Sunday, August 19, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Masa Lalu Blambangan

Masa Lalu Blambangan

Hari Perempuan Internasional memang sudah lewat. Namun, bukan berarti pembahasan tentang perempuan sudah tamat. Setiap hari ia hadir dalam pikiran, menyandera perhatian hingga terkadang membuat orang terperangah. Nusantara sebenarnya tidak hanya punya Kartini sebagai tokoh emansipasi. Bukankah di zaman klasik bangsa ini pernah mempunyai sederetan pemimpin perempuan?

Mungkin kita lupa bahwa Blambangan pernah dipimpin oleh dua orang perempuan. Hal tersebut dijelaskan dalam Nāgarakṛtagāma ada Nāgarawarddhanī, yakni yang bergelar Pāduka Bhaṭṭāra Wīrabhūmi. Selain itu, prasasti Waringin Pitu (1447 M) juga menyebut seorang tokoh perempuan bernama Pureśwarī Rajāśawarddhanendudewī sebagai penguasa daerah Wīrabhūmi. Pada masa Majapahit seorang penguasa kerajaan daerah disebut Pāduka Bhaṭṭāra yang posisinya berada di bawah raja. Raja-raja daerah tersebut biasanya dijabat oleh anak dan sanak-saudara raja yang berkuasa.

Memang, sejauh ini data arkeologi dari masa klasik (Hindu-Buddha) mengonfirmasi Blambangan mulai disebut ketika Jayanagara berkuasa di Majapahit (1309-1328 M). Namun ada pertanyaan lagi yang perlu dijawab, yaitu sampai tahun berapa kerajaan tersebut eksis? Jika kita berpatokan pada prasasti, Blambangan terakhir disebut dalam prasasti Waringin Pitu. Setelah itu, belum ada prasasti yang menyinggung tentang Blambangan atau Wīrabhūmi.

Masih ada juga jawaban alternatif, yaitu surat Kartini. Dalam suratnya kepada Nona E.H. Jeehandelaar tanggal 6 November 1899, ia menyebut bahwa Blambangan diperintah oleh seorang bupati. Jabatan bupati ini sebenarnya berasal dari istilah bahasa Sanskerta, yaitu Bhūpa atau Bhūpāla (pelindung dunia). Dengan demikian, ujung timur Jawa pada abad ke-19 M masih bernama Blambangan.

Menuju Masa Lalu

Banyak jalan yang bisa ditempuh orang untuk tahu bagaimana masa lalu. Ini bukan perkara seberapa banyak materi sejarah yang sudah dihafal. Namun, pokok bahasannya terletak pada maukah orang sedikit beringsut dari pandangannya selama ini tentang masa lalu? Orang mengenal Blambangan dari keseruan cerita Menak Jingga. Heroisme Mas Ayu Wiwit saat melawan Kompeni Belanda. Atau, kagum dengan kesetiaan yang ditunjukkan oleh Sri Tanjung dan para istri Prabu Tawang Alun.

Jika sederet peristiwa itu benar terjadi di Blambangan, pasti ada benda-benda masa lalu yang tertinggal bukan? Sejauh ini, masyarakat umumnya hanya mampu menunjukkan tempat peristiwanya saja. Contoh, heroisme Mas Ayu Wiwit yang konon perlawanan itu terjadi di daerah Bayu, Kecamatan Songgon. Lantas, bukti benda/artefaknya mana? Belum ditemukan.

Ada juga cerita tentang kesetiaan para istri Prabu Tawang Alun yang melakukan sati (bela pati) pascameninggalnya sang suami. Konon peristiwa itu terjadi di Situs Macan Putih, Kabat. Ya, memang benar di situs tersebut sudah dilakukan ekskavasi pada tahun 2012. Para arkeolog berhasil mengungkap bahwa Macan Putih dulu adalah permukiman masa Hindu-Buddha. Namun, fakta tentang peristiwa bela pati itu belum terbukti.

Teori tanpa Bukti

Mungkin mereka lupa bahwa teori tanpa bukti artinya buta dan bukti tanpa teori akan pincang. Seringkali masyarakat bertanya tentang silsilah Prabu Tawang Alun, sedangkan raja yang pernah menepi akibat konflik ini prasasti yang dikeluarkannya belum ditemukan. Akhirnya pertanyaan membentur tembok karena tidak adanya bukti konkret. Keberadaan prasasti menjadi sangat penting karena menjadi sumber data otentik dalam kajian arkeologi. Sebab di dalam prasasti, tercantum kapan prasasti dikeluarkan dan siapa yang mengeluarkannya.

Kemunculan tokoh Tawang Alun dan Mas Ayu Wiwit berasal dari Babad Blambangan dan dokumen Belanda. Orang Belanda ketika itu memang detail bercerita tentang dua sosok itu, namun sayang artefak pendukungnya tidak ada sehingga para pewaris masa kini hanya sekadar tahu teori saja.

Menjaga warisan budaya di zaman sekarang sangatlah mendesak untuk dilakukan. Selain itu, pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan adalah ketersediaan arkeolog di setiap daerah di Indonesia. Kadang daerah hanya mempunyai satu arkeolog, bahkan terburuknya tidak punya sama sekali. Ya, tantangan arkeolog di daerah memang besar dan tidak gampang.

Krisis?

Membaca situasi yang demikian, mungkin sebagian orang akan menganggap ini adalah krisis. Namun nanti dulu, mendiang Presiden Kennedy pernah mengatakan bahwa hati-hati menggunakan kata “krisis”. Karena kata itu hendaknya jangan selalu disalahmengerti sebagai keadaan yang stagnan, melainkan ada kesempatan dalam situasi yang stagnan tersebut.

Dulu saya mengira tidak ada satu pun prasasti yang menyinggung Blambangan dan penguasanya sehingga dalam skripsi saya, hanya berpatokan pada data artefak dan didukung dengan kakawin Smaradahana. Sekarang mulai ada titik terang, setelah membaca sejumlah laporan penelitian arkeologi.

Begitu pula dengan temuan dari Situs Gumuk Klinting, berupa stupika, tablet, dan materai. Saya pikir sama seperti temuan sejenis di Indonesia yang berfungsi sebagai sarana upacara atau persembahan kepada Sang Buddha. Ternyata setelah berkunjung ke Museum Mpu Tantular, Sidoarjo saya mendapat fakta baru. Ketiga artefak dari Banyuwangi itu dulu berfungsi sebagai bekal kubur. Unik bukan?

Terlepas dari itu semua, kata orang sekarang adalah era milenial. Sebuah situasi yang  bukan hanya perkara kemajuan teknologi saja, melainkan seberapa jauh masyarakat bisa mengerti dan memahami masa lalu dengan baik. Menguasai ego serta tidak lupa menularkan  optimisme pada diri orang lain. Saya yakin, generasi milenial tidak gampang terprovokasi dengan anggapan massa. Tidak mudah meninggalkan cara yang tradisional meski di tangannya ada gadget dan merek tas terkemuka karena pada intinya mereka ingin merangkul semua dengan cinta.


Biodata Penulis

Jingga Kelana Putra Santiaji, menyelesaikan S-1 Arkeologi di Universitas Udayana, Denpasar. Sejak kuliah sudah sering menjadi panelis atau narasumber dalam diskusi ilmiah tentang budaya dan ilmu yang digelutinya, baik di tingkat lokal maupun nasional. Pemuda yang pernah malang melintang di dunia teater, organisasi sekolah, kampus, dan keagamaan ini, sekarang mulai mengurangi aktivitas tersebut. Ia memilih untuk menekuni bidang arkeologi dan menuangkan hasilnya dalam sebuah tulisan.

Facebook Comments