Monday, December 10, 2018
Home > Gaya Hidup > Komunitas > Melihat Sisi Lain Kehidupan di Palembang Movie Club

Melihat Sisi Lain Kehidupan di Palembang Movie Club

Food, Fashion, and Movie merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya populer abad ini. Sebuah budaya mainstream yang diproduksi oleh ideologi kapitalis beserta turunannya, maupun jejaringnya yang selalu mengupayakan keuntungan semata di atas kesenangan dalam segala hal.  Ketiganya menjadi ikon penanda pada identitas seseorang dan tak dapat dipisahkan pada budaya populer, pun saling mempengaruhi satu sama lain.

Namun di antara ketiganya, movie atau film menjadi salah satu media arus utama yang sangat berpengaruh besar untuk merasuki alam bawah sadar manusia modern. Oleh karena itu, film di abad ini menjadi media yang memberikan wadah transformasi ideologi, sekaligus pertarungan antar ideologi. Era digital hari ini semakin menguatkan hal tersebut, apalagi ketika budaya membaca mulai memudar oleh generasi yang memuja audio visual  di era ini.

Film pun menjadi seperti apa yang Ferdiansyah Rivai kutip dari film Cin(T)a besutan sutradara Sammara Simanjuntak, tahun 2009, “Kalau seandainya Nabi Muhammad turun saat ini, pasti kitab sucinya berbentuk film. Karena generasi kita adalah generasi yang got philosophie in a movie. Mereka nggak begitu tertarik baca buku.” Maka, bagi salah satu pendiri Palembang Movie Club (PMC) ini, film dapat dianggap sebagai tempat untuk mencari gizi kehidupan dan berguna sebagai pelengkap anasir filosofi yang dibingkai di dalamnya.

Akan tetapi,  film sebagai tempat untuk mencari gizi kehidupan tak selamanya memenuhi kedalaman filosofi pada ruang dan waktu tertentu bagi insan yang selalu haus makna, pencarian, maupun penanda. Apalagi ketika kegelisahan berjumpa dengan kedangkalan film yang kerap di produksi oleh mesin kapitalis dan hanya sekedar memenuhi target pasar. Untuk itulah, perlu ada ruang alternatif bagi pecinta dan penikmat film yang selalu haus ini.

Di Palembang, kebutuhan akan ruang alternatif yang demikian itu telah dihadirkan oleh beberapa anak muda setempat ke dalam wadah Palembang Movie Club (PMC). Sekitar tahun 2015, Ferdiansyah Rivai bersama beberapa rekannya antara lain Joni, Indah dan Angger sepakat untuk membentuk PMC. Ferdi begitu sapaan akrab Ferdiansyah Rivai, juga beberapa rekan yang tergabung dalam PMC, memiliki latar belakang yang berbeda, namun memiliki kesamaan yaitu hobi menonton film.

Jika Ferdi penikmat film yang berprofesi sebagai dosen di sebuah kampus negeri ternama di Palembang, sedangkan Joni merupakan Social Media Enthusiast terkenal di Palembang. Sementara itu, Indah yang alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) memang fokus di bidang perfilman dan Angger menjadi dedengkot di banyak komunitas pembuatan film. Beberapa anak muda ini merasa bahwa PMC tepat untuk diwujudkan sebagai wadah alternatif penikmat film di Palembang.

Ini mengingat bahwa di Palembang belum terdapat adanya komunitas yang mengapresiasi film, sedangkan komunitas yang membuat film telah banyak. Maka, ketika rekan PMC lainnya melihat aktivitas Ferdi yang telah memulai embrio kegiatan PMC di kampus tempatnya mengajar, mereka tertarik untuk mengembangkannya keluar pada jangkauan masyarakat penikmat film lebih luas, tidak hanya untuk kampus.

Ketika PMC pun akhirnya dibawa keluar kampus dan merambah jangkauan penikmat film di masyarakat luas. PMC bukan hanya sekedar kegiatan menonton kemudian mendiskusikan film yang mereka tonton.  Namun, mereka juga melakukan kegiatan kritik film yang aktif mereka tulis secara berkala dan diterbitkan pada berbagai media. Hingga rencana kegiatan literasi film pun tengah mereka garap polanya, seiring dengan rencana peluncuran media online khusus kritik film yang mereka impikan.

Kegiatan utama PMC ada beberapa bagian, diantaranya Movie Talk yang memutar secara gratis film-film dari seluruh dunia, namun tidak tayang secara reguler  atau hanya tayang sebentar di bioskop tanah air. Kegiatan berikutnya ada nonton berbayar yang memutar film-film tanah air yang tidak tayang di bioskop, dengan cara mengontak langsung produsernya untuk keperluan ijin pemutaran film. Kegiatan ini sebagai jalan bagi PMC untuk menjadi bioskop alternatif di Palembang.

Peserta nonton berbayar ini dikenakan kontribusi sekitar Rp. 20.000 hingga Rp. 25.000 tergantung kesepakatan dengan produser film. Perhitungan nonton berbayar tersebut antara lain sekitar lima puluh persen untuk pembuat film, sedangkan dua puluh lima persennya untuk membeli produk yang dijual di kafe tempat kegiatan film diputar, biasanya berupa minuman yang diberikan kepada penonton. Lalu, dua puluh lima persennya lagi untuk kontribusi kepada PMC yang kini telah berkembang keanggotaannya menjadi sepuluh orang.

Movie Talk sedianya diagendakan untuk dilaksanakan dua kali dalam sebulan. Sedangkan nonton berbayar diagendakan untuk dilaksanakan sekali dalam sebulan. Namun, mengingat kesibukan masing-masing anggota PMC dengan pekerjaan, belum sepenuhnya agenda tersebut terealisasikan.  Akhirnya, kadang PMC hanya bisa menggelar agenda tersebut sebanyak dua kali dalam sebulan, terkadang juga pernah dalam satu bulan tidak melakukan kegiatan yang telah diagendakan oleh PMC.

Selama kurun waktu dari 2015 hingga sekarang, telah banyak film yang PMC  putar dan diskusikan bersama dalam kegiatan movie talk. Di antara film-film tersebut misalnya film yang berjudul PINK dan bercerita tentang upaya perempuan korban pemerkosaan mendapatkan keadilan hukum, kemudian ada film PIANIST yang bercerita mengenai politik identitas pada masa Nazi Jerman. Pernah juga memutar film ONCE yang bercerita tentang musisi jalanan di Irlandia. Sedangkan pada nonton berbayar, pernah mereka putar film Istirahatlah Kata-kata, film Turah yang mendapatkan piala Oscar mewakili Indonesia, juga film Ziarah.

Penonton pada kegiatan PMC  yang kerap diadakan di kafe maupun di kampus pada setiap sore atau malam di waktu akhir pekan ini,  datang dari beragam latar belakang kehidupan. Sehingga PMC ketika mengadakan kegiatan, tidak membatasi tema diskusi sehabis menonton film. Diskusi akhirnya dapat berupa muatan ideologi film, teknik sinematografi, hingga malah ada yang curhat karena merasa bahwa cerita film memiliki kesamaan dengan kisah hidup penontonnya.

Namun demikian, di internal PMC telah dilakukan diskusi terlebih dahulu sebelum melaksanakan kegiatan pemutaran film.  Diskusi dapat mereka lakukan melalui sarana aplikasi elektronik Whats App, untuk menentukan apakah film yang menjadi alternatif pilihan diskusi layak untuk dimasukkan ke dalam agenda kegiatan. Pertimbangan yang mereka ambil dalam diskusi tersebut, dapat melihat kepada konten film, maupun terkait kepada momen tertentu, atau bisa juga melihat kepada isu yang berkembang di masyarakat.

Ferdi menyebutkan, bahwa tak ada kendala yang berarti dalam menjalankan PMC sebagai sebuah komunitas penikmat film. PMC dijalankan secara having fun tanpa target maupun program kerja. Meskipun akhirnya, melihat kepada aktivitas dan intensitas kegiatan PMC, pemerintah maupun Production House tertentu mulai banyak menggandeng PMC untuk bekerjasama dalam pemutaran film.

Pusbang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, misalnya pernah menggandeng PMC untuk bekerjasama ketika memperingati Hari Film Nasional untuk memutar film Night Bus. Sedangkan Production House Four Colour Film, pernah menggandeng kerjasama dengan PMC untuk pemutaran film Turah. Kedua kerjasama ini bagi PMC dapat dijadikan pembanding, bahwa terkadang ketika bekerjasama dengan pemerintah, PMC harus menghadapi ribetnya birokrasi.

Pada bulan Mei 2018 nanti, rencananya PMC akan meluncurkan media online untuk menampung kegiatan kritik film yang telah mereka rencanakan.  Ketika ditanya kegiatan jangka panjang, mewakili PMC Ferdi menyebutkan bahwa selain ingin menjadikan PMC sebagai bioskop alternatif di Palembang, inginnya PMC juga punya tempat dan program yang tetap seperti Kine Forum di Jakarta dalam pemutaran film yang rutin. Namun saat ini, PMC masih terkendala dana.

Soal dana tersebut,  PMC pernah mencoba mengajukan ke Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Karena dirasa bahwa BEKRAF memiliki program pendanaan untuk komunitas. Apa daya, ternyata upaya PMC ditolak oleh BEKRAF karena PMC tidak memiliki legalitas berupa badan hukum formal. Mengenai hal ini, Ferdi menyebutkan sepertinya pemerintah tidak mengerti dengan terminologi komunitas dan spiritnya. “Karena upaya ke BEKRAF gagal, saat ini kita tengah mencari alternatif lain untuk pendanaan,” begitu pungkas Ferdi.

Semangat Ferdi dan PMC menitipkan pesan kepada pembaca Puan.co ; Mari sadari bahwa kebebasan ekspresi yang kita punyai hari ini adalah sebuah kemewahan. Karena itu, isilah ruang-ruang publik dengan ekspresi-ekspresi yang membangun nalar masyarakat. Hari ini ruang-ruang publik itu satu per satu mulai dibajak oleh orang-orang yang punya kepentingan ekonomi dan politik sepihak. Maka, mari kita rebut lagi ruang-ruang tersebut.

Facebook Comments