Sunday, May 27, 2018
Home > Peluang Bisnis > Kopi Codot, Bisnis Petani Kopi Pegunungan Tanggamus

Kopi Codot, Bisnis Petani Kopi Pegunungan Tanggamus

Masyarakat yang tinggal di sekitar pegunungan Tanggamus, Lampung telah menanam kopi sebagai tanaman utama sejak lama. Namun, ada yang unik pada masyarakat tersebut, yaitu dikenalnya jenis kopi yang memiliki sebutan kopi Codot. Pernahkah sahabat Puan mendengar istilah kopi Codot?

Bagi banyak orang, kopi Codot agaknya terdengar baru.  Padahal, kopi Codot merupakan jenis kopi Robusta yang ditanam di lereng gunung Tanggamus. Dinamai kopi Codot, karena kopi ini merupakan hasil memungut dari sisa makanan Codot, hewan sejenis kelelawar yang termasuk satwa Nocturnal dan hanya aktif pada malam hari. Jika Luwak memakan biji kopi dan kemudian kopi dipungut dari kotorannya, Codot justru hanya memakan daging buah kopi, sementara bijinya dibuang begitu saja. Dalam hal ini, Codot memilih buah kopi yang berwarna merah.

Jenis kopi yang dikenal dengan sebutan kopi Codot inilah, yang kemudian diolah oleh Kelompok Tani Wanita Hutan (KTWHUT) Himawari di desa Margoyoso, kecamatan Sumberejo, kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. KTWHUT Himawari merupakan salah satu lembaga yang terdapat di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) HKM Beringin Jaya. Gapoktan ini, pada tahun lalu pernah dianugerahi predikat terbaik pertama, untuk kategori pemegang izin pengelolaan hutan kemasyarakatan pada lomba Wana Lestari tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup.

Kopi Codot yang ternyata memiliki rasa khas serta citra rasa tersendiri, selama ini hanya dikonsumsi  sendiri oleh para petani yang ada di Tanggamus. Namun, kadang petani mencampur kopi Codot dengan kopi lain untuk dijual dengan harga murah. Eka Nur Fitriasari, selaku ketua KTWHUT Himawari menyebutkan, bahwa setelah mencoba memasarkan kopi Codot, tanggapan pasar sangat baik. “Kita bisa jual kopi Codot mentah yang ada cangkangnya itu dipasaran, harganya bisa jadi sampai Rp. 40.000 per kilogram,” sebutnya.

Akan tetapi, selain kopi Codot, KTWHUT Himawari juga memproduksi kopi Lanang dan kopi Kecil. Kopi Lanang atau lebih dikenal dengan istilah peaberry, merupakan biji kopi paska panen yang mengalami anomali karena perbedaan pada jumlah keping bijinya. Jika biji kopi pada umumnya adalah dikotil, namun biji  kopi lanang merupakan biji monokotil alami tanpa rekayasa.  “Menurut anggapan penikmat kopi, kopi lanang dapat meningkatkan vitalitas,” kata Eka sembari tersenyum.

Pada tahun 2015, Gapoktan HKM Beringin Jaya membentuk koperasi  untuk pertama kalinya. Ini dilakukan sebagai jwaban atas kebutuhan pemasaran produk-produk yang dihasilkan. Disamping itu, alasan lainnya yang mendesak untuk membentuk koperasi, yaitu agar petani terlepas dari jeratan tengkulak dan  lintah darat. Kondisi ini membutuhkan perjuangan keras, namun Ahmad salah satu anggota Gapoktan mampu mengorganisir petani untuk bergabung dengan koperasi.

Selama ini, petani tidak dapat menentukan harga sendiri. Harga ditentukan oleh tengkulak. Tentu saja hal ini sangat tidak menguntungkan petani.  “Kita berpikir, mengapa tidak langsung dijual ke pihak perusahaan ataupun tempat lain yang berharga jauh lebih baik,” sebut Eka. Jika produk dijual ke tempat lain, maka petani tak dapat lagi berutang ke tengkulak. Ini tentu saja akan memutus rantai keterhubungan petani dengan para tengkulak. Padahal, sewaktu-waktu petani butuh biaya tak terduga dan petani tidak memiliki uang, “Misalnya untuk biaya sekolah anak, berharap pinjaman dengan para tengkulak,” cerita Eka.

Desember 2105, HKM Beringin Jaya mendapat pinjaman modal berupa kredit dengan bunga rendah, melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), sebesar 1,76 Miliar Rupiah.  Atas pinjaman tersebut, koperasi menggunakan sistem tanggung renteng. Sistem ini menuntut anggota koperasi agar selalu menghadapi segala resiko secara bersama-sama dalam mengelola pinjaman modal.

Tanggung renteng sendiri, sudah menjadi ungkapan lazim bagi masyarakat Tanggamus. Melalui sistem tanggung renteng ini, petani yang tergabung dalam koperasi yang dibentuk HKM Beringin Jaya, mengelola pinjaman modal kredit tersebut dengan semangat kebersamaan, sama-sama menanggung, terutama bila ada salah satu anggota koperasi yang ingkar, meninggal, atau terjadi hal-hal lain dan menyebabkan anggota lainnya menanggung kredit kolektif tersebut.

Sistem ini berjalan dengan catatan, bahwa kebun yang ditinggalkan oleh anggota yang tidak menunaikan kewajiban pinjaman tersebut, akan diambil alih sementara oleh pengurus koperasi. Nanti apabila kredit pinjaman lunas, kebun akan dikembalikan lagi pada pemiliknya atau ahli warisnya.   “Pinjaman ini sudah berjalan dua tahun, dan sampai saat ini petani belum ada yang macet,” pungkas Ahmad.

Facebook Comments