunitas SAD memang tabu perempuan berpergian tanapa didampingi laki-laki ataupun orang tuanya.

Mengejar Bayang-bayang Mimpi

Supriyadi bercerita sejak pukul 06.00 WIB dia bersama teman-temannya sudah memacu kendaraan bermotor menuju sekolah. Jarak tempuh antara pemukiman mereka  dengan sekolah memakan perjalanan selama lebih kurang 45 menit.  Selain tempat menimba ilmu, sekolah bagi Supriyadi adalah tempat dimana dia bisa bertemu dengan teman-teman di luar komunitasnya. “Kami dianggap sama dengan mereka, perlahan tidak ada lagi yang takut , jijik dan pandangan negatif dengan kami,”katanya.

Laskar, salah satu teman dekatnya mengatakan bahwa mereka tidak merasa canggung berinteraksi dengan komunitas SAD. “ Dia sering main ke rumah, dan kami memang sering beramin bersama. Tidak ada bedanya,” ucapnya.

Supriyadi sudah 2 kali keluar dan kembali masuk lagi ke sekolah, alasannya hampir sama menghinggapi anak-anak ini yaitu mengikuti orang tuanya berburu ataupun membuka kebun di lokasi baru. “ Saya kemarin sempat keluar karena ikut bapak berburu dan membuka kebun di lokasi yang jauh dari sekolah,” ceritanya.

Anak-anak ini terpaksa berhenti bersekolah formal bisa satu semester bahkan lebih, dan kembali lagi masuk di semester berikutnya. Terkadang ini juga yang menjadi kendala bagi mereka untuk menamatkan sekolah. Ada diantara mereka yang sudah besar, tidak mau lagi kembali ke sekolah karena malu.

Bepak Yanto menyebutkan, selama ini di rombongnya, hanya mengandalkan lahan yang diberikan desa tidak lebih dari 3 hektar termasuk pemukiman untuk sebanyak 15 kepala keluarga. Berburu yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka, tidak bisa diandalkan lagi. Babi, sebagai hewan buruan utama sudah mulai berkurang. Mereka harus berburu bahkan memakan waktu satu harian, namun hasil yang didapat juga tidak menentu. Jika tidak beruntung, mereka pulang tanpa mendapatkan satu ekor pun hewan buruan.

Jika beruntung dalam seminggu, mereka akan membawa seekor babi dengan rata-rata berat mencapai 30 kg. Babi tersebut biasanya dihargai Rp 6.500 per kilo gram nya.  Penghasilan yang bisa diperoleh hanya berkisaR Rp 200 ribu. Hasil berburu ini pun akan dibagi rata-rata dengan seluruh rombong. Tentu saja hasil ini tidak akan mencukupi kebutuhan mereka.

Supriyadi dan teman-temannya yang lain, berjuang untuk mendapatkan pendidikan sebagai pintu masuk mereka pada penghidupan yang layak. Mereka mengemas mimpi-mimpinya melalui ujung pena dan selembar kertas. Hutan yang selama ini mereka andalkan mampu mencukupi kebutuhan hidup, telah beralih fungsi menjadi areal hutan industri, perkebunan skala besar, dan juga pemukiman. Supriyadi menahan rasa harunya ketika ditanyakan cita-cita kepadanya. Dia tersenyum dan menyebutkan “Menjadi pemain bola,” ujarnya.

Matahari tepat berada di atas kepala, bunyi bel panjang di ruangan guru menandakan berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Siang itu mengantarkan tiga belas anak komunitas SAD kembali ke tempat tinggal mereka. Mereka akan kembali ke pemukiman dan kembali menanti pagi. Pagi yang mengantarkan banyak harapan dan membuat mereka merasa dekat dengan harapan.

Facebook Comments